• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: METODE PENELITIAN

G. Metode Analisis Data

Analisis data adalah cara seorang peneliti dalam mengolah data yang terkumpul sehingga dari hasil tersebut peneliti akan mendapatkan suatu kesimpulan dari penelitian yang telah dilaksanakan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik. Hadi (2000) menyatakan statistik adalah cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan, dan menganalisis data penelitian yang berwujud angka-angka. Pada penelitian statistik deskriptif penyajian hasil analisa biasanya berbentuk frekuensi dan persentase, tabulasi silang, berbagai grafik dan chart pada data yang bersifat kategorikal, serta berupa statistik kelompok pada data yang bukan kategorikal (Azwar, 2010).

A. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Jumlah subjek penelitian secara keseluruhan adalah 250 orang dewasa awal berusia 18 – 40 tahun yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada hasil penelitian ini, terdapat 200 responden yang mengisi kuesioner secara online dan 50 responden yang mengisi kuesioner cetak. Subjek penelitian dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin, intensitas waktu menggunakan internet, suku, status pernikahan, aplikasi internet yang sering dikunjungi, pekerjaan dan alasan menggunakan internet serta internet sebagai media utama dalam pendidikan atau pekerjaan. Berikut merupakan deskripsi umum subjek penelitian.

1. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, subjek penelitian dengan kelamin perempuan sebanyak 164 orang (65.6%), sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 86 orang (34.4%). Gambaran subjek berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 4.1. berikut:

Tabel 4.1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase

Laki-Laki 86 34.4%

Perempuan 164 65.6%

Total 250 100%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek dengan jenis kelamin perempuan lebih besar jumlahnya (100% lebih besar) dibandingkan dengan subjek yang berjenis kelamin laki-laki.

2. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Status Pernikahan

Status Pernikahan pada responden terbagi atas dua yaitu Menikah dan Belum Menikah. Responden dengan status Menikah sebanyak 17 orang (6.8%) dan Status Belum Menikah sebanyak 233 orang (93.2%). Gambaran subjek berdasarkan status pernikahan dapat dilihat pada tabel 4.2. berikut:

Tabel 4.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Status Pernikahan Status Pernikahan Jumlah (N) Persentase

Menikah 17 6.8%

Belum Menikah 233 93.2%

Total 250 100%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang belum menikah lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan subjek yang sudah menikah, yang mana jumlah subjek yang belum menikah 14 kali lipat (1400%) lebih besar dibandingkan dengan subjek yang sudah menikah.

3. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Aplikasi Internet yang Sering Digunakan

Berdasarkan aplikasi internet yang sering digunakan, Sosial Media (facebook, path, instagram, whatsapp, twitter, line dan snapchat) dipilih oleh 195 responden (78%), aplikasi Game Online yang digunakan responden sebanyak 27 orang (10.8%) dan aplikasi Mesin Pencarian (Yahoo, Google, Youtube) yang digunakan responden sebanyak 28 orang (11.2%). Gambaran subjek berdasarkan aplikasi internet yang sering digunakan dapat dilihat pada tabel 4.3. berikut:

Tabel 4.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Aplikasi Internet yang Sering Digunakan

Aplikasi Internet Jumlah (N) Persentase Sosial Media (facebook, path, instagram,

whatsapp, twitter, line dan snapchat) 195 78%

Game Online 27 10.8%

Mesin Pencarian (Yahoo, Google, Youtube) 28 11.2%

Total 250 100%

Hasil penelitian menunjukkan Sosial Media (facebook, path, instagram, whatsapp, twitter, line dan snapchat) dipilih paling banyak oleh responden penelitian. Hal ini sesuai dengan penemuan bahwa individu yang berada pada rentang usia 20 – 30 tahun, merupakan pengguna media sosial terbesar dibandingkan dengan individu pada rentang usia lainnya. Sedangkan untuk penggunaan game online dan mesin pencarian, responden memilih dengan jumlah presentase yang hampir sama.

4. Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki oleh responden, Mahasiswa dipilih oleh 161 responden (64.4%), Pegawai Swasta dengan jumlah responden sebanyak 56 orang (22.4%), Wirausaha sebanyak 17 orang (6.8%), Pegawai BUMN dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 3 orang (1.2%), Freelance dan Ibu Rumah tangga sebanyak 2 orang (1%) dan Pengajar, Atlet dan Caster sebanyak 1 orang (0.5%). Gambaran subjek berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut:

Tabel 4.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Pekerjaan Jenis Pekerjaan Jumlah (N) Persentase

Atlet 1 0.4%

Caster 1 0.4%

Dosen 1 0,4%

Freelance 2 0.8%

IRT 4 1.6%

Mahasiswa 161 64.4%

Pegawai BUMN 3 1.2%

Pegawai Negeri Sipil (PNS) 3 1.2%

Pegawai Swasta 56 22.4%

Pengajar 1 0.4%

Wirausaha 17 6.8%

Total 250 100%

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan responden terbesar dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan usia mahasiswa yang berkisar dari 18 – 25 tahun, yang mana merupakan usia yang paling tepat dalam menggunakan seluruh fasilitas internet.

B. Hasil Utama Penelitian

Gambaran kepribadian dewasa awal yang mengalami kecanduan internet dari hasil penelitian ini dapat dilihat melalui nilai Z dan melalui uji signifikansi perbedaan antara nilai mean empiris dan teoritik (Azwar, 2000). Nilai Z masing-masing dimensi Big Five Personality dibandingkan pada masing-masing-masing-masing subjek Nilai Z yang paling tinggi di antara lima dimensi mengindikasikan bahwa dimensi tersebut merupakan dimensi yang paling dominan (profile) dalam diri subjek.

Tabel 4.5. Distribusi Dimensi Dominan Subjek

Dimensi Dominan N Presentase

Extraversion 43 17.2%

Agreeableness 41 16.4%

Conscientiousness 48 19.2%

Neuroticsm 71 28.4%

Openess to experience 47 18.8%

Jumlah 250 100%

Berdasarkan Tabel di atas, ditemukan bahwa neuroticsm merupakan dimensi dominan yang dimiliki oleh 71 orang subjek (28.4%), disusul dimensi conscientiousness sebagai dimensi dominan yang dimiliki oleh 48 orang subjek (19.2%), lalu dimensi openness to experience sebagai dimensi dominan yang dimiliki oleh 47 orang subjek (18.8%), dimensi extraversion sebagai dimensi dominan yang dimiliki oleh 43 orang subjek (17.2%) dan yang paling sedikit adalah dimensi agreeableness sebagai dimensi dominan yang dimiliki oleh 41 orang subjek (16.4%).

Selanjutnya, akan dipaparkan mengenai level kecanduan internet pada responden penelitian. Level kecanduan internet ini, terbagi atas Kategori Tinggi, Kategori Sedang dan Kategori Rendah.

Tabel 4.6. Level Kecanduan Internet

Variabel

Level Kecanduan

Internet

Rentang Nilai Frekuensi Persentase

Kecanduan

Berdasarkan 250 respon subjek penelitian, responden dengan keadaan di mana internet menyebabkan masalah yang signifikan dalam kehidupannya (Level Tinggi) berada pada angka 21 orang (8.4%), responden yang mengalami masalah pada saat dan situasi tertentu akibat internet sebanyak 76 orang (30.4%) dan responden yang menggunakan internet sedikit lama namun dapat dikontrol sebanyak 153 orang (61.2%). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yang secara karakteristik menggunakan internet selama minimal 12 jam/hari memperlihatkan perilaku penggunaan internet yang sedikit lebih lama, namun dapat dikontrol.

Berikut ini dipaparkan jenis kepribadian dominan pada responden penelitian yang mengalami kecanduan internet.

Tabel 4.7. Level kecanduan Internet pada Masing-masing Dimensi Kepribadian

Level Kecanduan

Internet

Extravert Agreeable. Conscient. Neuroticsm Openess to exp.

Rendah 27 orang 26 orang 31 orang 34 orang 35 orang Sedang 15 orang 12 orang 13 orang 25 orang 11 orang Tinggi 1 orang 3 orang 4 orang 12 orang 1 orang

Total 43 orang 41 orang 48 orang 71 orang 47 orang

Berdasarkan hasil penelitian di atas, subjek penelitian dengan dimensi kepribadian extraversion menunjukkan kecenderungan negatif terhadap penggunaan internet yang dapat mengganggu kehidupan sosial dan tanggung jawab pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan penemuan bahwa hanya terdapat seorang subjek yang menunjukkan kecanduan internet pada level tinggi, yang dapat dijelaskan bahwa responden mengalami masalah yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari yang diakibatkan oleh penggunaan internet yang berlebihan.

