• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah metode atau cara peneliti dalam mengolah data mentah sehingga menjadi data akurat dan ilmiah. Pada dasarnya dalam menganalisis data diperlukan i majinasi dan kreativitas sehingga diuji kemampuan peneliti dalam menalar sesuatu. Langkah-langkah yang digunakan penulis dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:

1. Setelah semua data terkumpul, kemudian mengeliminasi data-data yang kurang akurat.

2. Menganalisis data.

3. Menarik kesimpulan.

Menurut Sibarani (2012:297-298), “Analisis data dalam penelitian tradisi lisan diperlukan metode triangulasi untuk mengecek keabsahan data, keakuratan proses analisis, dan kebenaran hasil analisis. Triangulasi adalah proses lintas pengecekan (cross-recheck) pada kebenaran data dan proses pengolahan data.

Pada umumnya dikenal 4 (empat) macam triangulasi yakni: (1) Triangulasi metode, artinya pengecekan ulang tentang konsistensi temuan-temuan dari metode yang berbeda. (2) Triangulasi sumber data, artinya pengecekan ulang tentang keakuratan temuan-temuan berdasarkan sumber data yang berbeda. (3) Triangulasi penganalisis atau penginterpretasi, artinya agar temuan-temuan penelitian dicek oleh beberapa orang ahli yang mampu memberikan analisis dan interpretasi. (4) Triangulasi perspektif dan teori, artinya menganjurkan agar peneliti mempertimbangkan dan membandingkan temuan-temuan penelitian berdasarkan perspektif dan teori yang berbeda untuk mendapatkan kebenaran temuan penelitian”.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Tahap-tahap Upacara Tradisional Kelahiran Anak pada Etnis Batak Toba di Desa Sihotang

Secara umum tahap-tahap pelaksanaan upacara kelahiran anak pada etnis Batak Toba di Desa Sihotang terdiri dari 5 (lima) tahap yaitu, mandengkei atau mambosuri, mangharoani, maranggap, mamboan indahan pohol-pohol, dan tardidi. Setiap pelaksanaan upacara tersebut diadakan dengan waktu yang berbeda-beda yakni, sebelum dan sesudah lahir. Berikut ini penjelasan dari kelima tahap upacara tersebut.

4.1.1 Mandengkei atau mambosuri

Mandengkei atau mambosuri merupakan upacara yang dilakukan saat bayi dalam kandungan berusia tujuh bulan pada saat kehamilan pertama. Mandengkei artinya memberi ikan sedangkan mambosuri artinya memberi kenyang. Jadi defenisi dari mandengkei atau mambosuri adalah upacara yang dilaksanakan kepada ibu yang sedang mengandung saat bayi dalam kandungan berusia tujuh bulan dengan memberi makan nasi serta ikan mas yang diarsik supaya segala yang diiinginan oleh si ibu yang belum terpenuhi sebelumnya dapat terpenuhi setelah memakan nasi dan ikan tersebut. Tujuan pelaksanaan upacara ini adalah untuk berdoa kepada Tuhan agar si ibu dan bayi dalam kandungan sehat hingga proses persalinan nantinya. Dalam pelaksanaan upacara ini, orang tua dari ibu yang sedang mengandung datang ke rumah putrinya yang sedang mengandung bersama

rombongan yaitu tulang (paman), hahanggi (abang beradik) serta kerabat-kerabat lainnya membawa makanan berupa nasi dan ikan mas yang diarsik (dengke sitiotio) serta satu helai ulos. Pada zaman dahulu ikan yang digunakan adalah ihan Batak, tetapi pada masa sekarang diganti menjadi ikan mas.

Pelaksanaan upacara mandengkei atau mambosuri harus dimulai pada tengah hari (parnangkok ni mataniari) yaitu pada pukul 12.00. Hal ini dilaksanakan pada waktu itu karena masyarakat Batak mempercayai disaat matahari semakin tinggi, maka disaat itu juga rejeki dan berkat semakin datang.

Upacara ini masih tetap dilaksanakan bahkan ada yang mengadakan dengan acara yang cukup besar bagi keluarga yang mampu. Di Desa Sihotang secara umum acara mandengkei atau mambosuri ini dilakukan hanya untuk anak yang pertama (anak buha baju).

