• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisa Univariat

2.2 Metode Backward

2.2 Metode Backward

Seleksi variabel dengan menggunakan backward regression merupakan langkah mundur, semua variabel X didasarkan pada nilai t(parsial) terkecil dan turut tidaknya variabel X pada model juga ditentukan oleh nilai F(tabel). Metode backward merupakan metode regresi yang baik karena dalam metode ini dijelaskan perilaku variabel respon dengan sebaik-baiknya dengan memilih variabel penjelas dari sekian banyak variabel penjelas yang tersedia dalam data. Langkah pertama dalam melakukan metode backward adalah membentuk persamaan regresi linier berganda lengkap (Drapper & Smith, 1992).

๐‘ฆ๐‘– = ๐‘0+ ๐‘1๐‘ฅ1๐‘–+ ๐‘2๐‘ฅ2๐‘–+ โ‹ฏ + ๐‘๐‘๐‘ฅ๐‘๐‘–+ ษ›๐‘– (2.8) Keterangan: ๐‘ฆ๐‘– = Variabel terikat ๐‘ฅ1๐‘–, ๐‘ฅ2๐‘–, โ€ฆ , ๐‘ฅ๐‘๐‘– = Variabel bebas ๐‘0, ๐‘1, ๐‘2, โ€ฆ , ๐‘๐‘= Koefisien regresi ษ›๐‘– = Nilai kesalahan

Kemudian setelah membentuk persamaan regresi di atas, menentukan nilai dari t0 (statistik uji) dari masing-masing variabel. ๐‘ก0 = ๐‘๐‘ โˆš(๐ถ๐‘๐‘ )โˆ’1s2 (2.9) ๐› = (๐ฑโ€ฒ๐ฑ)โˆ’1๐ฑโ€ฒ๐ฒ (2.10) Keterangan:

๐‘๐‘ = Koefiesien regresi ke-p

Cpp = diagonal elemen dari (๐ฑโ€ฒ๐ฑ)โˆ’1 yang berkorespondensi dengan ๐‘๐‘

s2 = mean square error

๐› = Vektor koefisien regresi

๐ฑ = Matriks variabel bebas y = vektor variabel terikat

Setelah mengetahui nilai dari t0 maka dilanjutkan dengan menentukan nilai ANOVA. Untuk menentukan nilai ANOVA diperlukan nilai-nilai sebagai berikut (Drapper & Smith, 1992).

๐‘†๐‘†๐‘…๐‘’๐‘”๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘›= โˆ‘ (๐‘ฆฬ‚๐‘› ๐‘–โˆ’๐‘ฆฬ…)2 ๐‘–=1 , (2.11) ๐‘†๐‘†๐ธ๐‘Ÿ๐‘Ÿ๐‘œ๐‘Ÿ= โˆ‘ (๐‘ฆ๐‘› ๐‘–โˆ’๐‘ฆฬ‚๐‘– )2 ๐‘–=1 , (2.12) ๐‘†๐‘†๐‘‡๐‘œ๐‘ก๐‘Ž๐‘™ = โˆ‘ (๐‘ฆ๐‘› ๐‘–โˆ’๐‘ฆฬ… )2 ๐‘–=1 , (2.13)

Nilai ๐‘†๐‘†๐‘‡, ๐‘†๐‘†๐‘‡๐‘Ÿ๐‘’๐‘Ž๐‘ก๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก๐‘ dan ๐‘†๐‘†๐ธ menunjukkan bagaimana ANOVA bekerja. Dimana ๐‘ฆฬ… adalah rata-rata dari variabel respon dan ๐‘ฆฬ‚๐‘– merupakan fit dari variabel respon. Hal ini akan membawa ke analisis statistik yang sesuai untuk menguji hipotesis. Sebelum dilakukan uji hipotesis terhadap nilai F0, terlebih dahulu dilakukan perhitungan untuk nilai MSTreatments dan MSE seperti persamaan di bawah ini.

๐‘€๐‘†๐‘…๐‘’๐‘”๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘›= ๐‘†๐‘†๐‘…๐‘’๐‘”๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘›

๐‘ , (2.14)

๐‘€๐‘†๐ธ๐‘Ÿ๐‘Ÿ๐‘œ๐‘Ÿ= ๐‘†๐‘†๐ธ

๐‘›โˆ’๐‘โˆ’1, (2.15)

Dimana nilai F0 adalah nilai Fhitung pada pengujian serentak yang dapat dituliskan seperti persamaan berikut ini.

