• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.6. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Dikatakan demikian karena penelitian ini menggambarkan menjelaskan variabel-variabel yang ada. Hal ini untuk mengetahui kinerja keuangan daerah pada masa otonomi daerah.

Menurut Widodo dalam Halim (2002 : 126) terdapat beberapa analisa rasio didalam pengukuran kinerja keuangan daerah yang dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD adalah sebagai berikut :

a. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain, misalnya bantuan pusat ataupun dari pinjaman (Widodo, 2001 : 262).

Rasio Kemandirian = x 100%

Rasio Kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah, dan demikian pulasebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat

membayar pajak dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi. Berikut tabel tingkat kemandirian daerah

Kemampuan Keuangan

Daerah Rasio Kemandirian

Pola Hubungan Rendah Sekali 0,00% - 25,00% Instruktif

Rendah 25,01% - 50,00% Konsultatif

Sedang 50,01% - 75,00% Partisipatif

Tinggi 75,01% - 100% Delegatif

Sumber: Abdul Halim (2007:169)

(5) Pola hubungan instruktif, dimana peranan pemerintah pusat lebih dominan daripada kemandirian pemerintah daeah (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi daerah)

(6) Pola hubungan konsultif, yaitu campur tangan pemerintah pusat sudah mulai berkurangkarena daerah dianggap sedikit lebih mampu melaksanakan otonomi daerah.

(7) Pola hubungan partisipatif, peranan pemerintah pusat sudah mulai berkurang, mengingat daerah yang bersangkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi daerah.

(8) Pola hubungan delegatif, yaitu campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena telah benar-benar mampu dan mandiri dalam melaksanakan urusan otonomi daerah.

b. Indeks Kemampuan Rutin (IKR)

Indeks Kemampuan Rutin (IKR) merupakan suatu ukuran yang menggambarkan sejauh mana kemampuan keuangan pada potensi suatu pemerintah daerah dalam rangka membiayai belanja rutin daerah. Formula untuk menghitung Indeks Kemampuan Rutin (IKR) seatu pemerintah daerah adalah sebagai berikut (Berti, 2006) :

IKR = Pendapatan Asli Daerah Total Belanja Rutin

Semakin tinggi rasio IKR suatu daerah, mengindikasikan bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap sumber pendapatan daerah selain PAD semakin rendah dan semakin tingginya tingkat pertisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan demikian pula sebaliknya. Tingginya tingkat pertisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah, menggambarkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat semakin tinggi. Berikut tabel tingkat kemampuan rutin suatu daerah :

% IKR Kemampuan Keuangan Daerah

0 – 20 Sangat Kurang 20 – 40 Kurang 40 – 60 Cukup 60 – 80 Baik 80 – 100 Sangat Baik Sumber : Berti, 2006 c. Rasio Efektivitas

Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan beradasarkan potensi riil daerah. Semakin tinggi rasio efektifitas, menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik. Guna memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas tersebut perlu dipersandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah daerah (Halim, 2007:234)

Rasio Efektivitas = x 100%

Rasio efektivitas anggaran menggambarkan tingkat kinerja pemerintah daerah dalam rangka merealisasikan anggaran yang telah tersusun dalam rancangan APBD agar mencapai target yang dianggarkan atau bahkan melebihi dari target

yang telah ditetapkan. Apabila kontribusi keluaran yang dihasilkan (realisasi PAD) semakin besar terhadap nilai pencapaian sasaran tersebut (target PAD), maka dapat disimpulkan bahwa pemungutan PAD semakin efektif. Sedangkan apabila kontribusi keluaran yang dihasilakn (realisasi PAD) semakin kecil terhadap nilai pencapaian sasaran tersebut (Target PAD), maka dapat disimpulkan bahwa pemungutan PAD kurang efektif. Menurut Halim (2002, dalam Suprapto, 2006), apabila rasio efektivitas mencapai 1 (100%), berarti daerah tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan efektif.

Tabel 3.2 Skala Interval Efektivitas Kinerja Keuangan

Kriteria Presentase Kinerja Keuangan (%)

Tidak Efektif x < 100%

Efektivitas Berimbang x = 100%

Efektif x > 100%

Sumber: Mahsun (2009) d. Rasio Aktivitas

Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal. Semakin tinggi presentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk menyediakan sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil. Secara sederhana rasio keserasian itu dapat di formulasikan sebagai berikut (Widodo, 2001:262):

Rasio Belanja Rutin terhadap APBD = x 100%

Rasio Belanja Pembangunan terhadap APBD = x 100%

Belum ada patokan yang pasti berapa besarnya rasio belanja rutin maupun pembangunan terhadap APBD yang ideal, karena sangat dipengaruhi oleh

dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Namun demikian, sebagai daerah di Negara berkembang peranan pemerintah daerah untuk memacu pelaksanaan pembangunan masih relatif kecil. Oleh karena itu, rasio belanja pembangunan yang relatif masih kecil perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di daerah.

e. Rasio Pertumbuhan

Rasio pertumbuhan (Growth Ratio) mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu mendapat perhatian (Widodo,2001:270).

Pertumbuhan PAD t = PAD t – PAD t-1

X 100% PAD t-1

Apabila semakin tinggi nilai PAD, TPD dan Belanja Pembangunan yang diikuti oleh semakin rendahnya Belanja Rutin, maka pertumbuhannya adalah positif. Artinya bahwa daerah yang bersangkutan telah mampu mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhannya dari periode satu ke periode yang berikutnya. Selanjutnya jika semakin tinggi nilai PAD, TPD, dan Belanja Rutin yang diikuti oleh semakin rendahnya Belanja Pembangunan, maka pertumbuhannya adalah negatif. Artinya bahwa daerah yang bersangkutan belum mampu mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhannya dari periode yang satu ke periode yang berikutnya.

f. Analisis Trend

Analisis trend dilakukan untuk mengetahui perkiraan kemungkinan tingkat kemandirian pada tahun-tahun anggaran yang akan datang. Dalam analisis trend, digunakan analisis time series dengan persamaan

trend sebagai berikut (Suprapto, 2006) : Y’ = a + bX

Besarnya a dan b dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut : a = ∑Y b = ∑XY N ∑X2 Keterangan :

Y’ = Perkembangan Kemandirian Y = Tingkat kemandirian

c = Besar Y saat X=0

d = Besar Y jika X mengalami perubahan 1 satuan X = Waktu

Dengan mengadakan peramalan, suatu entitas lebih memiliki pandangan dalam merencanakan kegiatan-kegiatan maupun untuk menetapkan anggaran keuangan di tahun berikutnya. Trend jangka panjang (trend sekuler) merupakan suatu trend yang menunjukkan arah perkembangan secara umum. Trend ini dapat berbentuk garis lurus atau garis lengkung yang memiliki kecenderungan naik atau justru menurun. Akan tetapi, kelemahan dari perhitungan ini adalah hasilnya cenderung selalu naik dari tahun ke tahun, sedangkan perkembangan penerimaan yang diperoleh belum tentu selalu meningkat setiap tahunnya, sehingga terkadang perhitungan untuk perkiraan target penerimaan pada tahun-tahun berikutnya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

3.7 Definisi Operasional Variabel

Dokumen terkait