• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. BAHAN DAN METODE

3.3. Metode Analisis Data

Tahapan dalam menganalisis data terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu: 1) Pembuatan basis data, 2) Analisis penggunaan lahan, 3) Analisis konsistensi RTRW, 4) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi inkonsistensi RTRW.

3.3.1 Basis data

Basis data adalah kumpulan data yang saling berhubungan. Suatu basis data menyediakan data untuk pengguna terbatas maupun berbagai penggunaan secara luas. Suatu basis data terdiri dari satu file atau lebih yang distrukturkan sedemikian rupa dalam bentuk Sistem Pengelolaan Basis Data (Database Manajemen System/DBMS), dan diakses melalui jalur tersebut (Barus & Wiradisastra 2000). DBMS adalah sistem perangkat lunak yang bertujuan khusus untuk pengelolaan, penyimpanan, dan manipulasi informasi (Haryanto 2003).

Penyusunan basis data ditujukan untuk mempermudah pencarian dan penghubung data tabular. Suatu sistem pengelolaan basisdata harus dapat digunakan untuk memanipulasi berbagai tipe objek dan variasi hubungan antar objek. Dengan penyusunan basisdata akan memudahkan dalam pengelolaan untuk mendapatkan hasil akhir yang diinginkan baik berupa tabular maupun peta.

Dalam penelitian ini data yang disusun sebagai basis data adalah data penggunaan lahan tahun 1998, data penggunaan lahan tahun 2006, dan Peta RTRW (1999-2009). Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Arcview 3.3 dan Idrisi. Peta Penggunaan lahan tahun 2006 dan Peta RTRW dioverlay untuk menghasilkan peta konsistensi. Peta ini menjadi dasar atau patokan dalam penyebaran kuisioner dan wawancara langsung.

3.3.2. Analisis penggunaan lahan

Analisis penggunaan lahan dilakukan untuk mengetahui bentuk-bentuk penguasaan, penggunaan, dan kesesuaian pemanfaatan lahan untuk kegiatan budidaya dan lindung. Selain itu, dengan analisis ini dapat diketahui besarnya fluktuasi intensitas kegiatan di suatu kawasan, perubahan, dan kecenderungan

pola perkembangan kawasan budidaya. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi suatu bentuk penggunaan lahan yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2006. Hasil identifikasi tersebut kemudian dideskripsikan. Hasil deskripsi tersebut berupa luasan dan persentase luasan dari suatu bentuk penggunaan lahan pada suatu wilayah administrasi dan kelas lereng..

3.3.3. Analisis Konsistensi RTRW

Konsistensi RTRW adalah untuk melihat seberapa jauh tingkat konsistensi pemanfaatan ruang terhadap RTRW. Analisis ini dilakukan dengan cara mengoverlay peta RTRW, peta penggunaan lahan tahun 1998, peta penggunaan lahan tahun 2006. hasil overlay yang berupa data atribut, diekspor ke Microsoft Excel dan diolah. Pengolahan dilakukan dengan cara membuat matriks yang berisi kolom -kolom yang memberikan informasi mengenai jenis penggunaan lahan tahun 1998 dan 2006 yang berada pada kawasan-kawasan yang telah ditetapkan dalam RTRW.

Tumpang tindih antar ke 3 peta dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya konsistensi dan

inkonsistensi penggunaan lahan. Dari hasil tumpang tindih ke 3 peta tersebut dapat diindentifikasi 5 bentuk konsistensi penggunaan lahan yaitu:

1. Sangat konsisten yaitu jika penggunaan laha tahun 2006 sesuai dengan eksisting tahun 1998 dan RTRW.

2. Konsisten sengaja yaitu jika penggunaan lahan tahun 2006 yang sesuai dengan arahan RTRW tetapi berbeda dengan penggunaan lahan tahun 1998. dengan kata lahan perubahan lahan yang terjadi mengarah ke RTRW.

3. Inkonsisten tanpa sengaja yaitu jika penggunaan lahan yang pada tahun 1998 sesuai dengan RTRW tetapi pada tahun 2006 berubah menjadi bentuk penggunaan lahan yang lain.

4. Inkonsisten sengaja yaitu jika penggunaan lahan pada tahun 1998 tidak sesuai dengan RTRW tetapi pada tahun 2006 sesuai dengan penggunaan lahan tahun 1998.

5. Inkonsisten sengaja/ngawur yaitu jika penggunaan lahan tahun 2006 tidak sama antara eksisting tahun 1998 dan RTRW.

Identifikasi Hubungan Geografis

Identifikasi hubungan geografis dilakukan antara peta RTRW dan peta penggunaan lahan dengan menggunakan software Idrisi. Kedua peta tersebut kemudian diolah terlebih dahulu di ArcView untuk menyamakan frame. Setelah batasan kedua peta sama kemudian diimport ke Idrisi. Data yang diimport masih dalam bentuk data vektor sehingga dilakukan dulu pengeditan database kedua peta sehingga diperoleh peta baru dengan database dalam bentuk angka. Kedua peta baru tersebut kemudian ditransformasi menjadi peta raster.

Untuk mengetahui derajat asosiasi antar kedua peta maka dua peta diuji secara statistik dengan menggunakan koefisien Cramer’s V dan koefisien Kappa. Untuk mendapatkan kedua koefisien tersebut maka dua peta (raster) tersebut kemudian dilakukan tabulasi silang. Dari hasil tabulasi silang akan diperoleh nilai koefisien Cramer’s V dan Koefisien Kappa yang memperlihatkan korelasi antar kedua peta. Menurut Bonham dan Charter (1998), pengukuran-pengukuran variasi dapat digunakan untuk mengkuantifikasi derajat asosiasi antar peta, dan dalam setiap perhitungan didasarkan pada jumlah area tabulasi silang.

