• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

3.8. Metode Analisa Data

Metode Analisis Statistik deskriptif merupakan proses transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi, sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Statistik deskriptif umumnya digunakan untuk memberi informasi mengenai variabel penelitian yang utama. Ukuran yang digunakan berupa : frekuensi, tendensi sentral (rata-rata, median, modus), dispersi (deviasi standar, Variance) dan pengukur-pengukur bentuk (measures of shape). (Erlina 2011 : 93).

Guna menjawab permasalahan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, maka digunakan beberapa metode analisis data, yakni :

1. Untuk menjawab permasalahan pertama dipergunakan analisa Net Balance. Metode analisa Net Balance ini digunakan dengan cara menyusun tabel frekuensi serta uraian penjelasan dari data primer hasil penyebaran angket. Tabel frekuensi ini berguna untuk mengetahui distribusi dari tanggapan responden. Hasil tanggapan responden atas angket tersebut berisi lima alternatif tanggapan dengan menggunakan skala linkert yaitu :

1. Sangat Tidak Setuju 2. Tidak Setuju

3. Ragu-ragu 4. Setuju

5. Sangat Setuju

Hasil tanggapan responden kemudian di analisa dengan cara yaitu:

a. Menghitung persentase dari hasil tanggapan dan kemudian dimasukkan ke dalam kategori sesuai dengan pendapat Arikunto (2006), yaitu sebagai berikut :

1. Nilai rata-rata antara 86% - 100% kategori sangat baik 2. Nilai rata-rata antara 76% - 85% kategori baik

3. Nilai rata-rata antara 66% - 75% kategori sedang 4. Nilai rata-rata antara 40% - 65% kategori kurang baik 5. Nilai rata-rata kurang dari 40% kategori tidak baik

b. Kemudian hasil tanggapan responden di analisa melalui metode net balance yaitu : poin a + b dijumlahkan dengan alasan bahwa poin a diartikan sangat tidak setuju dan poin b tidak setuju berarti ada keraguan (tidak setuju) atas tanggapan yang diberikan. Pada poin d + e

dijumlahkan dengan alasan bahwa poin d diartikan setuju dan e sangat setuju berarti tidak ada keraguan atas tanggapan yang diberikan. Sedangkan untuk poin c diartikan ragu-ragu berarti tidak diperhitungkan dengan alasan bahwa jawaban c dianggap tidak berpihak pada yang baik ataupun yang tidak baik. Kemudian hasil penjumlahan poin a + b dikurangi dengan poin d + e, jika hasil yang di dapat bernilai positif berarti mendukung pernyataan yang diajukan dan jika hasilnya bernilai negatif berarti kurang mendukung pernyataan yang diajukan.

Untuk mendukung hasil penelitian melalui penyebaran angket di lengkapi dengan data dan informasi hasil penelitian yang hasilnya kemudian dituangkan dalam bentuk narasi.

2. Untuk menjawab permasalahan kedua dipergunakan analisa skalogram. Analisa skalogram digunakan untuk mengetahui hirarki kota berdasarkan kelengkapan fasilitas yang dimiliki. Hirarki kota akan berfungsi sebagai pusat-pusat pelayanan baik skala lokal maupun regional. Dengan adanya pusat-pusat pelayanan tentunya dapat dilihat pusat-pusat pertumbuhan atau disebut kekuatan ekonomi dalam wilayah oleh Hirschman (Hirschman yang mengikuti pendapat Perroux dalam Adisasmita 2005 : 60), dimana adanya pembangunan kelengkapan fasilitas-fasilitas yang disediakan di daerah tersebut. Pembangunan-pembangunan kelengkapan fasilitas-fasilitas baik oleh pemerintah, swasta atau masyarakat merupakan investasi yang dilakukan di daerah tersebut.

Menurut Budiharsono (2005 : 151) Metode skalogram dapat digunakan untuk menentukan peringkat pemukiman atau wilayah dan kelembagaan atau fasilitas pelayanan. Tahapan-tahapan metode skalogram, misalnya akan disusun hierarki peringkat kecamatan-kecamatan dalam satu kabupaten, tahapan dari penyusunan analisa skalogram yaitu :

a. Kecamatan-kecamatan disusun urutannya berdasarkan peringkat jumlah penduduk.

b. Kemudian Kecamatan-kecamatan tersebut disusun urutannya berdasarkan jumlah jenis fasilitas yang ada pada wilayah tersebut. c. Fasilitas-fasilitas disusun urutannya berdasarkan jumlah wilayah yang

memiliki jenis fasilitas tersebut.

d. Peringkat jenis fasilitas disusun urutannya berdasarkan jumlah total unit fasilitas.

e. Peringkat Kecamatan disusun urutannya berdasarkan jumlah total fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing wilayah tersebut.

