BAB I PENDAHULUAN
A. Dasar Teori
3. Menulis
Pebelajar seringkali dihadapkan pada keharusan untuk berkomunikasi ketika dia masih belum menguasai bahasa target secara sempurna. Oleh sebab itu, agar pebelajar bisa menyampaikan maksudnya kepada orang lain, dia seringkali menggunakan “trik-trik produksi” tertentu untuk mengatasi kekurangan-kekurangan pada kemampuan bahasanya (Ghazali, 2010: 141). “Trik-trik produksi” yang dimaksud adalah berupa gerak tubuh (mime, pantomim), meminta bantuan orang untuk menjelaskan, menerjemahkan, membuat kata baru, dan menggunakan perumpamaan.
Pada dasarnya, menulis merupakan proses mengabadikan bahasa dengan tanda-tanda grafis; representasi dari kegiatan-kegiatan berbahasa; dan kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan (Iskandarwassid dan Dadang, 2009: 292). Meskipun demikian, keterampilan menulis wajib dikuasai oleh semua pemeroleh bahasa, baik pemeroleh bahasa pertama maupun bahasa
15 kedua. Khususnya, bagi pemeroleh bahasa kedua yang berkepentingan dalam kegiatan akademik.
Menurut Faerch dan Kaspter via Ghazali (2010: 141), menulis merupakan “rencana secara sadar untuk memecahkan masalah yang diajukan seorang individu kepada dirinya sendiri untuk ia pecahkan sendiri dalam mencapai tujuan komunikatif tertentu”. Mardianto (2012: 26-27), menyebutkan bahwa menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa di samping berbicara, menyimak, dan membaca. Menulis termasuk keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif, tertulis, dan tidak langsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Tarigan dalam Kurniawan, (2013: 151) yang menyatakan menulis merupakan jenis keterampilan bahasa yang menduduki posisi paling tinggi setelah membaca, berbicara, dan menyimak.
Kegiatan menulis dalam pengajaran bahasa kedua, dalam hal ini bagi para pebelajar BIPA, biasanya dianggap sebagai keterampilan sekunder yang nilai pentingnya terletak di bawah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Sampai sekarang kegiatan menulis lebih banyak digunakan sebagai cara untuk mempraktikkan unsur-unsur linguistik atau untuk mengekspresikan hal-hal yang bersifat personal bagi siswa (Ghazali, 2010: 295).
Sudah banyak rekomendasi yang telah diajukan untuk membantu para penulis bahasa kedua agar dapat mengomunikasikan maksudnya melalui tulisan secara lebih baik. Scott (via Ghazali, 2010: 295), mengemukakan agar siswa diajari menulis sejak awal proses belajar. Praktik menulis sangat penting, namun perlu diperhatikan bahwa siswa harus diberi tugas yang bermakna, yang memperhitungkan masalah tujuan, isi, aspek-aspek linguistik dan target pembacanya.
16 Mengenai level-level profisiensi dalam kegiatan menulis dirancang secara sengaja untuk menghubungkan antara materi, bahasa, fungsi, dan level akurasi dari performa siswa, seperti dalam Pedoman Kemahiran American Council Teaching for Foreign Language (ACTFL) (2012: 11-15), level-level yang dimaksud, akan dijelaskan berikut.
(a) Level pemula
Pada level pemula, siswa bisa membuat kata-kata dan frase-frase secara terisolir (maksudnya belum dapat dijadikan paragraf).
(b) Pemula-rendah
Bisa mengenali beberapa huruf dalam sistem abjad dari bahasa kedua. Dalam bahasa kedua yang sistem penulisannya menggunakan syllabary, sistem satu lambang mewakili satu suku kata seperti sistem penulisan dalam bahasa Cina, pada level ini penulis sudah menguasai teknik sapuan kuas yang paling dasar. Selain itu, pebelajar juga sudah bisa menuliskan bentuk huruf latin dari beberapa huruf tertentu.
(c) Pemula-sedang
Bisa menyalin atau mentranskripsikan kata-kata atau frase-frase yang sudah ia kenal dan dapat ia hafal secara luar kepala. Belum memiliki keterampilan komunikatif yang praktis.
