2. Metoda elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat dissolved oxygen (DO) meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah :
Katoda : O2 + 2 H2O + 4e-→ 4 HO Anoda : Pb + 2 HO
-
- → PbO + H20 + 2e-
Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut. Penentuan oksigen terlarut dissolved oxygen (DO) dengan cara titrasi berdasarkan metoda Winkler lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat dissolved oxygen(DO) meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang tepat. Dengan mengikuti prosedur penimbangan kalium bikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan caradissolved oxygen(DO)meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara dissolved oxygen(DO) meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alatdissolved oxygen(DO) meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran (Sawyer dan Mc carty, 1978).
pH Air
Bahan-bahan organik biasanya menyebabkan kondisi air menjadi lebih asam. Kapur menyebabkan kondisi air menjadi lebih alkali (basa). Jadi perubahan pH air tergantung kepada bahan pencemarannya (Effendi, 2003).
pH adalah merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. pH merupakan satu cara untuk
menyatakan konsentrasi ion H+. Dalam penyediaan air, pH merupakan satu faktor yang harus dipertimbangkan mengingat bahwa derajat keasaman dari air akan sangat mempengaruhi aktivitas pengolahan yang akan dilakukan, misalnya dalam melakukan koagulasi kimiawi, desinfeksi, pelunakan air (water softening) dan dalam pencegahan korosi. Yang sangat penting untuk diketahui yakni bahwa konsetrasi OH- suatu larutan tidak akan dapat diturunkan sampai nol, bagaimanapun asamnya larutan, dan bahwa konsentrasi H+
Air yang mempunyai pH yang lebih kecil dari pH normal akan bersifat asam sedangkan air yang mempunyai pH yang lebih besar dari normal akan bersifat basa. Adapun air murni bersifat netral (pH 7). Untuk menentukan indeks pencemaran biasanya dengan melihat tingkat keasaman air yang dikaji, terutama oksidasi sulfur dan nitrogen pada proses pengasaman dan oksidasi kalsium dan magnesium pada proses pembasaan (Hanafiah, 2005).
tidak akan dapat diturukan sampai nol (Sutrisno dan Suciastuti, 2004).
Suhu Air
Air yang suhunya naik akan menggangu pertumbuhan dan organisme air lainnya karena oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan. Dengan kenaikan suhu,oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdisfusi ke dalam air.Makin tinggi kenaikan suhu air makin sedikit oksigen yang terlarut di dalamnya (Soepardi,1979).
Salinitas Air
Salinitas merupakan tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai dan aliran air alami sangat kecil
sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam pada air normal kurang dari 4 mS/cm. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi salin bila konsentrasinya 3 sampai 5 mS/cm (Notohadiprowiro, 1989).
Kebutuhan Air Tanaman
Kebutuhan air tanaman atau evapotranspirasi adalah merupakan gabungan proses : 1) transpirasi yaitu air yang memasuki daerah akar tanam-tanaman dan dipergunakan untuk membentuk jaringan tanaman atau dilepaskan melalui daun-daun tanaman ke atmosfer, 2) evaporasi yaitu air yang menguap dari tanah yang berdekatan, atau disekitar tanaman yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Air yang disimpan dari embun, curah hujan, atau irigasi siraman dan kemudian menguap tanpa memasuki sistem tanaman adalah merupakan bagian dari kebutuhan air (Hansenet al., 1992).
Evapotranspirasi dipengaruhi oleh temperatur, pelaksanaan pemberian air, panjangnya musim tanam, presipitasi dan faktor lainnya. Volume air yang ditranspirasikan oleh tanaman tergantung kepada lingkungannya, seperti temperatur dan kelembaban udara, gerakan angin, intensitas dan lamanya sinar matahari, tahapan perkembangan tanaman, jenis dan keadaan alami daun-daunan (Hansenet al., 1992).
Ketahanan Tanaman Terhadap Genangan Air
Genangan air tanah telah lama didentifikasi sebagai stress abiotik utama dan kendala yang diberikannya pada akar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Bila peristiwa ini terjadi pada musim semi, maka genangan air ini dapat mengurangi perkecambahan benih dan
perkembangan bibit. Dengan demikian, genangan air merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidup spesies tanaman, tidak hanya pada ekosistem alami, tetapi juga pada sistem pertanian dan holtikultura (Datet al., 2006).
