• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan ikan nila mampu menghasilkan endapan limbah padat berkisar antara 15,4 – 19,0 %

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah Budidaya Ikan

Ada sebagian dari pakan tidak bisa digunakan dalam sistem atau tidak dikonsumsi. Pakan yang dikonsumsi sebagian diubah menjadi biomassa ikan dan sebagian dikeluarkan sebagai amonium atau sebagai feses. Seperti terlihat pada Gambar 1, pakan yang tidak termakan dan feses berkontribusi terhadap beban bahan organik dari sistem. Mikroba mendekomposisi bahan organik dalam sistem sehingga menyebabkan peningkatan nilai TAN (Total Ammonia Nitrogen) dan nitrit, keduanya berbahaya bagi ikan bahkan pada konsentrasi rendah. Kehadiran TAN dalam sistem dapat berubah menjadi nitrit, nitrat dan gas nitrogen. Pembentukan gas nitrogen dianggap diabaikan di kolam budidaya perikanan. Bakteri hadir dalam air dan sedimen melakukan transformasi nitrogen melalui nitrifikasi dan denitrifikasi. Baik TAN dan nitrat dapat diasimilasikan oleh fitoplankton, yang hadir dalam kolom air. Fitoplankton ini dapat dikonsumsi oleh organisme berbudaya. Di kolam air tenang TAN cenderung terakumulasi dalam sistem karena tidak cukupnya aktivitas nitrifikasi (Crab et al., 2007).

II. METODE PENELITIAN

Nitrogen (N) memainkan peran penting dalam dinamika sistem akuakultur karena berperan ganda, (dalam berbagai bentuk), sebagai nutrisi dan racun. Dinamika N dalam budidaya intensif telah banyak dipelajari dengan menggunakan model matematis, misalnya hasil penelitian yang menunjukkan bahwa yang diserap oleh fitoplankton dan sedimentasi berikutnya adalah proses kunci dalam dinamika N di tambak yang beroperasi pada pergantian air yang rendah, namun diabaikan remineralisasi dari N sedimen. Sebagian besar N-input yang tidak dimasukkan ke dalam jaringan udang akan memasuki kolom air sebagai TAN yang kemudian diambil oleh fitoplankton dan mengendap di sedimen sebagai partikulat N organik. Hal ini menciptakan tumpukan lumpur anoxic dengan beban organik tinggi. Bagian dari lumpur N diremineralisasi sehingga nantinya akan masuk ke dalam kolom air lagi sebagai TAN. (Burford dan Lorenzen 2004).

Menurut Rafiee dan Saad (2005), limbah terus terakumulasi sementara pakan terus ditambahkan dalam sistem budidaya ikan. Limbah Terutama terdiri dari feses, makanan yang tidak termakan, dan biomassa bakteri yang organik dan kaya nutrisi. Total padatan terlarut (TDS) dihasilkan karena pencucian pakan dan degradasi feses oleh bakteri. Total suspended solid (TSS), termasuk feses dan biomassa bakteri, biasanya dipisahkan dari air oleh unit pemisahan padat, yang kemudian dibuang dari sistem budaya dalam bentuk lumpur. Limbah ini, di satu sisi, dapat berdampak negatif terhadap lingkungan yang berdekatan karena pelepasan limbah ke daerah sekitarnya. Di sisi lain, limbah budidaya dapat digunakan untuk irigasi dan pupuk tanaman darat dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dalam lahan pertanian.

Formulasi pakan lengkap diterapkan pada sistem budidaya ikan yang intensif, pada akhirnya menghasilkan sejumlah besar limbah organik. Jadi pemberian pakan yang teratur dan pemupukan teratur pada kolam akan menghasilkan akumulasi bahan organik, nitrogen (N) dan fosfor (P) dalam sedimen. Akumulasi bahan organik yang berlebihan tidak hanya mengurangi kedalaman kolam dan ruang yang tersedia untuk ikan, tetapi juga membuat lingkungan air yang kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Suhu sangat berfluktuasi pada kolam dengan kedalaman air yang dangkal. Selanjutnya,

