• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Metode Analisis Data

Untuk menyelesaikan masalah 1, 2 dan 3 yaitu dengan menggunakan Analisis Trend yaitu dengan menggunakan angka indeks akan dapat diketahui perkembangan produksi, luas areal, produktivitas dan harga jual kopi Arabika apakah meningkat, menurun, atau tetap. Hasil analisis trend dihitung dalam presentase.

Angka indeks adalah angka yang diharapkan dapat memberitahukan perubahan-perubahan variabel pada waktu dan tempat yang sama atau berlainan.

Rumus angka indeks: I = ((Xn-X0)/X0) x 100% Keterangan :

Xn : Pos pada tahun yang akan dianalisis Xo : Pos pada tahun dasar

Dan untuk menganalisis masalah 4 dan 5 yaitu dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) yang dilakukan secara menyeluruh dan sistematis, dimana output yang keluar merupakan keuntungan privat dan sosial, efisiensi serta besarnya insentif intervensi pemerintah pada produsen.

Analisis daya saing kopi Arabika ini dilakukan berdasarkan beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

- Tahap pertama adalah penentuan input usahatani kopi Arabika. Yang termasuk dalam kategori input adalah bahan, peralatan dan tenaga kerja yang dalam penggunaannya memerlukan biaya.

- Tahap kedua adalah pengelompokkan input ke dalam komponen tradabale dan non tradable. Tradable input (input yang diperdagangkan di pasar internasional) dalam usahatani Kopi Arabika menggunakan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCL) dan pestisida. Non tradable input (input yang diproduksi dalam negeri dan tidak diperdagangkan di pasar internasional) menggunakan bibit kopi Arabika, pupuk kandang, tenaga kerja, peralatan dan pompa air. Selanjutnya ditentukan harga sosial input dan output.

Dalam penelitian ini yang merupakan komponen output adalah biji kopi, sedangkan yang merupakan komponen input adalah sebagai berikut.

Tabel 9. Komponen Input tetap dan input antara

Input Tetap Input Antara

1. Lahan 1. Bibit

2. Gudang 2. Pupuk

3. Alat Pertanian 3. Pestisida

4. Alat Pemanenan 4. Alat Penggiling Kopi Sumber : Monke dan Pearson, 1989

Data disajikan dalam bentuk tabulasi deskriptif kemudian dimasukkan dalam perhitungan PAM pada Tabel 10 yang diolah dengan program komputer Microsoft Excel.

Tabel 10. Policy Anaysis Matrix (PAM)

Sumber : Monke and Pearson, 1989 Keterangan :

A : Penerimaan Privat G : Biaya Non Tradable Input Sosial B : Biaya Tradable Input Privat H : Keuntungan Sosial

C : Biaya Non tradable Input Privat I : Transfer Output

D : Keuntungan Privat J : Transfer Tradable Input E : Penerimaan Sosial K : Transfer Non tradable Input F : Biaya Tradable Input Sosial L : Transfer Bersih

Uraian Penerimaan (Output) Biaya Input Keuntungan Tradable Non Tradable Harga Privat A B C D Harga Sosial E F G H Dampak I J K L

Berdasarkan pada Tabel 10 dapat di peroeh sebagai berikut.

Analisis Keuntungan

a. Private Provitability yaitu D = A - (B+C)

Private Provitability (D) atau keuntungan privat diperoleh dari hasil pengurangan nilai penerimaan (A) dengan harga privat input tradable (B) dan non tradable (C). Dengan kriteria, jika keuntungan Privat , PP > 0 Maka sistem produksi kopi Arabika memperoleh profit diatas normal yang artinya usahatani tersebut layak untuk diteruskan. Sebaliknya jika PP < 0 berarti usahatani tersebut mengalami kerugian dan jika PP= 0 berarti jangka pendek usahatani dapat diteruskan namun tidak dapat dilakukan ekspansi untuk jangka panjang.

b. Social Profitability yaitu H = E – (F+G)

Social Profitability (H) atau keuntungan sosial diperoleh dari hasil pengurangan nilai penerimaan (E) dengan harga sosial input tradable (F) dan non tradable (G). Dengan kriteria, jika SP > 0 maka sistem produksi kopi Arabika telah berjalan secara efisien dan memiliki keunggulan komparatif, sehingga layak untuk dikembangkan. Semakin tinggi nilai SP semakin tinggi pula nilai komparatif dari sistem produksi kopi tersebut. Sebaliknya jika SP < 0 maka sistem produksi kopi tidak mampu hidup tanpa bantuan.

Efisiensi Finansial dan Efisiensi Ekonomi a. Private Cost Ratio yaitu PCR = C/(A-B)

(ratio) nilai biaya privat input non tradable (C) dengan selisih penerimaan (A) dengan biaya privat input tradable (B). Nilai PCR menunjukkan berapa banyak sistem produksi kopi Arabika dapat menghasilkan untuk membayar faktor domestik yang digunakan dan tetap dalam kondisi kompetitif (break event). Sehingga keuntungan maksimal akan diperoleh jika sistem produksi kopi Arabika mampu meminimumkan nilai PCR. Dengan kriteria, jika PCR < 1 dan makin kecil maka sistem komoditi tersebut mampu membiayai faktor domestiknya pada harga privat dan kemampuannya tersebut meningkat. Nilai PCR merupakan indikator dari keunggulan kompetitif suatu komoditi.

b. Domestic Resource Cost Ratio yaitu DRC = G/(E-F)

Domestic Resource Cost Ratio (DRC) atau keuntungan sosial diperoleh dari hasil pembagian (ratio) nilai biaya sosial input non tradable (G) dengan selisih penerimaan (E) dengan biaya sosial input tradable (F). Dengan kriteria, jika DRC < 1 maka sistem komoditi dinilai tidak mampu bertahan tanpa bantuan pemerintah. Sehingga lebih baik melakukan impor kopi dibandingkan harus menanam kopi sendiri. Sebaliknya jika DRC < 1 maka sistem komoditi semakin efisien dan memiliki daya saing di pasar dunia sehingga dinilai memiliki peluang ekspor yang makin besar.

