Anatomi Gaya Resiprokal :
1. Saat Sebelum Pertemuan, guru sudah membuat kriteria yang akan dilaksanakan oleh pelaku. Sebelum pelajaran dimulai, dipusatkan perhatian siswa dalam pembagian kelompok yaitu menjadi dua kelompok kecil, dimana satu siswa menjadi pelaku dan satu siswa menjadi pengamat. Guru hanya berperan khusus dalam berkomunikasi dengan pengamat walaupun pada pelaksanaan kegiatan guru mengamati pelaku maupun pengamat, sehingga hal ini akan memungkinkan timbulnya rasa saling percaya antara pelaku dengan pengamat serta akan menimbulkan pola kerjasama yang bagus dan kebersamaan.
2. Selama Pertemuan, keputusan ada pada pelaku , peran pelaku sama dengan metode latihan yaitu melaksanakan perintah sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh guru dan hanya berkomunikasi dengan pengamat. Pelaku memperoleh umpan balik penampilan dari pengamat secara langsung mengetahui kekurangan ataupun kelemahan selama melaksanakan kegiatan tersebut. Pelaku harus berusaha menerima umpan balik dari pengamat. Pada saat ini, peran guru hanya mengamati pelaku dan pengamat.
3. Sesudah Pertemuan, keputusan ada pada pengamat. Pada saat ini pengamat memberikan umpan balik secara langsung terhadap pelaku sesuai dengan kriteria yang telah di buat oleh guru. Sebelum pelajaran berlangsung pengamat harus sudah memahami kriteria yang ada, kemudian mengamati pelaku pada saat kegiatan berlangsung, pengamat membandingkan dan mempertentangkan penampilan pelaku dengan kriteria yang diberikan. Dalam hal ini, siswa sebagai pengamat juga harus bersikap positif dalam memberikan umpan balik kepada pelaku. Kegiatan berikutnya adalah pengamat menyimpulkan apakah penampilan
commit to user
pelaku benar atau salah, dan menyampaikan hal-hal mengenai penampilan kepada pelaku.
2. Setting pasca dampak ,bagi pengamat untuk memenuhi peran dalam setting pasca-dampak, dia harus memenuhi beberapa langkah :
a. Menerima kriteria bagi penampilan yang benar dari guru. (hal ini biasanya disediakan pada kartu kriteria).
b. Selidikilah tampilan the doer atau pelaku.
c. Bandingkan dan pertentangkan antara tampilan dan kriteria d. Simpulkan apakah tampilan itu sudah benar.
e. Komunikasikan hasil-hasilnya pada pelaku. Feedback ini dapat ditawarkan selama penampilan atau sesudah penyelesaian tugas hal itu tergantung pada jenis tugas yang dilibatkan. Selama dikerjakan penampilan tugas tetap, pembelajar dapat mendengar dan menerima feedback. Selama beberapa tugas di dalam gerak, ini tidak mungkin, karena dalam kasus semacam itu, pengamat harus menunggu sampai tugas-tugas itu diselesaikan.
f. Mulailah, jika perlu, komunikasi dengan guru.
g. Peran guru ialah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pengamat dan memulai komunikasi hanya dengan observer atau pengamat.
Implikasi Gaya Resiprokal atau Gaya C secara tersirat adalah:
1. guru menerima proses sosialisasi antara pengamat dan pelaku sebagai tujuan yang dikehendaki dalam pendidikan.
2. guru menghargai kepentingan mengajar bagi pembelajar untuk memberikan feedback yang akurat dan feedback yang obyektif satu sama lain.
3. guru mampu merubah kekuatan untuk memberikan feedback kepada pembelajar selama berlangsungnya episode gaya C.
4. guru mempelajari perilaku baru yang membutuhkan pengulangan dari komunikasi langsung dari orang yang menjalankan tugas (the doer).
5. guru memiliki kemauan untuk memperluas perilakunya jauh dari gaya A dan B dan memberi waktu yang diperlukan untuk pembelajar untuk mempelajari peran baru dalam membuat keputusan tambahan.