๐น0 = ๐‘€๐‘†๐‘…๐‘’๐‘”๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘›

๐‘€๐‘†๐ธ๐‘Ÿ๐‘Ÿ๐‘œ๐‘Ÿ , (2.16)

Keterangan :

SST = Jumlah Kuadrat Total

13

SSE = Jumlah Kuadrat Error

๐‘€๐‘†๐‘…๐‘’๐‘”๐‘Ÿ๐‘’๐‘ ๐‘ ๐‘–๐‘œ๐‘› = Mean Square for Regression MSE = Mean Square Error

n = Total sampel

p = Jumlah variabel

Selanjutnya dilakukan pemilihan terhadap variabel pertama yang keluar dari model yang didapat pada nilai F(parsial)

terkecil. Untuk menentukan apakah variabel xp keluar dari model regresi atau tidak, maka nilai ๐‘ก0dibandingkan dengan nilai t(tabel)

dengan hipotesis sebagai berikut (Drapper & Smith, 1992). H0 : ๐‘๐‘= 0

H1 : ๐‘๐‘โ‰  0

Keputusan :

Jika ๐‘ก0< ttabel maka tolak H0

Jika ๐‘ก0โ‰ฅ ttabel maka gagal tolak H0

Setelah melakukan langkah-langkah di atas selanjutnya kembali membentuk persamaan regresi linier berganda untuk melakukan seleksi variabel berikutnya (Drapper & Smith, 1992). 2.3 Analisa Multivariat

Analisis multivariat merupakan analisis statistika pada data yang terdiri dari banyak variabel dan antar variabel saling berhubungan. Konsep dasar dari analisis multivariat adalah variabel harus berkorelasi dengan variabel lainnya dan data berdistribusi normal multivariat (Johnson & Wichern, 2007). 2.3.1 Uji Matriks Korelasi

Variabel random X1, X2,โ€ฆ,Xp merupakan variabel karakteristik kualitas pada penelitian ini yang akan dicari hubungan antar variabelnya. Uji Bartlett bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat homogenitas varians antar variabel

dalam kasus multivariat. Jika variabel X1, X2,โ€ฆ,Xp bersifat saling bebas, maka matriks korelasi antar variabel sama dengan matriks identitas. Untuk menguji kebebasan antarvariabel, dapat dilakukan uji Bartlett sphericity. Uji Bartlett sphericity dapat dinyatakan dalam hipotesis sebagai berikut:

H0 : R = I H1 : Rโ‰  I Statistik Uji :

๐œ’2= โˆ’ [๐‘› โˆ’ 1 โˆ’2๐‘+56 ] ln |๐‘|,

(2.17) dimana n adalah jumlah observasi, sedangkan p adalah jumlah variabel, dan R adalah matrik korelasi dari masing-masing variabel, serta ๐œ’(ฮฑ;1

2p(pโˆ’1))

2 adalah nilai distribusi chi-square. Adapun persamaan dari matriks korelasi adalah sebagai berikut.

R =

๏ƒบ

๏ƒบ

๏ƒบ

๏ƒบ

๏ƒบ

๏ƒป

๏ƒน

๏ƒช

๏ƒช

๏ƒช

๏ƒช

๏ƒช

๏ƒซ

๏ƒฉ

1

1

1

2 1 2 21 1 12

๏Œ

๏

๏

๏

๏

๏Œ

๏Œ

p p p p

r

r

r

r

r

r

,

(2.18) ๐‘Ÿ๐‘—โ„Ž= โˆ‘๐‘›๐‘–=1(๐‘ฅ๐‘–๐‘—โˆ’๐‘ฅฬ…๐‘—)(๐‘ฅ๐‘–โ„Žโˆ’๐‘ฅฬ…โ„Ž) โˆšโˆ‘ (๐‘ฅ๐‘›๐‘–=1 ๐‘–๐‘—โˆ’๐‘ฅฬ…๐‘—)2(๐‘ฅ๐‘–โ„Žโˆ’๐‘ฅฬ…โ„Ž)2, (2.19)

dimana :

๐‘Ÿ๐‘—โ„Ž = nilai korelasi antara variabel ke-j dan variabel ke-h i = sampel variabel ke-i (i=1,2,...,n)

n = jumlah observasi

๐‘ฅ๐‘–๐‘— = sampel variabl ke-i (i=1,2,...,n) dan variabel ke-j (j=1,2,...,p)

15

๐‘ฅฬ…โ„Ž = rata-rata sampel variabel ke-h (h=1,2,...,p)

๐‘ฅฬ…๐‘— = rata-rata sampel variabel ke-j (j=1,2,...,p) R = matriks korelasi dari masing-masing variabel

Jika ditetapkan tingkat signifikansi ฮฑ sebesar 0,05, maka

H0 ditolak jika nilai ๐œ’โ„Ž๐‘–๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘”2 > ๐œ’(ฮฑ;1 2p(pโˆ’1))

2 dengan derajat bebas sebesar 12๐‘(๐‘ โˆ’ 1) atau dapat disimpulkan bahwa variabel tidak berkorelasi (Morrison, 1990).