Ada dua kondisi pada tanaman yang tergenang, yang pertama hanya akar (Shimamura et al., 2002). Ketahanan tanaman terhadap genangan berbeda, menurut Aton et al (2002) tanaman yang mampu hidup dan tumbuh pada kondisi tanah tergenang melalui adaptasi anatomi, morfologi dan mekanisme metabolik.
Ketahanan tanaman terhadap genangan berbeda-beda karena genangan berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman karena tanaman memerlukan adanya pertukaran gas yang cepat dengan lingkungan dan adanya ketersediaan air yang memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan evapotranspirasi.
Tanaman yang tergenang dalam waktu singkat akan mengalami kondisi hipoksia (kekurangan O2). Hipoksia biasanya terjadi jika hanya bagian akar tanaman yang tergenang (bagian tajuk tidak tergenang) atau tanaman tergenang dalam periode yang panjang tetapi akar berada dekat permukaan tanah. Jika tanaman tergenang seluruhnya, akar tanaman berada jauh di dalam permukaan tanah dan mengalami penggenangan lebih panjang sehingga tanaman berada pada kondisi anoksia (keadaan lingkungan tanpa O2). Kondisi anoksia tercapai 6-8 jam setelah penggenangan, karena O2 terdesak oleh air dan sisa O2 dimanfaatkan oleh mikroorganisme. Pada kondisi tergenang, kandungan O2 yang tersisa dalam tanah lebih cepat habis, karena laju difusi di tanah basah 10.000 kali lebih lambat dibandingkan dengan di udara (Scott et al., 1989).
Terung
Indonesia memiliki iklim kemarau dan iklim penghujan. Saat iklim penghujan dengan intensitas yang tinggi, apabila tanah tidak mampu menyerap air dengan baik, karena laju run offlebih tinggi daripada laju infiltrasi, pada beberapa wilayah akan terjadi banjir sebagai dampaknya. Saat terjadi banjir, tanah yang jenuh akan mengalami penggenangan. Penggenangan air pada tanah akan berpengaruh terhadap pertumbuhan lahan tidak jenuh terutama tanaman-tanaman yang sangat rentan terhadap penggenangan seperti tanaman semusim atau tanaman holtikultura. Tanaman semusim seperti terung (Solanum melongeaL.) dalam pengembangan budidayanya sangat pesat di Asia Tenggara, salah satunya di Indonesia. Firmanto (2011) menyatakan bahwa terung (Solanum melongeaL.) adalah tanaman asli daerah tropis. Tanaman ini awalnya berasal dari benua Asia yaitu India. Daerah penyebaran tanaman terung awalnya di beberapa negara (wilayah) antara lain di Karibia, Malaysia, Afrika Barat, Afrika Tengah, Afrika Timur dan Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke seluruh dunia, baik negara-negara yang beriklim panas (tropis) maupun iklim sedang (sub tropis).
Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian sekitar 1000 mdpl, tetapi di dataran rendah tumbuhnya lebih cepat (Rukmana, 2002). Suhu yang paling cocok untuk tanaman terung adalah 22-26oC dengan perbedaan sedikit antara suhu siang dan malam. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah-tanah lempung berpasir dengan drainase yang baik. Terung tidak terlalu memerlukan suhu tinggi selama pertumbuhannya, namun juga tahan terhadap curah hujan yang tinggi dan tanah tidak terlalu lembab. Sayuran ini termasuk tanaman yang sedikit tahan terhadap kadar garam yang tinggi (Satarya dan Gerard, 1995).
Kondisi tanah yang ideal untuk penanaman terung yaitu tanah yang remah, lempung berpasir dan cukup bahan organik. Dengan kondisi tersebut, biasanya aerasi dan drainasenya baik, tidak mudah tergenang air. Sebenarnya terung dapat ditanam di segala jenis tanah seperti tanah latosol, andosol, aluvial dan podzolik merah kuning, asal cukup bahan organik. Kemudian (pH) tanah yang sesuai untuk tanaman terung sekitar 6,0-6,5 (Pracaya, 2006).
Bobot Basah dan Bobot Kering
Cara paling mudah untuk menentukan status air dalam tanaman adalah dengan mengukur kandungan air, baik berdasarkan bobot basah (bb) maupun bobot kering (bk) tanaman. Untuk menghitung kandungan air tanaman perlu diketahui bobot basah tanamn dan bobot kering tanaman dan kandungan air berdasarkan bobot basah (kab) dan kandungan air berdasarkan bobot kering (kak) (Islami dan Utomo, 1995).