3. Untuk menjawab permasalahan ketiga dipergunakan metode analisa Location Quotient (LQ). Dengan menggunakan Metode Location Quotient (LQ) dapat diketahui bahwa di daerah analisis Kota Gunungsitoli, selama periode analisis/pengamatan terdapat beberapa sektor kegiatan ekonomi yang dapat dijadikan sebagai sektor ekonomi unggulan, potensial atau basis. Ekonomi potensial dapat diketahui dari angka rasio masing-masing sektor PDRB yang menunjukkan nilai lebih dari satu.

Dengan teknik kuantitatif LQ, dapat ditentukan kapasitas ekspor perekonomian daerah dan derajat kemandirian suatu sektor. Dalam analisis

LQ, kegiatan ekonomi suatu daerah dapat dibagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu :

a. Kegiatan sektor yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di luar daerah yang bersangkutan. Industri seperti ini dinamakan industri basis.

b. Kegiatan sektor yang melayani pasar di daerah tersebut, jenis ini dinamakan industri non basis atau industri lokal.

Teori Location Quotient (LQ) adalah teori basis ekonomi yang pada dasarnya adalah karena industri basis menghasilkan barang-barang dan jasa untuk pasar di daerah maupun di luar daerah yang bersangkutan, maka penjualan ke luar daerah akan menghasilkan pendapatan bagi daerah tersebut. Adanya arus pendapatan dari luar daerah menyebabkan terjadinya konsumsi (C = Consumption) dan Investasi (I = Investment) di daerah tersebut. Kemudian hal tersebut akan menaikkan pendapatan dan menciptakan kesempatan kerja baru. Peningkatan pendapatan tersebut menaikkan permintaan terhadap industri basis dan juga menaikkan permintaan akan industri non basis (lokal). Kenaikan permintaan (demand) akan mendorong kenaikan investasi pada industri yang bersangkutan dan industri lainnya.

Teknik Location Quotient mengukur konsentrasi dari suatu kegiatan industri dalam suatu daerah dengan cara membandingkan peranannya dalam perekonomian daerah itu dengan peranan kegiatan industri sejenis dalam perekonomian regional maupun nasional. Tenik LQ dapat dibedakan

menjadi 2 (dua) yaitu Location Quotient statis ( Static Location Quotient, SLQ) dan Location Quotient dinamis (Dynamic Location Quotient, DLQ) Untuk mendapatkan nilai LQ menggunakan metode yang mengacu pada formula yang dikemukakan oleh Widodo (2006:116) sebagai berikut:

Vik Vk LQik = Vip Vp Keterangan :

Vik = Nilai out put (PDRB) sektor i daerah studi k (kabupaten/kota misalnya) dalam pembentukkan Produk Domestik Regional Riil (PDRB) daerah studi k.

Vk = Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) total semua sektor di daerah studi k.

Vip = Nilai out put (PDRB) sektor i daerah referensi p (propinsi misalnya) dalam pembentukkan Produk Domestik Regional Riil (PDRR) daerah referensi p.

Vp = Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) total di semua sektor daerah referensi p.

Penggunaan formula atau rumus adalah sebagai berikut :

PDRB GST,i

ΣPDRBGST LQ =

PDRBSumut,i

Keterangan :

PDRBGST,i = PDRB sektor i di Kota Gunungsitoli pada tahun tertentu. ΣPDRBGST = Total PDRB di Kota Gunungsitoli pada tahun tertentu. PDRBSumut,i = PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara pada tahun

tertentu.

ΣPDRBSumut = Total PDRB di Provinsi Sumatera Utara pada tahun tertentu.

Dengan menggunakan rumus pada persamaan di atas, maka ada tiga kemungkinan nilai LQ yang dapat ditemukan Bendavid-Val dalam Widodo (2004:117), yaitu:

a. Nilai LQ di sektor i = 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah Kota Gunungsitoli adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.

b. Nilai LQ di sektor i > 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah Kota Gunungsitoli lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.

c. Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah Kota Gunungsitoli lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara. Jika nilai LQ>1, sektor i merupakan sektor unggulan daerah Kota Gunungsitoli sekaligus merupakan basis ekonomi untuk dikembangkan lebih lanjut oleh daerah Kota Gunungsitoli.