Dampak Kebijakan Pemerintah a. Kebijakan Output

- Output Transfer, I= A-E

Output Transfer atau transfer output (I) diperoleh dari hasil pengurangan antara penerimaan output pada harga privat (A) dengan penerimaan output pada harga

sosial (E). Dengan kriteria, jika nilai OT > 0, menunjukkan besarnya transfer dari konsumen kepada produsen. Artinya produsen menerima harga jual yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya. Sehingga konsumen dirugikan dan sebaliknya jika OT < 0 menunjukkan konsumen menerima insentif dari produsen, dan dalam hal ini petani dirugikan.

- Nominal Protection Coefficient on Tradable Output : NPCO = A/E

Nominal Protection Coefficient on Tradable Output atau koefisien proteksi output nominal (NPCO) diperoleh dari hasil pembagian antara penerimaan output pada harga privat (A) dengan penerimaan output pada harga sosial (E). Dengan kriteria, jika nilai NPCO > 1 maka petani kopi menerima subsidi atas output dari pemerintah dan jika NPCO < 1 maka terjadi pengurangan penerimaan petani akibat kebijakan output seperti adanya pajak.

b. Kebijakan Input

- Input Transfer, J = B-F

Input Transfer atau transfer input (J) diperoleh dari hasil pengurangan antara biaya privat input tradable (B) dengan antara biaya sosial input tradable (F). Dengan kriteria, jika IT > 0 maka harga sosial input tradable yang lebih rendah, misalnya terdapat pajak atau tarif impor atas input tersebut akibatnya petani kopi Arabika harus membayar lebih mahal sebaliknya jika IT < 0 menunjukkan adanya subsidi pemerintah terhadap input tradable tersebut sehingga petani tidak membayar secara penuh biaya sosial yang seharusnya dibayarkan.

- Nominal Protection Coefficient on Tradable Input, NPCI = B/F

nominal (NPCI) diperoleh dari hasil pembagian antara biaya privat input tradable (B) dengan antara biaya sosial input tradable (F). Dengan kriteria, jika NPCI > 1 maka pemerintah menaikkan harga input asing dipasar domestik diatas harga efisiensinya (harga dunia). Akibatnya biaya produksi menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya. Sebaliknya jika NPCI < 1 maka petani menerima subsidi atas input tradable, sehingga petani dapat membeli input tradable dengan harga yang lebih rendah.

- Factor Transfer, K = C-G

Factor Transfer atau transfer faktor (K) diperoleh dari hasil pengurangan antara Biaya privat input non tradable (C) dengan antara Biaya sosial input non tradable (G). Dengan kriteria, jika FT < 0 berarti ada kebijakan pemerintah yang melindungi produsen input domestik dengan pemberian subsidi.

c. Kebijaksanaan Input-Output

- Effective Protection Cofficient, EPC = (A-B)/(E-F)

Effective Protection Cofficient atau koefisien proteksi efektif (EPC) diperoleh dari hasil pembagian antara penerimaan pada harga privat (A) dikurangi biaya privat input tradable (B) dengan penerimaan pada harga sosial (E) dikurangi biaya sosial input tradable (F). Dengan kriteria, jika EPC > 1 berarti dampak kebijakan pemerintah memberikan dukungan terhadap aktivitas produksi dalam negeri. Sebaliknya jika EPC < 1 berarti kebijakan tersebut tidak berjalan secara efektif.

- Net Transfer, L = D-H

keuntungan pada harga private (D) dengan keuntungan pada harga sosial (H). Dengan kriteria, jika nilai NT > 0 menunjukkan terdapat tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input dan output.

- Profitability Coeffisien, PC = D/H

Profitability Coeffisiens atau koefisien keuntungan (L) diperoleh dari hasil pembagian antara keuntungan pada harga privat (D) dengan keuntungan pada harga sosial (H). Dengan kriteria, jika nilai PC > 1 maka secara keseluruhan kebijakan pemerintah memberikan insentif kepada produsen sebaliknya jika PC < 1 maka kebijakan pemerintah mengakibatkan keuntungan yang diterima produsen atau petani lebih kecil dibandingkan tanpa ada kebijakan.

- Subsidy Ratio to Producer, SRP = L/E

Subsidy Ratio to Producer atau rasio subsidi bagi produsen (SRP) diperoleh dari hasil pembagian antara keuntungan pada harga privat (D) dikurangi keuntungan pada harga sosial (H) dengan penerimaan output pada harga privat (E).Dengan kriteria, jika SRP < 1 menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan produsen atau petani kopi mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya sosialnya.

3.5 Definisi dan Batasan Operasional

Dokumen terkait