(d) Pemula-tinggi
Bisa menulis ekspresi-ekspresi baku sederhana yang pendek, serta telah menghafal sejumlah materi dan beberapa kombinasi dari materi ini, memberikan informasi tentang formulir-formulir dan dokumen-dokumen sederhana, menulis nama, angka, tanggal, kewarganegaraan dirinya sendiri atau informasi-informasi otobiografis lainnya, serta bisa menulis beberapa frase pendek dan daftar
17 sederhana. Bisa menulis semua simbol yang ada dalam sistem alfabet atau jika bahasa keduanya menggunakan syllabary, maka dia paling tidak bisa menulis 50-100 huruf atau gabungan huruf yang ada dalam sistem penulisan. Ejaan dan representasi simbol (huruf, suku kata) masih belum benar sepenuhnya.
(e) Level mahir
Pebelajar level mahir memiliki kemampuan untuk menulis narasi dan deskripsi faktual, dengan panjang beberapa paragraf untuk topik-topik yang sudah dikenal pebelajar dengan baik.
(f) Mahir
Mampu melakukan surat menyurat secara rutin dan menggabungkan kalimat-kalimat menjadi wacana sederhana yang panjangnya paling tidak beberapa paragraf, menjadi topik yang sudah dikenal baik oleh pebelajar. Dapat menulis surat menyurat, membuat catatan, membuat ringkasan yang padat, serta dapat menulis narasi dan deskripsi yang bersifat faktual.
Memiliki kosakata menulis yang memadai untuk mendeskripsikan diri sendiri secara sederhana dengan menggunakan sirkumlokasi. Kadang pebelajar masih melakukan kesalahan dalam tanda baca, ejaan, dan penggunaan simbol-simbol non alfabetik (seperti tanda ~ atau ‘ yang diletakan di atas huruf a, e, n, dsb.), sudah memiliki kendali yang baik terhadap morfologi dan struktur sintaksis yang sering digunakan seperti pola urutan kata yang banyak digunakan, pola koordinasi dan subordinasi dalam kalimat, tapi masih sering membuat kesalahan di dalam membuat kalimat-kalimat kompleks.
Pebelajar kadang masih mengalami kesalahan di dalam menggunakan sarana-sarana kohesi teks, misalnya pronomina. Tulisan yang dihasilkan pebelajar lebih mirip seperti terjemahan harafiah dari bahasa pertamanya, tetapi
18 pengorganisasian teks (struktur retorika) sudah mulai tampak. Tulisan yang dibuat pebelajar sudah dapat dipahami penutur asli yang sebelumnya tidak terbiasa membaca tulisan dari penutur non-asli.
(g) Mahir-plus
Pebelajar dapat menulis tentang berbagai macam topik dengan tingkat presisi dan rincian yang cukup tinggi. Dapat menulis surat menyurat untuk tujuan sosial dan bisnis informal. Dapat mendeskripsikan dan menarasikan pengalaman pribadi secara penuh tapi masih mengalami kesulitan di dalam memberikan argumen-argumen pendukung ketika menulis wacana. Dapat menulis tentang aspek-aspek konkrit dari topik tertentu dan bidang kompetensi khusus tertentu. Seringkali menunjukan kelancaran dan kemudahan dalam menggunakan ekspresi-ekspresi bahasa, tetapi ketika kegiatan menulisnya dibatasi waktunya atau diberi tekanan lain, pebelajar masih melakukan beberapa kesalahan.
Biasanya pebelajar sudah menguasai dengan baik tata bahasa atau kosakata tetapi belum menguasai keduanya. Kelemahan pada tata bahasa atau pada kosakata atau pada ejaan atau pada cara membentuk huruf (ini berlaku untuk bahasa syllabary) kadang-kadang menimbulkan kesalahpahaman. Beberapa kesalahan dalam kosakata masih nampak jelas.
Di sisi lain, Common European Framework of Reference (CEFR) adalah kerangka acuan untuk belajar, mengajar, dan penilaian untuk bahasa di Eropa. CEFR juga dimaksudkan untuk memudahkan lembaga pendidikan atau perusahaan mengevaluasi kualifikasi bahasa calon siswa atau tenaga kerja. Seperti yang dipaparkan dalam https://www.efset.org/id/english-score/cefr/ CEFR membedakan antara empat jenis kegiatan bahasa: (1) penerimaan (mendengarkan dan membaca), (2) produksi (lisan dan tertulis), (3) interaksi (lisan
19 dan tertulis), dan (4) mediasi (menerjemahkan dan menafsirkan). Menurut CEFR, tingkat kemahiran berbahasa seseorang dikualifikasikan menjadi A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Lebih lanjut, akan dijabarkan dalam Tabel 1 berikut.
