• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

D. Konsep Dasar Alat Kontraseps

2. Metode Alat Kontrasepsi

a) Kontrasepsi Kombinasi (Estrogen dan Progesteron)

Macam-macam alat kontrasepsi hormon estrogen :

1). Pil kombinasi

Jenis pil kombinasi antara lain :

(a) Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

(b) Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dengan dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

(c) Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestion (E/P) dengan 3 dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa hormon aktif ( Affandi, Biran,dkk, 2011).

Cara kerja pil kombinasi :

(a) Menekan ovulasi.

(c) Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma.

(d) Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

Manfaat dari pil kombinasi :

(a) Tidak mengganggu hubungan seksual.

(b) Siklus haid teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia) tidak terjadi nyeri haid.

(c) Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.

(d) Mudah dihentikan setiap saat.

(e) Dapat digunakan kontrasepsi darurat.

(f) Dapat digunakan usia remaja sampai menopause

Keterbatasan pil kombinasi :

(a) Mahal dan membosankan karena harus digunakan setiap hari.

(b) Mual, terutama pada 3 bulan pertama.

(c) Perdarahan bercak atau perdarahan sela, terutama 3 bulan pertama.

(d) Pusing.

(e) Nyeri payudara

(f) Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI).

Yang dapat menggunakan pil kombinasi

Pada prinsipnya hampir semua ibu boleh menggunakan pil kombinasi seperti :

(a) Usia reproduksi

(b) Telah memiliki anak ataupun yang belum

(c) Gemuk atau kurus

(d) Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi

(e) Setelah melahirkan dan tidak menyusui

(f) Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberi ASI eksklusif, sedangkan semua kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu tersebut.

(g) Pasca kegugguran

(h) Anemia karena haid berlebihan

(i) Nyeri haid hebat

(j) Riwayat ektopik

(k) Kencing manis tanpa komplikasi ginjal, pembuluh darah.

Yang tidak boleh menggunakan pil kombinasi adalah :

(a) Hamil atau dicurigai hamil

(b) Menyusui eksklusif

(c) Perdarahan pervaigna yang belum diketahui penyebabnya

(e) Perokok dengan usia > 35 tahun

(f) Riwayat penyakit jantung, stroke atau tekanan darah >180/110mmHg

(g) Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun

(h) Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara.

(i) Migrain dan gejala neurologik fokal(elipsi/ riwayat epilepsi)

(j) Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.

2) Suntikan Kombinasi

Jenis suntik kombinasi adalah 25 mg Depomedroksi progesteron Asetat dan 5 mg Estradiol sipionat yang diberikan injeks I.M sebulan sekali (cylofem), dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali.

Cara kerja suntikan kombinasi

(a) Menekan ovulasi

(b) Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu

(c) Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu

Keuntungan kontrasepsi suntik kombinasi :

(a) Resiko terhadap kesehatan kecil

(b)Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

(c) Tidak diperlukan pemeriksaan dalam

(d) Jangka panjang

(e) Efek samping sangat kecil

(f) Mengurangi jumlah perdarahan

(g) Mengurangi nyeri saad haid

Kerugian memakai suntik kombinasi

(a) Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/spoting atau perdarahan sela 10 hari

(b) Mual,sakit kepala, nyeri payudara ringan, keluhan ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.

(c) Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan klien harus kembali 30 hari untuk mendapatkan suntikan

(d) Penambahan berat badan

(e) Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

Yang boleh menggunakan suntik kombinasi

(a) Usia reproduksi

(c) Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas yang tingggi

(d) Menyusui ASI pasca persalinan >6 bulan

(e) Pasca persalinan dan tidak menyusui

(f) Anemia

(g) Nyeri haid hebat

(h) Haid teratur

(i) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

Yang tidak boleh menggunakan suntik kombinasi

(a) Hamil atau diduga hamil

(b) Menyusui dibawah 6 bulan pasca persalinan

(c) Perdarahan pervagina yang belum jelas penyebabnya

(d) Penyakit hati akut (virus hepatitis)

(e) Usia >35 tahuhn yang merokok

(f) Riwayat kelainan tromboemboli atau kencing manis > 20 tahun

b) Kontrasepsi Progestin

1).Kontrasepsi Suntik Progestin

Tersedia 2 jenis Kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu:

(a) Depo Medroksi Progesteron Asetat (Depo Provera), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara suntikan Intra Muskular (didaerah bokong)

(b) Depo Noretisteron Enantat (depo noeisterat), yang mengandung 200 mg Poretindron Enantat, diberikan setaip 2 bulan dengan cara disuntikkan IM

Cara kerja

(a) Mencegah ovulasi

(b) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma.