Berdasarkan hasil penelitian, yang melaksanakan upacara turut mengundang masyarakat yang ada di kampung itu. Pada masa kini, setiap undangan harus membawa sumbangan masing-masing kepada yang mengadakan upacara sesuai dengan unsur Dalihan Na Tolu. Apabila undangan dari pihak parboru (pihak perempuan), baik yang berposisikan hula-hula (paman), dongan tubu (teman semarga) maupun boru (bibi) membawa sumbangan berupa beras sekitar 1-2 liter, tetapi boru (bibi) yang membawa nasi (manjujung indahan) tidak perlu membawa sumbangan lagi. Apabila undangan dari pihak paranak (pihak laki-laki), baik yang berposisikan hula-hula (paman), dongan tubu (teman satu marga) dan boru (bibi) membawa sumbangan berupa uang sekitar Rp. 20.000 atau lebih. Pada upacara mandengkei atau mambosuri ini, tidak ada acara mangulosi

(memberi ulos), kecuali orang tua dari ibu yang sedang mengandung memberikan ulos.

Pelaksanaan Upacara

Pada saat jam sudah menunjukkan pukul 12.00 tengah hari (parnangkok ni mataniari), acarapun segera dimulai. Pada awal acara terlebih dahulu orang tua dari ibu yang sedang mengandung atau pihak parboru/hula-hula memberikan makanan yang mereka bawa yaitu, ikan mas yang diarsik 1 ekor bersama nasi di dalam sebuah pinggan kepada putrinya yang sedang mengandung dan satu pinggan berisi ikan mas 3-4 ekor dan nasi kepada orang tua si laki-laki atau pihak paranak/suhut. Makanan tersebut dihidangkan di depan menantu beserta putrinya yang sedang mengandung dan paranak (pihak laki-laki). Sewaktu menyerahkan makanan, salah satu pihak hula-hula yang biasanya diwakilkan oleh ibunya mengucapkan :

“ On ma inang boru hasian dohot di hamu amang hela, sipanganon na hupasahat hami nagabe upa-upa di pamatangmu dohot upa-upa di tondi muna. Sai dao ma sahit jala sai di bagasan hahipasan ma hamu paima-ima denggan basa na sian Tuhanta. Dengke sitiotio do ginoaran dengke nahuupahon hami on, asa anggiat tio ma parngoluan muna tu joloan on, dengke simudurudur do huhut goarna, asa sai tongtong tu joloan on hamu denggan marsihaholongan di sude parngoluan muna. Dengke saur do deba goarna, asa anggiat nian saur hamu rap saurmatua. Ginoaran dope on dengke sahat, asa sahat ma nian sude angka napinarsinta ni roha muna.

Jadi sahat ma upa-upa nami on tu hamu amang hela, dohot di ho inang namanagam tubuan anak manang boru, asa margogo ho inang”.

Artinya:

“ Inilah putriku dan juga menantuku, kami sampaikan makanan ini kepada kalian sebagai bentuk upa-upa pada badan dan juga roh kalian, supaya kalian tetap sehat dan dijauhkan dari segala penyakit untuk menunggu kelahiran anak yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kalian. Ikan ini

dinamakan ikan sitiotio, maknanya supaya segala urusan kehidupan kalian kedepannya semakin lancar, ikan ini juga dinamakan ikan simudurudur, maknanya supaya kedepannya kalian tetap saling menyayangi satu dengan yang lain dalam menjalani kehidupan kalian, ikan ini juga dinamakan ikan saur, maknanya supaya kalian tetap sehat-sehat dan panjang umur, dan ikan ini juga dinamakan ikan sahat, maknanya supaya tercapailah apapun yang telah kalian rencanakan. Jadi, kami sampaikanlah upa-upa ini kepadamu menantuku dan juga kepadamu putriku yang sedang menunggu kelahiran anak laki-laki maupun perempuan, harapan kami supaya kamu lebih kuat putriku”.

