• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

METODE PENELITIAN

3. Metode Analisis Data

Kerusakan yang dicatat pada masing-masing pohon yaitu maksimal tiga kerusakan. Ketika ada kerusakan yang berganda terjadi di tempat yang sama maka hanya kerusakan paling parah yang ditulis. Data kerusakan pohon yang digunakan untuk mengetahui indikator kerusakan pohon adalah lokasi, tipe kerusakan dan nilai ambang batas keparahan. Data kerusakan pohon kemudian dimasukkan ke dalam tabel seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Tally Sheet Penilaian Kerusakan Pohon menurut metode FHM

Penilaian kerusakan digunakan kriteria-kriteria berdasarkan metode FHM dengan metode visual secara subjektif oleh peneliti dibantu anggota tim peneliti supaya keobjektifannya terjaga. Data yang diperoleh dari penilaiankerusakan dihitung nilai indeks kerusakannya dengan kode dan bobot nilai indeks kerusakan (NIK). Hasil perhitungan akhir dapat diketahui NIK

(Kelas sehat, kelas ringan, kelas sedang dan kelas berat) (Noviady dan Rivai, 2015).

Keterangan:

NIK : Nilai Indeks Kerusakan pada level pohon Xi : Nilai bobot pada tipe kerusakan

Yi : Nilai bobot pada bagian/lokasi pohon yang mengalami kerusakan Zi : Nilai bobot pada keparahan kerusakan

Selanjutnya dapat diketahui kelas kerusakan pohon berdasarkan bobot nilai indeks dengan kriteria sebagai berikut:

No Jenis Pohon Tinggi (m) Diameter (cm) Kerusakan 1 Kerusakan 2 Kerusakan 3 Xi Yi Zi Xi Yi Zi Xi Yi Zi

Kelas sehat : 0 – < 5 Kelas kerusakan ringan : 6 – 10 Kelas kerusakan sedang : 11 – 15 Kelas kerusakan berat : 16 – > 21

Kode tipe kerusakan, bagian/lokasi kerusakan dan bobot pada keparahan kerusakan dapat dilihat pada Tabel 2, Tabel 3, dan Tabel 4. Bobot indeks kerusakan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 2. Kode dan Tipe Kerusakan

No Tipe Kerusakan Kelas keparahan

(10% - 99%)

Berdasarkan kode pada tipe kerusakan yang telah didata dapat ditentukan kode dan lokasi kerusakan pada pohon tersebut. Lokasi kerusakan yang ditemukan pasti akan sejalan dengan jenis atau tipe kerusakannya.

Tabel 3. Kode dan Lokasi Kerusakan Kode Keterangan

0 Sehat (tidak ada kerusakan)

1 Akar (terbuka) dan tunggak (dengan tinggi 30 cm di atas permukaan tanah) 2 Akar dan batang bagian bawah

3 Bagian atas batang (setengah bagian bawah dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)

4 Bagian bawah dan bagian atas batang

5 Bagian atas batang (setengah bagian atas dari batang antara tunggak dan dasar tajuk hidup)

6 Batang tajuk (batang utama di dalam daerah tajuk hidup di atas dasar tajuk hidup)

7 Cabang (lebih besar 2.54 cm pada titik percabangan terhadap batang utama atau batang tajuk didalam daerah tajuk hidup)

8 Kuncup dan tunas (pertumbuhan tahun terakhir)

9 Daun

Sumber: USDA Forest Service (2001)

Setelah kode dan lokasi kerusakan di dapat sesuai dengan ketentuannya, maka ditentukan kode dan kelas keparahan kerusakan pohon. Kelas keparahan kerusakan pohon bergantung pada banyaknya area yang terserang tipe penyakit tersebut.

Tabel 4. Kode dan Kelas Keparahan Kerusakan

Kode Kelas (%)

Dari keriga tabel diatas yakni tipe kerusakan, lokasi kerusakan dan kelas keparahan kerusakan dapat dihitung bobot indeks kerusakannya. Nilai yang

didapat kemudian dapat digabungkan dengan nilai paramater penilaian kesehatan pohon lainnya.

Tabel 5. Bobot Indeks Kerusakan Pohon

No Tipe Kerusakan Lokasi Kerusakan Kelas Keparahan

Kode Bobot Kode Bobot Kode Bobot

Sumber : USDA Forest Service (2001)

Pencatatan kerusakan pohon dilakukan sebanyak jumlah kerusakan pohon yang terjadi dan dimulai dari lokasi dengan kode terendah.Kerusakan yang tidak memenuhi nilai ambang akan diberi nilai “0” pada tingkat keparahannya. Apabila terdapat kerusakan ganda pada lokasi yang sama, maka semua kerusakan tetap dicatat supaya tingkat keparahannya dapat diperkirakan secara tepat.

