• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE DAN KERANGKA PENELITIAN

3.4. Metode Analisis

Dalam penelitan tentang Analisis Sektor Unggulan dan Ketimpangan Ekonomi yang akan dilakukan, akan menggunakan beberapa metode analisis yang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian, diantaranya adalah:

3.2.1 Analisis Location Quotient.

Metode ini digunakan untuk menentukan sektor basis dan nonbasis, modelnya adalah sebagai berikut:

LQ = // 36

Di mana :

LQir = Rasio dari proporsi kesempatan kerja sektor i di daerah regional r,

yang dibandingkan dengan proporsi kesempatan kerja sektor i di daerah nasional n.

Eir = Output sektor i di suatu daerah regional r.

Er = Output total daerah regional r.

Ein = Output sektor i nasional n.

En = Output total nasional n. Kriterianya adalah :

1. Bila LQ>1 menunjukkan sektor tersebut tergolong sektor basis di suatu daerah.

2. Bila LQ<1 menunjukkan sektor tersebut tergolong sektor nonbasis di suatu daerah.

3. Bila LQ = 1 menunjukkan keswasembadaan (self-sufficiency) sektor tersebut di suatu daerah.

3.4.2 Analisis Shift Share

Dari kerangka teori diketahui bahwa peningkatan ekspor tersebut terjadi karena daerah yang bersangkutan mempunyai keuntungan komparatif yang cukup besar untuk beberapa sektor tertentu. Pengukuran besarnya keuntungan komparatif daerah ini tidak dapat diukur dengan persamaan regresi. Karena itu, menurut Blair (1991) dalam Sjafrizal (2008), menjelaskan bahwa metode analisa untuk model basis ekspor perlu dilengkapi dengan metode lain yang lain yang disebut dengan Shift-Share

Analysis. Adapun rumus dari Shift-Share Analysis tersebut seperti yang

ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini.

Shift Share = (Ra) Yij + (Ri-Ra) Yij + (ri-Ri) Yij37

Sumber: Priyarsono dkk (2007), Modul Ekonomi Regional Di mana:

(Ra) Yij = Komponen Pertumbuhan Nasional (PN). (Ri-Ra) Yij = Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP). (ri-Ri) Yij = Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW).

36

McCann, Loc.Cit, hal.144

37

Priyarsono dan kawan-kawan, 2007, Modul Ekonomi Regional, Universitas Terbuka, Jakarta, hal. 7.3

Dari rumus Shift Share di atas, diurai lagi rumus dari indikator pertumbuhan ekonomi wilayah Ra, Ri, dan ri sebagai berikut:

ri = ΄

Di mana:

ri = Rasio produksi/ kesempatan kerja sektor i pada wilayah j.

Yij = produksi/ kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis.

Y΄ij = produksi/ kesempatan kerja dari sektor i pada wilayah j pada tahun akhir analisis.

Ri = ΄ Di mana:

Ri = rasio produksi/ kesempatan kerja (nasional) dari sektor i.

Yi = produksi/ kesempatan kerja (nasional) dari sektor i pada tahun dasar analisis.

Y΄i = produksi/ kesempatan kerja (nasional) dari sektor i ada tahun akhir analisis.

Ra = ΄ Di mana:

Ra = rasio produksi/ kesempatan kerja nasional.

Y = produksi/ kesempatan kerja nasional pada tahun dasar analisis. Y΄ = produksi/ kesempatan kerja nasional pada tahun akhir analisis.

Persamaan tersebut di atas menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah suatu sektor di tingkat daerah dapat diuraikan (decompose) atas 3 bagian.

Bagian pertama pada sisi kanan persamaan adalah :

a. Komponen Pertumbuhan Nasional (PN) dengan rumus (Ra) Yij adalah merupakan komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh faktor luar yaitu peningkatan kegiatan ekonomi daerah akibat kebijaksanaan nasional yang berlaku pada seluruh daerah.

b. Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP) dengan rumus (Ri-Ra) Yij adalah komponen pertumbuhan ekonomi daerah yang disebabkan oleh struktur ekonomi daerah yang baik, yaitu berspesialisasi pada sektor yang pertumbuhannya cepat seperti sektor industri.

c. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) dengan rumus (ri-Ri) Yij adalah komponen pertumbuhan ekonomi daerah karena kondisi spesifik daerah yang bersifat kompetitif. Unsur pertumbuhan inilah yang merupakan keuntungan kompetitif daerah yang dapat mendorong pertumbuhan ekspor daerah.

Kegunaan analisis Shift Share:

1. Dapat mengetahui perkembangan sektor perekonomian di suatu wilayah terhadap perkembangan ekonomi wilayah yang lebih luas.