peningkatan deposisi bahan organik meningkatkan aktifitas mikroba, sehingga meningkatkan permintaan oksigen yang mengakibatkan menipisnya oksigen terlarut dalam air kolam, yang membuat lingkungan kolam tidak menguntungkan bagi kehidupan air, dan ikan akan menjadi stres dan rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, pemeliharaan volume kolam dan lingkungannya dengan penghilangan sedimen adalah langkah yang kondusif untuk produksi ikan. Dua isu-isu kunci yang muncul dengan pemindahan sedimen adalah tempat pembuangan sedimen dan sisa dari sejumlah besar nutrisi yang tertanam dalam sedimen (Mizanur, Yakupitiyage dan Ranamukhaarachchi 2004).

Makanan yang dikonsumsi oleh ikan akan dicerna, dan bagian yang tercerna akan diserap oleh dinding usus. Namun dalam proses pencernaan tidak semua komponen makanan yang dimakan dapat dicerna menjadi bahan yang dapat diserap, sebab selalu ada bagian yang tidak dapat dicerna yang akan dikeluarkan dari tubuh ikan dalam bentuk feses. Feses ikan mengandung 80-85% air dan 15-20% bahan padat (organik dan mineral). Kandungan nutrien dalam makanan yaitu protein 46,6 % dan lemak 11,4%, sedangkan dalam feses menjadi 21,1% protein, dan 1,1% lemak (Affandi et al., 2005).

Pertumbuhan dan Perkembangan Daphnia sp.

Daphnia sp. mempunyai bentuk tubuh lonjong, pipih dan beruas-ruas yang tidak terlihat. Pada kepala bagian bawah terdapat moncong yang bulat dan tumbuh lima pasang alat tambahan. Alat tambahan pertama disebut Antennula, sedangkan yang ke dua disebut antenna yang mempunyai fungsi pokok sebagai alat gerak. Tiga lainnya merupakan alat tambahan pada bagian mulut. Perkembangbiakan Daphnia sp. yaitu secara asexual atau parthenogenesis dan secara sexual atau kawin. Perkembangbiakan secara parthenogenesis sering terjadi, dengan menghasilkan individu muda betina. Telur dierami di dalam kantong pengeraman hingga menetas. Anak Daphnia sp. dikeluarkan pada saat pergantian kulit. Pada kondisi perairan yang baik, disamping individu betina dihasilkan pula individu jantan. Pada saat kondisi perairan yang tidak menguntungkan, individu betina menghasilkan 1 -2 telur istirahat atau epiphium yang akan menetas saat kondisi perairan baik kembali (Gambar 2). Daphnia sp.

mulai berkembang biak pada umur lima hari, dan selanjutnya setiap selang waktu satu setengah hari akan beranak lagi (Darmanto et al., 2000).

Gambar 2. Siklus hidup Daphnia sp. (Ebert 2005).

Filter Feeder Non Selektif

Menurut Ebert (2005), nama dalam bahasa Inggris untuk Daphnia sp. adalah waterflea, berasal dari perilaku seperti-melompat yang ditunjukkan saat berenang. Perilaku ini berasal dari hentakan antena besar, yang mereka gunakan untuk mengarahkan diri melalui air. Daphnia sp. memakan partikel kecil yang tersuspensi di dalam air. Daphnia sp. adalah suspensi feeder (filter feeder). Makanan dikumpulkan dengan bantuan alat penyaringan, yang terdiri dari phylopods, yang pipih seperti kaki daun yang menghasilkan arus air (Gambar 3). Daphnia sp. mengumpulkan partikel yang kemudian ditransfer ke dalam alur makanan dengan bantuan setae khusus. Mekanisme makan yang sangat efisien sehingga bakteri bisa dikumpulkan, makanan yang umum terdiri dari alga plankton. Ganggang hijau adalah salah satu makanan terbaik, dan percobaan laboratorium yang paling sering dilakukan dengan Scenedesmus atau

Chlamydomonas. Daphnia sp. biasanya mengkonsumsi partikel dari sekitar 1 µm sampai 50 µm, meskipun partikel dengan diameter hingga 70 µm dapat ditemukan dalam isi usus pada individu yang besar (Gambar 4).