(c) Menjadikan slaput lendir rahim tipis

(d) Mengambat transportasi gamet oleh tuba

Keuntungan suntik progesteron yaitu :

(a) Sangat efektif

(b) Pencegahan kehamilan jangka panjang

(c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri

(d) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembetulan darah.

(e) Tidak memiliki pengaruh terhadap asi

(f) Sedikit efek samping

(g) Dapat digunakan oleh perempuan usia >35 tahun sampai peri menopause.

(h) Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul

Keterbatasan suntik progesteron yaitu :

(a) Sering ditemukan gangguan haid, seperti :

(1) Siklus haid yang memendek atau memanjang

(2) Perdarahan haid yang banyak atau sedikit

(3) Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak(spotting)

(4) Tidak haid sama sekali

(b) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum diberikan

(c) Permasalahan berat badan merupakan efek saping tersering

(d) Terlambatnya kembali kesuburan setelah pengehentian pemakaian

(e) Terjadi pada perubahan lipid serum pada penggunaan jangka panjang

Yang dapat digunakan suntik progestin :

(a) Usia reproduksi

(c) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi

(d) Setelah melahirkan dan tidak menyusui

(e) Setelah abortus atau pengguguran

(f) Telah banyak anak tapi belum menghendaki tubektomi

(g) Tekanan darah < 180/110 mmHg

(h) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi.

(i) Anemia defisiensi besi

(j) Mendekati usia menopouse yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi

Yang tidak boleh menggunakan suntik progestin :

(a) Hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat pada janin 7 per 100.000kelahiran)

(b) Perdarahan pervaginam

(c) Penderita kanker payudara

(d) Diabetes melitus disertai komplikasi

2). Kontrasepsi Pil Progestin (Mini Pil)

Cara kerja mini pil yaitu :

(a) Menekan sekresi gonadrotropin dan sintesis sreroid seks di ovarium (tidak begitu kuat)

(b) Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.

(c) Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma

Keuntungan kontrasepsi ini yaitu :

(a) Sangat efektif bila digunakan secara benar

(b) Tidak mengganggu hubungan seksual

(c) Tidak mempengaruhi ASI

(d) Kesuburan cepat kemabli

(e) Nyaman dan mudah digunakan

(f) Sedikit efek samping

(g) Dapat dihentikan setiap saat

(h) Tidak mengandung estrogen.

Keterbatasan yaitu :

(a) Hampir 30-60% mengalami gangguan haid (perdarahan sela, spotting, amenorea)

(b) Peningkatan/ Penurunan berat badan

(d) Bila lupa 1 pil saja kegagalan lebih besar

(e) Payudara menjadi tegang, mual, pusing dermatitis, jerawat

Yang boleh menggunakan minipil

(a) Usia reproduksi

(b) Telah memiliki anak, atau yang belum memiliki anak

(c) Pasca persalinan dan tidak menyusui

(d) Menginginkan metode kontrasepsi yang sangat efektif selama periode menyusui

(e) Pasca keguguran

(f) Perokok segala usia

(g) Mempunyai tekanan darah tinggi.

Yang tidak boleh menggunakan minipil

(a) Hamil atau diduga hamil

(b) Perdarahan pervagina dan belum jelas penyebabnya.

(c) Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid

(d) Sering lupa menggunakan pil

(e) Mioma uterus, progestin yang memicu pertumbuhan mioma

c) Kontrasepsi Implan

Jenis Implan

(1) Norplant

Terdiri dari 6 batang silastik lembut di isi dengan 36 mg levonergestrel dan lama kerjanya 5 tahun

(2) Implanon dan sinoplant

Terdiri dari 1 batang putih lentur, di isi dengan 68 mg 3 – keto – desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.

