BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.7 Metode Analisis Multikriteria
Tahapan-tahapan dalam analisis multikriteria ditunjukkan pada bagan alir pada Gambar 3.3 sebagai berikut:
Gambar 3.3 Proses Analisis Multikriteria
3.7.1 Kuisioner Responden
Adapun tujuan pokok pembuatan kuisioner adalah :
1. Untuk mendapatkan informasi yang relevan dan tujuan survei. 2. Untuk memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas baik.
Agar kuisioner yang dibuat dapat mencapai sasaran sesuai dengan tujuan maka pertanyaan yang dibuat hendaknya, singkat, tepat, dan sederhana. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan mengambil sampel sebanyak 40 orang. Pengumpulan data dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu:
a) Wawancara kepada 40 orang untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi peningkatan kapasitas jalan.
b) Setelah wawancara kepada stakeholder, langkah selanjutnya yaitu survei dan wawancara kepada stakeholder untuk mengidentifikasi tingkat pengaruh variabel-variabel dengan membandingkan masing-masing variabel secara berpasangan. (Lembar kuesioner ditunjukkan pada Lampiran 1).
3.7.2 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji Validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan mampu untuk mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment ditunjukkan pada Persamaan 3.1.
=
(∑ )(∑ )∑ . (3.1)Kuisioner Responden Uji Validitas danReliabilitas Penyusunan Model Hirarki
Pengolahan Data Kuesioner CR < 10%
Tidak
Ya
Pembobotan Model Hirarki
Pembuatan Usulan Prioritas Analisis Faktor
Dimana :
r_ϰy = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y.
ϰ = deviasi dari mean untuk nilai variabel X y = deviasi dari mean untuk nilai variabel Y
∑ϰ.y = jumlah perkalian antara nilai X dan Y ϰ^2 = Kuadrat dari nilai ϰ
y^2 = Kuadrat dari nilai y
Uji Validitas dihitung dengan membandingkan nilai r hitung (correlated item-total correlation) dengan nilai r tabel. Jika r hitung > r tabel dan nilai positif maka butir atau pertanyaan tersebut dinyatakan valid (Ghozali, 2005).
Uji Reliabilitas adalah data untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Kehandalan yang menyangkut kekonsistenan jawaban jika diujikan berulang pada sampel yang berbeda. SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai Cronbach Alpha> 0,60 (Ghozali, 2005). Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha ditunjukkan pada Persamaan 3.2.
CA = . {1 − ∑ } (3.2)
Dimana :
CAxy = Reliabilitas instrumen (Cronbach Alpha) k = Banyaknya pertanyaan dalam butir Si = Varian butir
Stot = Varian total
3.7.3 Penyusunan Model Hirarki
Penyusunan model hirarki dibuat berdasarkan petunjuk literatur yang telah ada, yang terdiri dari 3 (tiga) level dimana tujuan utama pada level 1, level 2 adalah kriteria, level 3 adalah alternatif ruas jalan yang menjadi prioritas. Pendekatan awal
dalam model hirarki pada level 1 adalah menentukan tujuan utama, kemudian pada level 2 adalah kriteria. Sedangkan model hirarki pada level 3 adalah alternatif ruas jalan yang menjadi prioritas. Penentuan prioritas dengan metode ini disusun dalam matriks perbandingan berpasangan dan dengan perhitungan matriks normalisasi.
Gambar 3.4 Model Hirarki
3.7.4 Pengolahan Data Kuisioner
Data kuisioner selanjutnya diolah dengan mengunakan aplikasi Microsoft Excel untuk menentukan prioritas penanganan jalan yang efektif dan efisien. Setelah satu persatu kuisioner yang diisi oleh 40 ahli di bidang penanganan jalan nasional lalu dilakukan perhitungan rata dengan menggunakan rumus rata-rata geometric ( geometric mean ) :
= … . (3.3)
Dimana :
GM = Geometric Mean x1 = Penilaian orang ke-1
Prioritas Penanganan Jalan (Peningkatan Kapasitas Jalan)
Tingkat Kerusakan Jalan Lalu lintas Harian Rata Tingkat Kekasaran Jalan Tingkat Pelayanan Jalan Kemiringan Tanah Tata Guna Lahan Kecepatan Arus Bebas 1. Ruas jalan A 2. Ruas jalan B 3. Ruas Jalan C 4. ………
xn = Penilaian orang ke-n n = Jumlah responden
3.7.5 Pembobotan Model Hirarki
Analisis yang dipakai untuk menentukan pilihan dengan menggunakan metode penilaian dan pembobotan terhadap beberapa kriteria yang mempengaruhi pengambil keputusan dalam membuat keputusan.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat matriks berpasangan, yaitu elemen-elemen dibandingkan berpasangan terhadap kriteria yang telah ditentukan. Dalam mengisi matriks berpasangan digunakan skala banding untuk menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen di atas yang lainnya.
Selanjutnya di dalam pengambilan keputusan, perlu didasarkan atas pertimbangan dengan tingkat konsistensi yang wajar, dimana rasio konsistensi yang wajar harus digunakan pada proses analisis multikriteria iniadalah <0,10. Jika lebih dari 0,10 maka perlu dilakukan perbaikan terutama di dalam melakukan survei kuesioner dan menentukan matriks perbandingan berpasangan.
3.7.6 Analisis Faktor
Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk melakukan uji validitas pada penelitian yaitu menggunakan pearson correlation dan confirmatory factor analysis. Analisis faktor memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan pearson correlation yaitu kemampuannya untuk menghasilkan faktor yang terbebas dari korelasi yang muncul di antara variabel yang diteliti dengan indikator variabel.
Menurut Hendra (2009), penyederhanaan jumlah variabel yang cukup besar menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil dilakukan dengan analisis faktor, yaitu berdasarkan faktor yang sama dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin informasi aslinya.
Asumsi Analisis Faktor adalah:
1. Perlu adanya multikolinearits, yaitu korelasi antar variabel bebasnya harus cukup kuat, misal di atas 0,5;
2. Korelasi parsial (korelasi antar 2 variabel dengan menganggap tetap variabel yang lain) yang terjadi harus kecil. Dalam aplikasi SPSS korelasi parsial ditunjukkan dalam Anti-Image Correlation;
3. Pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar variabel), yang diukur dengan besaran Bartlett Test of Sphericity atau Measure of Sampling Adequacy (MSA);
4. Pada beberapa kasus, asumsi Normalitas dari variabel-variabel atau faktor yang terjadi sebaiknya dipenuhi.
Selain itu perlu diperhatikan angka MSA yaitu berkisar 0 sampai 1 dengan kriteria :
- MSA = 1; variabel dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain - MSA > 0,5; variabel masih bisa diprediksi dan bisa dianalisis lebih lanjut - MSA < 0,5; variabel tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dianalisis lebih
lanjut, atau harus dikeluarkan dari variabel lainnya