Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, Sumatera Utara berdasarkan pertimbangan bahwa Petani di Kecamatan Selesai tersebut tergabung dalam KUD Harta, sehingga setiap data dalam usaha taninya lengkap dan akurat. Sehingga dalam penelitian kita dapat memperoleh data yang benar-benar lengkap dan akurat mengenai usahatani kelapa sawit di Kecamatan Selesai.
Koperasi PIR-Lokal di Kabupaten langkat, Provinsi Sumatera Utara wilayahnya terbagi atas 4 kecamatan, 8 lokasi hamparan areal, dengan rincian sebagai berikut:
HARTA I Selayang di Kecamatan Selesai luasnya : 709, 26 Ha.
Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa HARTA I Selayang di Kecamatan Selesai merupakan daerah koperasi PIR-Lokal yang mempunyai kebun kelapa sawit yang paling luas di Kabupaten langkat dengan luas areal 709,26 Ha.
Metode Pengambilan Sampel
Populasi dalam usahatani adalah petani yang melakukan usahatani kelapa sawit. Metode pengambilan sampel di Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dilakukan secara sensus yaitu seluruh populasi yang menjadi petani kelapa sawit PIR lokal yang tergabung dalam KUD HARTA Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Petani tersebut tercatat sebagai anggota KUD HARTA hingga Desember 2008. Petani tersebut berjumlah 46 orang.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini terjadi dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung kepada responden melalui survei dan daftar kuisioner yang telah disiapkan terlebih dahulu. Data sekunder yang yang diperoleh dari KUD Harta yang merupakan tempat petani dalam memperoleh pinjaman modal dan tempat penjualan hasil usahatani mereka.
Metode Analisis Data
Hipotesa 1 dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan alat Bantu SPSS. Data yang diperlukan adalah harga CPO dan harga TBS. dengan menggunakan rumus :
Y = a + bX + µ Keterangan :
Y = Harga TBS (Rp/TBS)
a = Koefisien intersep (nilai konstanta)
b = Koefisien regresi
µ = Kesalahan pengganggu
Hipotesa 2 dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan alat Bantu SPSS. Data yang diperlukan adalah harga TBS dan penerimaan petani. dengan menggunakan rumus :
Y = a + bX + µ Keterangan :
Y = Penerimaan petani (Rp)
a = Koefisien intersep (nilai konstanta)
b = Koefisien regresi
µ = Kesalahan pengganggu
X = Harga TBS (Rp/Kg)
Hipotesa 3 dianalisis dengan menggunakan metode korelasi Product Momen Pearson dengan alat bantu SPSS dengan menggunakan rumus :
Nilai dari hubungan statistika dua peubah berada pada selang tutup (-1, 1). Untuk membaca besarnya derajat keeratan dari hubungan statistika antara harga CPO dan pajak ekspor CPO, terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yakni :
1. Lihatlah tanda variabel harga CPO dan pajak ekspor CPO dari derajat keeratan tersebut, positif atau negatif. Hubungan statistika variabel harga CPO dan pajak ekspor CPO akan negatif apabila salah satu variabel memiliki hubungan yang
bertolak belakang dengan peubah lainnya. Atau dengan kata lain apabila nilai satu peubah membesar maka nilai peubah lainnya mengecil. Sedangkan hubungan statistika kedua peubah akan bernilai positif jika hubungan kedua peubah searah atau dengan kata lain apabila satu peubah membesar maka peubah lainnya juga ikut membesar, dan sebaliknya jika satu peubah mengecil nilainya maka peubah lainnya juga ikut mengecil.
2. Lihatlah besarnya nilai dari derajat keeratan. Untuk membaca nilai dari derajat keeratan dapat digunakan klasifikasi hubungan variabel harga CPO dan pajak ekspor CPO menurut Guiford berikut ini .
Tabel 1. Nilai Hubungan Korelasi Menurut Guilford
Nilai Hubungan Statistika dua peubah Keterangan
r
xy < 0,2 Tidak terdapat hubungan antara dua peubah0,2<
r
xy <0,4 Hubungan kedua peubah lemah0,4<
r
xy <0,7 Hubungan Kedua peubah sedang0,7<
r
xy <0,9 Hubungan Kedua peubah kuat0,9<
r
xy < 1 Hubungan Kedua peubah sangat kuatSedangkan untuk melihat apakah ada hubungan antara harga CPO dengan pajak ekspor, kita harus melihat signifikansinya dengan menggukan spss.
Dengan criteria sebagai berikut:
Sig < α (0,05)……….H1 diterima, atau H0
Sig > α (0,05)……….H0 diterima, atau H1 ditolak
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara harga CPO dengan pajak ekspor.