6. guru mempercayai siswa untuk membuat keputusan tambahan yang berubah pada diri mereka.
commit to user
7. guru menerima realitas baru dimana dia bukan satu-satunya sumber informasi, pencapaian dan feedback.
8. pembelajar dapat ikut serta dalam peran timbal balik / resiprokal dan membuat keputusan tambahan.
9. pembelajar dapat meluaskan peran aktif mereka dalam proses belajar
10. pembelajar dapat memperhatikan dan menerima guru mereka dalam peran yang berlainan dari yang secara intrinsik menjalankan gaya A dan B.
11. pembelajar dapat menggunakan waktu belajar (dengan menggunakan lembar kriteria) dalam hubungan timbal balik tanpa adanya kehadiran guru secara tetap.
Perilaku verbal guru dengan pengamat dalam gaya resiprokal, teknik berpasangan, ada beberapa cara yang digunakan untuk mengorganisir kelas dalam pasangan - pasangan: (1) membuat barisan dalam kelas dan menghitungnya dua-dua, (2) secara alfabet (3) guru memilih pasangan (4) siswa memilih satu sama lain ( seleksi sendiri ) (5) membuat pasangan karena tinggi badan (6). membuat pasangan karena berat badan (7) carilah pasangan dengan orang yang ada di dekat anda (8) level ketrampilan dan lain-lain.
Secara psikologis metode resiprokal ini berpengaruh kepada siswa yaitu dapat menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap teman serta dapat meningkatkan rasa percaya terhadap kawan dan merasa bertanggung jawab kepada sesama siswa.
2. Gaya mengajar Komando / perintah
Pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, selalu ada dua pembuat keputusan yaitu : guru dan siswa. Gaya mengajar komando ditandai dengan kondisi dimana pihak gurulah yang paling dominan dalam membuat seluruh keputusan dalam penyusunan materi dari gaya mengajar komando. Dengan demikian, maka peran siswa dalam pelaksanaan gaya mengajar komando adalah mentaati semua perintah serta petunjuk yang diberikan oleh gurunya.
Esensi dari gaya mengajar komando adalah hubungan langsung antara stimulus yang disampaikan oleh guru dengan respon yang dihasilkan oleh siswa.
Perintah yang diberikan oleh guru harus dapat menjelaskan semua gerakan yang harus dilakukan oleh setiap siswa.
commit to user
Setiap gerakan yang dilakukan oleh siswa selalu mengikuti contoh yang diberikan oleh gurunya. Dengan demikian, maka segala keputusan yang berkaitan dengan tempat pelaksanaan, postur tubuh siswa, penentuan saat memulai kegiatan, irama dan kecepatan, serta jangka waktu dari setiap gerakan (intervalnya) harus dilakukan oleh guru (Muska Mosston, 1981 :13).
Dalam pendidikan fisik, gaya mengajar komando dapat dilihat dalam sekumpulan aktifitas. Sebagai contoh : 1) serangkaian gerakan yang dirancang sebelumnya dalam suatu urutan tertentu, dan 2) posisi tubuh tertentu dirancang gerakan khusus diikuti oleh setiap peserta dan semua harus dikoordinasikan oleh ritme yang diberikan oleh guru. Semua gerakan dilakukan oleh siswa sebagai respon terhadap stimuli khusus (tanda perintah ) yang diberikan oleh guru (Muska Mosston, 1981:14 ). Perilaku dan hubungan antara guru dan siswa pada umumnya sama dan merupakan hasil dari gaya mengajar komando.
Program suatu aktifitas fisik yang dilakukan oleh siswa yang mahir, mempunyai pengaruh yang berarti pada penilai dan memiliki implikasi bagi siswa.
Kewajiban pengajaran dalam pandangan ini dibebankan pada aksi peragaan. Ketika guru sedang memberikan penjelasan atau gambaran siswa harus menyimak.
Pengulangan model yang diperagakan merupakan suatu kebaikan umum dalam proses pengajaran, hal ini menjaga siswa agar tetap dalam pengawasan.
