• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Metode dan Desain Penelitian 1.Metode Penelitian 1.Metode Penelitian

Metode merupakan cara kerja yang dilakukan untuk memahami objek yang akan dijadikan sasaran dalam suatu penelitian yang dilakukan. Creswell (2003, hlm. 8) mengartikan metode penelitian sebagai suatu stategi penyelidikan yang merupakan merupakan prosedur yang dilakukan dalam melakukan penelitian. Peneliti dapat menentukan salah satu metode atau beberapa metode yang ada sesuai dengan prosedur yang berlaku yang berdasarkan pada cara ilmiah. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian tersebut didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris dan sistematis, 1) rasional berarti kegiatan penelitian tersebut dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia; 2) empiris berarti cara yang dilakukan itu dapat diamati olehindra manusia, sehingga orang lainpun dapat mengamatinya, dan 3)sistematis berarti proses yang dilakukan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu bersifat logis

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengimplementasikan model pembelajaran Inquiry berbasis Self Control pada mata pelajaran Sanitasi Hygiene dalam rangka upaya untuk meningkatkan perilaku siswa dalam hidup sehat, khususnya perilaku hygiene siswa SMK sebagai calon penjamah makanan. Metode yang digunakan adalah metode quasi experimental, sebagaimana yang dikemukakan oleh (Creswell, John W, 2003, hlm. 14):

Penelitian kuasi eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang mendekati eksperimen atau eksperimen semu. Bentuk penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu pendidikan atau penelitian lain dengan subjek yang diteliti adalah manusia, dimana mereka tidak boleh dibedakan antara satu dengan yang lain seperti mendapat perlakuan karena berstatus sebagai grup control. Pada penelitian kuasi

Rita Patriasih, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS SELF CONTROLPADA MATA

PELAJARAN SANITASI HYGIENE UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU SISWA DALAM HIDUP SEHAT

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

eksperimen peneliti dapat membagi grup yang ada dengan tanpa membedakan antara control dan grup secara nyata dengan tetap mengacu pada bentuk alami yang sudah ada

Pada penelitian ini dilakukan implementasi model pembelajaran yang telah ada dan dimodifikasi kemudian melihat dampaknya terhadap perubahan perilaku hidup sehat pada siswa yang fokus pada perilaku hygiene.Peneliti melakukannya dengan metode quasi eksperimental atau eksperimen semu yang merupakan pengembangan dari true experimental design, yang sulit dilaksanakan. Metode ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi terhadap pelaksanaan eksperimen. Pada Quasi experimental ini peneliti tidak membentuk kelas baru melainkan menggunakan kelas yang sudah ada, artinya tidak dilakukan penugasan secara random.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian eksperimen yang digunakan peneliti adalah adalah non equivalen control group design atau disebut juga model pre-test post-test control group design pada 1 kelompok eksperimen dan 1 kelompok kontrol. Dantes (2012, hlm. 97) mengungkapkan bahwa desain ini sangat sering digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian perilaku (behavioral) lainnya. Lebih jelas lagi dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Desain Penelitian Non Equivalen Control Group

KELAS Pre Test Perlakuan Post Test

Eksperimen O1 X O2

Kontrol O3 - O4

Keterangan:

Rita Patriasih, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS SELF CONTROLPADA MATA

PELAJARAN SANITASI HYGIENE UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU SISWA DALAM HIDUP SEHAT

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu O2 : Test akhir (Post test) Kelas Eksperimen O3 : Test awal (Pre test) Kelas Kontrol O4 : Test akhir (Post test) Kelas Kontrol

X : Model Pembelajaran Inquiri berbasis Self Control

Desain ini terdapat dua grup yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara group eksperimen dan group kontrol. Hasil pretest yang baik adalah jika nilai group eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Tahap ini penting dilakukan untuk mengetahui kelebihan model yang diuji dibandingkan dengan model yang dilakukan sebelumnya (konvensional) sehingga teruji efektivitas model tersebut. Pada tahap ini pula perlu dilakukan perbandingan dengan kelas lain yaitu kelas kontrol.

Peneliti selanjutnya mengobservasi proses pembelajaran untuk mengetahui kualitas interaktivitas pembelajaran pada kedua kelas tersebut. Selain itu juga dilakukan penyebarkan angket sertawawancara pada siswa baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Hasil pembelajaran yang diukur meliputi aspek pengetahuan, sikap dan perilaku.

