GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.6 Proses Produks
2.6.2 Mesin dan Peralatan
Mesin yang digunakan oleh PT. SC Johnson Manufacturing Medan untuk melakukan proses produksinya dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Data Spesifikasi Mesin Produksi
No. Nama Mesin Fungsi Daya
Tampung
Jumlah
1 Mixer Onggok Memasak tepung onggok ± 180 Kg 3 unit 2 Mixer Tepung Mengaduk/ mencampur seluruh
bahan baku dan tambahan
± 980 Kg 3 unit 3 Mixer Kimia Mengaduk/ mencampur
seluruh bahan kimia
± 180 Liter 2 unit 4 Mesin Crusher Menghancurkan adonan untuk
dapat masuk ke conveyor
± 200 Kg 15 unit 5 Mesin Extruder Membentuk adonan menjadi
lembaran atau lempengan
30 Kg/ menit 15 unit 6 Mesin Mulio Mencetak lempengan menjadi
Double Coil (DC)
9660 DC/ jam 7 unit 7 Mesin Coil
Master
Mencetak lempengan menjadi Double Coil (DC)
182 DC/ menit 8 unit 8 Mesin Oven Memanaskan Double Coil
untuk menurunkan kadar Air
9660 DC/ jam 15 unit 9 Mesin
Wrapping
Mengemas Double Coil (DC) dengan plastik film
±180
bungkus/menit
15 unit Sumber: PT. SC Johnson Manufacturing Medan
Peralatan merupakan alat yang digunakan untuk mendukung proses produksi agar dapat berjalan dengan baik dan optimal. Peralatan yang digunakan oleh perusahaan salah satunya adalah alat untuk material handling dari satu mesin ke mesin yang lain. Material handling yang digunakan perusahaan adalah:
1. Conveyor
Conveyor yang digunakan adalah incline conveyor, diagonal conveyor, dan belt conveyor.
2. Trolley
Trolley digunakan pada bagian produksi untuk mengangkut adonan yang merupakan hasil dari unit mixing ke crusher machine pada bagian stamping.
3. Hand Pallet
Hand pallet digunakan untuk memindahkan bahan baku dari gudang bahan baku ke produksi dan untuk memindahkan bahan jadi dari bagian produksi ke gudang bahan jadi
4. Forklift
Forklift digunakan untuk memindahkan bahan-bahan yang mempunyai volume besar dan berat.
Untuk kelancaran proses produksi perusahaan menggunakan beberapa fasilitas penunjang (utilitas), yaitu:
1. Sumber arus listrik
PT. SC Johnson Manufacturing Medan menggunakan arus listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan generator pembangkit listrik tenaga diesel. Sumber utama yang digunakan dalam kegiatan proses produksi berasal dari rangkaian arus
listrik PLN, penerangan area kerja dan kantor dengan kapasitas terpasang 240 KVA. Sedangkan arus listrik yang dibangkitkan oleh generator berfungsi untuk cadangan jika listrik dari PLN mengalami gangguan atau pemutusan secara tiba- tiba. Mesin generato yang dimiliki perusahaan berjumlah 2 unit dengan kapastitas 700 KVA dan 175 KVA.
2. Tungku Pemanas
Tungku pemanas digunakan untuk menghasilkan panas bagi oven di bagian Drying. Boiler utama yang digunakan adalah Palm Shell Boiler 4500KW dengan bahan baku cangkang sawit. Kebutuhan cangkang sawit sebanyak 25-30 ton/hari. Untuk mengantisipasi kerusakan pada boiler cangkang sawit maka digunakan Boiler Diesel dengan kapasitasnya 213,792 liter/jam. Panas yang dihasilkan pada air untuk disalurkan ke oven adalah 108⁰C.
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang Permasalahan
Ketatnya persaingan dalam dunia industri semakin memacu perusahaan manufacturing untuk meningkatkan hasil produksi. Peningkatan hasil produksi dilaksanakan dalam bentuk kualitas, harga, jumlah produksi dan pengiriman tepat waktu. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi adalah 1) mengeliminasi pemborosan (waste), 2) mengurangi biaya, 3) meningkatan kemampuan pekerja. Semua ini dapat dicapai dengan menerapkan konsep lean manufacturing di perusahaan (Nicholas,1998).
Eliminasi pemborosan (waste) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksi. Waste adalah semua aktivitas yang tidak bernilai tambah. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan hal ini adalah “Implementasi Lean Manufacturing di PT. X Pasuruan” (Askari dan H. Hari, 2012). Penelitian ini menjelaskan bahwa waste yang terjadi pada perusahaan mengakibatkan biaya produksi meningkat, kualitas produk menurun dan lead time produk panjang. Faktor penyebab terjadinya waste pada saat proses produksi sering dipengaruhi kelalaian pekerja dalam menjalankan tugas. Oleh karena itu, perusahaan yang telah menjalankan lean manufacturing perlu untuk mengevaluasi pencapaian implementasi perusahaan, agar diketahui solusi perbaikan kedepannya.