2. Dapat mengetahui perkembangan sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya.

3. Dapat mengetahui perkembangan suatu wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya sehingga dapat membandingkan besarnya aktifitas suatu sektor pada wilayah tertentu dan pertumbuhan antarwilayah.

4. Dapat mengetahui perbandingan laju sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah dengan laju pertumbuhan perekonomian nasional serta sektor- sektornya.

Dari hasil analisis Shift Share tersebut, akan dihasilkan beberapa indikator pertumbuhan. Berikut ini adalah kondisi dari indikator pertumbuhan yang terjadi.

Jika PP + PPW ≥ 0, maka dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sektor ke-i di wilayah ke-j termasuk ke dalam kelompok progresif (maju).

Jika PP + PPW < 0, menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ke-i pada wilayah ke-j tergolong pertumbuhannnya lambat.

3.4.3 Analisis Tipologi Klassen.

Analisis Tipologi Klassen dapat digunakan untuk tujuan sebagai berikut: 1. Mengidentidikasi posisi perekonomian suatu daerah dengan

memperhatikan perekonomian daerah yang diacunya.

2. Mengidentifikasi sektor, subsektor, usaha, atau komoditi unggulan suatu daerah.

Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut, pengguna analisis Tipologi Klassen akan mendapatkan manfaat sebagai berikut:

1. Dapat membuat prioritas kebijakan daerah berdasarkan sektor, subsektor, usaha, atau komoditi daerah yang merupakan hasil analisis Tipologi Klassen.

2. Dapat menentukan prioritas kebijakan suatu daerah berdasarkan posisi perekonomian yang dimiliki terhadap perekonomian nasional maupun daerah yang diacunya.

Alat analisis Tipologi Klassen merupakan gabungan atau perpaduan antara alat analisis Location Quotient (LQ) dengan Model Rasio Pertumbuhan (MRP). Berikut ini bentuk tabel dari analisis Tipologi Klassen untuk pendekatan regional.

Kuadran I

Daerah maju, dan tumbuh dengan pesat gi > g , gki > gk

Kuadran II

Daerah maju tapi tertekan gi < g , gki > gk

Kuadran III

Daerah yang masih dapat berkembang dengan pesat

gi > g , gki < gk

Kuadran IV

Daerah relatif tertinggal gi < g , gki < gk

Gambar 3.1 Klasifikasi Tipologi Klassen Pendekatan Regional (Daerah)38 Di mana:

gi = nilai pertumbuhan PDRB daerah bawah.

g = nilai pertumbuhan PDRB daerah atas.

gki = pertumbuhan PDRB per kapita daerah bawah.

gk = pertumbuhan PDRB per kapita daerah atas.

Selain pendekatan regional, analisis Tipologi Klassen juga dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sektoral ekonomi.

Kuadran I

Sektor maju, dan tumbuh dengan pesat gi > g , si > s

Kuadran II

Sektor maju tapi tertekan gi < g , si > s

Kuadran III

Sektor potensial atau masih dapat berkembang dengan pesat

gi > g , si < s

Kuadran IV

Sektor relatif tertinggal gi < g , si < s

Gambar 3.2 Klasifikasi Tipologi Klassen Pendekatan Sektoral Ekonomi39

Di mana:

gi = pertumbuhan PDRB sektor i daerah bawah.

g = pertumbuhan PDRB sektor i daerah atas.

si = kontribusi PDRB sektor i terhadap PDRB daerah bawah.

38

http://www.scrib.com/doc/2908449/Modul-4-Tipologi Klassen

39

s = kontribusi PDRB sektor i terhadap PDRB daerah atas.

3.4.4 Indeks Ketimpangan Williamson

Model dari indeks Williamson dalam Sjafrizal (2008) adalah:

Vw =

√ ∑ ( ) ( )

,

0 < Vw < 140

Sumber: Sjafrizal (2008), Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi Di mana :

yi = PDRB perkapita daerah i.

y = PDRB perkapita rata-rata seluruh daerah. fi = jumlah penduduk daerah i.

n = jumlah penduduk seluruh daerah.

Subskrip w digunakan karena formulasi yang digunakan adalah secara tertimbang, sehingga indeks tersebut dapat dibandingkan dengan negara atau daerah lainnya. Sedangkan pengertian indeks ini adalah bila nilai Vw kurang dari 0,3 maka berarti ketimpang adalah rendah, bila nilai Vw antara 0,3 sampai dengan 0,4 maka berarti ketimpangan adalah sedang, dan bila nilai Vw adalah lebih dari 0,4 maka ketimpangan adalah tinggi.

Dokumen terkait