2.3.2 Distribusi Normal Multivariat

Salah satu asumsi yang harus dipenuhi untuk melakukan pengendalian kualitas menggunakan diagram kendali multivariat adalah data berdistribusi normal multivariat. Variabel

p

X X

X1, 2,..., dikatakan berditribusi normal multivariat dengan

parameter ๐ dan ๐šบ jika mempunyai probability density function :

๐‘“(๐‘ฅ) = (2๐œ‹)๐‘/21|๐šบ|1/2๐‘’โˆ’12(๐’™โˆ’ยต)โ€ฒ๐šบโˆ’๐Ÿ(๐’™โˆ’ยต) (2.20)

Jika X1,X2,...,Xpberdistribusi normal multivariat, maka

) ( )'

(x๏€ญฮผ ฮฃ๏€ญ1 x๏€ญฮผ berditribusi

๏ฃ

2p. Berdasarkan sifat ini maka pemeriksaan distribusi normal multivariat dapat dilakukan dengan cara membuat q-q plot dari nilai di2๏€ฝ

๏€จ

xi๏€ญx)'S๏€ญ1(xi๏€ญx

๏€ฉ

,i๏€ฝ1,...,n.

Pembuatan q-q plot dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut (Johnson & Wichern, 2007)

1. Menentukan nilai vektor rata-rata : x

2. Menentukan nilai matriks varians-kovarians : S 3. Menentukan nilai jarak Mahalanobis setiap titik

pengamatan dengan vektor rata-ratanya

๏€จ ๏€ฉ

i n di2 ๏€ฝ i๏€ญ )' ๏€ญ1( i ๏€ญ , ๏€ฝ1,..., x x S x x 4. Mengurutkan nilai 2 i

d dari kecil ke besar :

2 ) ( 2 ) 3 ( 2 ) 2 ( 2 ) 1 ( d d ... dn d ๏‚ฃ ๏‚ฃ ๏‚ฃ ๏‚ฃ

5. Menentukan nilai i n n

i

pi ๏€ฝ ๏€ญ1/2, ๏€ฝ1,...,

6. Menentukan nilai qi sedemikian hingga

i i q p d f ๏€ฝ

๏ƒฒ

๏‚ฅ ๏€ญ 2 2 ) (๏ฃ ๏ฃ

7. Membuat scatterplot

d

(2i)dengan qi

Jika scatterplot ini cenderung membentuk garis lurus dan nilai

d

(2i) kurang dari

๏ฃ

2pberada di sekitar 50 %, maka dapat

dikatakan bahwa data berdistribusi normal multivariat. 2.3.3 Diagram Kendali Generalized Variance

Pengendalian kualitas terhadap variansi proses sama pentingnya dengan pemantauan rata-rata. Peta kendali Generalized Variance digunakan untuk mengendalikan variansi dari proses. Peta kendali ini dikemukakan oleh Maman A. Djauhari (2010) yang didasarkan pada selisih antar vector pengamatan secara berturut-turut. Diketahui nilai plot statistik F sebagai berikut.

๐น = โˆš๐‘‡๐‘Ÿ(๐‘ซ2) ,

(2.21) dimana D = SSn+1 - SSn sedangkan SSkdiketahui adalah matriks dengan k = n dan k = n + 1 sebagai berikut.

๐‘บ๐‘บ๐’Œ = โˆ‘ (๐’™๐’Œ ๐’Šโˆ’ ๐’™ฬ…๐’Œ)

๐’Š=๐Ÿ (๐’™๐’Šโˆ’ ๐’™ฬ…๐’Œ)๐’•, (2.22) dimana ๐‘ฅฬ…๐‘˜= 1

๐‘˜โˆ‘๐‘˜ ๐‘ฅ๐‘–

๐‘–=1 . Sementara itu batas kendali dari peta Generalized Variance individu BKA pada fase 1 adalah sebagai berikut.