Setelah si ibu (pihak hula-hula) memberikan sepatah dua kata kepada putri dan menantunya, kemudian dia menyulangkan makanan tersebut sebanyak tiga kali kepada putrinya. Selesai memberikan ikan sitio-tio kemudian dilanjutkan memberikan ulos mula gabe. Istilah dari sebutan ulos mula gabe artinya sedang menantikan hagabean (kelahiran anak yang pertama). Jadi, seorang ibu hanya satu kali menerima ulos mula gabe dalam hidupnya. Jenis ulos mula gabe yang digunakan adalah ulos suri-suri ganjang. Makna dari ulos suri-suri ganjang merupakan supaya si ibu yang sedang mengandung mendapat berkat (gabe) setelah menerima ulos tersebut. Ulos mula gabe ini harus diberikan oleh pihak hula-hula (orang tua si perempuan) kepada putrinya, karena dalam adat Batak hula-hulalah yang lebih tinggi harkat kekerabatannya. Tujuan dari pemberian ulos mula gabe ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada putrinya dan sekaligus ingin membangkitkan semangat dan percaya diri putrinya untuk menghadapi persalinannya yang akan datang. Penyerahkan ulos ini disertai dengan doa restu dan diikuti beberapa umpasa, seperti di bawah ini.

“Nuaeng pe di ho borungku dohot helangku, pasahatonku ma ulos mula gabe on tu hamu. Anggiat ma ulos on siboan gabe dohot siboan tua di keluargamu, mangulosi anak dohot boru tu joloan on di hamu, sai tongtong hipas hamu dinamanagam haroan. Songon hata ni umpasa ma dohononku,

Tubu ma lata

Di toru ni bunga-bunga Sai tubu ma di hamu

Anak namarsangap dohot boru namartua. Boti ma”.

Artinya:

“Saat inipun putriku dan juga menantuku, kami sampaikanlah ulos mula gabe ini kepada kalian. Semoga ulos ini pembawa berkat dan kesehatan di tengah-tengah keluarga kalian, pembawa keturunan laki-laki dan perempuan bagi kalian, dan tetap sehat selalu sampai keproses persalinan. Seperti ada

Selesai penyampaian ulos mula gabe selanjutnya acara makan bersama.

Untuk menghormati kedatangan pihak hula-hula (pihak perempuan), pihak suhut (pihak laki-laki) menyediakan tudu-tudu sipanganon, sebagai balasan atas pemberian dengke (ikan) dari hula-hula. Secara harafiah tudu-tudu ni sipanganon artinya penanda perjamuan. Tudu-tudu ni sipanganon adalah bagian-bagian tubuh hewan yang diberi nama sesuai dengan yang berhak menerimanya dalam parjambaran atau pembagian daging hewan. Pada upacara ini hewan yang biasa disembelih untuk tudu-tudu sipanganon adalah pinahan lobu (babi). Bagian-bagian daging tertentu yang diberikan kepada hula-hula (pihak perempuan) artinya sebagai bentuk penghormatan hasuhuton (pihak laki-laki) kepada undangannya khususnya hula-hula (pihak perempuan). Bagian-bagian daging tertentu dihidangkan di depan pihak hula-hula (pihak perempuan). Sewaktu penyerahan tudu-tudu ni sipanganon, salah satu pihak suhut (pihak laki-laki) mengucapkan:

“Horas ma hita raja nami, songon i dohot inang soripada. Ro do hami dohot anggi nami mangadopi hamu hula-hula nami pasahathon tudu-tudu ni sipanganon. On pe raja nami, taringot disipanganon naso sadia on, tung met-met pe on unang manarita hamu, halashon hamu mai sai pamurnas ma i tu pamatangmu. Songon i ma raja nami hata ni sipanganon na so sadia on, las ma roha ni raja nami. Boti ma”.

Artinya:

“Salam bagi bapak dan ibu yang kami hormati. Di sini kami datang bersama saudara-saudara kami untuk menyampaikan tudu-tudu sipanganon sebagai bentuk penghormatan kami kepada kalian. Kiranya kalian dapat menerima makanan yang tidak seberapa ini dengan hati yang ikhlas, walaupun nilainya kecil janganlah merasa berkecil hati, kiranya makanan ini pembawa kesehatan bagi tubuh kalian. Demikianlah sepatah dua kata mengenai makanan yang tidak seberapa ini, harapan kami bersuka citalah kalian menerima makanan ini”.

Setelah pihak hula-hula (pihak perempuan) menerima tudu-tudu ni sipanganon dari pihak suhut (pihak laki-laki), semua pihak boru (bibi) dari suhut (pihak laki-laki) segera menghidangkan makanan dan minuman para undangan supaya mereka makan bersama. Untuk memimpin doa biasanya dari pihak suhut (pihak laki-laki) dan sekaligus untuk memberi sepatah dua kata kepada para undangan mengenai makanan yang mereka sediakan. Adapun sepatah dua kata yang disampaikan biasanya berupa umpasa, sebagai berikut:

“Godang sibutong-butong Otik sipir ni tondi

Tung so sadia pe nahupatupa hami i Sai godang ma pinasuna”.