Menurut Muska Mosston, ( 1981:16-17 ) bahwa suatu peragaan baik memiliki keuntungan sebagai berikut : 1) demonstrasi akan dapat menciptakan gambaran holistic dari kegiatan yang dilakukan oleh siswa. 2) demonstrasi akan mengarah kepada suatu tingkat keberhasilan tertentu. 3) mempengaruhi siswa untuk dapat mengkoordinasikan gerakan secara lembut, lengkap, dan berhasil, 4) dapat menciptakan suatu visualisasi mengenai bermacam kegiatan serta proses perpanduan gerakan tertentu, 5) dapat memperlihatkan rangkaian atau bagian gerakan yang harus dilakukan oleh siswa, 6) memperlihatkan dan menjelaskan sesuai dengan contoh, 7) demonstrasi dapat menghemat waktu, sebuah peragaan sederhana mampu menjelaskan keseluruhan materi secara cepat, 8) dapat difokuskan pada ketepatan dari hasil penampilan gerakan yang sudah dilakukan siswa, 9) dapat memberikan informasi kepada siswa mengenai bagaimanakah standar dari guru terhadap ketepatan dan kesempurnaan dari gerakan yang
commit to user
dilakukan, 10) dapat menguatkan siswa agar mereka selalu berada pada posisi yang sempurna sesuai dengan wewenang yang dimilikinya, 11) dapat mengarahkan perhatian siswa sehingga mereka dapat memperhatikan bagian penting yang berkaitan dengan apa yang harus dilakukan oleh siswa dalam melakukan berbagai gerakan sampai hal yang terperinci sekalipun, 12) dapat memperhatikan posisi awal yang tepat pada beberapa jenis olahraga tertentu, 13) dapat menggambarkan gerakan awal yang diinginkan sesuai dengan tujuanya, 14) dapat menciptakan suatu perasaan kepuasan dan motivasi yang kuat bagi siswa, 15) dapat memunculkan gerakan keindahan manusia, dan 16) dapat mempengaruhi persepsi siswa.
Pengaruh peragaan sebagian besar bersifat eksternal. Siswa merupakan penerima pasif dari semua matriks stimuli dan pengaruh,dan yang dilakukan siswa adalah menerima dan menyamai kinerja guru. Penerimaan dan peniruan merupakan tujuan pengajaran, intinya terletak pada guru dan pada kinerjanya yang diulang oleh siswa.
Dalam gaya mengajar komando sama seperti model mengajar deduktif.
Model deduktif adalah “Proses belajar siswa banyak diarahkan oleh guru. Peran guru cenderung dominan untuk merencanakan” (Toho Cholik M, dan Rusli Lutan, 1997 : 80)
Menurut Muska Mosston (1981 : 19) gaya mengajar komando mengandung arti bahwa : 1) materi sudah ditentukan, 2) peragaan gerakan yang dilakukan oleh guru, 3) perintah guru harus ditaati dengan ketelitian yang tinggi, 4) keputusan guru tidak dapat dipertahankan, 5) tidak terjadi penyimpangan dari individu siswa terhadap contoh gerakan yang sudah diberikan gurunya, 6) perbedaan individu kemampuan siswa tidak dapat dijadikan pertimbangan, 7) guru tidak meminta dan menerima pilihan respon yang dikemukakan oleh siswanya, 8) guru adalah ahli dibidang mata pelajaran yang akan dipelajarinya, 9) gaya mengajar perintah akan tetap mempertahankan pengetahuan, pengalaman, serta standar yang sudah dimiliki pada saat lalu.
Sasaran gaya mengajar perintah meliputi: 1) respon segera, 2) ketepatan dan ketelitian respon, 3) emosi dari contoh / model, 4) pengawasan terhadap penampilan, 5) pengawasan tehadap pelaku, 6) tingkat keamanan, 7) kesiapan dari standar nilai yang akan dipergunakan, 8) tersedianya alternatif dan pilihan, efisiensi
commit to user
dalam mempergunakan waktu, dan 9) keberhasilan nilai yang terbentuk dan tradisi budaya yang sudah disepakati (Muska Mosston, 1981 : 19).
