Panwaslu Kelurahan/
4. Identifikasi Masalah
5.4. Menurunkan Indeks Kerawanan Pemilu
Berbagai upaya, strategi dan inovasi yang dilakukan jajaran pengawas pemilu di Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam rangka pengawasan melekat untuk menjamin hak pilih di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste cukup berhasil.
Indikatornya adalah menurunnya indeks kerawanan yang ditandai dengan minimnya keberatan dan protes warga akibat tidak dapat memberikan hak pilihnya saat saat pemungutan dan penghitungan suara berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian Bawaslu dalam IKP 2019, Provinsi NTT termasuk salah satu dari 15 provinsi dengan IKP tertinggi atau berada pada zona merah. Pada dimensi penyelenggaraan pemilu yang bebas dan adil, terdapat 17 kabupaten/kota berada pada kategori Rawan-Tinggi. Termasuk didalamnya adalah tiga kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste.
134
Serial Evaluasi Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019
Keterangan Foto: Seorang Siswi SMU, anggota Pramuka Kwarda NTT menanyakan syarat memilih pada kegiatan sosialisasi bagi pemilih pemula. Foto: Dok. BawasluNTT.
Pada sub dimensi hak pilih, skor Kabupaten Malaka sebesar 90,91, disusul Kabupaten Belu 81,82, dan Kabupaten Timor Tengah Utara 72,73 sementara rata-rata nasional hanya 53,80. Untuk menindaklanjuti IKP 2019, Bawaslu Provinsi Nusa Tenggara Timur mengambil sejumlah strategi dalam rangka mencegah eskalasi politik akibat kerawanan dimaksud.
Langkah pertama yang dilakukan yakni berkoordinasi dengan Bawaslu Kabupaten/Kota untuk menyamakan pemahaman tentang upaya yang harus dilakukan disetiap daerah.
Langkah kedua yakni menginstrukikan kepada kepada semua kabupaten/kota membuka posko pengaduan pemilih di Sekertariat Bawaslu Kabupaten/kota, Sekertariat Panwaslu Kecamatan dan Sekertariat Panwaslu Desa/Kelurahan. Total posko pengaduan daftar pemilih di Provinsi NTT sebanyak 1046 Posko. Di Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka jumlah Posko sebanyak 50 dengan sebaran paling banyak di wilayah perbatasan.
Perihal Pelaksanaan Hak Politik
135 Keterangan Foto: Pengawasan pendataan pemilih warga eks Timor Timur di kamp Silawan perbatasan Timor Leste. Foto: Dok Bawaslu Kabupaten Belu.
Langkah selanjutnya adalah mengisntruksikan kepada Bawaslu Kabupaten/Kota untuk meningkatkan koordinasi secara intensif dengan dinas kependudukan dan catatan sipil agar lebih pro aktif melakukan perekaman KTPe termasuk melakukan perekaman di desa-desa di perbatasan dan daerah terpencil.
Berbagai upaya itu dilakukan karena berdasarkan data hasil pengawasan Bawaslu Provinsi NTT, sampai dengan bulan Februari 2018, penduduk wajib pilih di Provinsi NTT yang belum melakukan perekaman KTP-elektronik sebanyak 968.643 orang dari total wajib pilih sebanyak 3.901.728 orang dengan prosentasi perekaman KTP-elektronik baru mencapai 75,17 persen. Dari jumlah tersebut, terbanyak yang belum melakukan perekaman KTP-elektronik adalah Kabupaten Malaka, yakni 72.451 orang atau hanya 54,07 persen dari total wajib pilih sebanyak 157.737 orang. Sementara Kabupaten Timor Tengah Utara prosentase perekaman KTP-elektronik adalah sebanyak 81,31 persen. Sebanyak 35.050 orang dari total wajib pilih 187.315 belum melakukan perekaman. Kabupaten Belu prosentasi perekaman KTP-elektronik sebanyak 88,97 persen dari total wajib pilih 170.919 orang. Yang belum melakukan perekaman sebanyak 18.858 orang.
