BAB II PENGERTIAN TEORI AKTIVITAS DAKWAH
C. Pengertian Aktivitas Dakwah
3. Metode Dakwah
Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta”
(melalui) dan “hodos” (jalan, cara).50 Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab disebut thariq.51 Metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.
Metode dakwah juga cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang dai (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.52
1. Dakwah Bil al-Lisan
Dakwah bil lisan adalah proses dakwah dengan membahasakan pesan dakwah melalui penuturan lisan dengan suara yang dengannya pesan dakwah itu semakin dapat tertanam pada diri dai dan dengannya pesan dakwah dapat didengar oleh mad’u. Bahasa keadaan dalam konteks dakwah bil lisan adalah
49 Nurwahidah Alimuddin, “Konsep Dakwah Dalam Islam”, dalam Jurnal Hunafa Vol. 4 No. 1 Maret 2007, h. 76.
50 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 61.
51 Drs. H. Hasanuddin, Hukum Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h.35.
52 Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h.43.
segala hal yang berhubungan dengan keadaan mad’u baik fisiologi maupun psikologis. Berdakwah dengan metode ini, berarti dai mengucapkan dan menyuarakan pesan dakwah dengan lisannya supaya suara itu dapat didengar mad’u. Yuyun Affandi mengemukakan bahwa metode dakwah secara verbal (bil lisan) maksudnya dengan menggunakan kata-kata yang lemah lembut, yang dapat difahami oleh mad’u bukan dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan hati. Ibnu Tamam menyimpulkan bahwa maksud dari metode dakwah bil lisan adalah suatu cara yang disampaikan oleh dai dalam berdakwah untuk menyampaikan pesan dakwah dalam bentuk ceramah, diskusi (obrolan) bebas kepada jama’ah pengajian melalui hal yang baik.
2. Dakwah Bil al-Qalam
Dakwah bilqolam adalah dakwah yang dilakukan melalui bentuk tulisan, dakwah dengan tulisan harus melalui keahlian khusus dalam segi dunia literasi. Memasuki zaman digital seperti sekarang ini pola dakwah bilqolam dengan menuliskan kitab-kitab, buku, internet dengan social media, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif.
Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat.
Pengertian qalam secara etimologis, berasal dari bahasa Arab qalam dengan bentuk jamak aqlām yang berarti kalam penulis, pena, penulis. Pengertian lainnya yang disebutkan dalam buku Jurnalisme Universal, antara lain: menurut Quraish Shihab bahwa kata qalam adalah segala macam alat tulis menulis hingga mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih. Al-Qurtubi
menyatakan bahwa qalam adalah suatu penjelasan sebagaimana lidah dan qalam yang dipakai menulis oleh Allah SWT., baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Jadi penjelasan al-Qurtubi menunjukkan bahwa qalam adalah sebuah alat untuk merangkai tulisan, lalu berkembang menjadi alat cetak mencetak. Al-Shabuni mengungkapkan bahwa qalam adalah pena untuk menulis, alat untuk mencatat berbagai ilmu dari ilmu yang ada dalam kitab Allah swt, hingga apa yang menjadi pengalaman manusia dari masa ke masa. Penjelasan al-Qurtubi sama dengan apa yang disampaikan oleh Imam asy- Syaukani dalam kitab Fatḥ al-Qadīr, bahwa al-qalam menunjukkan kepada alat yang digunakan untuk menulis. Dan menurut sebagian besar ulama, makna al-qalam adalah apa yang tertulis di lauh al-mahfūdz.
Pengertian dakwah bil qalam lainnya yaitu mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar menurut perintah Allah swt, lewat seni tulisan. Pengertian dakwah bil qalam menurut Suf Kasman yang mengutip dari Tasfir Departemen Agama RI menyebutkan definisi dakwah bil qalam, adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar menurut perintah Allah swt, melalui seni tulisan. Kasman juga mengutip pendapat Ali Yafie yang menyebutkan bahwa, dakwah bil qalam pada dasarnya menyampaikan informasi tentang Allah swt, tentang alam atau makhluk-makhluk dan tentang hari akhir atau nilai keabadian hidup. Dakwah model ini merupakan dakwah tertulis lewat media cetak.
