DAlAM PerteMuAn DI MArKAS BeSAr PBB, BPK
rI MeMPreSentASIKAn PerSIAPAn PeMerIKSAAn
AtAS KeSIAPAn PeMerIntAh InDoneSIA DAlAM
MelAKSAnAKAn IMPleMentASI SDGS.
di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.
Pertemuan internasional ini pada dasarnya merupakan forum diskusi dan knowledge sharing mengenai isu penting terkait kesiapan implementasi SDGs, yang kerap disebut juga dengan Agenda 2030, di berbagai negara termasuk dari sisi tugas lembaga pemeriksa untuk
internasional
negara masing-masing serta tantangan dan peluangnya.
Adapun tema diskusi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman tersebut seputar audit atau pemeriksaan kesiapan SDGs melalui seluruh
pendekatan pemerintah di masing-masing negara; audit integrasi Agenda 2030 ke dalam konteks nasional; audit atas inklusivitas; audit sarana pelaksanaan untuk Agenda 2030; serta pemantauan, tindak lanjut, review dan pelaporan kemajuan Agenda 2030.
Pertemuan yang bertemakan “Auditing Preparedness for Implementation of Sustainable Development Goals (SDGs) tersebut dihadiri pimpinan dari lembaga-lembaga pemeriksa anggota organisasi lembaga-lembaga pemeriksa sedunia atau INTOSAI.
Dalam pertemuan besar tersebut, BPK RI turut hadir. Dimana, BPK RI punya kepentingan karena ikut dilibatkan dalam program IDI dan Knowledge Sharing Committee (KSC) – Piloting Audit on SDGs Preparedness. Selain itu, BPK RI juga ingin berkontribusi dalam mensukseskan implementasi program global SDGs yang diusung negara-negara anggota PBB.
Delegasi BPK RI sendiri yang hadir dipimpin Anggota BPK RI Agus Joko Pramono yang didampingi Auditor Utama (Tortama) Keuangan Negara II BPK RI Bahtiar Arif, serta pemeriksa BPK Tjokorda Gde Budi Kusuma.
Pertemuan dibuka oleh Assistant Secretary-General United Nations (UN) for Policy Coordination and Inter-Agency Affairs Thomas Gass. Dalam sambutannya ia mengatakan, keterlibatan lembaga pemeriksa (Supreme Audit Institutions/ SAI) dalam pelaksanaan, tindak lanjut dan tinjauan terhadap Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sangat dibutuhkan.
Thomas menuturkan bahwa dalam menerapkan Agenda 2030 (SDGs) yang transformatif akan membutuhkan usaha di berbagai bidang, seperti mengadaptasi SDGs ke dalam konteks nasional negara
terpadu dan multipihak terhadap pelaksanaan SDGs; memobilisasi sumber keuangan yang memadai, dan menyiapkan kerangka pemantauan dan review yang sesuai.
Tentu pemerintah memiliki peran kunci dalam mempelopori pelaksanaan. Di sisi lain, lembaga pemeriksa
dapat diposisikan secara unik untuk mempromosikan kepercayaan kepada pemerintah dengan mempromosikan tata pemerintahan publik yang efektif, meningkatkan efisiensi administrasi publik, dan membantu memperbaiki hasil pembangunan.
Dalam pertemuan ini, perlu didiskusikan pemeriksaan kinerja terkait kesiapan pemerintah untuk mengimplementasikan SDGs. Pemeriksaan kinerja merupakan salah satu respon pertama lembaga pemeriksa dalam memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan SDG, tindak lanjut dan tinjauan, dengan memberikan pengawasan independen atas upaya pemerintah dalam pelaksanaan SDG awal.
100 SAI, dari semua wilayah INTOSAI, telah menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam audit semacam itu. Namun, mereka juga mengajukan pertanyaan, banyak yang saya harapkan dari pertemuan ini untuk didiskusikan,” tutur Thomas.
Dalam pertemuan ini sendiri Anggota BPK RI Agus Joko Pramono menyampaikan paparan mengenai rencana pemeriksaan kesiapan implementasi SDGs di Indonesia termasuk kesiapan instansi pemerintah dalam menerapkan SDGs.
Dalam presentasi yang berjudul “Getting institutions ready for the SDGs: Auditing policy coherence and integration” tersebut, Agus menjelaskan tentang perspektif pemeriksaan yang akan digunakan untuk mengaudit kesiapan pemerintah dalam implementasi SDGs. Dimana perspektif tersebut dibagi menjadi dua cluster besar: policy framework cluster dan data framework cluster.