Dimensi kepribadian extraversion dikarakteristikkan sebagai dimensi kepribadian yang sociable, asertif, memiliki pandangan positif terhadap lingkungan sekitar, sehingga individu dengan dimensi extraversion akan lebih memilih menjalin hubungan secara tatap muka dibandingkan melalui dunia maya.

Subjek penelitian dengan dimensi kepribadian agreeableness digambarkan sebagai individu yang memiliki kecenderungan untuk menolong sesama, jujur dan dapat dipercaya dan juga apa adanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 subjek dengan dimensi kepribadian agreeableness yang menunjukkan level tinggi dalam penggunaan internet. Dimensi kepribadian agreeableness yang juga diatribusikan dengan sifat compliance, yang mana individu cenderung

memenuhi aturan yang ditetapkan secara legal, akan mengalami kesulitan secara internal saat menggunakan internet secara berlebihan.

Subjek penelitian dengan dimensi kepribadian conscientiousness digambarkan sebagai individu dengan kebutuhan untuk selalu terorganisir dan memiliki target/tujuan dalam hidup, memiliki kecenderungan kecil mengalami kecanduan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 orang dengan dimensi conscientiousness yang berada pada level tinggi penggunaan internet.

Individu dengan dimensi conscientiousness memiliki kontrol diri yang tinggi dalam melakukan sesuatu yang cenderung memberikan dampak negatif dalam kehidupannya.

Subjek penelitian dengan dimensi kepribadian neuroticsm digambarkan sebagai individu dengan kemampuan untuk mengatur stabilitas emosional yang rendah. Mereka cenderung merasa terancam pada situasi normal, yang mana apabila situasi tersebut dihadapi oleh individu dengan dimensi kepribadian lain bukanlah suatu situasi yang mengganggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 subjek dengan dimensi neuroticsm yang mengalami kecanduan internet pada level tinggi. Hal ini sesuai dengan karakteristik neuroticsm yang sulit dalam mengatur kontrol impuls, yang mengakibatkan mereka dapat jatuh ke dalam aktivitas penggunaan internet yang berlebihan. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa individu dengan dimensi kepribadian neuroticsm yang menggunakan internet berlebihan pada level tinggi 3 – 12 kali lebih besar dibandingkan dengan dimensi kepribadian lainnya.

Subjek penelitian dengan dimensi kepribadian openness to experience digambarkan sebagai individu dengan keterbukaan terhadap hal-hal baru, tidak terikat oleh nilai tradisional yang dianggap tidak rasional dan penuh dengan aestetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat seorang subjek dengan dimensi openness yang menggunakan internet secara berlebihan pada level tinggi.

Keinginan untuk mengeksplorasi hal baru menjadi rasionalisasi bagi individu dengan openness dalam menggunakan internet, namun tidak sampai pada tahap di mana internet menyebabkan masalah yang signifikan dalam kehidupan subjek.

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa tipe kepribadian neuroticsm menjadi tipe kepribadian yang paling berisiko seseorang mengalami kecanduan internet, yang mana dari total 71 subjek yang memiliki dimensi neuroticsm sebagai tipe kepribadian, terdapat 16% subjek yang mengalami masalah signifikan dalam kehidupannya karena penggunaan internet yang berlebihan serta dari total 21 subjek penelitian yang mengalami kecanduan internet yang berlebihan pada level tinggi, individu dengan neuroticsm berada pada presentase 57%, yang mana individu mengalami masalah yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari yang diakibatkan oleh penggunaan internet.

Berikut ini grafik yang menunjukkan perbedaan level kecanduan internet pada setiap tipe kepribadian.

Grafik 4.1. Perbedaan Level Kecanduan Internet pada Dimensi Kepribadian Big Five

C. Hasil Tambahan Penelitian

Berikut ini dipaparkan perbandingan skor empirik dan skor hipotetik pada lima dimensi kepribadian Big Five.

Tabel 4.8. Perbandingan Antara Skor Empirik dengan Skor Hipotetik

Variabel Skor Hipotetik Skor Empirik

Mi

Berdasarkan tabel di atas, ditemukan bahwa mean empirik lebih besar dari mean hipotetik. Hal ini menunjukkan bahwa subjek yang memilih salah satu dimensi kepribadian sebagai profile memunculkan respon yang cenderung tinggi pada dimensi tersebut dibandingkan dengan dimensi kepribadian yang lain yang kurang sesuai dengan dirinya.

