• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. GAMBARAN SPIRITUALITAS PERSEKUTUAN MENURUT

D. Unsur-unsur yang Perlu Dibangun

2. Menumbuhkan Sikap yang Membangun Persekutuan

Dalam artikel 29, dokumen menjelaskan tentang spiritualitas persekutuan sebagai kecakapan untuk memikirkan saudara-saudara dan saudari-saudari kita dalam pangkuan kesatuan mendalam Tubuh Mistik. Tubuh Mistik Kristus adalah gambaran Gereja menurut Paulus (1 Kor.12:12-31). Kristus sebagai Kepala dari Tubuh Mistik tersebut sedangkan umat beriman adalah anggota dari Tubuh Mistik yang dipersatukan oleh Kepala yaitu Kristus. Antara Kepala dengan anggota dan antar anggota sendiri terjalin hubungan yang intim, saling mengasihi. Suatu persekutuan yang dijiwai oleh persekutuan kasih Allah Tritunggal yang senantiasa menyertai Gereja (2 Kor.13:13). Setiap anggota dianugerahi karunia khusus untuk pelayanan, dengan demikian ada berbagai pelayanan yang dilaksanakan untuk perkembangan Tubuh Mistik itu sendiri. Dalam persekutuan ini kesatuan tidak menyeragamkan dan keragaman tidak mengacau-balaukan. Keunikan masing-masing

tidak menjadi ketertutupan terhadap yang lain dan kebersaman tidak menjadi kolektivisme atau komunalisme (Putranta, 1998 : 66 ).

Persekutuan hidup dengan saudara-saudari yang dijiwai oleh persekutuan kasih Allah Tritunggal ini mengundang kaum hidup bakti untuk membangun sikap-sikap yang dapat mengembangkan persekutuan hidup dengan sesama saudari dalam komunitas dan Gereja, suatu persekutuan yang melahirkan persekutuan, atau persekutuan misioner. Persekutuan bisa berkembang apabila setiap anggota merasa menjadi bagian dari anggota lain dalam persekutuan. Sikap belongingness ini akan menumbuhkan rasa penghargaan yang mendalam pada setiap pribadi yang merupakan bagian dari saya, yang sama-sama diciptakan menurut gambar Allah yang baik. Kesadaran bahwa saya adalah bagian dari saudari lainnya yang menumbuhkan rasa penghargaan saya terhadap orang lain itu akan memudahkan kita untuk bersikap solider terhadapnya.

a. Menjadi Bagian dari Sesama

Persekutuan yang berdasarkan pada kasih Allah Tritunggal menumbuhkan sikap belongingness. Sikap sebagai fungsi pengungkap nilai cinta kasih, kesatuan dan persekutuan Allah Tritunggal ini didorong oleh perasaan dan pikiran bahwa saya adalah bagian dari sesama saudari saya sebagaimana mereka juga adalah bagian dari saya (BSDK, art. 29).

Manusia diciptakan tidak sendirian. Allah menciptakan Adam yaitu manusia dalam arti jamak. Allah memberi Adam teman hidup yaitu Hawa (Kej.1-2), dengan demikian manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan diciptakan dalam

persekutuan. Lumen Gentium bicara tentang rencana keselamatan Allah untuk mengumpulkan dan mempersatukan manusia di hadapan Bapa (LG, art. 2) dengan Kristus (LG, art. 3) dan dalam Roh Kudus (LG, art. 4), sehingga terciptalah persekutuan yang berpola pada Allah Tritunggal.

Menjadi bagian dari sesama berarti transendensi diri. Transendensi diri membutuhkan keberanian untuk keluar dari diri sendiri meninggalkan egoisme dan individualisme agar dapat masuk ke dalam persekutuan dengan yang lain, bersama-sama membuat sejarah dan membangun ikatan kesalingtergantungan dan solidaritas. Tidak ada yang diasingkan dan tidak ada yang mengasingkan. Transendensi yang hidup tak pernah jenuh untuk merealisasi diri bagi pembentukan persekutuan (Boff, 1999: 144). Roh manusia selalu mengarahkan diri keluar dari dirinya, dorongan yang kuat untuk keluar dari diri dan menyatu dengan yang lain dan dengan yang Mutlak ini akan membuat persekutuan semakin mendalam, menampilkan kesaksian hidup yang seutuhnya diserahkan kepada Allah dan manusia.

Kesadaran bahwa saya adalah bagian dari sesama dalam persekutuan, berarti saya berhak mengambil bagian atau mempunyai bagian untuk memberikan diri saya kepada sesama dalam persekutuan, untuk masuk ke dalam hidup orang lain (Darminta, 1981: 26), dan untuk berpartisipasi dalam memperkembangan hidup setiap pribadi yang berdampak pada perkembangan hidup persekutuan. Kesadaran bahwa sesama adalah bagian dari saya berarti saya mendapat bagian atau berkewajiban untuk menerima dan menghargai sesama saya yang merupakan bagian

dari saya serta solider dengan keadaannya baik suka maupun duka sebagai bagian dari saya.