(3) Jadena dan Indoplant

Terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg levanor gestrel dengan lama kerja 3 tahun.

Cara kerja Implan

(1) Mengentalkan lendir serviks

(2) Membantu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi

(3) Mengurangi transportasi sperma

(4) Menekan ovulasi

Keuntungan kontrasepsi implan

(1) Daya guna tinggi

(2) Perlindungan jangkan panjang (sampai 5 tahun)

(4) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.

(5) Bebas dari pengaruh estrogen.

(6) Tidak mengganggu kegiatan sanggama.

(7) Tidak mengganggu ASI.

(8) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.

(9) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan.

Keterbatasan :

Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea, atau meningkatnya jumlah darah haid, serta amenorea.

Timbulnya keluhan-keluhan, seperti:

(1) Nyeri kepala.

(2) Peningkatan/penurunan berat badan.

(3) Nyeri payudara.

(4) Perasaan mual.

(5) Pening/pusing kepala.

(6) Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness).

(7) Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS

(8) Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan.

(9) Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per tahun).

Yang Boleh Menggunakan Implan

(1) Usia reproduksi (20-35 tahun)

(2) Telah memiliki anak ataupun yang belum.

(3) Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan menghendaki pencegahan kehamilan jangka panjang.

(4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi.

(5) Pasca persalinan dan tidak menyusui.

(6) Pasca keguguran.

(7) Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi.

(8) Riwayat kehamilan ektopik.

(9) Tekanan darah >180/110 mmhg

(10)Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen.

(11) Sering lupa menggunakan pil.

Yang Tidak Boleh Menggunakan Implan

(1) Hamil atau diduga hamil.

(3) Benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara.

(4) Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi.

(5) Mioma uterus dan kanker payudara.

(6) Gangguan toleransi glukosa dan memiliki riwayat hipertensi (Meilani, dkk, 2010).

d) Kondom

Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan diantaranya karet (lateks), plastik(vinil) atau bahan alami (produksi hewani) . Kondom terdiri dari 2 jenis yaitu kondom wanita dan kondom pria. Kondom untuk pria sudah cukup dikenal namun untuk kondom wanita walaupun sudah ada tapi belum populer dengan alasan ketidak nyamanan(berisik).

Cara kerja kondom adalah:

(1). Dapat mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi wanita

(2). Sebagai alat kontrasepsi

(3). Sebagai pelindung terhadap infeksi atau tranmisi mikro organisme penyebab PMS

Manfaat Kontrasepsi kondom

(1) Efektif bila digunakan dengan benar

(2) Tidak menganggu reproduksi ASI

(3) Tidak mengganggu kesehatan klien

Keterbatasan kontrasepsi kondom

(1). Efektifitas tidak terlalu tinggi

(2). Cara penggunaan sangat mempengaruhi kontrasepsi

(3). Harus tersedia setiap kali berhubungan seksual

(4). Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum

Sesuai untuk pria yang:

(1)Ingin berpartisipasi dalam program KB

(2)Ingin segera mendapat alat kontrasepsinya

(3)Ingin kontrasepsi sementara

(4)Berisiko tinggi tertular/ menularkan IMS

Tidak Sesuai untuk pria

(1) Mempunyai pasangan yang beresiko tinggi apabila terjadi kehamilan

(2) Alergi terhadap bahan dasar kondom

(3) Menginginkan kontrasepsi jangka panjang

(4) Tidak peduli berbagai persyaratan kontrasepsi(Mulyani, Nina, dkk,2013).

e) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR)

Alat kontrasepsi dalam rahim adalah suatu alat yang dimasukkan melalui serviks dan dipasang di dalam uterus. AKDR memiliki benang yang menggantung sampai liang vagina, hal ini dimaksudkan agar keberadaannya bisa diperiksa oleh akseptor sendiri.

Jenis AKDR

Saat ini AKDR yang masih bisa kita temui adalah :

1). AKDR yang berkandungan tembaga, yaitu copper T (CuT 380A) dan nova T

2). AKDR yang berkandungan hormon progesteron, yaitu Mirena

3). Pada beberapa akseptor yang datang untuk melepas AKDR yang telah dipakainya lebih dari 20 tahun, akan kita dapati bentuk lipes loop(terbuat dari plastik).