Artinya:

“Banyak yang sudah kenyang Tetapi sedikit yang menguatkan hati

Walaupun tidak seberapa yang bisa kami sediakan Semoga banyak yang mendapat berkatnya”.

Setelah makan bersama acara selanjutnya yaitu pembagian jambar.

Pembagian jambar ini dilakukan oleh pihak boru (bibi) dari hula-hula (pihak perempuan). Jambar yang dibagikan adalah tudu-tudu ni sipanganon yang diberikan oleh pihak suhut (pihak laki-laki) kepada hula-hula (pihak perempuan).

Jambar ini dibagikan kepada para undangan dari pihak hula-hula (pihak perempuan). Di daerah penelitian pembagian jambar sebagai berikut:

1. Ulu/tarean (kepala) diberikan kepada hahaanggi ni hula-hula (saudara bapak dari pihak perempuan).

2. Aliang (leher) diberikan kepada paman si ibu yang sedang mengandung.

3. Namarngingi siamun (bagian gigi sebelah kanan) diberikan kepada natua-tua nabinoan ni hula-hula (orang natua-tua yang dibawa oleh pihak perempuan).

4. Namarngingi parhambirang (bagian gigi sebelah kiri) diberikan kepada orang tua yang dikampung suhut atau kepada paman si laki-laki apabila hadir.

5. Pipi panahui 1 diberikan kepada boru dari hula-hula (bibi dari pihak perempuan)

6. Pipi panahui 2 diberikan kepada boru dari pihak suhut (bibi dari pihak laki-laki).

7. Ihur (ekor) diberikan kepada pihak hula-hula (orang tua siperempuan).

Selesai pembagian jambar, acara selanjutnya marhata sigabe-gabe.

Marhata sigabe-gabe artinya memberikan doa atau sepatah dua kata kepada si ibu yang sedang mengandung dan suaminya supaya tetap sehat untuk menunggu kelahiran bayi mereka. Untuk mengawali pembicaraan ini adalah dongan tubu (teman satu marga silaki-laki) dari pihak suhut (pihak laki-laki) dan ditutup oleh

suami dari ibu yang sedang mengandung untuk mangampu. Seperti inilah gambaran dari pembicaraan marhata sigabe-gebe.

Dongan tubu : “Di hamu anggidoli nami, manghatai ma hita”. (Kepada saudara-saudara yang kami hormati, kita mulailah pembicaraan ini)

Suhut : “Nauli ma i tutu hahadoli”. (Baiklah saudaraku)

Dongan tubu : “Jolo ninang-nang inna asa ninung-nung, jolo ni pangan asa ni sungkun. Nunga butong hami mangan indahan na las, sagat marlompaan juhut jala minum aek sitiotio. Dia ma unokna dia ma matana, dia ma nidokna dia ma hatana. Tangkas ma dipaboa hasuhuton”. (Terlebih dahulu dinang-nang kemudian dinung-nung, terlebih dahulu di makan kemudian bertanya. Kami sudah kenyang memakan nasi yang hangat, bersama daging yang enak kemudian meminum air yang bersih. Mana bagian dalamnya mana bagian matanya, apa yang mau disampaikan apa yang mau diucapkan. Jelaskanlah kepada kami).

Suhut : “I ma tutu hahadoli, taringot sintuhu ni indahan na las dohot juhut nasosadia i, suang songon i aek sitiotio, panggabean parhorasan do i hahadoli”. (Baiklah saudaraku, mengenai nasi dan daging yang tidak seberapa itu, begitu juga dengan minumannya, itu hanya sebagai sumber kesehatan dan kemakmuran bagi kita saudaraku).