Koefisien Cramer’s V

Koefisien Cramer’s V adalah koefisien asosiasi yang berdasarkan pada nilai Chi-square. Cramer’s V adalah unit–unit pengukuran bebas dengan variasi nilai antara 0 (mengindikasikan tidak ada korelasi antara ke dua peta) nilai maksimum tidak lebih dari 1. Cramer’s V tergantung pada nilai X2, total area dan dimensi area tabel. Pengukuran koefisien menggunakan tabel yang perhitungannya berdasarkan independent random sampling. Secara statistik asosiasi tersebut dapat diuji.

Persaman untuk area yang diuji :

.. . . * T T T T ij = i j

Persamaan chi square:

( )

= = − = m j ij ij ij n i T T T X 1 2 * 1 2 Persamaan Cramer”s V : M T x V .. 2 = Keterangan:

Ti = Jumlah baris ke-i Tj = Jumlah kolom ke-j T.. = Total-total marjinal

Tij = klas i =1,2…n pada peta B (baris) dan klas j = 1,2…m pada peta A (kolom)

M = minimum (n-1, m-1)

Koefisien Kappa

Koefisien Kappa digunakan untuk menilai tingkat kesesuaian 2 data / peta dengan jumlah klas yang sama. Kappa mengukur sejumlah kesesuaian antar atribut, dan mengkoreksi untuk menduga sejumlah kesesuaian. Kappa melihat hanya pada klas kategori dalam prinsip diagonal matriks proporsi. Nilai koefisien Kappa berada antara 0 (mengindikasikan tidak ada korelasi) sampai 1 (sangat berkorelasi).

Persamaan Koefisien Kappa :

K =

∑ ∑

= = − − n i ii n i n i ii ii q q P 1 1 1 1

Keterangan: ΣPii = Total persesuaian yang diobservasi Σqii = Total persesuaian karena perubahan n = Jumlah klas yang dimatchingkan

3.3.4. Persepsi masyarakat.

Persepsi masyarakat terhadap RTRW diketahui dengan menyebarkan kuisioner kepada responden mengenai penggunaan lahan yang konsisten dan inkonsisten dengan RTRW dan melakukan wawancara langsung kepada pelaku/ pengguna lahan baik yang penggunaannya konsisten dan inkonsisten dengan RTRW.

1. Kuisioner. Penyebaran kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kepedulian responden terhadap konsistensi RTRW yang terjadi di lingkungan mereka. Lokasi penyebaran kuisioner berada pada 4 kecamatan yang setiap kecamatan diwakili oleh satu kelurahan. Kelurahan yang dipilih adalah kelurahan yang terjadi inkonsistensi penggunaan lahan yang arealnya cukup luas. Responden berjumlah 37 responden yang terdiri dari 5 strata. Jumlah responden pada setiap strata ditentukan secara proporsional yaitu LSM 2 responden, PNS 5 responden, mahasiswa 5 responden, pelajar 5 responden, dan kepala rumah tangga 20 responden. Data yang akan diperoleh dari kuisioner berupa jawaban pertanyaan tertutup (jawaban yang sudah disediakan lebih dahulu) dan jawaban pertanyaan terbuka (jawaban yang diberikan sifatnya bebas, sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh penjawab, tanpa ada suatu batasan tertentu). Kemudian jawaban pertanyaan terbuka dikategorikan terlebih dahulu atau dikelompokkan sehingga tiap kelompok berisi jawaban yang lebih kurang sejenis.

2. Wawancara langsung dengan responden. Wawancara langsung dilakukan kepada responden sebagai pelaku yang melakukan konsistensi dan inkonsistesi pemanfaatan ruang terhadap RTRW. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan responden dalam menggunakan lahannya saat ini. Wawancara dengan responden dibagi atas 2 bagian yaitu:

a. Pelaku konsistensi adalah orang yang membangun atau melakukan kegiatan kerja/usaha sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang. Setiap pelaku konsistensi diwakili oleh 3 orang responden yang dipilih secara acak. Misal: rumah yang berada di kawasan perumahan yang sesuai

dengan rencana tata ruang akan diwakili oleh 3 orang responden (pemilik lahan).

b. Pelaku inkonsistensi adalah orang yang membangun atau melakukan kegiatan kerja/usaha tidak sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang. Setiap pelaku inkonsistensi diwakili oleh 3 orang responden yang dipilih secara acak. Misal: rumah yang dibangun di lahan kering (RTRW) akan diwakili oleh 3 orang responden (pemilik lahan).

Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga jumlah responden bukan menjadi pertimbangan pokok, namun lebih ditekankan pada pendalaman serta kedalaman dan kecukupan informasi (representative). Penelitian kualitatif digunakan dikarenakan studi ini membahas persepsi pada kelompok-kelompok tersebut.

Hasil – hasil kuisioner kemudian dideskripsikan. Pendeskipsian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut pada keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu penelitian sehingga dapat menentukan dan melaporkan keadaan sekarang. Dengan tujuan utama menggambarkan sifat suatu keadaan yang sebenarnya pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu (Gay 1976, diacu dalam Sevilla CG 1993).

Dokumen terkait