• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

H. Metode Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data statistic secara kuantitatif menggunakan metode korelasi. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan student engagement dengan social loafing adalah teknik korelasi Product Moment. Pada analisa ini, terlebih dahulu data dilakukan uji normalitas dan uji linearitas hubungan antar variabel.

31

1. Uji Normalitas

Uji normalitas untuk melihat apakah varibel penelitian sudah mengikuti distribusi kurva normal. Uji normalias bertujuan untuk mengetahui kenormalan distribusi skor variabel dengan melihat seberapa jauh terjadi penyimpangan. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan syarat jika nilai signifikansi > 0.05 maka distribusi data normal. Uji normalitas menggunakan bantuan IBM Statistic SPSS 18.0.

2. Uji Linearitas

Uji lineratitas untuk memastikan derajat hubungan linear antara variabel. Apabila hubungan antar variabel tidak linear, maka korelasi yang dihasilkan bisa sangat rendah. Jika p > 0.05 ,maka dinyatakan kedua variabel linear. Uji linearitas menggunakan bantuan IBM Statistic SPSS 18.0.

3. Uji Hipotesis

Pada uji korelasi Product Moment, kedua variabel dikorelasikan merupakan data ordinal. Data terdistribusi secara normal dan pada uji korelasinya menghasilkan nilai signifikansi 0.000 berarti menolak Ho.

Apabila r hitung lebih besar dari r tabel, hal tersebut berarti Ho ditolak dan Ha diterima.

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN

Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa S1 aktif angkatan 2014 sampai dengan 2017 yang berkuliah baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta.

1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan usia.

Tabel 5 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Usia Jumlah Persentase

18 37 10.95 %

19 65 19.23 %

20 36 10.65 %

21 99 29.29 %

22 92 27.22 %

23 9 2.66 %

Total 338 100 %

Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak berusia 21 tahun sebanyak 99 orang, selanjutnya usia 22 tahun sebanyak 92 orang, usia 19 tahun sebanyak 65 orang, usia 18 tahun masing-masing sebanyak 37 orang, usia 20 tahun sebanyak 36 orang dan

33

2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 6 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Laki-laki 83 24.56 %

Perempuan 255 75.44 %

Total 338 100 %

Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak yaitu perempuan berjumlah 255 orang dan laki-laki berjumlah 83 orang.

3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Angkatan

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan angkatan.

Tabel 7 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Angkatan Angkatan Jumlah Persentase

2014 142 42.01 %

2015 61 18.05 %

2016 42 12.43 %

2017 93 27.51 %

Total 338 100 %

Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak yakni angkatan 2014 sebanyak 142 orang, selanjutnya angkatan

2017 sebanyak 93 orang, angkatan 2015 sebanyak 61 orang, dan angkatan 2016 sebanyak 42 orang.

4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan IPK Terakhir

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan IPK terakhir.

Tabel 8 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan IPK Terakhir IPK Terakhir Jumlah Persentase

0 sampai 1 0 0 %

> 1 sampai 2 1 0.3 %

> 2 sampai 3 74 21.89 %

> 3 sampai 4 263 77.81 %

Total 338 100 %

Pada tabel 8 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak berada pada kategori IPK > 3 sampai 4 sebanyak 263 orang, selanjutnya IPK > 2 sampai 3 sebanyak 74 orang, IPK > 1 sampai 2 sebanyak 1 orang, dan tidak ada subjek dengan kategori IPK 0 sampai 1.

5. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Peran dalam Kelompok Pembelajaran

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan peran dalam kelompok pembelajaran.

35

Tabel 9 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Peran dalam Kelompok Pembelajaran

Peran dalam Kelompok Jumlah Persentase

Ketua 106 31.36 %

Sekretaris/ Notulen 54 15.98 %

Anggota 178 52.66 %

Total 338 100 %

Pada tabel 9 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak yang memiliki peran sebagai anggota sebanyak 178 orang, selanjutnya peran sebagai ketua sebanyak 106 orang, dan peran sebagai sekretaris/ notulen sebanyak 54 orang.

6. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Banyaknya Orang per Kelompok

Berikut tabel yang menunjukkan gambaran subjek penelitian berdasarkan jumlah anggota dalam kelompok.

