3 METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Metode Analisis Data
3.4.1 Analisis karakteristik perairan Provinsi Jawa Barat bagian selatan
Karakteristik perairan Provinsi Jawa Barat bagian selatan dianalisis dengan statistik deskriptif baik secara induktif maupun deduktif berbasis literatur (Subiyanto, 1995).
3.4.2 Standardisasi upaya tangkap
Fungsi standarisasi adalah untuk menyeragamkan satuan upaya tangkap terhadap upaya alat tangkap tertentu (standar). Berdasarkan rumus Gulland (1983), proses standarisasi adalah sebagai berikut :
HTSUi = HTi/FEi
FPIi = HTSUi/HTSUs
Upaya penangkapan standar (f) = FPIi x jumlah upaya Keterangan :
HTSUs = hasil tangkap alat tangkap baku per satuan upayanya HTSUi = hasil tangkap alat tangkap i per satuan upayanya HTs = hasil tangkap alat tangkap baku
HTi = hasil tangkap alat tangkap i FEs = jumlah upaya alat tangkap baku
FEi = jumlah upaya alat tangkap i
FPIs = faktor daya tangkap jenis alat tangkap baku FPIi = faktor daya tangkap jenis alat tangkap i
3.4.3 Analisis sumber daya ikan
Analisis tingkat pemanfaatan sumber daya ikan dilakukan dengan menduga terlebih dahulu nilai produksi maksimal lestari atau Maximum Sustainable Yield (MSY) dengan menggunakan model Schaefer (Pauly, 1983), yaitu dengan memplotkan hasil tangkapan persatuan upaya yang telah distandarisasi (c/f) dalam satuan kg/trip dan upaya penangkapan yang telah distandarisasi (f) dalam satuan trip kemudian dihitung dengan model regresi linier, sehingga diperoleh nilai konstanta regresi (b) dan intersep (a).
Nilai intersep (a) dan konstanta regresi (b) kemudian digunakan untuk menentukan beberapa persamaan yang diperlukan, yaitu:
(1) Hubungan antara HTSU dan upaya penangkapan standar (f): HTSU = a – bf atau HTSU = c/f
(2) Hubungan antara hasil tangkapan (c) dan upaya penangkapan: c = af – bf2
(3) Upaya penangkapan optimum (fopt) diperoleh dengan cara menyatakan turunan
pertama hasil tangkapan upaya penangkapan sama denga nol: c = af – bf2, c’ = a – 2bf = 0
(4) Produksi maksimum lestari (MSY) diperoleh dengan mensubstitusi nilai upaya penangkapan optimum ke dalam persamaan (2) di atas:
cmax = a(a/2b) – b(a2/4b2) MSY = a2/ 4b
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat pemanfaatan sumber daya ikan diperoleh dengan mempersenkan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai produksi maksimum lestari (MSY):
Tingkat pemanfaatan = x100%
MSY Ci
Keterangan : Ci = jumlah hasil tangkapan ikan pada tahun ke-1
MSY = maximum sustainable yield
Dalam penggunaan metode ini, sebagaimana metode- metode yang lain memiliki kelemahan, karena sangat dipengaruhi keberadaan dan keakuratan data dan informasi stok biomasa. Oleh karena itu data yang dikumpulkan berorientasi pada data dependen yang meliputi total tangkapan, jumlah upaya tangkapan dan kombinasi keduanya berupa CPUE. Selanjutnya spesies yang dideteksi adalah spesies unggulan yang secara tepat dapat dikenali.
Oleh karena itu didalam penggunaan metode ini, beberapa asumsi dasar yang harus diperhatikan adalah :
(1) Stok ikan dianggap sebagai unit tunggal dan sama sekali tidak berpedoman pada struktur populasinya.
(2) Stok ikan selalu dalam keadaan yang cenderung menuju situasi steady state sesuai model pertumbuhan biomas seperti kurva logistik.
(3) Hasil tangkapan dan upaya penangkapan merupakan data yang bersifat random.
(4) Hasil tangkapan yang di daratkan berasal dari perairan di kawasan pantai selatan Provinsi Jawa Barat dan tidak ada hasil tangkapan yang di daratkan di luar kawasan.
