• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIDAK LITERAL

2.3.4 Metabahasa Semantik Alami (MSA)

Teori MSA yang digunakan untuk menganalisis makna asali dan struktur semantik ini dikembangkan oleh Anna Wierzbicka. Teori MSA ini merupakan teori tentang penganalisisan makna yang menggabungkan tradisi filsafat dan logika. Asumsi teori ini berkaitan dengan prinsip semiotik, seperti yang diungkapkan sebagai berikut.

A sign cannot be reduced to or analyzed into any combination to things which are not themselves sign, consequently, it is impossible to reduce meanings to any combination of things which are not themselves meanings (Goddard, 1994:1; Beratha, 1997b:61)

Wierzbicka (1996) mengatakan bahwa asumsi utama yang mendasari teori MSA adalah sebuah bentuk bahasa atau tanda bahasa tidak dapat dianalisis ke dalam bentuk yang bukan bentuk sendiri. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa analisis tentang makna tidak akan mungkin dilakukan dengan kombinasi makna dari bentuk yang lainnya. Oleh karena itu, makna sebuah leksikon merupakan konfigurasi seperangkat makna asali.

Goddard (1996a:1--5) merumuskan tujuh prinsip semantik universal, sebagai berikut: (1) prinsip semiotik: sebuah tanda tidak dapat direduksi atau dianalisis ke dalam kombinasi yang bukan tanda; konsekuensinya adalah tidak mungkin mereduksi makna ke dalam kombinasi yang bukan maknanya sendiri; (2) prinsip pemisahan dan ketuntasan analisis: makna kompleks dapat dianalisis secara lengkap dengan mengikuti urutan yang jelas. Ini berarti makna-makna kompleks dapat diuraikan ke dalam kombinasi makna sederhana secara terpisah tanpa berputar-putar dan tanpa residu; (3) prinsip makna asali: ada seperangkat makna yang tidak dapat diuraikan makna asalinya. Makna asali memiliki elemen-elemen sintaksis yang disusun dari proposisi sederhana; (4) prinsip bahasa alamiah: makna asali dan elemen-elemen sintaksis merupakan bentuk yang digunakan dalam bahasa alamiah; (5) prinsip ekuivalensi ekspresif metabahasa semantik alami: metabahasa semantik alami diderivasi dari bahasa yang berbeda yang mengekspresikan ekuivalensi makna. Beberapa proposisi sederhana dalam MSA dapat mengekspresikan makna bahasa yang berbeda; (6) prinsip isomorfis metabahasa semantik alami: proposisi-proposisi

sederhana yang diekspresikan MSA merupakan isomorfis dalam bahasa yang berbeda; dan (7) prinsip hipotesis leksikal: setiap makna asali dapat diekspresikan ke dalam kata, morfem, frasa yang berbeda dalam setiap bahasa.

Lebih lanjut, Wierzbicka (1996) mengatakan bahwa sebuah leksikon tertentu memiliki makna yang universal dan alami. Sebagai contoh, konsep kata say dalam bahasa Inggris yang berfungsi untuk memberikan pernyataan atau menyatakan, dapat diparafrasakan dengan (1) saya menyatakan sesuatu untuk anda; (2) orang menyatakan suatu yang buruk tentang anda; dan (3) saya ingin menyatakan sesuatu sekarang.

Wierzbicka (1996b) mengatakan bahwa meskipun pola-pola gramatikal suatu bahasa bersifat spesifik, selalu dapat ditemukan pola-pola yang universal. Pola-pola gramatikal universal ini dinyatakan sebagai seperangkat kalimat dasar ’basic sentence’ dalam aneka bahasa. Kalimat dasar ini dibangun oleh elemen-elemen leksikon universal. Relasi elemen-elemen leksikon universal berdasarkan gramatika suatu bahasa disebut dengan sintaksis MSA. Lebih lanjut, pakar ini merumuskan prinsip-prinsip sintaksis MSA, seperti berikut: (1) setiap pola diprediksi ada pada bahasa-bahasa di dunia; (2) pola-pola itu merupakan tata bahasa bawaan innate grammar dari kognisi manusia; dan (3) menggunakan leksikon semantik universal. Jadi, dengan sintaksis MSA ini, struktur semantik suatu tuturan dapat diprediksikan.