Tabel 10 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Peran dalam Kelompok Pembelajaran

Jumlah Anggota per Kelompok Jumlah Persentase

2 sampai 5 orang 202 59.76 %

6 sampai 10 orang 122 36.09 %

11 sampai 15 orang 6 1.78 %

> 15 orang 8 2.37 %

Total 338 100 %

Pada tabel 10 dapat dilihat bahwa jumlah sampel penelitian terbanyak yang dalam kelompok beranggotakan 2 sampai 5 orang sebanyak 202 orang, selanjutnya kelompok beranggotakan 6 sampai 10 orang sebanyak 122 orang, beranggotakan >15 orang sebanyak 8 orang dan beranggotakan 11 sampai 15 orang sebanyak 6 orang.

B. HASIL PENELITIAN 1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data pada variabel penelitian telah menyebar secara normal. Uji normalitas ini menggunakan analisis statistik Kolmogorov-Smirnov dengan nilai p > 0.05 maka dianggap data menyebar secara normal.

Tabel 11 Uji Normalitas Menggunakan Kolmogorov-Smirnov Variabel Nilai Z Nilai P Keterangan Social Loafing 1.277 0.077 Sebaran Normal Student Engagement 1.246 0.90 Sebaran Normal

Berdasarkan data pada tabel 11 dapat dilihat bahwa asymp. sig. (2-tailed) variabel social loafing dan student engagement masing-masing sebesar 0.077 dan 0.90 dengan p > 0.05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa data penelitian telah terdistribusi secara normal.

37

2. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antar variabel pada penelitian ini, yakni varibel student engagement dengan social loafing. Hubungan linear diperoleh apabila memiliki nilai signifikansi deviation from linearity > 0.05.

Tabel 12 Hasil Uji Linearitas

Variabel P F Keterangan

Student Engagement dengan

Social Loafing 0.647 51.520 Hubungan Linear

Berdasarkan data pada tabel 12 terlihat bahwa nilai signifikansi deviation from linearity sebesar 0.647 dan nilai ini lebih tinggi dari 0.05, maka dapat disimpulkan variabel student engagement dengan social loafing memiliki hubungan linear.

C. HASIL UTAMA PENELITIAN

1. Hubungan Student Engagement terhadap Social Loafing Tujuan penelitian ini adalah melihat ada tidaknya hubungan antara variabel student engagement dengan social loafing, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:

Ho : Tidak ada hubungan antara student engagement dengan social loafing pada mahasiswa

Ha : Ada hubungan negatif antara student engagement dengan social loafing pada mahasiswa

Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji korelasi Product

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed)

Pada tabel 13 hasil analisis korelasi antar variabel, diperoleh nilai r sebesar -0.366 dengan signifikansi p = 0.000 yang berarti p < 0.001. Tanda negatif menunjukkan terdapat hubungan negatif antara variabel student engagement dengan social loafing. Hal ini bermakna semakin tinggi tingkat student engagement maka tingkat social loafing akan rendah, dan berlaku sebaliknya semakin rendah tingkat student engagement maka tingkat social loafing tinggi.

39

D. HASIL ANALISA TAMBAHAN

1. Gambaran Mean Pada Dimensi Student Engagement

Alat ukur variabel student engagement disusun berdasarkan 3 dimensi yang dikemukakan Fredricks dkk. (2013), yakni emotional engagement, behavioral engagement dan cognitive engagement.

Tabel 14 Gambaran Mean Dimensi Student Engagement Dimensi N Mean Std. Deviation Emotional Engagement 338 11.12 2.083 Behavioral Engagement 338 10.29 2.449 Cognitive Engagement 338 10.42 1.969

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh mean masing-masing dimensi yakni emotional engagement sebesar 11.12, behavioral engagement sebesar 10.29, dan cognitive engagement sebesar 10.42.

2. Gambaran Mean Pada Dimensi Social Loafing

Alat ukur variabel social loafing disusun berdasarkan 2 dimensi yang dikemukakan Latane (1980), yakni dilution effect dan immediacy gap.

Tabel 15 Gambaran Mean Dimensi Social Loafing

Dimensi N Mean Std. Deviation

Dillution Effect 338 7.32 2.373

Immediacy Gap 338 5.78 2.029

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh mean masing-masing dimensi yakni dilution effect sebesar 7.32, dan immediacy gap sebesar 5.78.