3.4.4 Analisis komoditi dan unit penangkapan ikan unggulan dengan metode skoring
Untuk menentukan jenis teknologi penangkapan ikan yang unggul dilakukan dengan metode skoring. Disamping itu dilakukan standarisasi nilai dengan menggunakan fungsi nilai (Kuntoro dan Listiarini, 1983; Haluan dan Nurani, 1998). Fungsi nilai dilakukan dengan rumus:
V(x) = X – Xo Xi – Xo V(A) = S Vi (Xi) Untuk i = 1,2,3, …, n
V(x) = Fungsi nilai dari variabel x;
X = Variabel x;
Xo = Nilai terburuk kriteria x;
V(A) = Fungsi nilai dari alternatif A;
Vi(Xi) = Fungsi nilai dari alternatif pada kriteria ke- i
Xi = Kriteria ke- i
3.4.5 Model linear programming
Teknik ini digunakan untuk menganalisis kebutuhan optimum dari suatu kegiatan dengan tujuan tunggal. Model linear programming pada penelitian ini digunakan untuk mengestimasi nilai optimum dari komponen sarana penunjang produksi. Bentuk umum dari persamaan matematis model linear programming adalah sebagai berikut (Haluan et al., 2004) :
(1) Fungsi tujuan, Minimumkan/Maksimumkan Z = Σ ci Xi (2) Fungsi kendala, Σaij Xi = / = / = bj (i=1,2,3,...,n) (j=1,2,3,...,m) Xi, bj = 0 dimana,
Z = Nilai fungsi tujuan
ci = Nilai manfaat atau resiko dari setiap variabel keputusan
aij = Nilai koefisien dari setiap variabel keputusan untuk setiap jenis
sumber daya atau batasan
bj = Nilai sumber daya atau batasan
3.4.6 Model linear goal programming
Teknik ini digunakan untuk menganalisis kebutuhan optimum dari suatu kegiatan dengan tujuan ganda. Model linear goal programming merupakan perluasan dari model linear programing yang ditambah dengan sepasang variabel deviasional yang akan muncul difungsi tujuan dan difungsi kendala tujuan (goal constraint). Variabel deviasional berfungsi untuk menampung penyimpangan atau deviasi yang akan terjadi pada nilai ruas kiri suatu persamaan kendala terhadap nilai ruas kanannya. Dalam penelitian ini, model linear goal programming digunakan untuk menentukan alokasi unit penangkapan untuk jenis-jenis ikan unggulan yang merupakan salah satu komponen dari perikanan tangkap, yaitu komponen kapal dan alat penangkap ikan.
Bentuk umum persamaan matematis dari model ini adalah sebagai berikut (Lee et al., 1985; Muslich, 1993): (1) Fungsi tujuan, Minimumkan Z= Σ Wik Pk (d-i – d+i) (2) Fungsi kendala, Σaij Xj + d -i – d+i = bi (i=1,2,3,...,m) Xj, d-i , d+i = 0 Dimana, Pk = urutan prioritas (Pk >>> Pk + 1)
Wik- dan Wik+ = bobot untuk variabel simpangan 1 di dalam suatu tingkat prioritas k
d-i dan d+i = deviasi negatif dan positif
aij = koefisien teknologi
Setiap model goal programming paling sedikit terdiri atas tiga bagian, yaitu sebuah fungsi tujuan, kendala-kendala tujuan dan kendala non negatif. Selanjutnya, dalam model ini dikenal 3 macam fungsi tujuan, yaitu:
(1) Minimumkan Z= Σ d-i – d+i
Fungsi tujuan ini digunakan jika variabel simpangan dalam suatu masalah tidak dibedakan menurut prioritas bobot.
(2) Minimumkan Z= ΣPk (d-i – d+i) (k= 1,2,..., k)
Fungsi tujuan ini digunakan dalam suatu masalah di mana urutan tujuan
diperlukan tetapi variabel simpangan didalam setiap prioritas memiliki
kepentingan yang sama.
(3) Minimumkan Z= ΣWik Pk (d-i – d+i) (k= 1,2,..., k)
Dalam fungsi ini, tujuan-tujuan diurutkan dan variabel simpangan pada setiap tingkat prioritas dibedakan dengan menggunakan bobot yang berlainan Wik.
3.4.7 Analisis finansial
Suatu usaha atau kegiatan ekonomi dianggap dapat dilaksanakan, bila dapat diharapkan: (1) memberikan keuntungan untuk memenuhi setiap kewajiban jangka pendek (2) likuiditasnya terpelihara meskipun pada saat-saat tertentu perusahaan dalam kesulitan (3) berkembang kemampuannya membiayai operasinya terutama dari modal sendiri dan bukan kredit pada suatu saat dan (4) dapat membayar semua beban pembiayaan. Dengan demikian, kelayakan finansial harus mengungkapkan secara terperinci apakah usaha atau kegiatan akan menguntungkan dalam suasana persaingan, resiko bisnis, kondisi perekonomian tidak stabil dan lain- lain. Menurut Kadariah (1986), untuk mengevaluasi kelayakan finansial dapat digunakan 3 (tiga) kriteria investasi yang penting, yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit - Cost Ratio dan Internal Rate of Return (IRR).