Dalam setiap proses belajar mengajar ada dua pembuat keputusan, yaitu guru dan siswa. Gaya mengajar komando dicirikan oleh guru yang membentuk semua keputusan dalam menyampaikan meteri. Ini berarti bahwa peranan guru adalah membentuk semua keputusan dalam pre-impact ( sebelum pengaruh ) , impact ( pengaruh ), dan post-impact (pasca pengaruh), mengikuti, dan mentaati ( Muska Mosston, 1981 : 13 ).
Hakekat dari gaya mengajar komando adalah hubungan langsung perintah dari guru ke siswa. Ada perintah yang dilakukan guru mendahului setiap gerakan yang dihasilkan siswa. Setiap gerakan siswa dilakukan menurut perintah yang dicocokan oleh guru. Karena itu, “semua keputusan tentang lokasi, postur tubuh, waktu mulai langkah dan ritme, waktu berhenti, durasi dan interval, dibuat oleh guru”. Muska Mosston ( 1981 : 13 )
d. Implementasi Gaya mengajar Resiprokal dalam Pembelajaran Senam lantai.
Dalam gaya mengajar resiprokal, tanggung jawab memberikan umpan balik bergeser dari guru ke teman sebaya. Pergeseran peranan ini memungkinkan peningkatan interaksi sosial antar teman sebaya dan umpan balik langsung.
1. Anatomi Gaya Resiprokal
Di dalam perangkat keputusan sebelum pertemuan. Pengadaan umpan balik langsung digeser kepada seorang pengamat .
Kelas diatur berpasangan dengan peranan-peranan khusus untuk setiap partner.Salah satu dari pasangan adalah “pelaku” lainnya menjadi pengamat .Guru memegang peranan khusus untuk berkomunikasi dengan pengamat.Peranan pengamat adalah memberikan umpan balik kepada pelaku dan berkomunikasi dengan guru. Guru mengamati tetapi hanya berkomunikasidengan pengamat . Guru membuat semua keputusan sebelum pertemuan. Pelaku membuat keputusan selama pertemuan,pengamat membuat keputusan umpan balik sesudah pertemuan.
commit to user 2. Sasaran Gaya Resiprokal
Sasaran gaya resiprokal ini berhubungan dengan tugas dan peranan murid.
a.Tugas (pokok Bahasan)
Memberi kesempatan untuk latihan berulang kali dengan seorang pengamat.
Murid menerima umpan balik langsung, pebagai pengamat, murid memperoleh pengetahuan mengenai penampilan tugas.
b. Peranan siswa
Memberi dan menerima umpan balik, mengamati penampilan teman
membandingkan dan mempertentangkan dengan kriteria yang ada, menyampaikan hasilnya kepada pelaku, menumbuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kawan, memberikan umpan balik.
3. Pelaksanaan Gaya Resiprokal
a. Dalam gaya resiprokal ada tuntutan-tuntutan baru bagi guru dan pengamat.
Guru harus menggeser umpan balik kepada siswa ,pengamat harus belajar bersikap positif dan memberi umpan balik.Pelaku harus belajar menerima umpan balik dari teman sebaya ini memerlukan adanya rasa percaya.
b. Keputusan-keputusan 1) Sebelum pertemuan:
Guru menambahkan lembaran desain kriteria kepada pengamat untuk dipakai dalam gaya ini.
2) Selama pertemuan:
a).Guru menjelaskan peranan-peranan baru dari pelaku dan pengamat .
b).Perhatian bahwa pelaku berkomunikasi dengan pengamat dan bukan dengan guru.
commit to user c).Jelaskan bahwa peranan pengamat adalah untuk menyampaikan umpan balik berdasarkan kriteria yang terdapat dalam lembaran yang diberikan.