136
Serial Evaluasi Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019
Keterangan Foto: Penyerahan blanko KTPe bagi narapidana di Lapas Klas II A Kupang untuk selanjutnya didata dan dimasukan dalam daftar pemilih Pemilu 2019. Pada Pemilu sebelumnya para narapidana dan tahanan yang telah memenuhi syarat memilih mengeluh karena tidak memiliki KTPe sehingga kehilangan hak pilih. Foto: Dok. Bawaslu NTT.
Upaya lain yang dilakukan Bawaslu Provinsi NTT adalah mengeluarkan himbauan melalui media massa, media social dan pelibatan tokoh agama untuk mendorong pemilih melakukan perekaman KTPe. Ditingkat kabupaten/kota Bawaslu membangun kerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kabupaten/kota melakukan perekaman KTP-elektronik di desa atau daerah pedalaman yang jauh dari pemukiman warga (pola jemput bola). Cara lain yang dilakukan antara lain berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menambah mesin alat perekaman KTP-elektronik yang ditempatkan di kantor kantor camat serta memperbaiki alat perekaman yang sudah rusak.
Beberapa strategi ini mampu menekan tingkat kerawanan yang berkaitan dengan jaminan hak pilih. Hal ini terbukti dimana sampai dengan 31 Desember 2018 prosentasi perekaman KTP-elektronik di 22 kabupaten diatas 88,35 persen atau mengalami peningkatan signifikan termasuk prosentase perekaman KTP-elektronik di Kabupaten Malaka yang mencapai 83,81 persen, Kabupaten Timor Tengah Utara mencapai 89,89 persen dan Kabupaten Belu mencapai 90,12 persen.
Perihal Pelaksanaan Hak Politik
137
Tingkat partisipasi dalam pemilu 2019 juga mengalami peningkatan.Apabila dibandingkan dengan pemilu 2014, tingkat partisipasi pemilih pada pemilu 2019 di tiga kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste meningkat signifikan. Di Kabupaten Belu, pada Pemilu 2014 partisipasi pemilih adalah sebesar 70,75 persen. Sementara pada Pemilu 2019 bertambah menjadi 75,55 persen. Jumlah pemilih DPT, DPTb dan DPK di Kabupaten Belu di Pemilu 2019 sebanyak 134.122. Jumlah pengguna hak pilih sebanyak 101.323. Peningkatan partisipasi terjadi dihampir sebagian besar kecamatan di perbatasan.
Tabel 6.
Partisipasi Pemilih di Perbatasan Kabupaten Belu.
Keca-matan Desa Jumlah
Pemilih Jumlah
Henes 363 311 85,67
Lakmaras 732 617 84,29
Loonuna 974 727 74,64
Lutharato 646 506 78,33
Sisi Fatuberal 500 417 83,40
Debululik 818 562 68,70
Jumlah 4.033 3.140 77,86
Lamaknen
Lamaksenulu 876 745 85,05
Makir 1.125 913 81,16
Mahuitas 319 245 76,80
Kewar 1.006 767 76,24
Duarato 321 254 79,13
Maudemu 967 719 74,35
Jumlah 4.614 3.643 78,96
Raihat
Asumanu 1.484 938 63,21
Tohe 4.438 2.582 58,18
Maumutin 1.923 1.372 71,35
Aitoun 1.306 861 65,93
Jumlah 9.151 5.753 62,87
138
Serial Evaluasi Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019
Tasifeto Timur
Tulakadi 739 576 77,94
Sadi 1.127 740 65,66
Sarabau 493 374 75,86
Silawan 2.736 1.910 69,81
Dafala 1.107 848 76,60
Takirin 658 501 76,14
Jumlah 6.860 4.949 72,14
Nunaet Duabesi
Nanaet 813 518 63,71
Fohoeka 938 641 68,34
Nanaenoe 619 453 73,18
Jumlah 2.370 1.612 68,02
Sumber: Data Hasil Pengawasan Bawaslu Kabupaten Belu
Kenaikan tingkat partisipasi pemilih juga terjadi di Kabupaten Malaka. Pada Pemilu 2014, partisipasi pemilih hanya sebesar 61,05 persen. Sementara di Pemilu 2019 partisipasi pemilih adalah 71,08 persen. Jumlah pemilih DPT, DPTb dan DPK di Kabupaten Malaka pada Pemilu 2019 adalah sebanyak 122.361 orang. Jumlah pengguna hak pilih sebanyak 86.982 orang.