Standar Deviasi yang lebih rendah pada skor empirik dibandingkan dengan Standar Deviasi pada skor hipotetik menunjukkan bahwa respon subjek cenderung memiliki variasi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa respon subjek terhadap lima dimensi kepribadian cenderung seragam.

Berikut ini akan dipaparkan gambaran aplikasi internet yang biasa digunakan subjek penelitian dengan melihat level kecanduan internet serta profile kepribadian big five.

Tabel 4.9. Gambaran Aplikasi Internet Pilihan Subjek Dilihat berdasarkan Level Kecanduan Internet dan Profile

Kepribadian Big Five

Berdasarkan tabel di atas mengenai gambaran pilihan subjek pada aplikasi internet yang biasa digunakan dilihat melalui level kecanduan internet dan profile kepribadian big five, ditemukan bahwa pada dimensi extraversion, subjek dengan level kecanduan internet rendah, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 21 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 2 orang dan mesin pencarian sebanyak 4 orang; subjek dengan level kecanduan internet sedang, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 15 orang; subjek dengan level kecanduan internet tinggi, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 1 orang. Pada dimensi

agreeableness, subjek dengan level kecanduan internet rendah, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 22 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 1 orang dan mesin pencarian sebanyak 3 orang; subjek dengan level kecanduan internet sedang, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 9 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 2 orang dan mesin pencarian sebanyak 1 orang; subjek dengan level kecanduan internet tinggi, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 2 orang dan aplikasi game online sebanyak 1 orang.

Pada dimensi conscientiousness, subjek dengan level kecanduan internet rendah, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 28 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 1 orang dan mesin pencarian sebanyak 2 orang;

subjek dengan level kecanduan internet sedang, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 11 orang dan menggunakan aplikasi game online sebanyak 2 orang; subjek dengan level kecanduan internet tinggi, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 4 orang. Pada dimensi neuroticsm, subjek dengan level kecanduan internet rendah, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 29 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 2 orang dan mesin pencarian sebanyak 3 orang; subjek dengan level kecanduan internet sedang, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 19 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 5 orang dan mesin pencarian sebanyak 1 orang; subjek dengan level kecanduan internet tinggi, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 6 orang dan aplikasi game online sebanyak 6 orang.

Pada dimensi openness to experience, subjek dengan level kecanduan internet rendah, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 23 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 1 orang dan mesin pencarian sebanyak 11 orang; subjek dengan level kecanduan internet sedang, menggunakan aplikasi media sosial sebanyak 5 orang, menggunakan aplikasi game online sebanyak 3 orang dan mesin pencarian sebanyak 3 orang; subjek dengan level kecanduan internet tinggi, menggunakan aplikasi game online sebanyak 1 orang.

Selanjutnya, akan dipaparkan jenis kelamin individu pada masing-masing dimensi dominan.

Tabel 4.10. Gambaran Jenis Kelamin Subjek pada Dimensi Dominan

Dimensi Dominan Jenis Kelamin Frekuensi Presentase

Extraversion

Berdasarkan tabel 4.10 ditemukan bahwa pada responden yang memiliki nilai tinggi pada dimensi extraversion, subjek pria berjumlah 11 orang dan wanita 32 orang. Responden yang memiliki nilai yang tinggi pada dimensi

Responden yang memiliki nilai yang tinggi pada dimensi conscientiousness, subjek pria berjumlah 15 orang dan wanita 33 orang. Responden yang memiliki nilai yang tinggi pada dimensi neuroticsm, subjek pria berjumlah 25 orang dan wanita 46 orang. Responden yang memiliki nilai yang tinggi pada dimensi openness to experience, subjek pria berjumlah 23 orang dan wanita 24 orang.

Bab ini berisi kesimpulan dalam penelitian yang selanjutnya akan didiskusikan hasil penelitian yang diperoleh selama persiapan, proses pengambilan dan penganalisaan data. Pada akhir bab juga akan tertera langkah ke depan untuk mengembangkan penelitian ini.

A. Kesimpulan

Hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan kepada dewasa awal yang menggunakan internet dengan intensitas yang berlebihan. Namun, memiliki kemampuan generalisasi yang rendah, hal ini dikarenakan oleh teknik sampling dalam pengambilan data menggunakan incidental sampling.