Gambar 3. Visualisasi mekanisme makan pada Daphnia sp.

Kiri : visualisasi aliran yang dihasilkan pada proses memakan, dimana (A) Daphnia sp. (1)-titik masuknya aliran, (2) arah keluar, dan (3a/b) & Gelombang berulang atau fluks dalam air yang dihasilkan pada mekanisme makan.

Kanan: Visualisasi gambar pada dua kondisi yang berbeda dengan: (A) hentakan Daphnia sp. lebih teratur ketika tidak ada makanan; dan (B) lebih dinamis hentakannya ketika ada makanan.

Pengamatan perubahan pada selisih ukuran mesh (filter) selama pertumbuhan tubuh dapat dijelaskan dengan proses molting dari filter comb. Selama proses molting, setae baru terbentuk di dalam setae awal. Masing-masing setae menarik keluar dari bentuk yang lama, yang konstan dalam jumlahnya. Jarak setae memperbesar seiring dengan pertumbuhan tubuh. Saat setulae tidak ditarik keluar dari setulae sebelumnya, maka jumlah setulae bersifat independen jika dibandingkan dengan jumlah setulae pada molting sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan jumlah setulae dapat bervariasi dari satu tahap molting ke tahap molting berikutnya.

Gambar 4. Relung makanan hewan dewasa pada sebelas spesies cladoceran terkait dengan ukuran makanan: kisaran efisiensi penyaringan tinggi ditunjukkan dengan kotak tebal, rentang transisi ditunjukkan oleh bar tipis (Geller dan Mtiller 1981).

Gambar 5. Molting filter combs pada Daphnia hyalina; setae baru dengan pinggiran setulae ditarik keluar dari setae sebelumnya.

Oksigen

Menurut Homer dan Waller (1983), penelitian pengaruh oksigen terhadap Daphnia sp. terutama mengetahui pengaruhnya pada tingkat penyaringan dan fungsi hemoglobin. Pemaparan Daphnia sp. pada DO rendah pada awalnya mengakibatkan tingkat penyaringan tertekan kemudian diikuti dengan produksi hemoglobin. Spesies Cladocera dapat bertahan pada kondisi konsentrasi oksigen

kurang dari 1 mg/l. Namun akan mempengaruhi reproduksi baik jumlah anakan maupun waktu pertama kali menghasilkan anakan seperti terlihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Data Reproduksi dari Daphnia magma yang dipaparkan pada beberapa konsentrasi oksigen terlarut

Konsentrasi DO (mg/l) n (Jumlah organisme) Jumlah anakan pertama (ekor) Pertamakali menghasilkan anakan (hari)

Rerata St. Deviasi Rerata St. Deviasi

1,8 17 7,9 2,9 10,5 1,3

2,7 18 8,7 2,0 9,0 0,0

3,7 18 10,7 2,2 8,9 0,5

7,6 18 10,1 3,0 9,1 0,9

Daphnia sp. meningkatkan sintesis hemoglobin ketika kondisi oksigen rendah. Peningkatan kadar hemoglobin memperpanjang kelangsungan hidup, meningkatkan kemampuan berenang dan aktivitas makan, mempercepat perkembangan telur. Spesies Daphnia dapat bervariasi dalam kemampuan untuk mensintesis hemoglobin. Perbedaan ini tidak selalu dikaitkan dengan berbagai tingkat stres oksigen di alam. Seringkali, dua spesies dari habitat yang sama memperlihatkan perbedaan dalam konten hemoglobin. Ada tiga penjelasan untuk fenomena ini. Pertama, perbedaan perilaku mungkin memisahkan dua spesies secara spasial seperti kondisi oksigen yang berbeda. Kedua, perbedaan fisiologis, seperti pada tingkat metabolisme, mungkin merangsang satu spesies untuk memproduksi hemoglobin lebih atau kurang dari yang lain. Ketiga, meskipun dua spesies mungkin menempati mikrohabitat yang sama dan memiliki physiologies yang sama, ada kemungkinan terdapat perbedaan yang melekat, yaitu genetik yang mempengaruhi kemampuan untuk menanggapi oksigen rendah (Engle 1985).