Kriteria investasi yang digunakan untuk pengujian/evaluasi kelayakan usaha secara finansial didasarkan pada discounted criterion. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat (benefit) serta biaya-biaya (cost) selama umur ekonomis usaha (in the future) nilai- nilai saat ini (at present =
to) diukur dengan nilai uang sekarang (present value), yaitu dengan menggunakan discounting factor. Kriteria tersebut adalah:
(1) Perhitungan Net Present Value (NPV) n Bt - Ct
NPV = ∑ ---, t=1 (1 + i)t
dimana : Bt = Benefit pada tahun ke- t
Ct = Biaya pada tahun ke-t i = tingkat bunga (%)
n = umur ekonomis
t = 1,2,3...,n
Kriteria : NPV > 0, usaha layak / menguntungkan
NPV = 0, usaha mengembalikan sebesar biaya yang dikeluarkan NPV < 0, usaha tidak layak / rugi
(2) Perhitungan Internal Rate of Return (IRR) NPV 1
IRR = i1 + --- (i2 - i1)
NPV1 - NPV2
dimana : i1 = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif
i2 = Tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif
NPV1 = NPV pada tingkat bunga i1 NPV2 = NPV pada tingkat bunga i2
Kriteria : Apabila IRR lebih besar dari tingkat diskontoyang berlaku, maka usaha layak untuk dilaksanakan.
(3) Perhitungan Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) n Bt - Ct ∑ ---, (untuk Bt- Ct > 0) t=1 (1 + i)t Net B/C = --- n Ct - Bt ∑ ---, (untuk Bt – Ct < 0) t=1 ( 1 + i)t
Kriteria : B/C > 1 = usaha layak untuk dilaksanakan (feasible)
B/C = 1 = usaha layak dalam kondisi break event point
3.4.8 Analisis sosial ekonomi perikanan
Analisis sosial ekonomi yang akan dilakukan mencakup analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif akan dilakukan untuk beberapa parameter penting pengelolaan ekonomi perikanan seperti alokasi optimal sumber daya perikanan (discrete maximum principle), analisis pasar (permintaan dan penawaran), analisis pendapatan nelayan (profit function approach), dan analisis kesejahteraan rumah tangga nelayan (household production model). Sementara itu analisis kua litatif akan dilaksanakan untuk beberapa parameter kunci komunitas perikanan seperti tingkat pendidikan, kepastian usaha, dan penge lolaan perikanan tradisional apabila ada.
3.4.9 Analisis teknologi berwawasan lingkungan
Analisis Teknologi Berwawasan lingkungan dalam pengembangan armada ini dilakukan secara deskritif. Pengembangan perikanaan tangkap yang baik adalah perikanan tangkap yang menggunakan aturan atau kaidah-kaidah yang telah ditetapkan melalui suatu ketentuan tingkat internasional yang dapat diaplikasikan pada setiap Negara dan diteruskan ke setiap daerah yang memiliki industri perikanan tangkap.
Operasi penangkapan ikan dapat berjalan dengan baik apabila suatu usaha perikanan mamilki beberapa kriteria teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Menurut Monintja (2001), kriteria teknologi penangkapan ikan memiliki sembilan (9) poin, yakni :
(1) Selektivitas tinggi.
(2) Tidak destruktif terhadap habitat. (3) Tidak membahayakan nelayan. (4) Produksinya berkualitas.
(5) Produknya tidak membahayakan konsumen. (6) By-catch dan discard minimum.
(7) Tidak menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah. (8) Dampak minimum terhadap keanekaragaman ha yati.
Kriteria kegiatan penangkapan ikan yang berkelanjutan terdiri dari : (1) Menerapkan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan.
(2) Jumlah hasil tangkapan tidak melebihi jumlah hasil tangkapan yang diperbolehkan (TAC).
(3) Menguntungkan. (4) Investasi rendah.
(5) Penggunaan bahan bakar minyak rendah.
(6) Memenuhi ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
3.4.10 Metode indeksasi
Metode indeksasi adalah metode estimasi untuk menghitung kebutuhan optimum di waktu yang akan datang dengan pendekatan terhadap indeks ratio yang ideal (Handoko, 2001). Indeks ratio yang ideal dapat ditentukan berdasarkan pedoman peraturan, referensi maupun asumsi berdasarkan scientific/expert judgement. Contoh metode indeksasi adalah ratio ideal antara tenaga kerja dengan jumlah produksi pengolahan ikan, seperti: untuk setiap satu orang tenaga kerja idealnya per hari dapat memproses lima puluh kilogram ikan.
Pada penelitian ini, metode indeksasi digunakan untuk mengestimasi nilai optimum dari beberapa komponen utama perikanan tangkap, yaitu komponen sumber daya ikan, prasarana pelabuhan, masyarakat (nelayan), unit pemasaran dan unit pengolahan hasil tangkapan.