• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

55

56

 Kas untuk aktivitas pendanaan mengalami penurunan pada tahun 2013 –

2014 sebesar Rp. 207.654.482 dan pada tahun 2013 – 2014 mengalami peningkatan sebesar Rp. 182.979.409.

Neraca pada perusahaan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar Komponen aset lancar seperti kas dan setara kas pada tahun 2012 - 2013 mengalami penurunan drastis, kas dan setara kas yang dibatasi penggunaannya mengalami penurunan pada tahun 2013 - 2014, investasi jangka pendek hanya dilakukan pada tahun 2012, piutang usaha (pihak ketiga) mengalami kenaikan ditiap tahunnya, Namun piutang usaha (pihak yang berelasasi) pada tahun 2014 mengalami penurunan, persediaan mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 55.841.993 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 155.208.006. Demikian jumlah aktiva lancar pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar Rp. 302.461.103 dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2014 sebesar Rp. 320.166.441, aset pajak tangguhan mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 8.722.869, Namun mengalami penurunan sebesar Rp. 6.442.421 pada tahun 2014, akumulasi penyusutan dan depiesi mengalami kenaikan pada tahun 2013

sebesar Rp. 1.402.070.505, dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.684.991.251, jumlah aset tidak lancar mengalami kenaikan pada

tahun 2013 sebesar Rp. 1.411.593.037 dan sebesar Rp. 1.544.201.056

57

pada tahun 2014, total aset mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.109.131.934 dan sebesar Rp. 1.864.367.506 pada tahun 2014.

Komponen liabilitas dan ekuitas yaitu liabilitas jangka pendek antara lain utang usaha (pihak ketiga) mengalami penurunan pada tahun 2013 sebesar Rp. 58.358.954 dan mengalami kenaikan sebesar Rp. 46.488.444 pada tahun 2014, utang usaha (pihak berelasi) mengalami kenaikan sebesar Rp. 3.427.677 pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar Rp. 42.534.364, utang bunga dan denda mengalami penurunan ditiap tahunnya yaitu pada tahun 2013 sebesar Rp. 12.589.578 dan sebesar Rp. 5.092.343 pada tahun 2014, utang sewa pembiayaan mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 3.614.408 dan mengalami penurunan sebesar Rp. 10.671.728 pada tahun 2014, jumlah liabilitas jangka pendek mengalami kenaikan sebesar Rp. 53.196.254 pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 74.911.142.

Liabilitas jangka panjang yaitu utang lain – lain (pihak ketiga) mengalami penurunan sebesar Rp. 14.704.340 pada tahun 2014, utang lain – lain (pihak berelasi) mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 2.724.265 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 782.840, utang deviden pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar Rp. 232.171.607 dan pada tahun 2014 sebesarRp. 290.831.490, liabilitas imbalan kerja mengalami kenaikan pada tahun 2013 Rp. 4.460.301 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 9.484.321, utang bank mengalami kenaikan drastis pada tahun 2014

58

sebesar Rp. 1.200.724.631, pinjaman dari pemerintah mengalami penurunan pada tahun 2013 sebesar Rp. 11.634.841, utang bunga dan denda pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar Rp. 8.931.222, utang sewa pembiayaan mengalami penurunan pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.084.897 dan mengalami kenaikan pada tahun 2014 sebesar Rp. 8.607.270, liabilitas tidak lancar mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.508.658 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 112.035, jumlah liabilitas jangka panjang mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 724.770.285 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 1.492.857.108, total liabilitas mengalami kenaikan sebesar Rp. 777.966.539 pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 sebesarRp. 1.567.768.250.

Komponen ekuitas yaitu modal saham rata–rata sebesar Rp. 304.000.500 tiap tahunnya, tambahan modal lainnya mengalami

kenaikan sebesar Rp. 24.517.125 pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 23.500.700, saldo laba pada tahun 2013 mengalami kenaikan sebesar Rp. 327.584.857 dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 252.768.021, jumlah ekuitas mengalami kenaikan sebesar Rp. 331.165.395 pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 sebesarRp. 296.599.256, total liabilitas dan ekuitas mengalami kenaikan pada tahun 2013 sebesar Rp. 1.109.131.934 dan sebesar Rp. 1.864.367.506.