Temperatur

Pengaruh peningkatan suhu pada organisme air (Daphnia sp.), ketika suhu dinaikkan hingga 6o C dan lebih tinggi sekitar (16 o C), Daphnia sp. menjadi lebih aktif, meningkatkan tingkat bernapas dan detak jantung serta menyesuaikan diri dengan massa tubuh lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil (Gambar 6).

Kebutuhan akan oksigen lebih karena peningkatan metabolisme dipenuhi melalui peningkatan sintesis hemoglobin (Hb), respirasi, detak jantung, dan lain-lain. Bahan bakar bisa datang dari peningkatan asupan makanan dan mobilisasi lemak yang tersimpan dalam lemak sel. Peningkatan pemanfaatan bahan bakar makanan untuk menyediakan energi untuk peningkatan aktivitas Daphnia sp. mengurangi berat badan dan ukuran. Pengaruh negatif dari suhu dan faktor lain pada fisiologi organisme rantai makanan perairan dapat mempengaruhi keseluruhan ekosistem. Misalnya, penurunan ukuran tubuh selama beberapa generasi dapat mengubah dinamika trofik dari rantai makanan air tawar (Khan dan Khan 2008).

Gambar 6. Berat tubuh dan laju respirasi Daphnia sp. sebagai penyesuaian diri pada berbagai suhu.

Nilai pH

Efek berbahaya dari faktor abiotik penting seperti pH atau substansi yang toksik akan berpengaruh lebih kuat pada kondisi tingkat makanan yang rendah karena mereka biasanya bertindak melalui ketidakmampuan organisme untuk menjaga kecukupan asupan makanan dan asimilasi untuk membayar respirasi yang meningkat. Jumlah neonates yang dihasilkan berkurang 50-80% karena degenerasi telur dan kematian pada kisaran pH antara 10,0 - 10,5. Efek pH pada telur dan viabilitas neonatus di habitat alam mungkin akan lebih besar dari pengamatan laboratorium. Beberapa penelitian telah melaporkan adanya degenerasi telur pada populasi cladocerans di kondisi alam, namun tidak ada dari studi ini yang menyatakan pH tinggi dianggap faktor yang mungkin sebagai penyebab kematian ini. Namun penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan

bahwa pH tinggi secara substansial dapat mengurangi kelangsungan hidup telur dan kebugaran zooplankton microcrustacean. Nilai pH > 10,0 umumnya ditemukan pada perairan eutrofik dan hipertrofik. Oleh karena itu, pengaruh pH tinggi pada dinamika populasi dan komposisi komunitas dari microcrustacean zooplankton mungkin jauh lebih penting daripada yang telah diasumsikan (Vijverberg, Kalf dan Boersma 1996).

Amonia (NH3)

Menurut Reinbold dan Pescitelli (1990), Daphnia magna kurang sensitif terhadap ammoniak dalam kedua tes efek akut dan subletal dari pada beberapa jenis ikan yang diuji. Konsentrasi amonia tidak terionisasi terendah ditemukan menyebabkan efek negatif bagi daphnids adalah 1,3 mg/l, sedangkan efek pada ikan terjadi pada konsentrasi serendah 0,05 mg/l. Pertumbuhan Daphnia sp. seperti yang ditunjukkan oleh panjang, secara signifikan berkurang pada konsentrasi uji tertinggi 1,3 mg/l NH3-N. Panjang rata-rata pada kontrol dan pada konsentrasi tinggi adalah 3,52 dan 3,02 mm. Reproduksi juga terpengaruh oleh adanya ammonia (NH3) pada konsentrasi 1.3 mg/l. Anakan pertama diproduksi pada hari ke 7 pada semua perlakuan kecuali konsentrasi tertinggi, di mana ditemukan sampai hari ke 9. Jumlah rata-rata anakan/individu dewasa yang signifikan lebih rendah pada konsentrasi 1.3 mg/l yaitu 6,4 anakan/indv daripada perlakuan kontrol (24,6 anakan/indv). Reproduksi dalam kontrol dibandingkan pada konsentrasi perlakuan lainnya tidak berbeda nyata (Tabel 2).