3. Kategorisasi Skor

Skor social loafing dapat dikategorisasikan berdasarkan mean hipotetik dengan acuan norma sebagai berikut:

Tabel 16 Norma Kategorisasi

Rentang Nilai Kategorisasi

X ≥ (µ + 1.0 SD) Tinggi

(µ - 1.0 SD) ≤ X < (µ + 1.0 SD) Sedang

X < (µ - 1.0 SD) Rendah

Berdasarkan norma kategorisasi diatas, masing-masing varibel dapat dikategorisasikan sebagai berikut.

a. Kategorisasi Skor Student Engagement

Tabel 17 Kategorisasi Subjek pada Variabel Student Engagement Variabel Rentang Nilai Kategori Jumlah Persentase

Student Engagement

X ≥ 33 Tinggi 152 44.97 %

21 ≤ X < 33 Sedang 177 52.37 %

X < 21 Rendah 9 2.66 %

Total 338 100 %

Berdasarkan kategorisasi subjek pada variabel student engagement, terdapat 152 subjek (44.97 %) memiliki tingkat student engagement yang tinggi, 177 subjek (52.37 %) memiliki tingkat student engagement yang

41

sedang, dan 9 subjek (2.66 %) memiliki tingkat student engagement yang rendah.

b. Kategorisasi Skor Social Loafing

Tabel 18 Kategorisasi Subjek pada Variabel Social Loafing

Variabel Rentang Nilai Kategori Jumlah Persentase

Social Loafing

X ≥ 25.66 Tinggi 0 0 % 16.33 ≤ X < 25.66 Sedang 63 18.64 % X < 16.33 Rendah 275 81.36 %

Total 338 100 %

Berdasarkan kategorisasi subjek pada variabel social loafing, tidak ada subjek yang memiliki tingkat social loafing yang tinggi, melainkan hanya terdapat 63 subjek (18.64 %) memiliki tingkat social loafing yang sedang, dan 275 subjek (81.36 %) memiliki tingkat social loafing yang rendah.

4. Gambaran Mean Student Engagement dan Social Loafing

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai meanstudent engagement laki-laki (LK) sebesar 33.02 dan perempuan (P) sebesar 31.45. Pada variabel social loafing diperoleh mean pada laki-laki (LK) sebesar 13.52 dan pada perempuan (P) sebesar 12.96.

5. Gambaran Mean Student Engagement dan Social Loafing

43

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai mean student engagement subjek yang berada pada kategori IPK > 1 sampai 2 sebesar 33, subjek yang berada pada kategori IPK > 2 sampai 3 sebesar 30.76 dan subjek yang berada pada kategori IPK > 3 sampai 4 sebesar 32.13. Pada variabel social loafing diperoleh mean pada subjek yang berada pada kategori IPK >1 sampai 2 sebesar 14, subjek yang berada pada kategori IPK >2 sampai 3 sebesar 14.38 dan subjek yang berada pada kategori IPK

>3 sampai 4 sebesar 12.73.

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai mean student engagement subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok 2 sampai 5 orang sebesar 31.53, subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok 6 sampai 10 orang sebesar 32.08, subjek yang memiliki jumlah orang per

kelompok 11 sampai 15 orang sebesar 34.83, dan subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok >15 orang sebesar 33.38. Pada variabel social loafing diperoleh mean pada subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok 2 sampai 5 orang sebesar 13.09, subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok 6 sampai 10 orang sebesar 13.21, subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok 11 sampai 15 orang sebesar 11.67, dan subjek yang memiliki jumlah orang per kelompok >15 orang sebesar 12.50.

7. Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Hipotetik Student Engagement

Skala penelitian untuk mengukur variabel student engagement terdiri atas 9 aitem dan memiliki rentang nilai 1 sampai 5.

Tabel 22 Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Mean Hipotetik Variabel Student Engagement

Variabel Empirik Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD Student

Engagement 13 45 31.83 5.341 9 45 27 6

Pada tabel 19 dapat dilihat bahwa mean empirik student engagement lebih besar daripada mean hipotetik (31.83 > 27). Hal ini menunjukkan bahwa student engagement yang dimiliki subjek lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperkirakan oleh alat ukur.

45

8. Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Hipotetik Social Loafing Skala penelitian untuk mengukur variabel social loafing terdiri atas 7 aitem dan memiliki rentang nilai 1 sampai 5.

Tabel 23 Perbandingan Nilai Mean Empirik dan Mean Hipotetik Variabel Social Loafing

Variabel Empirik Hipotetik

Min Max Mean SD Min Max Mean SD Social

Loafing 7 24 13.09 3.92 7 35 21 4.667

Pada tabel 20 dapat dilihat bahwa mean empirik social loafing lebih kecil daripada mean hipotetiknya (13.09 < 21). Hal ini menunjukkan bahwa social loafing yang dimiliki subjek lebih rendah dibandingkan dengan yang diperkirakan oleh alat ukur.

E. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan untuk melihat hubungan negatif antara student engagement dengan social loafing pada mahasiswa, koefisien relasi menunjukkan bahwa benar terdapat hubungan negatif antar variabel. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis pada penelitian ini “ada hubungan negatif antara student engagement dengan social loafing pada mahasiswa” diterima.

Hasil penelitian ini dilatarbelakangi konsep student engagement.

Seseorang yang memiliki student engagement akan partisipasi aktif di

dalam kelas, memberikan waktu dan usaha untuk mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai perihal pembelajaran (Kuh, 2001; Kuh, dkk.,2007; Kuh dalam Trowler, 2010). Individu yang memiliki student engagement tinggi berarti ia menikmati segala proses pembelajaran dalam perkuliahannya (Willms, 2003). Dengan kata lain, ia akan merasa termotivasi, merasa senang sebagian besar waktunya digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran.

Seseorang yang memiliki student engagement yang tinggi, akan tetap memberikan kontribusinya baik itu pembelajaran secara individu maupun secara kelompok, dikarenakan adanya tujuan pembelajaran yang hendak dicapai (Kuh dkk, 2007). Pada konteks mahasiswa, tujuan yang dimaksudkan seperti memperoleh kelulusan dan nilai yang bagus (Anas, 2014). Sekalipun adanya kehadiran orang lain dalam kegiatan pembelajaran, seseorang dengan student engagement yang tinggi akan tetap memberikan partisipasinya secara aktif. Sementara seseorang yang memiliki social loafing dengan adanya kehadiran orang lain dalam kelompok dapat membuat seseorang anonim, tidak termotivasi, dan kurang atau bahkan tidak terlibat aktif dalam pembelajaran secara kelompok tersebut (Geen dalam Hogg dan Vaughan, 2011). Perilaku social loafing mengakibatkan kontribusi individu dalam proses pembelajaran berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali, sehingga tujuan yang hendak dicapai pun terganggu.

47

Salah satu aspek yang mempengaruhi munculnya perilaku social loafing ialah aspek dilution effect, dan pada penelitian ini aspek tersebut memiliki nilai yang lebih tinggi. Geen (dalam Hogg dan Vaughan, 2011) menjelaskan aspek dilution effect dikarenakan individu dalam kelompok merasa kurang termotivasi sehingga merasa kontribusi yang diberikan dalam kelompok tidak berarti atau menyadari bahwa tidak adanya penghargaan yang diberikan kepada tiap individu dalam kelompok (Hogg dan Vaughan, 2011). Berdasarkan penjelasan tersebut, wajar saja student engagement berkorelasi negatif dengan social loafing. Hal ini bermakna semakin tinggi student engagement seseorang maka semakin rendah perilaku social loafing yang ditunjukkannya, begitu pula sebaliknya semakin rendah student engagement yang dimiliki seseorang maka ia akan cenderung social loafing.

Gender sering kali digunakan sebagai variabel kontrol pada penelitian student engagement maupun social loafing. Park (2005) dalam penelitiannya menggolongkan gender sebagai faktor demografi latar belakang individu mengenai student engagement. Berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan student engagement pada laki-laki dan perempuan. Student engagement pada laki-laki berada pada kategori tinggi sementara perempuan pada kategori sedang. Sementara itu social loafing laki-laki dan perempuan berada pada kategori rendah. Wildanto (2016) pada penelitiannya menemukan laki-laki menunjukkan social loafing seperti kurang memberikan kontribusi dan tidak menyelesaikan pekerjaan

yang diberikan padanya sementara perempuan menunjukkan social loafing seperti tidak mau melakukan tugas yang diberikan dan tidak mau melakukan tugas selain yang ia lakukan.

Terdapat hubungan positif antara student engagement dan prestasi akademik (Utami dan Kusdiyati, 2015). Hal ini dikarenakan seseorang dengan student engagement yang tinggi merasa termotivasi dengan pembelajarannya dalam bentuk apapun untuk mencapai tujuan pembelajarannya, salah satunya ialah mendapatkan IP yang tinggi. Pada penelitian ini tidak ada subjek yang memiliki IPK rentang >0 sampai 1.