Sebaliknya apabila nilai LQ<1, maka sektor i tersebut adalah tidak merupakan sektor unggulan dan bukan merupakan basis ekonomi serta tidak prospektif untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kota Gunungsitoli. Analisa Location Quotient (LQ) ini menggunakan data PDRB Provinsi Sumatera Utara dan Kota Gunungsitoli tahun 2008-2010 menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2000.

4. Untuk menjawab permasalahan keempat dipergunakan metode analisa Shift Share. Metode Shift Share adalah salah satu teknik kuantitatif yang digunakan untuk mengalisa perubahan struktur ekonomi Kota Gunungsitoli terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi (Provinsi Sumatera Utara) sebagai pembanding atau referensi. Analisis shift share ini menggunakan data PDRB Provinsi Sumatera Utara dan Kota Gunungsitoli tahun 2008-2010 menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2000 agar bobotnya (nilai riilnya) bisa sama dan perbandingan menjadi valid (Tarigan, 2009:86).

Dengan analisa shift share, maka perubahan struktur perekonomian wilayah Kota Gunungsitoli disebabkan oleh tiga komponen (Widodo 2006:113) , yaitu:

a. Provincial Share (PS), untuk mengetahui bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara terhadap perekonomian Kota Gunungsitoli.

b. Proportional Shift (P) adalah pergeseran yang menunjukkan perubahan relative (naik turun) kinerja sektor PDRB Kota Gunungsitoli terhadap sektor PDRB yang sama Propinsi Sumatera Utara. Pergeseran

proportional shift (P) disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix).

c. Differential Shift (D) adalah pergeseran yang menunjukkan tingkat kekompetitifan suatu sektor PDRB Kota Gunungsitoli dibanding tingkat Provinsi Sumatera Utara. Jika nilai pergeseran diferensialnya positif, berarti sektor PDRB Kota Gunungsitoli lebih kompetitif dibanding sektor yang sama di tingkat Propinsi Sumatera Utara. Jika nilai pergeseran diferensialnya negatif, berarti sektor PDRB Kota Gunungsitoli kurang kompetitif dibanding sektor yang sama di tingkat Propinsi Sumatera Utara. Pergeseran diferensialnya disebut juga pengaruh keunggulan kompetitif.

Rumus Provincial Share (PS), Proportional Shift (P), dan Differential Shift (D) adalah sebagai berikut (Tarigan, 2009:88; Sjafrizal, 2008:91):

a. Provincial Share (PS) Ns i, t = E r, i, t-n (E N,t / E N, t-n) - E r, i, t-n b. Proportional Shift (P) P r, i, t = {(E N, i, t / E N, i, t-n) - (E N,t / E N, t-n)} X E r, i, t-n atau ∆ E N, i, t ∆ E N,t P r, i, t = - E N, i, t-n E N, t-n c. Differential Shift (D) D r, i, t = { E r, i, t - (E N, i, t / E N, i, t-n) E r, i, t-n} Atau

∆ E r, i, t ∆ E N, i, t D r, i, t = -

E r, i, t-n E N, i, t-n

Untuk melihat pengaruh terhadap seluruh wilayah analisis maka angka untuk masing-masing sektor harus ditambahkan dalam PDRB Kota Gunungsitoli merupakan penjumlahan Provincial Share (PS), Proportional Shift (P), dan Differential Shift (D) sebagai berikut:

∆ E r, i, t = (Ns i + P r, i + D r, i)

Jika secara nasional (wilayah yang lebih tinggi jenjangnya telah di buat proyeksi lapangan kerja per sektor untuk tahu t + m maka lapangan kerja di daerah tersebut atau pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktural dapat diproyeksikan. Proyeksi untuk nasional share dan proportional share adalah sama dengan rumus di atas, hanya t-n diganti dengan (t) dan (t) diganti dengan t + m. Rumus Proyeksi adalah sebagai berikut :

a. Proyeksi Nasional Share (NS)/Provincial Share (PS) Ns i, t + m = E r, i, t (E N, t + m / E N, t) - E r, i, t

b. Proyeksi Proportional Shift (P)

P r, i, t + m = {(E N, i, t + m / E N, i, t) - (E N,t + m / E N, t)} X E r, i, t c. Proyeksi Differential Shift (D)

Untuk Proyeksi differential shift (D), dianggap sama dengan differential shift (D) masa lalu dikalikan dengan indeks penyesuaian kenaikan lapangan kerja nasional atau pertumbuhan ekonomi dan pergeseran struktural, rumusnya adalah

Atau

∆ E r, i, t ∆ E N, i, t D r, i, t + m = E r, i, t -

Dokumen terkait