kehidupan, pekerjaan, dan pelayanannya? Ada dua butir penting yang saya perkirakan akan terjadi.
METAVERSE MENJADI SARANA UNTUK ESCAPE FROM
berjumpa dengan sesama kita kapan saja. Pendeknya, manusia tidak khawatir mengenai kemacetan di jalan, menghemat ongkos transportasi, serta tidak perlu memusingkan soal menjaga jarak (lantaran takut terinfeksi) ketika berjumpa sesamanya.
Tetapi di sinilah kehebatan sekaligus tanda awas yang perlu manusia pikirkan: Metaverse sengaja dirancang sejajar dan mirip dengan kehidupan yang nyata (real life), yang sebenarnya tidak riil. Artinya, pihak yang memakainya akan merasa memasuki sebuah pengalaman yang riil, namun sekaligus—kita sama-sama tahu—tidak riil. Melalui sistem “angkutan” online jarak jauh (teleportation), pemakainya akan dibawa untuk berjumpa dengan, katakanlah, jemaat dari gereja asal atau (kalau mau “jajan” ibadah, lalu ketemu) jemaat gereja baru yang sama sekali tidak kita kenal, kemudian kita ikut mengalami worship dalam lingkungan dan dunia maya yang asing itu.
Seharusnya kita menyadari bahwa berapa pun bagusnya pengalaman ibadah lewat teleportasi Metaverse, tidak akan dapat menggantikan ibadah yang riil, teristimewa dalam konteks penyembahan kepada Tuhan dan perjumpaan dengan sesama jemaat. Malahan perjumpaan semu lewat Metaverse akan semakin menjauhkan diri kita dengan sesama anggota gereja asal, dan sangat mungkin: semakin seseorang terkungkung pada VR, semakin hari ia akan cenderung menghindarkan diri dari persekutuan yang riil dengan jemaat lain di gereja. Sekarang saja sudah berkali-kali terdengar keluhan pimpinan gereja yang mengemukakan tentang sulitnya mengajak anggotanya untuk kembali beribadah onsite, terutama ketika pandemi mereda. Oh, no.
Maka, terciptalah escape from reality yang dilakukan dengan bangga dan kelihatan keren, khususnya ketika seseorang mulai mengumum-kan ke teman-temannya bahwa ia menggunamengumum-kan teknologi terkini (mirip orang yang conceited alias norak, yang suka pamer ke mana-mana bila dapet hp keluaran terbaru). Kebanyakan orang akan seperti ini: mereka tidak menyadari bahwa “the medium is the message” sebagaimana yang diutarakan McLuhan.
Dalam konteks bergereja, sarana yang dipergunakan untuk beribadah akan secara tidak langsung membentuk natur ibadahnya, dan sekaligus mengubah natur orang-orang yang ikut ibadah, oleh karena gerejanya sudah dipindahkan ke dalam medium dengan natur yang baru tetapi berbeda, yaitu realitas yang tidak riil.
Dalam konteks ini, menurut pendapat saya, ibadah Kristen tidak tepat diaplikasikan dengan memanfaatkan teknologi Metaverse.
Alasannya, ibadah atau worship adalah pelayanan penyembahan yang
ditujukan untuk Tuhan (“ministry to God”) dan untuk kepentingan Tuhan.
Maka, worship harus dilakukan dengan benar, otentik, riil, dan sepenuh hati.
Metaverse dengan penampakan realitas yang tidak riil sulit dapat dikategorikan sebagai penyembahan kepada Allah yang riil, maha tahu dan maha hadir itu.
Sebaliknya, Metaverse boleh dimanfaatkan secara proporsional untuk pembinaan (nurture) bagi orang percaya (“ministry to believers”), untuk misi dan penginjilan bagi dunia ini (“ministry to unbelievers”), dan untuk kepentingan pendidikan (“for educational purposes”), karena esensinya adalah pelayanan yang ditujukan untuk kepentingan manusia.
Walaupun demikian, saya tetap merasakan sedikit kekhawatiran mengenai masa depan manusia dan masa depan gereja bila Metaverse menjadi mainstream, lebih-lebih ketika mendengar cukup banyak gereja di negara-negara maju dan kota-kota besar seakan berlomba-lomba langsung mengadopsi teknologi ini, barangkali agar penampilan gerejanya terlihat trendi dan keren. Sadarkah kita bahwa teknologi baru ini akan membuat banyak orang makin “terhisap” dan “terbenam” (immersed) ke dalam dunia yang tidak riil, namun sekaligus melarikan diri dari dunia riil yang justru seharusnya dihadapi dan diubah menjadi lebih baik? Mereka yang bekerja, menikmati entertainment, hang out, atau beribadah lewat Metaverse dengan cara terjun ke dalam suasana
“completely immersive social network” sebetulnya tahu bahwa mereka sedang bersosialisasi bukan dengan “real human to human relationships.”