Berdasarkan hasil penelitian jika ditinjau dari segi IPK, individu yang berada pada kategori IPK >1 sampai 2 berada pada kategori tinggi dan individu pada kategori IPK >2 sampai 3 dan >3 sampai 4 berada pada kategori sedang. Sementara pada perilaku social loafing, individu yang berada pada kategori IPK >1 sampai 2, >2 sampai 3 dan >3 sampai 4 berada pada kategori rendah.

Trowler (2010) menambahkan bahwa student engagement dapat memberikan manfaat tidak hanya secara individual, melainkan secara kelompok juga. Dalam kelompok, seseorang yang memiliki student engagement mampu menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan dari pembelajaran dan mereka dapat berubah dikarenakan pengetahuan yang telah didapatkan tersebut (Ashwin dan McVitty, 2015). Pembelajaran secara berkelompok dapat memungkinkan individu terhubung secara emosional dengan individu lainnya, ia dapat mencapai sesuatu yang tidak

49

bisa dikerjakan oleh dirinya sendiri, dan memunculkan rasa bahwa partisipasi mereka dibutuhkan dalam pembelajaran (Schreiner dan Louis, 2006). Berdasarkan hasil penelitian jika ditinjau dari jumlah orang per kelompok, individu dengan jumlah orang perkelompok 2 sampai 5 orang dan 6 sampai 10 orang berada pada kategori sedang, sementara individu dengan jumlah orang perkelompok 11 sampai 15 orang dan >15 orang berada pada kategori tinggi. Sedangkan pada perilaku social loafing diperoleh bahwa individu yang memiliki banyaknya orang dalam kelompok berkisar 6 – 10 orang, 2 sampai 5, 11 sampai 15 dan >15 orang berada pada kategori rendah.

Adapun hasil penelitian student engagement pada mahasiswa menunjukkan bahwa sebagian besar mereka memiliki tingkat student engagement kategori sedang dan tinggi. Individu dengan student engagement yang tinggi, termasuk ke dalam kategori positive engagement dan individu dengan student engagement sedang termasuk ke dalam kategori negative engagement (Trowler, 2010). Positive engagement ditandai dengan perilaku seperti menghadiri kelas, terlibat aktif dengan kegiatan kelas, merasa tertarik dan mengerjakan tugas sesuai atau melebihi standar tugas. Namun hal sebaliknya ditunjukkan gambaran social loafing pada mahasiswa sebagian besar berada pada kateori rendah. Hal ini berarti mereka lebih menunjukkan keterlibatan aktif mereka selama kegiatan pembelajaran sehingga perilaku social loafing yang ditunjukkan rendah.

Dalam pembelajaran berkelompok, social loafing rendah apabila terdapat

evaluasi antar anggota dalam kelompok. Dengan demikian, setiap anggota dalam kelompok akan memberikan kontribusinya di dalam kelompok agar mendapatkan nilai evaluasi yang baik. Susanto dan Ermida (2015) menemukan intensi social loafing dapat berkurang apabila terdapat evaluasi antar anggota dalam kelompok dan ada beberapa konsekuensi yang diterima mahasiswa yang social loafingseperti ditegur, tidak ditulis namanya, dan disindir oleh teman sekelompok menyebabkan mahasiswa menjadi enggan untuk melakukan social loafing.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa aspek emotional engagement pada variabel student engagement memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan aspek lainnya, yakni behavioral engagement dan cognitive engagement. Hal ini berarti mereka menunjukkan keterlibatan afektif sewaktu pembelajaran, baik itu terhadap tenaga pengajar, teman sekitar maupun akademiknya, mereka memiliki rasa ‘memiliki’ dan menjadi bagian dalam instansi, menghargai serta mengapresiasi apapun hasil akademik yang mereka dapat (Frederick, Blumenfeld dan Paris, 2004). Sementara nilai terendah berada pada aspek behavioral engagement, sesuai dengan penjabarannya hal ini berarti mereka kurang terlibat aktif dalam akademik seperti bertanya sewaktu pelajaran, pasif dalam memberikan kontribusi selama diskusi di kelas, dan mengikuti aturan namun tidak lepas dari adanya perilaku yang membuat masalah (Fredricks, Blumenfeld dan Paris, 2004).