59 2. Analisa Rasio Likuiditas

a. Laporan keuangan PT. Perkebunaan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar menunjukkan bahwa current ratio yang dimiliki perusahaan pada 2012 sampai dengan 2014 adalah untuk tahun 2012 yaitu 247% dengan kata lain setiap Rp.1,00 hutang lancar telah dijamin dengan Rp.2,47 aktiva lancar sedangkan pada tahun 2013 perusahaan memiliki current ratio sebesar 173 % yang berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar telah dijamin dengan Rp.1,73 asset lancar ini berarti current ratio pada tahun 2013 mengalami penurunan, hal ini bisa dimungkinkan karena pada tahun 2013 jumlah hutang lancar mengalami peningkatan sedangkan aktiva lancarnya menurun. Dan pada tahun 2014 perusahaan memiliki current ratio sebesar 202%

yang berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar telah dijamin Rp.2,02 asset lancar hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya asset dan hutang lancar.

Menurut Munawir (2002) Current ratio 200% akan digunakan sebagai angka standar untuk likuidasi yang baik dan rasio yaang berada dibawah angka tersebut perusahaan dikatakan tidak likuid, maka dapat dikatakan bahwa :

 Pada tahun 2012 dan 2014 perusahaan dalam keadaan likuid artinya perusahaan mampu memenuhi seluruh kewajibannya

60

karena berada diatas 200%, sehingga dapat dikatakan bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan asset lancar secara keseluruhan.

 Pada tahun 2013 current ratio yang dimiliki sudah berada

diatas 100%, artinya perusahaan dalam keadaan tidak likuid karena masih berada dibawah angka 200% ini berarti perusahaan tidak mampu memenuhi seluruh kewajibannya dengan asset lancar yang dimiliki karena kemungkinan perusahaan masih harus mendanai kegiatan operasional lain dari perusahaan dengan asset lancar tersebut.

b. Laporan keuangan PT. Perkebunaan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar menunjukkan bahwa quick ratio yang dimiliki perusahaan pada tahun 2012 yaitu 194% atau setiap Rp.1,00 hutang telah dijamin dengan Rp.1,94 dan pada tahun 2013 quick ratio yang dimiliki sebesar 116% artinya setiap Rp.1,00 hutang dijamin Rp.1,16 sehingga dapat dikatakan bahwa pada tahun 2013 mengalami penurunan jumlah hutang lancerdan persediaan meningkat sedangkan asset lancar mengalami penurunan. Namun pada tahun 2014 quick ratio yang dimiliki perusahaan sebesar 127% yang berarti setiap Rp.1,00 hutang dijamin Rp.1,27 sehingga dapat dikatakan bahwa pada tahun 2014 mengalami peningkatan

61

karena asset lancar yang digunakan untuk memenuhi hutang lancar juga meningkat.

Menurut Agnes (2001:10) Quick ratio 100% digunakan sebagai angka standar untuk likuidasi yang baik untuk quick ratio sehingga rasio yang berada dibawah angka tersebut perusahaan dikatakan tidak likuid, maka dapat dikatakan bahwa pada tahun 2012 sampai 2014 perusahaan dalam keadaan likuid karena berada diatas 100% meskipun pada tahun 2013 mengalami penurunan namun dapat dikatakan perusahaan mampu memenuhi seluruh kewajibannya karena berada diatas 100% .

c. Laporan keuangan PT. Perkebunaan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar menunjukkan bahwa cash ratio yang dimiliki perusahaan pada tahun 2012 yaitu 148% dengan kata lain setiap Rp.1,00 hutang lancar hanya dijamin dengan Rp.1,48 kas dan pada tahun 2013 perusahaan memiliki cash ratio yang dimiliki perusahaan sebesar 52% yang artinya setiap Rp.1,00 hutang lancar hanya dijamin Rp. 0,52 kas ini berarti pada tahun 2013 cash ratio mengalami penurunan karena jumlah hutang lancar meningkat sedangkan kas untuk membiayai hutang lancar menurun. Dan pada tahun 2014 cash ratio yang dimiliki perusahaan sebesar 66% ini berarti setiap Rp.1,00 hutang lancar dijamin Rp.0,66 kas, dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada tahun 2014 cash ratio

62

meningkat karena jumlah kas untuk membiayai hutang juga mengalami peningkatan.