3. Dakwah Bil al-Hal
Dakwah Bil Hal Dakwah, bil hal adalah melaksanakan amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi bidang sosial, ekonomi, dan budaya dalam bingkai nilai-nilai ajaran Islam. Dakwah bil hal merupakan usaha merintis dan mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dakwah dalam bentuk ini dapat dilakukan oleh setiap orang di manapun berada dengan profesi apapun.53
Dakwah Bil Hal juga bisa disebut sebagai dakwah yang menggunakan perbuatan atau teladan sebagai pesannya. Dakwah Bil Hal biasa disebut juga dakwah alamiah. Maksudnya, dengan menggunakan pesan dalam perbuatan, dakwah dilakukan sebagai upaya pemberantasan kemungkaran secara langsung (fisik) maupun menegakkah ma’ruf (kebaikan) seperti membangun masjid, sekolah, atau apa saja yang mudah dikerjakan dan bersifat mewujudkan pelaksanaan syariat Allah swt, dari segala aspeknya.54
4. Wasilah al-Da’wah (Media Dakwah)
Media Dakwah yaitu segala sesuatu yang dapat membantu juru dakwah dalam menyampaikan dakwahnya secara efektif dan efisien.20 Media dakwah juga diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Alat ataupun media yang dapat digunakan ini berupa material maupun immaterial,
53 Umi Musyarrofah, Dakwah KH. Hamam Dja‟far dan Pondok Pesantren Pabean, (Jakarta: Uin Press, 2009) Cet ke-1, h. 21.
54 Kustadi Suhandang, Ilmu Dakwah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), h.
98.
termasuk didalamnya adalah dana, organisasi, tempat dan juga bahasa.55
Media dakwah adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah. Media adalah suatu alat yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Sarana penggunaannya adalah keefektifan dan keefisienan, semakin efektif dan efisien suatu media dalam menyampaikan sesuatu, maka ia akan menjadi pilihan. Adapun 3 wasilah dakwah (media dakwah) dari segi penyampaian pesan, yaitu:
1. Spoken Words, yaitu media dakwah berbentuk ucapan atau bunyi yang ditangkap dengan panca indera pendengaran seperti radio, telepon dan sebagainya.
2. Printed Writing, yaitu media dakwah yang berbentuk tulisan, gambar, lukisan dan sebagainya yang dapat dengan panca indera penglihatan.
3. The Audio Visual, yaitu media dakwah yang berbentuk gambar hidup yang dapat didengar dan dilihat, seperti televisi, video dan sebagainya.
Menurut Slamet Muhaemin Abda, media dakwah dari instrumennya dapat dilihat dari empat sifat, yaitu: 56 1. Media visual yaitu alat yang dapat dioperasikan untuk
kepentingan dakwah dengan melalui indera penglihat seperti film, slide, transparansi, overhead projector, gambar, foto dan lain-lain.
55 Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h. 163.
56 Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum dalam Berdakwah di Indonesia, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke-1, h. 44.
2. Media auditif yaitu alat-alat yang dapat dioperasikan sebagai sarana penunjang dakwah yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran, seperti radio, tape recorder, telepon, telegram dan sebagainya.
3. Media audio visual yaitu alat-alat dakwah yang dapat didengar juga sekaligus dapat dilihat, seperti movie film, televisi, video dan sebagainya.
4. Media cetak yaitu cetakan dalam bentuk tulisan dan gambar sebagai pelengkap informasi tulis, seperti buku, surat kabar, majalah, bulletin, booklet, leaflet dan sebagainya.
4. Mad’u (Objek Dakwah)
Mad’u atau sasaran objek adalah seluruh manusia sebagai makhluk Allah yang dibebankan untuk beragama dan berikhtiyar, kehendak dan bertanggung jawab atas perbuatan sesuai pilihannya, mulai dari individu, keluarga, kelompok, golongan, kaum, massa, dan umat manusia seluruhnya.