Cara kerja :

• Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii

• Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri

• Mencegah sperma dan ovum bertemu dan mencegah implantasi telur dalam uterus

Indikasi AKDR

(a) Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih

(b) Ingin menjarangkan kehamilan

(d) Berusia diatas 35 tahun

Kontra Indikasi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

(a) Kehamilan

(b) Perdarahan per vaginam yang belum terdiagnosis, namun setelah diatasi AKDR dapat segera dipasang

(c) Perempuan yang sedang menderita infeksi alat genitalia (vaginitis, servisitis) bila telah diobati, dapat segera dipasang

(d) Riwayat kehamilan ektopik

(e) Kelainan pada panggul dan uterus ( misalnya uterus bikornis)

(f) Alergi terhadap komponen AKDR misalnya tembaga

Keuntungan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

(a) Efektif dengan segera yaitu setelah 24 jam dari pemasangan

(b) Reversibel dan sangat efektif

(c) Tidak mengganggu hubungan seksual

(d) Metode jangka panjang ( 8 tahun)

(e) Tidak mengganggu produksi ASI

(f) Dapat dipasang segera setelah melahirkan ataupun pasca abortus

Kerugian Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

(1) Nyeri dan mules

(2) Perdarahan (spotting)

(4) Infeksi

f) Kontrasepsi Mantap

• Tubektomi

Jenis kontrasepsi mantap diantaranya :

(a) Minilaparotomi

(b) Laparoskopi

Mekanisme kerja

Dengan mengonklusi tuba falopi (mengikat dan memotong atau memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum.

Manfaat KB MANTAP :

(a) Sangat efektif

(b) Tidak mempengaruhi proses menyusui

(c) Tidak bergantung pada faktor senggama

(d) Baik digunakan apabila kehamilannya akan menjadi resiko kehamilan yang serius dan permanen

Keterbatasan kontrasepsi mantap

(a) Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi

(b) Klien dapat menyesal dikemudian hari

(c) Resiko komplikasi kecil

(d) tidak melindungi diri dari IMS dan HIV/AIDS

Yang dapat menjalani tubektomi yaitu :

(a) Usia >26 tahun

(b) Anak lebih dari 2 oramg

(c) Yakin telah mempunyai keluarga yang sesuai dengan kehendaknya

(d) Pasca persalinan

(e) Pasca keguguran

Yang tidak dapat menjalani tubektomi yaitu :

(1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)

(2) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan

(3) Infeksi sistemik

(4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan (Mulyani, Nina, dkk,2013).

g) Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)

Macam-macam KBA :

1) Metode lendir serviks (Metode Ovulasi Billings /MOB)

2) Card yang kurang efektif misal sistem kalender atau pantang berkala

3) Dan metode suhu basal

Untuk Kontrasepsi :

Senggama dihindari pada masa subur dengan pertengahan siklus haid atau terdapat tanda-tanda adanya kesuburan yaitu keluarnya lendir encer dari liang vagina. Untuk menghitung masa subur memakai rumus siklus terpanjang dikurangi 11, siklus terpendek dikurangi 18. antara kedua waktu senggama dihindari.

Manfaat KBA :

(1) Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan

(2) Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi

(3) Tidak ada efek samping sistemik

(4) Murah atau tanpa biaya

Keterbatasan KBA :

(1) Sebagai kontrasepsi sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian)

(2) Keefektifan tergantung dari kemauan dan dispilin pasangan untuk mengikuti instruksi

(3) Dibutuhkan pelatih /guru KBA (Bukan Tenaga Medis)

(4) Perlu pantang selama masa seubur untuk menghindari kehamilan

(5) Perlu pencatatan setiap hari

(6) Termometer basal digunakan untuk metode tertentu

Yang dapat menggunakan KBA :

(1) Semua perempuan semasa reproduksi baik siklus normal atau tidak normal

(2) Semua perempuan baik paritas berapapun termasuk nulipara

(3) Perempuan kurus ataupun gemuk

(4) Perempuan merokok

(5) Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain

(6) Perempuan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu pada setiap siklus haid.