Tabel 7.
Prosentasi Pemilih di Kecamatan Kobalima Timur Kab. Malaka
Keca-matan Desa Jumlah
Pemilih Jumlah
Alas 1.095 813 74,24%
Alas Utara 726 494 68,04%
Alas
Selatan 1.858 1.457 78,41%
Kota Biru 774 592 76,48%
Sumber: Data hasil pengawasan Bawaslu Kab. Malaka
Di Kabupaten Timor Tengah Utara, tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 adalah sebanyak 77,38 persen.
Jumlah pemilih DPT, DPTb dan DPK sebanyak 171.815.
Jumlah seluruh pengguna hak pilih sebanyak 132.966 orang.
Perihal Pelaksanaan Hak Politik
139
Sementara pada Pemilu 2014, jumlah pemilih Kabupaten Timor Tengah Utara adalah 159.549, jumlah seluruh pengguna hak pilih adalah 109.539 dan tingkat partisipasi pemilih sebesar 68.65 persen.Peningkatan partispasi pemilih pada Pemilu 2019 terjadi secara merata di desa-desa perbatasan. Berdasarkan hasil pengawasan, partisipasi pemilih di enam kecamatan yang terletak diperbatasan di atas 72 persen. Terbanyak di Kecamatan Insana Utara yang mencapai 80,94 persen.
Tabel 8.
Partisipasi Pemilih di 6 Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara Perbatasan Indonesia-Timor Leste
No
1. Insana Utara 6.595 5.338 80,94
2. Naibenu 3.855 2.931 76,03
3. Bikomi Utara 4.564 3.607 79,03
4. Bikomi Nilulat 3.370 2.581 76,58
5. Miomaffo
Barat 11.411 8.266 72,43
6. Mutis 4.844 3.519 72,64
Sumber : Dok Hasil Pengawasan Bawaslu Kab. Timor Tengah Utara.
Upaya lain yang cukup efektif yang dilakukan Panwaslu kecamatan dan Panwaslu desa/kelurahan di wilayah perbatasan adalah dengan melibatkan kelompok perempuan sebagai ujung tombak dalam kegiatan sosialisasi dan kampanye menjamin hak pilih bagi kelompok rentan.
Pelibatan kelompok perempuan sangat penting karena di wilayah perbatasan, perempuan memegang peran sentral dalam urusan rumah tangga termasuk dalam memberikan pendidikan pemilih bagi anak-anak. Di Kabupaten Malaka yang menganut sistem keturunan matrilinear, peranan perempuan dalam mengambil kebijakan cukup dominan sehingga pola pendekatan yang digunakan pengawas pemilu adlah dengan melibatkan sebanyak mungkin perempuan sebagai pengawas desa/kelurahan atau sebagai relawan dalam pencegahan pelanggaran pemilu. Lebih dari 40 persen pengawas desa/
kelurahan dan pengawas TPS di Kabupaten Malaka adalah perempuan.
140
Serial Evaluasi Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019
Keterangan Foto: Sosialisasi Pengawasan Partisipatif bagi pemilih rentan khususnya perempuan di Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse-Timor Leste November 2018. Foto: Dok Bawaslu Kabupaten Timor Tengah Utara.
Pendekatan berbasis kearifan lokal yang digunakan pengawas pemilu guna menjamin hak pilih di wilayah perbatasan cukup efektif. Totalitas pengawasan yang dilakukan dengan membangun kerjasama dengan para pemangku kepentingan, pertukaran informasi dengan pihak-pihak terkait di wilayah perbatasan Timor Leste, melibatkan para kepala suku dan kepala desa perbatasan sebagai relawan pengawas pemilu serta adanya posko pengaduan daftar pemilih merupakan bagian dari solusi untuk menyelesaikan carut marutnya daftar pemilih.