Struktur semantik merupakan komponen bahasa yang sangat signifikan karena kekurangpahaman terhadap konsep ini menyebabkan kegagalan dalam

mendeskripsikan makna. Struktur semantik merupakan komponen bahasa yang berisikan fitur-fitur semantik leksikon. Cara kerja struktur semantik ini adalah suatu leksikon tertentu, seperti verba mampu menunjukkan valensinya. Verba tertentu bisa bervalensi rendah, monovalensi, dan bisa bervalensi tinggi, bivalensi dan trivalensi. Artinya, leksikon verba mampu menghadirkan argumen dalam kalimat, apakah satu argumen, dua argumen, dan seterusnya. Dengan kata lain, hal ini dapat dijelaskan atau dikatakan bahwa struktur semantik merupakan jaringan relasional semantis dalam sistem leksikal suatu bahasa. Struktur semantik pada dasarnya adalah perwakilan bahasa yang bersifat mental dan yang merupakan struktur pikiran pokok yang dinyatakan atau dilambangkan dengan bunyi-bunyi bahasa (Tampubolon, 1988:11). Struktur semantik merupakan komponen semantis dan komponen inilah yang menentukan struktur luar bahasa. Tanpa pengetahuan tentang struktur semantik, penjelasan tentang proses pembentukan ujaran yang baik sudah pasti tidak dapat dijelaskan atau dilakukan. Oleh karena itu, struktur semantik merupakan proses formasi atau pembentukan semantik, seperti yang dikatakan oleh Chafe (1970:73) berikut ini.

Without knowledge of semantic structure we are ignorant of the processes which produce well-formed utterances, for these are processes of semantic formation

Argumen yang dimiliki oleh verba tertentu dapat dianalisis peran semantiknya. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui pelibat yang terlibat dalam bahasa itu. Dengan demikian, hubungan antara predikator dan argumen itu dalam

proposisi tertentu dapat dimengerti. Hal ini dilakukan untuk tujuan eksplikasi makna asali tertentu.

Makna sebuah leksikon merupakan konfigurasi makna asali dan bukan ditentukan oleh makna leksikon yang lain. Makna asali dikatakan bukan konsep baru dalam semantik yang keberadaannya telah diakui pada abad ke-17 oleh para ahli (Goddard, 1994:2; Wierzbicka, 1996d:12)

Makna asali merupakan salah satu konsep penting teori MSA yang merupakan seperangkat terbatas dari makna yang tidak berubah. Di dalam makna ini terdapat juga fitur-fitur semantik yang tidak akan berubah (Goddard, 1996a:2; Sutjiati-Beratha, 1998a:288). Makna asali merupakan refleksi pembentukan pikiran manusia yang diwarisi oleh manusia sejak lahir. Untuk merepresentasikannya, makna asali dapat dieksplikasikan dengan parafrasa dengan menggunakan bahasa alamiah dan kata-kata yang secara intuitif berhubungan atau memiliki medan makna yang sama dan bukan menggunakan bahasa yang bersifat teknis (Wierzbicka, 1996d:31). Dengan demikian, keberadaan konsep makna asali ini diyakini berdampak secara teoretis, yaitu makna asali dapat digunakan untuk menerangkan seluruh makna kompleks apa pun dengan cara yang lebih sederhana. Keteraturan dalam makna asali merupakan penyebabnya. Artinya, apabila seluruh leksikon dianalisis secara komprehensif, fitur yang teratur itu dapat ditemukan. Semakin makna asali dan keteraturan itu bisa dideskripsikan, semakin perubahan dan perkembangan makna dapat ditentukan.