Langkah langkah yang ditempuh dalam menggunakan desain pre-test post-test control group adalah:

a. Menentukan subjek yang akan dijadikan sampel eksperimen

b. Membagi subjek ke dalam dua kelompok, kemudian menentapkan salah satu kelompok yang diberi perlakuan atau disebut juga kelompok eksperimen dan kelompok lainnya ditetapkan sebagai kelompok kontrol yaitu tidak diberi perlakuan sebagaimana kelompok eksperimen.

c. Dilakukan pengukuran awal sebelum diberikan perlakuan pada kedua kelompok tersebut.

d. Dilakukan perlakuan model pembelajaran IBSC sesuai dengan rancangan desain pada kelompok eksperimen.Pada kelompok kontrol tidak diberikan

Rita Patriasih, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS SELF CONTROLPADA MATA

PELAJARAN SANITASI HYGIENE UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU SISWA DALAM HIDUP SEHAT

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

perlakuan apapun, pembelajaran berlangsung sebagaimana yang biasa dilakukan sebelumnya yang disebut dengan istilah model konvensional. e. Dilakukan postest terhadap kedua kelompok tersebut.

f. Analisis data dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil pembelajaran pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

g. Diambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis data.

B. Partisipan Penelitian 1. Guru

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuasi eksperimental dalam rangka mengimplementasikan model pembelajaran yang telah kembangkan oleh peneliti dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional yang berlangsung selama ini. Peran guru sebagai partisipasi dalam penelitian ini merupakan hal mutlak yang harus tersedia.

Guru yang terlibat langsung dalam pembelajaran sebanyak 2 orang yaitu yang memberikan pelajaran Sanitasi Hygiene. Masing masing guru tersebut telah memiliki pengalaman mengajar di SMKN 3 Cimahi dan mengajar mata pelajaran Sanitasi Hygiene selama 5 dan 6 tahun. Masing masing guru menyampaikan pembelajaran pada mata pelajaran dan topik yangsama tetapi disampaikan dengan model pembelajaran yang berbeda. Guru yang berperan dalam kelas kotrol menyampaikan pembelajaran Sanitasi Hygiene menggunakan model pembelajaran sebagaimana yang biasa dilakukan sebelumnya yaitu pembelajaran secara konvensional. Guru yang berperan dalam kelas eksperimen menyampaikan pembelajaran Sanitasi Hygiene dengan menerapkan model Inquiry Berbasis Self Control yang telah dikembangkan oleh peneliti. Pengarahan dan pelatihan telah diberikan terlebih dahulu kepada guru-guru tersebut untuk memperoleh ketercapaian tujuan penelitian.

Rita Patriasih, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY BERBASIS SELF CONTROLPADA MATA

PELAJARAN SANITASI HYGIENE UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU SISWA DALAM HIDUP SEHAT

Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu

Keberadaan siswa sebagai pertisipan dalam penelitian ini merupakan hal mutlak yang harus terpenuhi. Siswa yang terlibat adalah yang sedang menempuh mata pelajaran Sanitasi Hygiene yaitu siswa kelas X Jasa Boga 2 (X-JB2) dan siswa kelas X Jasa Boga 4 (X-JB4).

3. Enumerator

Keterlibatan enumerator dalam suatu penelitian sangat menunjang kelacaran dalam pengambilan data penelitian. Enumerator yang terlibat totalnya sebanyak 6 orang yang bertugas melakukan pengumpulan data dengan teknik angket maupun observasi. Pengumpulan data dilakukan oleh enumeratoryang sebelumnya telah diberikan pelatihan terlebih dahulu. Pelatihan yang diberikan meliputi yang meliputi ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, teknik pengambilan data dan pemahaman tentang tujuan dan materi yang ada pada setiap instrument. Pelatihan ini penting dilakukan untuk menyamakan persepsi dan pemahaman enumerator terhadap instumen yang digunakan merupakan wawancara. Selama pengumpulan data para enumerator dimonitor oleh peneliti untuk menjaga mutu data dan membantu apabila ada masalah di lapang yang sulit dipecahkan.

C. Populasi dan Sampel