Sedangkan yang dijadikan objek dakwah adalah proses komunikasi, dimana dai menyampaikan pesan melalui lambang-lambang kepada mad’u dan mad’u menerima pesan itu, mengolahnya dan kemudian meresponnya. Jadi, proses mempengaruhi antara dai dan mad’u adalah peristiwa mental.
Dengan mengacu pada pengertian psikologi, maka dapat dirumuskan bahwa psikologi dakwah, ialah ilmu yang berusaha menguraikan, mengendalikan tingkah laku manusia yang terkait dalam proses dakwah. Psikologi dakwah berusaha menyingkap apa yang tersembunyi dibalik sikap perilaku manusia yang
terlibat dalam dakwah, dan selanjutnya menggunakan pengetahuan itu untuk mengoptimalkan tujuan dari dakwah itu.57
5. Atsar (Efek Dakwah)
Atsar (efek) dakwah seringkali disebut dengan feedback atau respon yang diberikan oleh mad’u terhadap dakwah yang disampaikan. Jalaluddin Rakhmat sebagaimana dikutip dalam buku Manajemen Dakwah, membagi efek menjadi tiga. Pertama, efek kognitif yaitu perubahan yang berkaitan dengan pengetahuan dan informasi. Kedua, efek afektif yaitu perubahan yang berkaitan dengan emosi, sikap serta nilai. Ketiga, efek behavioral yaitu perubahan yang merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati.58
Efek dakwah merupakan akibat dari pelaksanaan proses dakwah. Positif atau negatif efek dakwah berkaitan dengan unsur-unsur dakwah lainnya. Sehingga efek dakwah menjadi ukuran berhasil tidaknya sebuah proses dakwah. Evaluasi dan koreksi terhadap efek dakwah harus dilakukan secara menyeluruh, sebab dalam upaya mencapai tujuan efek dakwah harus diperhatikan.59
57 Ahmad Shofi, “Aktivitas Dakwah KH. Muhyiddin Na’im Melalui Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta Selatan”, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010, h. 16 (t.d).
58 Muhammad Munir, dkk, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Prenamedia Grup, 2015), Cet. ke-4, h. 35.
59 Anisa Rochmania, “Metode Dakwah Bil Lisan KH. Abdul Mujib Sholeh Terhadap Jama’ah Pengajian Rutin Sabtunan Di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati”, Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2019, h. 29 (t.d).
6. Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah dakwah yang dilaksanakan harus mempunyai tujuan tertentu. Tujuan ini dapat dirumuskan sedemikain rupa sehingga jelas apa yang hendak dicapai. Di dalam proses dakwah, tujuan adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Dengan tujuan itulah dapat dirumuskan suatu landasan tindakan dalam pelaksanaan dakwah. Menurut .M Arifin tujuan dakwah adalah untuk menumbuhkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengalaman ajaran agama yang dibawakan oleh aparat dakwah atau penerang agama. Oleh karena itu ruang lingkup dakwah adalah menyangkut masalah pembentukan sikap mental dan penggembangan motivasi yang bersifat positif dalam segala lapangan hidup manusia. Syekh Ali Mahfudz merumuskan bahwa tujuan dakwah ada lima perkara, yaitu:60
1. Menyiarkan tuntunan Islam, membenarkan aqidah dan meluruskan amal perbuatan manusia, terutama budi pekertinya.
2. Memindahkan hati dari keadaan yang jelek kepada keadaan yang baik.
3. Membentuk persaudaraan dan menguatkan tali persatuan diantara kaum muslimin.
4. Menolak faham atheisme, dengan mengimbangi cara-cara mereka bekerja.
60 Ahmad Shofi, “Aktivitas Dakwah KH. Muhyiddin Na’im Melalui Masjid Al-Akhyar Kemang Jakarta,” Selatan, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010, h. 27 (t.d).
5. Menolak syubhat-syubhat, bid’ah dan khurafat atau kepercayaan yang tidak bersumber dari agama dengan mendalami ilmu Ushuluddin.