3) Sesudah pertemuan:
a).Menerima kriteria
b).Mengamati penampilan pelaku
c).Membandingkan dan mempertentangkan penampilan dengan kriteria yang diberikan.
d).Menyimpulkan apakah mengenai penampilan benar atau salah.
e).Menyampaikan hal-hal mengenai penampilannya kepada pelaku.
4) Peranan guru adalah :
a. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengamat.
b. Berkomunikasi dengan pengamat saja.
Ini memungkinkan timbulnya saling percaya antara pelaku dan pengamat. Komunikasi guru dengan pelaku akan mengurangi peranan pengamat.
5) Pada waktu tugas telah terlaksana, pelaku dan pengamat berganti peranan.
6) Proses pemilihan partner dan pemantauan keberhasilan proses adalah penting.
7) Guru bebas untuk mengamati banyak siswa selama pelajaran berlangsung.
c. Pemilihan pokok bahasan:
1)Ini menentukan garis-garis pedoman untuk perilaku pengamat.
2)Lima bagian lembaran kriteria adalah:
a) Uraian khusus mengenai tugas ( termasuk pembagian tugas secara berurutan ).
b) Hal-hal yang khusus yang harus dicari selama penampilan ( kesulitan yang potensial ).
c) Gambar atau sketsa untuk melukiskan tugas.
d) Contoh-contoh perilaku verbal untuk dipakai sebagai umpan balik.
commit to user
e) Mengingatkan peranan pengamat ( apabila siswa telah memahami gaya ini, bagian ini bisa dihapuskan ).
4. Pertimbangan-pertimbangan khusus untuk Gaya Resiprokal Interaksi antara guru dan pengamat:
a.Pengamat harus dianjurkan untuk berkomunikasi menurut kriteria yang telah disusun.
b.Pastikan bahwa pengamat memberikan umpan balik yang akurat yang berhubungan dengan criteria. 1)Seringkali pengamat terlalu kritis dan harus belajar mengikuti criteria yang telah ditentukan.2)Guru perlu menekankan tanggung jawab positif dari pengamat. 3)Guru perlu membantu pelaku dan pengamat untuk berkomunikasi.
c.Pada akhir beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan Gaya guru harus meninjau kembali penampilan para pengamat menekankan perubahan-perubahan yang perlu diadakan dalam perilaku mereka.
d.Teknik untuk mengatur kelas dalam pasangan-pasangan.
e. Dalam beberapa pelajaran pertama dengan menggunakan gaya ini sasarannya akan memerlukan pemusatan perhatian pada penerimaan siswa terhadap peranan pelaku dan pengamat.
f. Kelompok kecil yang terdiri dari dua orang juga dapat memakai gaya ini. 1) Dalam kelompok-kelompok ini mungkin ada pencatat, pemberi nilai atau pengawas. (2) Peranan pelaku dan pengamat tidak berubah, tetapi setiap siswa dalam kelompok yang lebih besar menerima
peranan-peranan ini secara bergantian.(3)Kekurangan peralatan, ruang atau jumlah siswa yang besar menyebabkan perlunya penggunaan lebih dari dua siswa dalam kasus ini.
Dari urain kerangka dasar gaya mengajar resiprokal tersebut di atas maka penulis simpulkan bahwa penerapan atau implementasi gaya mengajar resiprokal yang diterapkan dalam pembelajaran senam lantai , dengan materi diantaranya guling depan , guling belakang, guling lenting , dan meroda adalah sebagai berikut , murid diatur secara berpasangan, satu sebagai pelaku, dan yang lain sebagai pengamat. Dalam melakukan pembelajaran gerakan senam lantai ini , antar
commit to user
pasangan melakukan gerakan senam lantai tersebut di atas secara bertahap sesuai dengan yang diajarkan oleh guru , yaitu yang diawali dengan tahapan- tahapan gerakan bagian perbagian sampai dengan gerakan rangkain senam lantai secara keseluruhan , dilakukan secara bergantian peran yaitu sebagai pelaku dan pengamat dan masing –masing saling koreksi gerakan , jika ada kesulitan dalam pelaksanaan , guru hanya berkomunikasi dengan pengamat.
e. Implementasi Gaya mengajar Komando dalam Pembelajaran Senam lantai 1. Anatomi Gaya Komando
a. Dalam setiap anatomi gaya, Mosston meninjau dari tiga perangkat keputusan: pra-pertemuan, selama pertemuan berlangsung, dan pasca pertemuan. Keputusan yang dibuat guru dan yang akan diteruskan kepada siswa .
b. Untuk gaya komando atau gaya perintah ini, semua keputusan diambil oleh guru.