Tabel 2. Kelangsungan hidup, pertumbuhan dan reproduksi dari Daphnia magna pada uji toksisitas kronis ammonia. Un-ionized ammonia terukur dalam mg/l Ammonia (NH3) Kelangsungan Hidup (%) Panjang rata-rata (mm) Pertamakali menghasilkan anakan (hari) Rata-rata anakan per individu Kontrol 86 3,52 7 24,6 0,16 91 3,57 7 21,7 0,28 86 3,61 7 22,7 0,47 100 3,73 7 29,0 0,79 73 3,49 7 20,8

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi dan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan dari bulan April 2011 sampai bulan Juni 2011.

Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam empat tahap. Tahap I untuk mengukur produksi endapan limbah padat dari budidaya ikan nila baik kuantitas, kualitas serta kontinyuitasnya. Tahap II untuk menganalisa pengaruh pemberian limbah padat terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan fekunditas Daphnia sp. Tahap III dilakukan untuk menganalisa pekembangan populasi Daphnia sp. dan

dinamika kualitas air. Sedangkan tahap IV untuk menganalisa kualitas Daphnia sp. yang dihasilkan.

Tahap I : Limbah padat budidaya ikan nila

Ikan nila dengan bobot awal 8,4 g, dipelihara dalam wadah pemeliharaan dengan volume air 60 liter sebanyak 5 buah dengan padat tebar 1 ekor/3 liter dan diberi pakan komersil secara at satiation selama 7 hari dan dicatat penggunaan pakan per harinya. Pengambilan endapan limbah padat dilakukan setiap hari mulai pada hari ketiga melalui saluran pembuangan limbah padat sebanyak kurang lebih 100 ml, kemudian air dibuang dan endapan dikeringkan di bawah sinar matahari (2 s/d 3 hari). Limbah padat tersebut kemudian di timbang untuk kemudian dilakukan uji proksimat sehingga didapatkan data persentase endapan limbah padat yang dihasilkan dan kandungan nutrisinya, menurut perhitungan berikut :

Per sentase endapan limbah padat = x 100% Kualitas air juga diukur dan parameter yang diamati meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, amonium dan Total amonia Nitrogen (TAN), diukur

setiap dua hari sekali selama penelitian. Di akhir penelitian dilakukan pengukuran bobot ikan, jumlah ikan dan jumlah pakan sampai hari terakhir penelitian untuk menghitung laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan konfersi pakan menggunakan rumus dibawah ini :

Laju pertumbuhan bobot ikan harian dihitung berdasarkan rumus :         t 1 wo wt x 100 dengan:

 = laju pertumbuhan bobot ikan harian (%) wt = bobot rata-rata ikan pada waktu t (g) wo = bobot rata-rata ikan pada waktu t0 (g) t = lama percobaan (hari)

Food Conversion Ratio (Rasio Konversi Pakan) dihitung menurut rumus : FCR = D Wo Wt F   ) ( dengan :

FCR = Food Conversion Ratio (Rasio Konversi Pakan) F = Jumlah total pakan (g)

Wt = Bobot total ikan akhir pemeliharaan (g) Wo = Bobot total ikan awal pemeliharaan (g)

D = Bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (g)

Kelangsungan hidup SR = No Nt x 100 dengan : SR = Kelangsungan hidup (%)

Nt = Jumlah udang pada waktu t (ekor)

Tahap II : Uji Respon pada Individu Daphnia sp.