Menurut Agnes (2001:10) Cash ratio 100% dijadikan sebagai angka standar untuk rasio yang berada dibawah angka tersebut perusahaan dikatakan tidak likuid, maka dapat dikatakan bahwa

 Pada tahun 2012 cash ratio yang dimiliki berada diatas 100%,

artinya perusahaan dalam keadaan likuid karena dengan kas yang dimiliki perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau cash ratio perusahaan berada di atas 100%.

 Pada tahun 2013 dan 2014 perusahaan dalam keadaan tidak

likuid artinya perusahaan tidak mampu memenuhi seluruh kewajiban jangka pendeknya karena kas yang tersedia tidak cukup atau dalam hal ini cash ratio berada dibawah 100% .

Dari data dokumentasi yaitu laporan keuangan tahun anggaran 2012-2014 yang ditinjau berdasarkan perhitungan kinerja keuangan dengan menggunakan rasio likuiditas, menunjukkan hasil bahwa untuk rasio likuiditas perusahaan mampu memenuhi hutang jangka pendeknya.

63

63 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan pada bab V maka peneliti menyimpulkan bahwa laporan keuangan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar yang ditinjau berdasarkan rasio likuiditas menunjukkan bahwa:

1. Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar sudah efektif dalam mengelola arus kas perusahaannya. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan-kenaikan nilai akunnya dari tahun ketahun. Efektifitas perusahaan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar bisa diukur dimana perusahaan telah menggunakan sumber dana jangka panjangnya untuk investasi jangka panjang dimana pada tahun 2012 sampai dengan 2014 modal kerja atau dana perusahaan lebih banyak diperoleh dari dana-dana pihak ketiga (piutang) dan selalu mengalami kenaikan dari tahun ketahun yang bersumber dari aktiva.

2. Produk yang dihasilkan dari PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar Provinsi Sulawesi termasuk dalam produk yang bermutu dan berkualitas serta terjangkau dikalangan masyarakat. Hal ini terbukti dengan eksistensi produk gula takalar yang mampu bersaing dengan produk-produk lain.

64 B. Saran - Saran

Berdasarkan hasil analisis rasio keuangan pada PT. Perkebunan Nusaantara (Persero) Pabrik Gula Takalar tersebut diatas, maka penulis dapat memberikan beberapa saran yang dapat berguna bagi perusahaan yaitu:

1. Diharapkan agar perusahaan mampu memproduksi produk yang jauh lebih bermutu dan lebih berkualitas.

2. Perusahaan seharusnya menggunakan analisis rasio pada laporan keuangan sehingga dapat mengukur kinerja keuangan perusahaan dan dapat diketahui tingkat rasio apakah pada saat tersebut perusahaan dalam kondisi sehat atau tidak.

3. Disarankan kepada pihak perusahaan agar memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawannya untuk meningkatkan kemampuan/skill serta produktivitasnya.

4. Disarankan kepada pihak perusahaan PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar agar lebih memperhatikan laporan - laporan keuangan, baik itu laporan Neraca,maupun laporan laba rugi serta laporan arus kas perusahaan.

5. Arus kas pada PT. Perkebunan Nusantara XIV (Persero) Pabrik Gula Takalar harus dikelola seoptimal mungkin dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan, karena apabila pengelolaan arus kas kurang baik akan mengakibatkan kas yang meningkat tersebut akan menurun , dalam artian tidak memberikan manfaat yang optimal pula bagi perusahaan.

Dokumen terkait