2. Sasaran Gaya Komando
a.Bagian ini akan merinci peranan guru, peranan siswa dan hasil yang dicapai karena penggunaan gaya yang diuraikan.
b.Dengan menggunakan gaya komando, maka sasaran yang dicapai akan melibatkan siswa yang akan mengikuti petunjuk-petunjuk guru,
dengan sasaran-sasaran sebagai berikut: respon langsung terhadap petunjuk yang diberikan, penampilan yang sama / seragam , penampilan yang disinkronkan , penyesuaian , mengikuti model yang telah ditentukan , mereproduksi model , ketepatan dan kecermatan respons , meneruskan kegiatan dan tradisi kultural , mempertahankan tingkat estetika, meningkatkan semangat kelompok , penggunaan waktu secara efisien , pengawasan keamanan.
3. Menyusun Pelajaran Gaya Komando
a.Semua keputusan pra-pertemuan dibuat oleh guru : pokok bahasan, tugas- tugas , organisasi , dan lain-lain .
b.Semua keputusan selama pertemuan berlangsung dibuat oleh guru:
commit to user
penjelasan peranan guru dan siswa, penyampaian pokok bahasan, penjelasan prosedur organisasi , regu, kelompok , penempatan dalam wilayah kegiatan .
Perintah yang harus diikuti : urutan kegiatan , peragaan , penjelasan, pelaksanaan, penilaian
c. Keputusan pasca-pertemuan, Umpan balik kepada siswa, Sasarannya:
harus memberi banyak waktu untuk pelaksanaan tugas.
4. Implikasi Penggunaan Gaya Komando
a.Standar penampilan sudah mantap dan pada umumnya satu modeluntuk satu tugas.
b.Pokok bahasan dipelajari secara meniru dan mengingat melalui penampilan.
c. Pokok bahasan dipilih-pilah menjadi bagian-bagian yang dapat ditiru.
d.Tidak ada perbedaan individual diharapkan menirukan model.
5.Unsur-unsur khas dalam pelajaran dengan gaya Komando a.Semua keputusan dibuat oleh guru
b.Menuruti petunjuk dan melaksanakan tugas merupakan kegiatan utama dari siswa.
c.Menghasilkan tingkat kegiatan yang tinggi.
d.Dapat membuat siswa merasa terlibat dan termotivasi
e.Mengembangkan perilaku berdisiplin karena prosedur yang telah ditetapkan.
6. Saluran-saluran pengembangan gaya Komando
a.Menurut Mosston, selama masa belajar-mengajar, setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan keterampilan fisik, sosial, emosional, dan kognitifnya.
b.Mosston berbicara tentang empat saluran perkembangan:
Saluran fisik meningkat dengan pesat selama menggunakan gaya Komando, saluran sosial-terbatas, saluran emosional terbatas , saluran kognitif terbatas .
Sesuai dengan kerangka dasar, gaya komando yang diuraikan diatas, penulis menggaris bawahi bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran senam lantai dengan gaya
commit to user
mengajar komando ini, semua peran yang dilakukan hanya tergantung pada perintah guru, siswa hanya mengikuti apa yang menjadi perintah dari guru didalam pembelajaran senam lantai , yang dimulai dari gerakan gerakan tahapan sampai dengan rangkain gerakan senam lantai secara keseluruhan dan dilakukan secara berulang – ulang. Semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa tergantung perintah atau petunjuk dari guru dan siswa mengikuti, menirukan atau menyesuaikan dengan tugas apa yang diberikan oleh guru.