b. Menghargai Sesama

Dokumen mengundang kaum hidup bakti untuk memandang apa pun yang positif pada sesama, menyambutnya baik dan menghargainya sebagai kurnia dari Allah (BSDK, art. 29). Sikap menghargai sesama dipengaruhi oleh pandangan yang postitif terhadap sesama. Sesama sungguh berharga dan bernilai pada dirinya sendiri. Sesama adalah manusia yang sama dengan kita yang diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Manusia menerima napas kehidupan Allah (Kej 2:7), menerima berkat, kehendak bebas, akal budi dan otonomi atas dunia (Kej 1:26-31). Ketika manusia berdosa dan menodai gambar Allah dalam dirinya, Roh Kudus memulihkan manusia menjadi ciptaan baru (Ef 4:23-24). Manusia dilahirkan kembali dalam Roh (Yoh 3: 5-6). Roh Kudus dikaruniakan kepada manusia (Rom 5:5). Roh mengangkat manusia menjadi putra-putri Allah yang memampukan manusia memanggil Allah sebagai Bapa (Rom 8:15). Roh menuntun manusia pada kebenaran (Yoh 16:13-15). Manusia menerima karunia Roh yang berbeda-beda untuk membangun jemaat (1 Kor 12:1-11). Dasar biblis dari martabat manusia ini menunjukkan bahwa manusia itu adalah ciptaan Allah yang baik dan dicintai oleh Allah. Manusia yang menjadi sesama kita adalah tanda kasih karunia dan kasih setia Allah kepada kita. Kita pantas mensyukuri dan menghargai siapapun yang menjadi sesama kita karena ia adalah citra Allah yang dianugerahkan untuk kita dan tanda dari kasih dan kesetiaan Allah kepada kita.

Manusia yang menjadi sesama kita ini memiliki keunikannya masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Sesama dengan demikian adalah orang yang berbeda dengan kita, perbedaan itu nampak dalam karakter, bakat dan kemampuan serta kelemahan pribadi (KGK, art. 1937). Perbedaan ini perlu disadari, diakui, diterima dan dijadikan sarana kesalingan yang postitif dalam persekutuan hidup, hubungan timbal balik dalam semangat berbagi seperti saling mendukung, saling melengkapi, saling memperkaya demi perkembangan hidup setiap pribadi maupun bersama. Manusia yang oleh karena kelemahannya jatuh ke dalam dosa dan melukai persekutuan adalah tetap manusia yang pantas dihargai karena ia adalah Citra Allah. Apabila kelemahan itu melukai kita, kita pantas tidak menyukai kesalahannya tetapi tidak orangnya. Kedosaan memang menodai gambar Allah dalam dirinya tetapi tidak menghapusnya. Dalam kedosaannya manusia tetap citra Allah yang masih memiliki kebaikan asali dan kemampuan untuk kembali kepada Allah. Mereka justru perlu ditemani untuk bisa menjadi manusia baru, untuk membuka diri kepada kasih Allah melalui Yesus yang telah menebus dosa manusia dan dalam kekuatan Roh Kudus.

Penyambutan, penghargaan dan berpikir positif terhadap sesama terutama yang lemah dan miskin bertolak dari keutamaan cinta kasih yang telah dianugerahkan Tuhan pada manusia. Kasih ini yang mendorong manusia untuk bersikap positif terhadap sesama yang baik maupun yang kurang baik, yang lemah maupun yang kuat. Bersikap positif berarti kehendak untuk mengenal sesama, menerima kebaikan dan kelemahannya, sehingga mampu memahami sikap dan

perbuatannya. Pemahaman adalah pengampunan yang diberikan sebelum orang yang menyakiti kita memintanya, seperti Yesus ketika berada di atas kayu salib mengampuni orang yang menyalibkanNya karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34). Pemahaman membebaskan kita dari kebencian dan prasangka buruk yang tidak pada tempatnya (KGK, art. 1933). Pemahaman menciptakan hati yang besar untuk melihat sesama dalam kelemahannya yang perlu diterima bahkan dibantu agar orang itu terbebas dari kelemahan yang tanpa disadari telah memperbudaknya, dan mengembalikan harga tak ternilai dari dirinya.

Menghargai sesama berarti juga tidak memperlakukan sesama menurut fungsinya, atau kegunaannya saja secara ekonomis, namun menurut hakekatnya sebagai citra atau gambaran Allah dan menurut martabatnya sebagai pribadi dengan hak-hak yang timbul darinya (KGK, art.1930,1931). Menghargai sesama juga tidak lepas dari penghargaan terhadap kehidupannya (BSDK, art. 45).

c. Solider Terhadap Sesama

Artikel 29 mengundang kaum hidup bakti untuk bersikap solider, ikut menanggung kegembiraan dan penderitaan saudara-saudari kita, merasakan keinginan-keinginan mereka, dan saling menanggung beban sesama (BSDK, art. 29). Solidaritas adalah berbagi hidup dan sarana-sarananya dengan orang lain (Darminta, 1998: 23). Sikap solider yang tumbuh dalam persekutuan akan menumbuhkan relasi antar pribadi yang semakin mendalam dan akan membangun kebersamaan baik dalam suka maupun duka.

Sebagaimana Yesus sendiri memberi teladan solidaritas dengan menjadi manusia, hidup bersama manusia, turut merasakan perjuangan manusia dalam kemiskinan, kesengsaraan dan kedosaannya (GE, art. 32). Kaum hidup bakti diundang untuk memiliki sikap solider terhadap sesama di komunitas maupun di luar komunitas, terutama kepada orang miskin. Solidaritas bisa diungkapkan dengan mengerti bagaimana menghadapi orang, mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka dan memahami problem mereka, dengan memberi perhatian pada tanda-tanda zaman atau konteks hidup mereka, sehingga dapat menanggapi permasalahan mereka dengan tepat sesuai dengan kebutuhan mereka (BSDK, art. 36).

Dokumen terkait