51

Pada variabel social loafing, aspek dilution effect memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan aspek immediacy gap. Latane (dalam Hogg dan Vaughan ,2011) menjabarkan dilution effect yakni individu merasa kurang termotivasi, merasa kontribusinya tidak dihargai atau sadar tidak adanya penghargaan yang diterima individu tersebut, dan sesuai dengan hasil penelitian ini, mahasiswa merasa hal demikian. Namun, mereka tidak merasa terasing dari kelompok dan tetap mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. KESIMPULAN UTAMA

Student Engagement memiliki hubungan negatif dengan social loafing. Hal ini berarti semakin tinggi student engagement yang dimiliki seseorang, maka tingkat social loafing rendah. Hal ini berlaku pula sebaliknya, semakin rendah student engagement yang dimiliki seseorang, maka social loafing yang ditunjukkan tinggi.

2. KESIMPULAN TAMBAHAN

1. Berdasarkan hasil analisis aspek student engagement, aspek emotional engagement memiliki nilai mean lebih tinggi daripada aspek cognitive engagement dan behavioral engagement.

Sementara hasil analisis aspek social loafing, aspek dilution effect memiliki nilai mean lebih tinggi daripada aspek immediacy gap.

2. Berdasarkan hasil analisis gambaran subjek diperoleh bahwa dari 338 subjek, sebanyak 177 subjek (52.37 %) dikategorikan memiliki student engagement sedang dan 152 orang (44.97 %) pada kategori tinggi sementara sebanyak 275 orang (81.36 %) dikategorikan memiliki social loafing rendah.

53

3. Berdasarkan jenis kelamin, student engagement pada laki-laki berada pada kategori tinggi dan perempuan berada pada kategori sedang. Sementara social loafing pada laki-laki dan perempuan berada pada kategori rendah.

4. Berdasarkan IPK terakhir, student engagement individu yang memiliki IPK rentang >1 sampai 2 berada pada kategori tinggi, individu yang memiliki IPK rentang >2 sampai 3 dan rentang >3 sampai 4 berada pada kategori sedang. Sementara social loafing pada individu yang memiliki IPK rentang >1 sampai 2, >2 sampai 3, dan >3 sampai 4 berada pada kategori rendah.

5. Berdasarkan jumlah orang dalam kelompok, student engagement pada kelompok berjumlah 2 sampai 5 orang dan 6 sampai 10 orang berada pada kategori sedang, sementara kelompok berjumlah 11 sampai 15 orang dan >15 orang berada pada kategori tinggi.

Sementara social loafing pada kelompok berjumlah 2 sampai 5 orang, 6 sampai 10 orang, 11 sampai 15 orang dan > 15 orang berada pada kategori rendah.

6. Berdasarkan perbandingan nilai mean empirik dan hipotetik, nilai mean student engagement yang dimiliki subjek lebih tinggi dibanding yang diperkirakan oleh alat ukur. Sementara nilai mean social loafing lebih rendah dibanding yang diperkirakan oleh alat ukur.

B. SARAN

Beberapa saran yang diajukan peneliti, yakni:

1. Saran Metodologis

a. Peneliti yang tertarik untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk mengumpulkan informasi yang lebih banyak tentang fenomena terkait student engagement dan social loafing untuk mendukung latar belakang penelitian.

b. Mengkaji lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement.

c. Menyeimbangkan persebaran subjek penelitian berdasarkan data kontrol penelitian, seperti jenis kelamin, IP, dan banyaknya orang per kelompok.

2. Saran Praktis

a. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber informasi kepada mahasiswa mengenai student engagement dengan social loafing.

Bahwasanya student engagement memberikan manfaat secara individu maupun kelompok dalam konteks pembelajaran.

Penerapan student engagement yang tinggi dan mengurangi perilaku social loafing dapat bermanfaat bagi mahasiswa.

Bahwasanya pembelajaran secara berkelompok dapat membantu dalam melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan seorang diri dan menumbuhkan kesadaran bahwa partisipasinya dibutuhkan

55

dalam kelompok pembelajaran. Hal ini berbanding terbalik apabila individu menerapkan social loafing dalam kelompok, yakni dapat mengurangi kontribusi dan akan sulit memahami dan menerapkan apa yang ia telah ia pelajari. Hal ini dapat membantu mahasiswa berperan aktif dalam pembelajaran di perkuliahan, sehingga membantunya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang hendak

dalam kelompok pembelajaran. Hal ini berbanding terbalik apabila individu menerapkan social loafing dalam kelompok, yakni dapat mengurangi kontribusi dan akan sulit memahami dan menerapkan apa yang ia telah ia pelajari. Hal ini dapat membantu mahasiswa berperan aktif dalam pembelajaran di perkuliahan, sehingga membantunya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang hendak

Dokumen terkait