Dongan tubu : “Mauliate ma di Amanta Pardenggan Basa i, ianggo panggabean parhorasan do hape sintuhu ni indahan dohot juhut suang songon

i aek sitiotio naung dipangan hami. Alai anggidoli, sai marangkup do nauli mardongan inna na denggan. Siangkupna songon nahundul, sidonganna songon namardalan. Tangkas ma dipaboa anggidoli”. (Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha baik, apabila makanan dan minuman yang sudah kami makan merupakan sumber pembawa kesehatan dan kemakmuranbagi kami. Tetapi saudaraku, setiap kebaikan yang kita berikan pasti kita menerima kebaikan juga. Jadi selagi kita masih duduk bersama, apalah yang hendak mau kita bicarakan. Jelaskanlah dengan baik saudaraku).

Suhut : “I ma tutu hahadoli, taringot disungkun-sungkun ni hahadoli tangkas ma antong paboaon siangkup ni nauli siangkup ni nadenggan. Ia partording ni ulaonta di parnangkok ni mataniari on, naung dipasu-pasu Amanta pardenggan basa i do keluarga ni anggi niba parbagas on naung jumpa tingkina managam haroan.

Jadi umbahen i, ro hula-hulanta mamboan ulos mula gabe, i ma tangkasna hahadoli. Jadi namangido tangiang ma hami tu sude hamu namanghaholongi hami, boru nami, hahadoli dohot anggidoli, dongan sahuta, tarlumobi ma sian hula-hula nami.

Boti ma”. (Baiklah saudaraku, mengenai pertanyaan abangda saya akan menjelaskan apa sebenarnya maksud dari niat kebaikan yang kami berikan. Adapun acara kita di tengah hari ini adalah karena Tuhan telah memberkati keluarga adik saya, yang saat ini sudah managam haroan (mendekati kelahiran). Oleh sebab itu,

hula-hula (pihak perempuan) kita datang untuk membawa ulos mula gabe, itulah kejelasannya saudaraku. Untuk itu kami meminta doa kepada kita semua yang menyayangi kami, bibi kami, abang dan adik kami, teman satu kampung kami dan terlebih dari hula-hula kami. Demikianlah).

Dongan tubu : “Ba ido hape partording ni ulaonta sadari on, mauliate ma tutu tapasahat tu Amanta Pardenggan basa i, hami pe sian hahadoli muna tung mansai las do roha nami umbegesa i. Di hita namarhahamaranggi, boru nami, suang songon i nang dongan sahuta nami, tarlumobi ma di hamu hula-hula nami. Nunga tangkas ta begei partording ni ulaonta di parnangkok ni mataniari on natontong dope nasida mangido tangiang tu hita naung ro mangadopi ulaon on. Na parjolo, mandok hata ma sada sian hita perwakilan namardongan tubu. Na paduahon, mandok hata ma sada sian perwakilan boru nami, bere, dohot ibebere. Na patoluhon, mandok hata ma sada sian perwakilan dongan sahuta.

Na paopathon, pasahaton nami ma tu hula-hula mandok hata tu hasuhuton. Na palimahon mangampu ma hasuhuton. Boha di hita namardongan tubu, suang songon i nang dongan sahuta, tarlumobi i raja hula-hula nunga denggan i idok rohamu?” (Jika memang demikian, kita patut mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha baik, kami pun dari saudara kalian turut bahagia mendengar berita itu. Kepada kita yang abang beradik, boru kami, bere dan ibebere (bibi), begitu juga dengan teman satu

kampung kami, terlebih kepada hula-hula kami. Kita sudah jelas mendengar mengapa kita diundang pada acara kita di tengah hari ini yaitu mereka masih meminta doa kepada kita yang sudah turut hadir mengikuti acara ini. Yang pertama, salah satu perwakilan dari dongan tubu (abang beradik) menyampaikan sepatah dua kata. Kedua, salah satu perwakilan dari boru, bere maupun ibebere (bibi). Ketiga, salah satu perwakilan dari dongan sahuta (teman satu kampung) memberi sepatah dua kata. Keempat, kepada hula-hula (pihak perempuan) memberi sepatah dua kata kepada pihak suhut (pihak laki-laki), dan yang kelima pihak suhut (pihak laki-laki) mangampu. Bagaimana menurut kita semua, apakah sudah setuju dengan hal tersebut? )

Dongan tubu : “Nunga denggan i, taulahon ma”. (Baiklah, kita laksanakanlah).

Kemudian setiap perwakilan dari dongan tubu (abang beradik), boru, bere, dan ibebere (bibi), dongan sahuta (teman satu kampung), dan hula-hula (pihak perempuan) menyampaikan sepatah dua kata kepada si ibu yang sedang mengandung dan suaminya.