Untuk policy framework cluster, audit akan meliputi area potensial, pertama, dalam konteks kepemilikan nasional, fokus audit akan ditujukan pada proses
Anggota II memberikan presentasi dalam Auditing Preparedness for the Implementation of SDGs SAI Leadership and Stakeholder Meeting, 20-21 Juli 2017 di Markas Besar PBB New York.
pembangunan nasional. Lalu, pada penyesuaian rencana jangka panjang, menengah, dan pendek dalam konteks rencana strategis yang disesuaikan dengan anggaran (budget) untuk level pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kedua, dalam kerangka kelembagaan,
integrasi, dan inklusivitas. Perlu diketahui dan dipahami kejelasan mandat dari instansi perencanaan pembangunan di Indonesia yang dalam hal ini Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas RI) sebagai koordinator untuk dapat memastikan tahapan pelaksanaan implementasi SDGs dari rencana yang telah ditetapkan.
Selain itu, perlu integrasi atas tiga pilar SDGs yaitu di sektor sosial, ekonomi, dan lingkungan serta strategi pemerintah Republik Indonesia untuk menarik peran serta aktor-aktor non-pemerintah dalam program-program SDGs.
Ketiga, Dalam hal sarana dan
prasarana implementasi. Dalam konteks ini perlu kejelasan atas akuntabilitas, proses konsultasi, dan saluran informasi untuk seluruh program-program yang terkait dengan SDGs; mekanisme pelaporan atas pencapaian SDGs; serta proses alokasi anggaran yang memadai.
Keempat, dalam mekanisme
pembelajaran dan umpan balik untuk perbaikan. Dimana, dalam Voluntary National Review 2017, pemerintah Indonesia menyebutkan tentang adanya ruang untuk perbaikan dalam hal pengimplementasian kebijakan satu data untuk memastikan integritas data angka kemiskinan di Indonesia. Untuk merespon hal ini, BPK RI akan menggunakan cluster data framework dalam pemeriksaan yang akan dilaksanakan.
Pertemuan dengan Pemerintah
Sehari sebelum acara di Markas Besar PBB, pada 19 Juli 2017, delegasi BPK RI berkesempatan mengadakan pembicaraan (courtesy call) dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh
untuk PBB di New York Dian Triansyah Djani, di Kantor Perwakilan Tetap RI, New York.
Pada hari yang sama, Delegasi BPK RI juga melakukan pertemuan dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang P.S. Brodjonegoro. Pertemuan tersebut membahas tentang kesiapan Pemerintah Indonesia dalam mendukung dan menerapkan Agenda 2030 (SDGs).
Selain itu, dibicarakan pula mengenai progres terakhir dari Peraturan Presiden tentang SDG yang dilaporkan dalam Voluntary National Review Indonesia 2017 dalam economic and Social Council (ECOSOC) high Level Political Forum on Sustainable Development 2017 yang diselenggarakan sejak 10-19 Juli di tempat yang sama.
Dari pertemuan tersebut diketahui bahwa Pemerintah RI telah menerbitkan Perpres No. 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan pada 4 Juli 2017.
Dengan adanya Perpres ini, maka BPK RI dapat menggunakan indikator
kriteria atas pemeriksaan kinerja yang berorientasi pada hasil. Suatu pemeriksaan kinerja yang fokus pada hasil/outcome, bersifat koheren, dan integratif antar beberapa program lintas sektor, akan menjadi tantangan tersendiri bagi BPK RI dalam upaya mewujudkan visinya untuk “Menjadi pendorong pengelolaan keuangan negara untuk mencapai tujuan negara melalui pemeriksaan yang berkualitas dan bermanfaat.
Terkait SDGs ini, BPK RI sendiri sudah memutuskan untuk mengambil peran dari prioritas INTOSAI, dalam Konggres Lembaga Pemeriksa Sedunia (INCOSAI) XXII di Abu Dhabi pada Deseber 2016 lalu.
BPK RI kala itu memutuskan SDGs merupakan salah satu tema yang menjadi prioritas seluruh lembaga pemeriksa di dunia. Terutama terkait dengan persiapan pemeriksaan kesiapan Pemerintah dalam implementasi SDGs. Selain itu, BPK RI juga ikut serta dalam penyusunan pedoman pemeriksaan kesiapan implementasi SDGs, serta program IDI yang bekerja sama dengan Organisasi Lembaga Pemeriksa se-Asia atau Association Organization of
Delegasi BPK RI bersama Menteri PPN Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dan Wakil Tetap RI untuk PBB Dian Triansyah Djani di New York,19 Juli 2017.