Prediksi saya: manusia akan semakin terisolasi (heran ya, banyak yang tidak suka isolasi mandiri, namun justru mengisolasi diri dengan gadget terkini), semakin merasa tidak puas, dan parahnya, semakin berusaha escape from the presence (melarikan diri dari kekinian) menuju pada lingkungan futuristik yang lebih terkendali dan ideal menurut pemikiran benak mereka. Seharusnya kita semua menyadari bahwa sekalipun untuk sejangka waktu kita dapat escape from reality, kita sebenarnya tidak akan dapat melarikan diri dari akibat-akibat yang akan dituai dari tindakan escape from reality. Jangan-jangan di kemudian hari, ketika melakukan search di Google atau YouTube, ada orang akan mencari dengan ketikan: Apa itu realitas? Bagaimana cara hidup dalam realitas?
Bagaimana cara kembali ke masa kini?
Bila ada gereja yang sedang merencanakan atau sudah terlanjur menerapkan Metaverse, perhatikan perkataan Charles Taylor yang diutarakan bertahun-tahun yang lalu, khususnya ketika ia melihat adanya kecenderungan ekskarnasi dalam bergereja. Yang ia maksudkan dengan “excarnation” adalah
“the transfer of our religious life out of bodily forms of ritual, worship, practice, so
that it comes more and more to reside 'in the head'” (“perpindahan kehidupan agama kita menuju pada bentuk di luar raga dalam lingkup ritual, ibadah, praktik, sehingga ujung-ujungnya hanya mendarat [secara akali] 'di kepala'”; A Secular Age [Cambridge: Harvard University Press, 2007] 613).
Maka ekskarnasi sesungguhnya bukan hanya perpindahan dari aspek embodiment kepada aspek disembodiment, melainkan juga semacam
“pelarian” dari persekutuan (orang kudus) menuju pada lingkup pengetahuan rasionalistis semata. Lambat laun Tuhan Allah pun kurang dibutuhkan, sebab secara rasionalistis Ia sudah “dimarginalkan atau ditepikan”
ke lingkup yang tidak ada relasinya dengan kepribadian kita. Singkatnya, Tuhan telah berhasil diubah menjadi a depersonalized God, yaitu Allah yang tidak dikenal sebagai pribadi lagi.
Ketika lingkup virtual mulai menggantikan interaksi embodied yang personal, yaitu dengan tubuh yang riil, harus diakui kekristenan dengan natur yang inkarnasional semakin meredup, dan aspek Allah yang personal dan aspek personal dari users menjadi samar, terlebih sewaktu kita melakukan ibadah (worship). Bahasa gamblangnya: ketika Tuhan Allah di dalam Kristus justru menjadi “daging” (berinkarnasi), malah manusia melakukan kebalikannya, yakni berusaha lepas dari “daging” menuju lingkup imaginer.
Bukankah firman Tuhan juga memerintahkan kepada setiap orang percaya:
“Muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1Kor. 6:20)? Kejanggalan ini akan lebih terasa mana kala gereja hendak melakukan baptisan dan perjamuan kudus, di mana semua aliran gereja sebetulnya sama-sama sepakat bahwa baik pelaksananya (pendeta) maupun pesertanya (jemaat) wajib hadir secara
“daging” dan tidak bisa diwakilkan oleh bentuk avatar virtual.
Sejak awal tahun 2022, khususnya selama pandemi masih menjadi momok yang membatasi dan menyulitkan ibadah onsite, saya rasa semua setuju bahwa teknologi digital/virtual (Zoom atau YouTube) telah menjadi berkat yang besar bagi gereja dan pelayanan. Namun demikian, dengan kehadiran Metaverse (yang diperkirakan akan booming mulai tahun ini), kita harus menyadari bahwa Metaverse akan membawa proses disembodiment menjadi semakin terang-terangan, yaitu tereksposenya tubuh yang tidak riil dalam ibadah, padahal kita adalah manusia yang memiliki darah dan daging (embodied persons) yang sekarang semakin disamarkan. Singkatnya, kehidupan Kristen dan apalagi ibadah Kristen tidak akan dapat dihayati sepenuhnya secara virtual.