Perbedaan prinsip Gaya mengajar Komando dan Resiprokal
Resiprokal Komando siswa untuk memberikan umpan balik terhadap pasangannya
Ditandai dengan kondisi dimana pihak guru yang paling dominan pembuat keputusan dan siswa mentaati perintah / petunjuk guru.
Gerakan siswa mengikuti contoh guru, segala keputusan dilakukan oleh guru,respon dilakukan sebagai perintah guru.
Setiap pengajaran dibebankan pada aksi peragaan,guru menjelaskan dan yang indah dapat mempengaruhi persepsi siswa
commit to user
Sebelum pertemuan guru sudah membuat criteria yang akan dilakukan oleh pelaku, pembagian kelompok, pelaku dan pengamat.
Selama pertemuan :
Pelaku melaksanakan perintah sesuai kriteria guru dan hanya berkomunikasi dengan pengamat.
Pelaku harus berusaha menerima umpan balik dari pengamat.
Pasca / sesudah pertemuan :
Pengamat memberikan umpan balik secara langsung kepada pelaku sesuai kriteria guru.
Semua materi keputusan diambil oleh guru
Pasca / sesudah pertemuan :
Semua materi keputusan diambil oleh guru.
Karena itu semua keputusan tentang lokasi, postur tubuh, waktu, ritme, waktu berhenti, durasi, materi, peragaan, perintah, keputusan.
Kosekwensinya,tetap
mempertahankan pengetahuan, pengalaman, serta standart yang sudah dimiliki.
commit to user 3. Kekuatan otot
a.Pengertian kekuatan.
Kemampuan kondisi fisik sangat memegang peran penting dihampir semua cabang olahraga tertentu. Namun demikian setiap cabang olahraga selalu memiliki unsur kondisi fisik dominan. Dominasi dari unsur kondisi fisik dalam setiap cabang olahraga bergantung pada karakteristik dari cabang olahraga. Cabang olahraga yang dalam proses gerakanya membutuhkan kemampuan untuk menahan dan mengangkat beban, maka unsur kekuatan memegang peran yang dominan.
Dalam cabang olahraga senam, unsur kekuatan memegang peran penting.
Seseorang pesenam akan mampu melakukan berbagai elemen gerak senam dengan baik, jika didukung oleh kekuatan otot yang baik. Dalam hal ini. Pate dkk, ( 1984 : 303 ) mengemukakan bahwa kekuatan otot dan ketahanan otot merupakan faktor yang sangat menentukan pada cabang senam. Demikian halnya Bompa ( 1994 : 188 ) mengajukan agar lebih memfokuskan unsur kekuatan dalam program persiapan umum dan kekuatan khusus / power pada persiapan khusus cabang olahraga senam.
Kekuatan merupakan suatu elemen dalam berbagai ciri penampilan. Kekuatan dapat membantu meningkatkan komponen-komponen seperti kecepatan, keseimbangan dan ketepatan. Kekuatan merupakan salah satu unsur yang harus dimiliki siswa, karena setiap kinerja dalam senam selalu memerlukan kekuatan. Dalam hal ini, Harsono ( 1988 : 177 ) menyatakan bahwa kekuatan adalah komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena: 1) Kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktifitas fisik, 2) Kekuatan memegang peranan penting dalam melindungi atlet / orang dari kemungkinan cidera, 3) Kekuatan dapat mendukung kemampuan kondisi fisik yang lebih efisien. Meskipun banyak aktifitas olahraga yang lebih memerlukan kelincahan, fleksibilitas, kecepatan, daya ledak, dan aktifisik lainnya, namun faktor tersebut tetap dikondisikan dengan faktor kekuatan agar diperoleh hasil yang baik.
Menurut Pate ( 1984 : 12 ), kekuatan adalah tenaga yang dipakai untuk mengubah keadaan gerak atau bentuk dari suatu benda.Gerakan mendorong atau