Yang seharusnya tidak memakai KBA :

(1) Perempuan dari segi umur, paritas atau masalah kesehatannya

(2) Perempuan sebelum mendapat haid (Menyusui, segara setelah abortus) kecuali Metode Ovulasi Billings (MOB)

(3) Perempuan yang tidak suka menyentuh alat genetalianya (Affandi, Biran,dkk,2011)

h) Senggama Terputus

Senggama terputus adalah metode keluarga berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelamin (Penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.

Cara kerja senggama terputus :

Alat kelamin (Penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina sehingga tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat dicegah.

Manfaat senggama terputus :

1) Efektif bila dilaksanakan dengan benar

2) Tidak mengganggu produksi ASI

3) Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya

4) Tidak ada efek samping

5) Dapat digunakan setiap waktu

6) Tidak membutuhkan biaya.

Keterbatasan senggama terputus :

a) Efektifitas sangat bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama terputus setiap melaksanakannya (Angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan pertahun)

b) Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis

c) Memutus kenikmatan dalam hubungan seksual

Dapat dipakai untuk :

a) Suami yang ingin berpartisipasi dalam KB

b) Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera

c) Pasangan yang memerlukan metode sementara, sampai menunggu metode yang lain.

d) Pasangan yang membutuhkan metode pendukung

e) Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur

Tidak dapat dipakai untuk :

1) Suami dengan pengalaman ejakulasi dini

2) Suami yang sulit melakukan senggama terputus

3) Istri yang mempunyai pasangan sulit bekerjasama

4) Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi

i) Metode Amenorea Laklasi (MAL)

Merupakan kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan ataupun minuman lainnya.

MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila :

1) Menyusui secara penuh (Full Breast Feeding), lebih efektif bila pemberian 7/8 x sehari

2) Efektif sampai 6 bulan

3) Harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya

4) umur bayi kurang dari 6 bulan

Cara kerja Metode Amenorea Laktasi (MAL)

• Penundaan/penekanan ovulasi Keuntungan kontrasepsi

(1) Efektifitas tinggi (Keberhasilan 98% pada enam bulan pasca persalinan)

(2) Segera efektif

(3) Tidak mengganggu senggama

(4) Tidak ada efek samping secara medis

(5) Tidak perlu pengawasan medis

(6) Tidak perlu obat atau alat

(7) Tanpa biaya

Keterbatasan :

(1) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan.

(2) Mungkin sulit dilakukan karena kondisi sosial

Yang dapat menggunakan MAL

(1) Ibu yang menyusui secara eksklusif

(2) Bayinya berumur kurang dari 6 bulan

(3) Belum mendapat mendapat haid setelah meahirkan

Yang seharusnya tidak pakai MAL

(1) Sudah mendapat haid setelah bersalin

(2) Tidak menyusui secara eksklusif

(3) Bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan

(4) Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam (Affandi, Biran,dkk, 2011).

BAB 3

Kerangka Penelitian

A. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep merupakan suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lain,bagian yang mengungkapkan strategi dan pendekatan penulis untuk memecahkan masalah (Fatimah, dkk, 2009).

Adapun kerangka konsep penelitian ini berdasarkan pengetahuan dan sikap ibu nifas dalam penggunaan kontrasepsi di Klinik Kasih Ibu Delitua adalah sebagai berikut:

Keterangan :

Skema 2 . kerangka konseptual diatas menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap mempengaruhi ibu nifas dalam penggunaan kontrasepsi.

PENGETAHUAN SIKAP

IBU NIFAS

PENGGUNAAN KONTRASEPSI

B. Defenisi Operasional

1. Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2010).

2. Sikap(Attitude)

Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya)(Notoatmodjo, 2010).

3. Ibu nifas

Ibu nifas di mulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil(Syafrudin,dkk,2010).

4. Kontrasepsi

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai mahluk seksual serta salah satu kebutuhan hidup sehat, selain makanan yang sehat, air bersih dan lingkungan yang sehat(Affandi, Biran,dkk, 2011).

Dokumen terkait