Berdasarkan hasil utama dan hasil tambahan penelitian, maka gambaran yang dihasilkan dari penelitian ini adalah:

1. Neuroticsm merupakan dimensi kepribadian dominan terbesar yang dimiliki oleh subjek penelitian, yaitu 28.4% dari kesuluruhan subjek penelitian.

2. Dimensi kepribadian conscientiousness, openness to experience, extraversion dan agreeableness menjadi dimensi kepribadian yang dimiliki oleh subjek penelitian, dengan presentasi yang berdekatan.

Conscientiousness merupakan dimensi kepribadian yang dimiliki oleh 19.2% dari keseluruhan subjek penelitiaan, sedangkan openness to experience merupakan dimensi kepribadian yang dimiliki oleh 18.8% dari keseluruhan subjek penelitian.

3. Extraversion merupakan dimensi kepribadian yang dimiliki oleh 17.2%

dari keseluruhan subjek penelitian dan agreeableness merupakan dimensi kepribadian yang dimiliki oleh 16.4% dari keseluruhan subjek penelitian.

4. Berdasarkan nilai kecanduan internet pada subjek penelitian, kategori kecanduan internet responden terbesar terletak pada Level Rendah, penggunaan internet sedikit lama namun dapat dikontrol yaitu sebanyak 153 subjek dari 250 total subjek responden.

5. Pada Level Tinggi Kecanduan Internet, dimensi dominan neuroticsm merupakan tipe kepribadian terbanyak yang dimiliki oleh responden, yaitu sebanyak 12 subjek dengan total 21 orang subjek dengan level tinggi.

internet menyebabkan masalah yang signifikan dalam kehidupan.

6. Sebagian besar responden menggunakan aplikasi Sosial Media (facebook, path, instagram, whatsapp, twitter, line dan snapchat) dalam aktifitas berinternet di kesehariannya.

7. Berdasarkan hasil penelitian, dimensi kepribadian dominan antara pria dan wanita sama-sama merupakan dimensi kepribadian neuroticsm.

B. Diskusi

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan Big Five Personality pada dewasa awal yang mengalami kecanduan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari jumlah keseluruhan subjek penelitian yaitu 250 responden, 71 responden dikategorikan sebagai individu dengan dimensi kepribadian dominan neuroticsm. Neuroticsm merupakan kerentanan dalam mengalami perasaan negatif seperti depresi, kecemasan dan marah dengan tingkat toleransi rendah terhadap stimulus yang tidak menyenangkan. Mereka yang

memiliki nilai neuroticsm yang tinggi menginterpretasikan situasi biasa sebagai sebuah ancaman. Permasalahan dalam regulasi emosi ini dapat mempengaruhi kemampuan berpikir jernih, pengambilan keputusan dan mempengaruhi seseorang dalam menghadapi stress secara efektif. Hal tersebut di atas dapat menjadi alasan bagi individu dengan tipe kerpibadian neuroticsm menggunakan metode pengganti seperti penggunaan internet dalam berhadapan dengan situasi penuh stress (Sahraian, 2016).

Dimensi kepribadian yang lain, seperti conscientiousness, extraversion, openness to experience dan agreeableness merupakan dimensi kepribadian dominan dengan jumlah presentase yang berdekatan. Dimensi conscientiousness menjadi dimensi kepribadian dominan bagi 48 subjek penelitian dari total 250 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan subjek dengan dimensi kepribadian dominan conscientiousness sedikit kemungkinan mengalami kecanduan internet, yang didukung oleh fakta bahwa terdapat 31 orang subjek dengan conscientiousness dikategorikan sebagai individu dengan kecanduan internet level rendah. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, individu dengan dimensi conscientiousness memiliki kontrol terhadap impuls diri, teratur, rajin serta berusaha untuk mencapai tujuan. Di sisi lain, individu dengan unconscientiousness, cenderung berperilaku secara impulsif, tidak terorganisir dan cenderung menunda tugas. Dengan kata lain, individu dengan kecenderungan conscientiousness menunjukkan perilaku berupa dapat mengontrol penggunaan internet (Buckner and et al, 2012 dalam Samarein, 2013).