Tabel 1: Deskripsi CEFR Grup
Tingkat
Tingkat Deskripsi
Dasar A1 (Pemula) Dapat memahami dan menggunakan ekspresi sehari-hari dan frase yang sangat dasar, ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan dari jenis kata.
Dapat memperkenalkan dirinya dan atau dirinya dan orang lain dan dapat bertanya dan menjawab pertanyaan tentang informasi pribadi. Seperti di mana ia tinggal, orang-orang yang ia kenal, dan hal yang ia miliki.
Dapat berinteraksi dengan cara yang sederhana, melakukan pembicaraan dengan orang lain secara perlahan dan jelas.
A2 (pemula atas)
Dapat memahami kalimat dan ungkapan dengan tema yang sering digunakan (informasi pribadi dan keluarga, geografi, dan pekerjaan).
Dapat berkomunikasi dalam tugas-tugas sederhana secara langsung.
Dapat menjelaskan hal yang sederhana, seperti latar belakang lingkungan, dan hal-hal lain.
Menengah B1 (menengah)
Dapat memahami poin utama, menjelaskan hal-hal yang akrab ditemui dalam pekerjaan, sekolah, dll.
Dapat menangani situasi yang paling mungkin timbul saat bepergian ke daerah di mana bahasa tersebut digunakan.
Dapat menghasilkan teks sederhana dengan topik yang sehari-hari atau kepentingan pribadi.
Grup Tingkat
Tingkat Deskripsi
Dapat menggambarkan pengalaman dan peristiwa, impian, harapan, ambisi secara
20 singkat dan memberikan alasan atau penjelasan.
B2
(menengah atas)
Dapat memahami ide utama dari teks kompleks pada topik konkrit dan abstrak.
Dapat berinteraksi lancar dan spontanitas dengan penutur asli.
Dapat menghasilkan teks tentang berbagai hal dan dapat menjelaskan sudut pandang pada sebuah topik.
Lanjut atau Ahli
C1 (lanjut) Dapat memahami berbagai klausa dan mengenali makna tersirat.
Dapat mengekspresikan ide-ide dengan lancar dan secara spontan.
Dapat menggunakan bahasa secara fleksibel dan efektif untuk tujuan sosial, akademik secara profesional.
Dapat menghasilkan teks yang terstruktur dengan baik dan rinci tentang subyek yang kompleks, menunjukan pola organisasi, dan perangkat kohesif.
C2 (mahir) Dapat memahami dengan mudah ketika mendengar atau membaca.
Dapat meringkas informasi dari sumber-sumber lisan dan tertulis yang berbeda, merekonstruksi argumen dan paragraf dalam presentasi.
Dapat mengekspresikan dirinya secara spontan, sangat lancar, dan tepat, membedakan makna dalam situasi yang kompleks.
Universitas Negeri Yogyakarta telah mengembangkan kurikulum tersendiri, dengan mengadaptasi dari CEFR sebagai acuannya. CEFR maupun ACTFL memiliki keunggulan masing-masing. Akan tetapi, CEFR dianggap lebih tepat untuk dijadikan acuan, karena Eropa memiliki karakteristik yang lebih serupa dengan Indonesia, yaitu Eropa merupakan plurallinguistik yang terdiri dari berbagai macam bahasa ibu dari berbagai negara bagian, sedangkan Indonesia memiliki berbagai bahasa ibu dari berbagai suku dan daerah yang berbeda. CEFR juga digunakan untuk paspor bahasa dan portofolio.
21 Dilihat dari deskripsi mengenai CEFR pada Tabel 1 di atas, dapat diketahui beberapa aspek pencapaian yang harus didapatkan pebelajar bahasa, di antaranya ialah keterampilan menulis. Menulis adalah kegiatan yang sangat kompleks, karena penulis harus mengendalikan bahasa pada level kalimat (struktur tata bahasa, kosakata, tanda baca, ejaan, dan pembentukan huruf {yang terakhir ini khusus untuk bahasa syllabary}) Bell dan Burnaby via Ghazali (2010: 302). Pada level yang lebih luas dari kalimat (mengorganisasikan dan mengintegrasikan informasi menjadi paragraf-paragraf yang kohesif dan koheren dan selanjutnya menjadi teks yang kohesif dan koheren) (Ghazali, 2010: 302).