Untuk tujuan pengeksplikasian tersebut, perlu dicari terlebih dahulu semantic primitive dari mana suatu kata itu diderivasi. Selanjutnya, Wierzbicka telah mengusulkan sejumlah makna asali dengan terlebih dahulu mengadakan penelitian terhadap sejumlah bahasa di dunia, seperti bahasa Jepang, bahasa Inggris, bahasa Aceh, dan bahasa Aborijin. Berikut disajikan jenis leksikon yang merupakan representasi dari makna asali yang dirumuskan oleh Wierzbicka (1996), sebagai berikut. Substantive: I ’AKU’, YOU ’KAMU’ SOMEONE/PERSON ’SESEORANG’ PEOPLE ’ORANG-ORANG’ SOMETHING/THING ’SESUATU’ BODY ’BADAN’ Determiners THIS ’INI’

THE SAME ’SAMA’ OTHER ’LAIN’ Quantifiers ONE ’SATU’ TWO ’DUA’ ALL ’SEMUA’ MANY/MUCH ’BANYAK’ SOME ’BEBERAPA’ Evaluators GOOD ’BAIK’ BAD ’BURUK’ LONG ’PANJANG’ Descriptors BIG ’BESAR’ SMALL ’KECIL’

Mental Prdeicates THINK ’PIKIR’ KNOW ’TAHU’ WANT ’INGIN’ FEEL ’RASA’ SEE ’LIHAT’ HEAR ’DENGAR’ Speech SAY ’UJAR’ WORDS ’KATA-KATA’ TRUE ’BENAR’

Actions, Events, Movements DO ‘MELAKUKAN’ HAPPEN ‘TERJADI’ MOVE ‘BERGERAK’ TOUCH ‘SENTUH’ Location, Existence THERE IS ’ADA’ HAVE ’PUNYA’ Life and Death

LIVE ’HIDUP’ DIE ’MATI’ Time WHEN/TIME ’KAPAN’/’WAKTU’ NOW ’SEKARANG’ BEFORE ’SEBELUM’ AFTER ’SETELAH’ A LONG TIME ’LAMA’ A SHORT TIME ’SEKEJAP’

FOR SOME TIME ’SELAMA BEBERAPA WAKTU” MOMENT ‘WAKTU’

Space

WHERE/PLACE ’DI MANA/TEMPAT’ WHERE ’DIMANA’

HERE ‘DI SINI’ ABOVE ’DI ATAS’

BELOW ‘DI BAWAH’ FAR ’JAUH’

NEAR ’DEKAT’ SIDE ’SAMPING’ INSIDE ’DI DALAM’ Logical Concepts NOT ’TIDAK’ MAY BE ’MUNGKIN’ BECAUSE ’KARENA’ IF ’JIKA’ CAN ’DAPAT’ Intensifier, Augmentor VERY ’SANGAT’ MORE ’LAGI’ Taxonomy, Partonomy

KIND OF ’JENIS DARI’ PART OF ’BAGIAN DARI’ Similarity

LIKE ’SEPERTI’

Hubungan antara masalah penelitian dan teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 2.4 Hubungan antara Permasalahan Penelitian dan Teori yang Digunakan

No Masalah Penelitian Teori

1 Bagaimanakah struktur tematik dan skematik WRMPB pada komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara?

Teori

Analisis Wacana Kritis (Van Dijk, 1995)

2 Bagaimanakah variasi linguistik yang digunakan dalam WRMPB komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara?

Teori:

a) Fitur Prosodi (Palmer, 1982)

b) Analisis Diskursus (Schiffrin, 1992)

c) Teori MSA (Wierzbicka, 2002; Goddard, 2004)

3 Bagaimanakah cara bertutur komunitas petani adat Bayan,

Lombok Utara dalam

menyampaikan WRMPB?

Teori:

a) Etnografi Komunikasi (Hymes, 1977)

b) Tindak Tutur (Searle (1969) c) Teori implikatur (Levinson, 1982) 4 Norma dan nilai budaya apa sajakah

yang terdapat dalam WRMPB komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara?

Teori:

a) Wacana Kebudayaan (Wierzbicka, 1996, 2002; Goddard, 2004)

b) MSA(Wierzbicka, 2002; Goddard, 2004)

Dokumen terkait