๐‘๐‘ฅ๐‘Ÿ2dengan ๐‘ =๐‘‡๐‘Ÿ(๐‘†๐‘›2)

๐‘‡๐‘Ÿ(๐‘†๐‘›) dan ๐‘Ÿ ={๐‘‡๐‘Ÿ(๐‘†๐‘›)}2

17

Sementara itu untuk Batas Kontrol Bawah (BKB) = 0. Jika nilai statistik plot jatuh di atas BKA maka dapat dinyatakan proses tidak terkontrol. Matriks kovarian pada peta Generalized Variance fase 1 mengacu pada Montgomery (2009) yakni

๐‘† =12(๐‘šโˆ’1)๐‘‰โ€ฒ๐‘‰ , (2.24) dimana, ๐‘‰ = [ ๐‘ฃ1โ€ฒ ๐‘ฃ2โ€ฒ โ‹ฎ ๐‘ฃ๐‘šโˆ’1โ€ฒ ] = [ (๐‘ฅ2โˆ’ ๐‘ฅ1)โ€ฒ (๐‘ฅ3โˆ’ ๐‘ฅ2)โ€ฒ โ‹ฎ (๐‘ฅ๐‘–+1โˆ’ ๐‘ฅ๐‘–)โ€ฒ ] dengan i= 1,2โ€ฆ,m-1 (2.25)

Sedangkan batas kendali peta Generalized Variance individu BKA pada fase 2 adalah sebagai berikut.

๐‘๐‘ฅ๐‘Ÿ2dengan ๐‘ =๐‘‡๐‘Ÿ(ฦฉ๐‘‡๐‘Ÿ(ฦฉ)2) dan ๐‘Ÿ ={๐‘‡๐‘Ÿ(ฦฉ)}๐‘‡๐‘Ÿ(ฦฉ2)2, (2.26) Sementara itu Batas Kontrol Bawah (BKB) = 0. Jika nilai statistik plot jatuh di atas BKA maka dapat dinyatakan proses tidak terkontrol. Matriks kovarian pada peta Generalized Variance fase 2 didapatkan dari nilai matriks kovarian pengamatan fase 1 yang telah terkendali, yaitu peta kendali Generalized Variance fase 1 yang telah terkendali.

2.3.4 Diagram Kendali T2 Hotelling

Diagram kendali T2 Hotelling adalah suatu diagram yang digunakan untuk mengetahui apakah mean proses produksi terkendali secara statistik atau tidak, dimana terdapat dua atau lebih karakteristik kualitas yang saling berhubungan. Karakteristik kualitasnya terdiri dari p variabel, yaitu X1,X2,....,Xp

. Diagram kendali multivariat dengan pengamatan individu dijumpai pada produksi dengan subgroup n=1, m sampel pengamatan, dan p adalah jumlah karakteristik kualitas (Rao,

Subbaiah, Rao, & Rao, 2013). Nilai statistik pada diagram kendali T2 Hotelling dengan pengamatan individu adalah.

๐‘‡๐‘–2= (๐‘ฅ๐‘–๐‘—โˆ’ ๐‘ฅฬ…๐‘—)๐‘‡๐‘†2โˆ’1(๐‘ฅ๐‘–๐‘—โˆ’ ๐‘ฅฬ…๐‘—), (2.27) Dimana,

๐‘ฅ๐‘–๐‘— = sampel vektor pengamatan ke-i

๐‘ฅฬ…๐‘— = vektor rata-rata tiap variabel kualitas

๐‘†2โˆ’1 = matriks varians kovarians dengan successive difference diagram kendali T2

Hotelling individu dihitung dengan rumus,

๐‘†2=12(๐‘šโˆ’1)๐‘‰โ€ฒ๐‘‰ , (2.28) dimana, ๐‘‰๐‘– = [ ๐‘ฃ1โ€ฒ ๐‘ฃ2โ€ฒ โ‹ฎ ๐‘ฃ๐‘šโˆ’1โ€ฒ ] = [ (๐‘ฅ2โˆ’ ๐‘ฅ1)โ€ฒ (๐‘ฅ3โˆ’ ๐‘ฅ2)โ€ฒ โ‹ฎ (๐‘ฅ๐‘–+1โˆ’ ๐‘ฅ๐‘–)โ€ฒ ] dengan i= 1,2โ€ฆ,m-1 (2.29)

Dengan ๐‘‰๐‘–adalah vektor selisih antara vektor data ke-i dan vektor data ke-i+1. Batas Kendali Atas (BKA) dan Batas Kendali Bawah (BKB) fase I untuk diagram kendali T2 Hotelling pengamatan individu adalah sebagai berikut.

๐ต๐พ๐ด =(๐‘š โˆ’ 1)๐‘š 2๐›ฝ๐›ผ,๐‘/2,(๐‘šโˆ’๐‘โˆ’1)/2 (2.30)

๐ต๐พ๐ต = 0 (2.31)

Sedangkan batas kendali untuk fase II adalah sebagai berikut (Montgomery, 2009).

๐ต๐พ๐ด =๐‘(๐‘š + 1)(๐‘š โˆ’ 1)๐‘š2โˆ’ ๐‘š๐‘ ๐น๐›ผ,๐‘/2,๐‘šโˆ’๐‘ (2.32)

19

Dokumen terkait