Penelitian terdiri dari 4 perlakuan, masing-masing diulang sebanyak sepuluh kali menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian beberapa takaran endapan limbah padat budidaya ikan nila yang sudah dikeringkan, terdiri dari :

a. 0 gr/liter b. 2 gr/liter c. 4 gr/liter, dan d. 6 gr/liter Prosedur Penelitian Tahap persiapan

Daphnia sp. yang diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Bogor-Jawa Barat diencerkan agar kepadatan tidak terlalu tinggi, kemudian dituangkan ke dalam cawan petri dan diamati di bawah mikroskop. Daphnia sp. dewasa diambil dengan bantuan pipet tetes dan dimasukkan dalam wadah pengembangan yang telah dicuci dan dikeringkan, kemudian diisi air tawar sebanyak ± 10 liter. Pemberian pakan Daphnia sp. menggunakan pakan ikan komersial sebanyak 2 s/d 4 g/l dengan cara dibungkus dengan kain (totoron) dan digantung di dalam media pengembangan tersebut dan diaerasi.

Pelaksanaan Penelitian

Daphnia sp. betina dewasa sebanyak 22 individu yang sehat dengan kantong induk dipilih untuk menghasilkan neonatus (keturunan), kemudian neonatus berumur kurang dari 24 jam dipindahkan ke wadah uji yang berisi air sebanyak 30 ml dengan penambahan limbah padat yang sudah dipersiapkan sebanyak 0, 2, 4 dan 6 g/l untuk diamati kapan dimulainya produksi neonatus, pertumbuhan Daphnia sp. dan kelangsungan hidup (Loh, How, Hii, Khoo dan Ong 2009). Anakan yang dihasilkan dihitung, diukur panjang totalnya di bawah mikroskop dan kemudian dibuang. Pengamatan pertumbuhan dilakukan di bawah mikroskop sekaligus juga dilakukan pengukuran panjang total, helmet, tubuh dan

spine (Gambar 7). Media perlakuan diperbaharui tiap hari. Pengamatan dilakukan untuk didapatkan data kesintasan harian, fekunditas harian dan laju reproduksi bersih seperti tertera pada Tabel 3. Penelitian tahap ini dilakukan selama 14 hari.

Tabel 3. Perhitungan Kesintasan harian, dan Fekunditas Harian, serta Laju reproduksi bersih Daphnia sp. (Soetopo, Aditya dan Indrasari 2007; Loh, How, Hii, Khoo dan Ong (2009).

Perhitungan Rumus Keterangan

Kesintasan harian

(Survivorship, Ix) Ix = x 100%

A = Jumlah Induk yang hidup B = Jumlah Induk awal

C = Jumlah neonate yang lahir Ix = Kesintasan

mx = Fekunditas harian Fekunditas harian

(Age Spesific Fecundity, mx) mx = Laju reproduksi bersih

(Net Reproductive Rate, Ro) Ro = ∑ Ix mx

Morfologi (Stabell, Ogbebo dan Primicerio 2003; Swaffar dan O'Brien 1996)

Gambar 7. Pengukuran panjang Total, helmet, tubuh dan spine

Pengukuran karakter morfologi dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi kamera yang terhubung komputer dengan bantuan software analySIS. Parameter yang diukur adalah panjang helmet (HL), panjang

badan (BL) dan panjang spine (SL). HL diukur sebagai jarak antara margin anterior dari mata majemuk dan ujung helmet (Gambar 7). BL diukur sebagai jarak antara pinggiran bagian belakang titik penyisipan antena kedua dan pinggiran bagian belakang dari karapas. SL diukur dari margin posterior karapas ke ujung tulang belakang.

Untuk menentukan variasi dalam ukuran antara individu, maka data juga disajikan sebagai berikut :

- indeks spine (SI), SI = SL / BL - indeks helmet (HI),

HI = HL / BL

Pertumbuhan panjang rata-rata harian Daphnia sp. kemudian dihitung berdasar rumus berikut (Hülsmann dan Weiler. 2000) :

gL = (Lf – Li) / ∆t (mm/hari)

Dimana :

gL : Pertumbuhan panjang rata-rata harian Lf : Panjang akhir

Li : Panjang awal ∆t : lama pemeliharaan

Tahap III : Uji respon terhadap populasi Daphnia sp.