b. Produktivitas Pohon

Pertumbuhan pohon dapat diketahui dengan mengukur diameter pohon yakni penambahan diameter pohon dari waktu ke waktu. Diameter pohon diukur pada ketinggian 1.3 m di atas permukaan tanah (dbh). Pohon yang memiliki diameter 20 cm atau lebih dikategorikan sebagai pohon. Dari data diameter dapat digunakan untuk menentukan nilai LBDS (Luas Bidang Dasar). LBDS dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan atau produktivitas pohon. LBDS

LBDS = x π x D2

Keterangan:

LBDS : Luas bidang dasar per pohon

Π : konstanta (3,14)

D : Diameter setinggi dada (dbh)

c. Kondisi Tajuk

Parameter-parameter kondisi tajuk pohon yang diukur berdasarkan metode FHM yaitu sebagai berikut :

- Rasio tajuk hidup (Live Crown Ratio-LCR), yaitu tinggi tajuk yang tertutup terhadap tinggi total pohon. Mengukur tinggi pohon pada batas pucuk ranting yang berdaun sebagai ‘TT’ menggunakan hagameter. Mengukur TTBC sebagai ‘Ttj’ menggunakan hagameter dan menghitung rasio tajuk hidup

dengan rumus LCR =

× 100%.

- Kerapatan tajuk (Crown density-Cden), yaitu persentasi cahaya matahari yang tertahan oleh tajuk untuk tidak mencapai permukaan tanah. Cden dihitung dengan menggunakan kartu skala kerapatan tajuk.

- Tranparansi tajuk (Foliage Transparancy-FT), yaitu persentasi cahaya matahari yang dapat melewati tajuk dan mencapai permukaan tanah. FT dihitung dengan menggunakan kartu skala transparansi tajuk.

- Diameter tajuk (Crown Diameter Width), yaitu nilai rata-rata dari pengukuran panjang dan lebar tajuk pohon yang bersangkutan. CDW dihitung

berdasarkan pengukuran panjang dan lebar tajukterluar menggunakan meteran. Estimasi posisi tajuk terluar dengan dengan cara memproyeksikan tajuk terluar secara vertikal pada titik diameter terlebar.

- Crown Dieback (CDB), yaitu cabang dan ranting yang baru saja mati dimana bagian yang mati dimulai dari bagian ujung kemudian merambat ke bagian pangkal.

Pengukuran tinggi tajuk harus dilakukan dengan hati-hati, terutama pada tegakan dengan kerapatan tinggi, karena sulit membedakan antara tajuk pohon yang diamati dengan pohon yang tidak. Penilaian parameter kondisi tajuk didasarkan pada tiga kategori kondisi tajuk, yaitu nilai 3 untuk kondisi tajuk yang bagus; 2 untuk kondisi parameter tajuk sedang; dan 1 untuk kondisi parameter tajuk yang jelek.

Tabel 6. Kriteria Kondisi Tajuk (Anderson dkk, 1992) Parameter Klasifikasi

Baik (Nilai=3) Sedang (Nilai=2) Jelek (Nilai=1)

Nisbah tajuk hidup ≥ 40% 20 – 35% 5 – 15%

Kerapatan tajuk ≥ 55% 25 – 50% 25 – 50%

Tranparansi tajuk 0 - 45% 50 – 70% ≥ 75 %

Dieback 0 - 5% 10 – 25% ≥ 30 %

Diameter tajuk ≥ 10,1 m 2,5 – 10 m ≥ 2,4 m

Semua parameter pengukuran kondisi tajuk pohon digabungkan kedalam peringkat penilaian penampakan tajuk (Visual Crown Rating-VCR) untuk masing-masing pohon. VCR memiliki nilai 1, 2,3 dan 4 tergantung kepada besaran nilai pengamatan setiap parameter kondisi taju.

Tabel 7. Nilai peringkat Visual Crown Rating (VCR) individu pohon (Anderson dkk, 1992)

Nilai VCR Kriteria

4 Seluruh parameter bernilai 3, atau hanya 1 parameter memiliki nilai 2; tidak ada parameter bernilai 1.

3 Lebih banyak kombinasi antara nilai 3 dan 2 pada parameter tajuk, atau semua bernilai 2; tetapi tidak ada parameter bernilai 1.

2 Setidaknya 1 parameter bernilai 1, tetapi tidak semua parameter.

1 Semua parameter kondisi tajuk bernilai 1.

d. Penilaian Kesehatan Pohon

Penentuan tingkat kesehatan hutan kota didapatkan berdasarkan nilai skor yang diperoleh dari penentuan nilai selang (interval) terhadap nilai setiap parameter pengamatan yakni produktivitas, kerusakan pohon dan kondisi tajuk yang mewakili indikator kesehatan pohon. Skoring untuk setiap indikator diberikan interval 0-10. Nilai akhir kesehatan pohon didapat dari jumlah skoring dari seluruh indikator dengan interval 0-30. Semakin tinggi nilai skor menunjukkan tingkat kesehatan yang semakin tinggi. Adapun pembagian nilai skoring adalah sangat rendah (0-5), rendah (6-11), sedang (12-17), sehat (18-23) dan sangat sehat (24-30).

Dokumen terkait