Dimensi openness to experience merupakan dimensi kepribadian dominan bagi 47 orang responden dari total 250 responden. Dimensi openness to experience merupakan dimensi satu-satunya dalam kepribadian big five yang secara konsisten berhubungan dengan kreatifitas, meramalkan pencapaian yang kreatif dan berpikir secara divergen, dan juga individu dengan openness to experience memiliki hobi kreatif, tujuan pribadi serta gaya berpikir yang kreatif (Kaufman, et al, 2014). Pada individu dengan dimensi kepribadian openness to experience, peneliti menemukan terdapat pengalaman positif dan secara signifikan berhubungan dengan fungsi hiburan yang disediakan oleh internet, menyatakan bahwa dewasa muda yang menggunakan media sosial memiliki skor openness to experience yang tinggi dikarenakan oleh anggapan mengenai media sosial merupakan sebuah inovasi yang baru (Wilson, et al, 2010).

Dimensi extraversion merupakan dimensi kepribadian dominan bagi 43 orang dari total 250 responden penelitian memilih extraversion sebagai dimensi kepribadian. Pada dimensi kepribadian ini, individu mendapatkan rasa yang lebih nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain dan nyaman berpartisipasi dalam interaksi sosial (Srivastava, 2008). Penelitian menemukan bahwa extraversion memiliki hubungan yang negatif dengan kecanduan internet yang mana individu dengan tipe kepribadian extraversion menggunakan internet untuk tujuan instrumental seperti penelitian dan mereka menolak menggunakan internet untuk tujuan sosial, sebagaimana mereka lebih memilih melakukan hubungan sosial dengan cara tradisional (Wilson, et al, 2010).

Dimensi agreeableness menjadi dimensi kepribadian dominan bagi 41 orang dari total 250 responden. Penelitian terhadap 278 mahasiswa kedokteran Ilmu Kedokteran di Universitas Shiraz, Iran menunjukkan bahwa dimensi kepribadian agreeableness merupakan prediktor negatif dalam kecenderungan mengalami kecanduan internet. Orang-orang dengan agreeableness rendah memiliki masalah dalam membangun hubungan interpersonal yang nyata, atau berbagi pengalaman kerja tim, sehingga mereka lebih memilih menghabiskan waktu menggunakan internet dan ini bertujuan untuk memuaskan kebutuhan personal mereka (Sahraian, 2016).

Terdapat tiga kategori kecanduan internet yang dibagi oleh Young, yaitu kategori rendah, sedang dan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa 153 responden dari total keseluruhan responden sebanyak 250 orang, berada pada level kecanduan internet kategori rendah, yang mana responden menunjukkan perilaku berupa penggunaan internet yang sedikit lebih lama namun dapat dikontrol. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi. Colin Drummond, professor psikiatri bidang kecanduan Universitas Kings London menerangkan bahwa individu yang memiliki masalah emosional akan mengarahkan mereka menggunakan internet secara berlebihan dan mereka memerlukan bantuan untuk menghadapi masalah tersebut. Namun, ketika individu memperoleh bantuan, kecenderungan individu menggunakan internet secara berlebihan akan berangsur menurun (Curtis, 2012).

Jumlah pengguna media sosial yang paling banyak dipilih dibandingkan dengan pemain game online mempengaruhi banyaknya subjek yang dikategorikan

Universitas Imperial London menyatakan bahwa mayoritas orang yang mengalami kecanduan internet serius adalah gamers – orang yang menghabiskan waktu berjam jam dalam memainkan peran dalam berbagai macam game yang menyebabkan mereka mengabaikan kewajiban mereka. Terdapat kasus yang mana seseorang berhenti menghadiri perkuliahan, gagal dalam menyelesaikan kuliah atau bercerai dikarenakan mereka tidak dapat berhubungan secara emosional dengan apapun kecuali game (Curtis, 2012).

Bila dilihat tipe kepribadian dengan jenis kelamin responden, tidak ditemukan perbedaan, yaitu dimensi kepribadian neuroticsm dipilih paling banyak oleh responden pria maupun wanita. Neuroticsm juga menjadi pilihan terbanyak bagi individu yang berada pada level tinggi kecanduan internet. Penelitian yang dilakukan terhadap 400 responden, yang dipilih melalui random cluster sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa neuroticsm merupakan dimensi kepribadian yang memperediksi seseorang mengalami kecanduan internet dan hal ini berlaku baik pada pria maupun wanita (Tamaneifar, 2014).

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, terdapat beberapa aspek yang dapat dievaluasi, baik secara praktis maupun secara teoritis.

1. Saran Teoritis

1. Saran Teoritis

Dokumen terkait