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian beberapa takaran limbah padat budidaya ikan nila. Faktor Pemberian limbah padat budidaya ikan nila yang berbeda diulang sebanyak empat kali, terdiri dari empat taraf yaitu :

a. 0 gr/liter b. 2 gr/liter c. 4 gr/liter d. 6 gr/liter

Parameter yang diamati adalah Laju Peningkatan Populasi per hari yang dihitung berdasarkan rumus berikut (Johnson dan Havel, 2001) :

r = (ln Nt - ln No) t-1 dengan

r = Laju Peningkatan Populasi per hari Nt = jumlah Daphnia sp. pada saat t

N0 = Jumlah Daphnia sp. pada awal penebaran t = Waktu

Tahap persiapan

Ember plastik berwarna biru dibersihkan dengan menggunakan sabun, dan dikeringkan. Limbah padat yang sudah dipersiapkan pada tahap sebelumnya ditimbang 2 gr, 4 gr dan 6 gr dan dibungkus dengan menggunakan kain. Limbah yang sudah dibungkus tersebut dimasukkan dalam ember yang telah berisi air sebanyak 1 liter. Kemudian 10 ekor Daphnia sp. dimasukkan pada masing-masing ember.

Pelaksanaan Penelitian

Ember-ember tersebut disusun secara acak menggunakan metode RAL. Pemeliharaan dilakukan selama 14 hari atau sampai melewati puncak populasi. Setiap dua hari sekali dilakukan pengamatan terhadap jumlah individu Daphnia sp. Perhitungan kepadatan Daphnia sp. dilakukan menyeluruh dengan cara pengambilan air pada wadah pemeliharaan secara bertahap sehingga dapat dihitung jumlah total Daphnia sp. dalam wadah pemeliharaan serta dapat diketahui kapan mencapai puncak populasi.

Tahap IV : Uji Produksi Daphnia sp.

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah jumlah limbah padat dengan takaran terbaik berdasarkan hasil penelitian tahap III dibandingkan dengan jumlah yang sama kotoran ayam.

Faktor Pemberian jenis pakan yang berbeda, yang terdiri dari dua taraf yaitu :

a. Limbah padat budidaya ikan nila b. Kotoran ayam

Perlakuan diulang sebanyak lima kali ulangan. Pemanenan dilakukan pada puncak populasi berdasar pada hasil penelitian sebelumnya.

Parameter yang diamati adalah jumlah Daphnia sp disaat panen serta kualitas Daphnia sp. yang dihasilkan disaat pemanenan berdasarkan analisis proksimat terhadap kandungan protein, lemak dan karbohidrat.

Tahap persiapan

Ember plastik berwarna biru dibersihkan dengan menggunakan sabun, dan dikeringkan. Limbah padat yang sudah dipersiapkan pada tahap sebelumnya dan kotoran ayam ditimbang sebanyak takaran terbaik berdasarkan hasil penelitian tahap III dan dibungkus dengan menggunakan kain, kemudian dimasukkan dalam ember yang telah berisi air sebanyak 1 liter. Kemudian 10 ekor Daphnia sp. dimasukkan pada masing-masing ember.

Pelaksanaan Penelitian

Ember-ember tersebut disusun secara acak menggunakan metode RAL. Pemeliharaan dilakukan sampai satu hari sebelum waktu mencapai puncak populasi berdasar penelitian tahap III. Kemudian dilakukan pemanenan dan dihitung berat total dan dilakukan analisis proksimat untuk mengetahui kualitas Daphnia sp. yang dihasilkan.

Analisis Data

Data persentase endapan limbah padat yang dihasilkan dibandingkan dengan data hasil estimasi menggunakan uji t untuk mengetahui ketepatan estimasi, sedangkan data yang diperoleh pada penelitian uji terhadap individu Daphnia sp. Berupa kesintasan harian, pertama kali menghasilkan anakan, dan jumlah anakan kumulatif, serta laju reproduksi bersih dianalisis secara deskriptif. Rerata jumlah anakan dianalisis menggunakan uji Brown-Fosythe and Welch yang kemudian dilakukan uji lanjut menggunkan uji Tukey, sedangkan data panjang

Dokumen terkait