H1 : Ada hubungan yang signifikan antara harga CPO dengan pajak ekspor.
Hipotesa 4 dianalisis dengan menggunakan metode korelasi rank spearman dengan alat bantu SPSS dengan menggunakan rumus :
Nilai dari hubungan statistika dua peubah berada pada selang tutup (-1, 1). Untuk membaca besarnya derajat keeratan dari hubungan statistika variabel pajak ekspor CPO dan harga TBS, terdapat dua hal yang harus diperhatikan, yakni :
1. Lihatlah tanda variabel pajak ekspor CPO dan harga TBS dari derajat keeratan tersebut, positif atau negatif. Hubungan statistika pajak ekspor CPO dan harga TBS akan negatif apabila salah satu variabel memiliki hubungan yang bertolak belakang dengan peubah lainnya. Atau dengan kata lain apabila nilai satu peubah membesar maka nilai peubah lainnya mengecil. Sedangkan hubungan statistika kedua peubah akan bernilai positif jika hubungan pajak ekspor CPO dan harga TBS searah atau dengan kata lain apabila satu peubah membesar maka peubah lainnya juga ikut membesar, dan sebaliknya jika satu peubah mengecil nilainya maka peubah lainnya juga ikut mengecil.
2. Lihatlah besarnya nilai dari derajat keeratan. Untuk membaca nilai dari derajat keeratan dapat digunakan klasifikasi hubungan variabel pajak ekspor CPO dan harga TBS menurut Guiford yang terdapat pada tabel 1.
Sedangkan untuk melihat apakah ada hubungan antara harga CPO dengan pajak ekspor, kita harus melihat signifikansinya dengan menggukan spss. Dengan kriteria sebagai berikut:
Sig < α (0,05)……….H1 diterima, atau H0
ditolak
Sig > α (0,05)……….H0 diterima, atau H1
ditolak
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara harga TBS dengan pajak ekspor.
H1 : Ada hubungan yang signifikan antara harga TBS dengan pajak ekspor.
Identifikasi masalah (5) dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif yaitu dengan melihat permasalahan petani dan upaya petani mengatasi permasalahn tersebut saat harga TBS sedang turun di daerah penelitian.
Definisi Dan Batasan Operasional Definisi
Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran penelitian ini, maka perlu dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut:
1. Petani kelapa sawit adalah petani yang mengusahakan usahatani kelapa sawit.
2. Usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara petani mempelajari dan mengkombinasikan berbagai faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja dan modal sebagai dasar bagaimana petani memilih jenis dan besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak sehingga memberikan hasil maksimal dan berkesinambungan. 3. Produksi Kelapa sawit adalah seluruh hasil usahatani kelapa sawit dalam bentuk
TBS(Tandan buah segar) dan dapat dijual.
4. Biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani selama proses produksi berlangsung.
5. Penerimaan adalah total produksi dikalikan dengan harga jual yang dinyatakan dalam rupiah.
6. Pendapatan usahatani kelapa sawit diperoleh dari hasil penerimaan dikurangi biaya produksi.
7. Pajak Ekspor adalah Pajak yang harus dibayar oleh seseorang atau perusahaan jika ingin menjual barang ke luar negeri, yang jumlahnya bervariasi.
8. Crude Palm Oil (CPO) merupakan hasil olahan daging buah kelapa sawit melalui proses perebusan tandan buah segar (TBS), perontokan, dan pengepresan. CPO ini diperoleh dari bagian mesokarp buah kelapa sawit yang telah mengalami beberapa proses, yaitu sterilisasi, pengepresan, dan klarifikasi. Minyak ini merupakan produk
level pertama yang dapat memberikan nilai tambah sekitar 30% dari nilai tandan buah segar.
9. Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN) adalah pengembangan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti dan membimbing perkebunan rakyat sekitarnya sebagai plasma, dalam suatu system kerja sama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan.
Batasan Opersional
1. Daerah penelitian adalah Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
2. Waktu penelitian adalah tahun 2008 dan tahun 2009.
3. Sampel penelitian adalah petani yang mengusahakan usahatani kelapa sawit yang bergabung dengan KUD Harta dalam menjalankan usahataninya.
4. Penerimaan petani berasal dari banyaknya jumlah produksi kelapa sawit yang dipengaruhi harga TBS di daerah penelitian.
5. Harga TBS yang berlaku adalah harga TBS lokal Yang ditentukan KUD. 6. Harga CPO yang berlaku adalah harga CPO domestik.