Upaya untuk mengetahui pencapaian impementasi lean diperlukan, agar
perusahaan mengetahui tingkat performansi elemen lean. Elemen lean yang mengalami performansi tinggi akan dipertahankan, sedangkan yang mengalami performansi rendah
akan diperbaiki. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan hal ini, yaitu “Improving performance through lean” (Bhasin, 2011). Penelitian ini menjelaskan bahwa survei dengan menggunakan kuesioner akan membatu perusahaan untuk mengetahui pencapaian yang telah diperoleh dan mengetahui langkah perbaikan terhadap implementasi lean secara menyeluruh.
PT. SC Johnson Manufacturing Medan adalah perusahaan yang memproduksi anti nyamuk bakar. Perusahaan ini telah menerapkan lean manufacturing sejak Tahun 2010, namun pada kenyataanya pada saat proses produksi masih terjadi waste yang beragam. Waste yang terjadi dalam proses produksi produk Baygon jenis 2 DC (Double Coil) dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Waste yang Terjadi pada Saat Kegiatan Produksi Baygon Jenis 2 DC dengan Bahan Adonan Coil Sebanyak 2 Trolley
No. Waste Keragaman Waste Kategori Elemen Lean
1. Over Production
Penumpukan coil sementara di bagian wrapping sebanyak 2310 coil
Manufacturing Flow
2. Defect
Coil rusak sebanyak 171 coil Plastik film rusak sebanyak 2679 film
ProsesKontrol
3. Motion Operator berjalan-jalan ketika bekerja
Organisasi
4. Unnecessary processing
Menambahkan minyak makan pada adonan di bagian
stamping
Proses Kontrol
5. Inventory Produk yang mengalami work in process sebanyak 2310 coil
Manufacturing Flow 6. Waiting Menunggu mesin diperbaiki Logistik
Sumber: PT. SC Johnson Manufacturing Medan
Indikator yang digunakan perusahaan untuk mengetahui pencapaian penerapan lean adalah dengan mengukur efektivitas pralatan keseluruhan (Overall Equipment Effectiveness = OEE). Rata-rata OEE perusahaan dari Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 1.2 .
Tabel 1.2. Rata-rata Efektifitas Peralatan Keseluruhan (OEE)
Tahun % OEE
2010 55
2011 79
2012 81
Sumber: PT. SC Johnson Manufacturing Medan
Berdasarkan Tabel 1.2 dapat diketahui bahwa OEE di perusahaan belum maksimal. Hal ini menunjukkan ukuran OEE yang dicapai masih dibawah kinerja perusahaan yang baik menurut standar internasional, yaitu OEE sebesar 85,4%. Oleh karena itu, maka masih diperlukan perbaikan untuk meningkatkan OEE perusahaan (Gaspersz, 2012).
Peristiwa waste yang beragam dan ukuran OEE dibawah standar menunjukkan bahwa implementasi penerapan lean manufacturing pada perusahaan belum baik. Penerapan lean manufacturing yang belum baik mengindikasikan bahwa implementasi elemen yang mempengaruhi lean juga belum baik, sehingga diperlukan analisis terhadap implementasi lean di perusahaan dan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilakukan. Oleh karena itu penting untuk dilakukan penelitian ini.
1. 2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah adanya waste yang beragam pada proses produksi menyebabkan efektifitas di perusahaan belum baik, sehingga diperlukan analisis implementasi lean.
1. 3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Analisis hubungan korelasi linier sederhana penerapan lima elemen primer lean manufacturing terhadap waste
2. Analisis tingkat implementasi lean manufacturing di perusahaan dengan
menggunakan metode lean assessment.
3. Analisis terhadap aliran proses produksi dengan menggunakan flowchart.
4. Analisis ukuran kinerja perusahaan dengan menggunakan Overall Labor
Effectiveness (OLE).
5. Analisis akar penyebab masalah implementasi lean di perusahaan dengan
menggunakan metode root cause analysis dan solusi penyelesaiannya.
1. 4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian, antara lain:
1. Bagi Mahasiswa
Dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah diperoleh selama di bangku perkuliahan dengan cara membandingkan teori-teori ilmiah yang ada dengan permasalahan yang ada di perusahaan.
2. Bagi Departemen Teknik Industri USU
1. Mempererat hubungan antara pihak universitas dengan pihak perusahaan tempat dilakukannya penelitian.
2. Memperkenalkan Departemen Teknik Industri sebagai forum disiplin ilmu terapan yang sangat bermanfaat bagi perusahaan.
1. Memberikan gambaran tentang pencapaian penerapan lean manufacturing di perusahaan.
2. Memberikan solusi agar implementasi lean manufacturing di perusahaan
maksimal.
1. 5 Asumsi dan Batasan Masalah
Adapunasumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Responden tidak dipengaruhi oleh pihak lain saat memberikan jawaban pada
kuesioner.
2. Responden mengerti dengan isi kuesioner atau interpretasi responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner adalah sama dengan yang dimaksud peneliti.
Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penyebaran kuesioner dilakukan terhadap line leader dan operator yang ada di PT. SC Johnson Manufacturing Medan.
2. Pengamatan kondisi aktual penerapan lean dilakukan pada produksi Baygon jenis 2 DC (double coil) di Lini 6 dan Lini 7.