Setelah dongan tubu (teman satu marga) sampai ke hula-hula (pihak perempuan) menyampaikan sepatah dua kata, yang terakhir pihak suhut (pihak laki-laki) yakni, orang tua si suami dan suami dari yang sedang mengandung mangampu. Mangampu artinya mengiakan dan menerima semua ucapan-ucapan yang disampaikan oleh semua undangan dan sekaligus untuk memberi ucapan

terima kasih kepada undangan yang telah hadir ke acara tersebut. Kata mangampu yang diucapkan adalah sebagai berikut:

“I ma tutu angka raja nami, raja ni hula-hula nami rodi saluhut napinarsangapan namanggohi jou-jou nami jala marria ni roha rotu bagasta on. Parjolo ma dohonon nami mauliate tu Amanta Pardenggan basa i na mangalehon holong ni roha di hamu gabe tarbahen hita nuaeng rap marlas ni roha siala basa-basa ni Tuhanta naung sahat hujalo hami. Tu hamu sude angka na huparsangapi hami, dohonon nami ma mauliate malambok pusu siala pambahena nmuna na uli na denggan i. Tu amang dohot tu inang si matuangku, na mamboan upa-upa dohot na pasahat ulos mula gabe di hami, rodi sude nahupio nami, dohonon nami ma tu hamu sude hinorhon ni balga ni las ni roha nami, laho mandok mauliate tu hamu.

Ala so adong na lobi sian hata mauliate na boi dohonon niba, ba laos ulahonon nami nama muse mandok tu hamu sude mauliate malambok pusu.

Tu Tuhanta do tangiangkonon nami asa tung tangkas lehonon ni Tuhanta i di hamu sude marlipat ganda balos ni saluhut na denggan na binahen muna tu hami. Nuaeng pe sai sahat ma hata na uli, hata na denggan tarlobi-lobi angka pasu-pasu na nilehon muna i tu hami.

Naung sampulu pitu ma jumadi sampulu ualu

Angka pasu-pasu muna i sai hot ma i di tonga ni jabu on. Boti ma”

Artinya:

“ Ia demikianlah para raja kami, raja hula-hula kami serta yang kami hormati seluruh undangan yang turut hadir dan sudah bersenang hati datang ke tempat ini. Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi hati yang baik kepada kalian sehingga kita dapat bersama-sama merayakan hari kebahagiaan yang telah di berikan Tuhan kepada kami. Untuk seluruh yang kami hormati, kami mengucapkan terima kasih dari hati yang paling dalam atas kebaikan kalian. Kepada bapak dan ibu mertuaku yang sudah membawa upa-upa dan ulos mula gabe kepada kami, serta seluruh undangan yang sudah turut hadir ke acara ini, karena begitu besarnya kebahagiaan yang kami rasakan kami sangat mengucapkan terima kasih. Karena tidak ada lagi kata di atas terima kasih yang bisa kami sampaikan, kami pun akan mengulangi untuk menyampaikan terima kasih dari hati yang paling dalam. Kami berdoa kepada Tuhan supaya Tuhanlah yang memberi rejeki yang berlipat ganda untuk membalas kebaikan yang telah kalian perbuat kepada kami. Saat inipun semoga kata-kata yang telah kalian sampaikan dan juga doa yang kalian beri kepada kami dapat terkabulkan.

Dari tujuh belas kemudian delapan belas

Segala berkat yang kalian sampaikan semoga tetap tinggal di dalam rumah ini. Demikianlah”.

Setelah pihak suhut memberi ucapan mangampu kepada semua undangan, maka acara inipun ditutup oleh salah satu dari pihak hula-hula (pihak perempuan) untuk memimpin lagu rohani dan doa.

4.1.2 Mangharoani

Mangharoani adalah upacara yang dilakukan setelah bayi lahir berusia satu hari. Upacara ini dibuat dengan spontan dan seadanya, karena keluarga yang baru melahirkan hanya menyediakan jamuan seadanya untuk para tetangga (dongan

Mangharoani adalah upacara yang dilakukan setelah bayi lahir berusia satu hari. Upacara ini dibuat dengan spontan dan seadanya, karena keluarga yang baru melahirkan hanya menyediakan jamuan seadanya untuk para tetangga (dongan

Dokumen terkait