BAB III METODE PENELITIAN
3.3. Metode dan Tahapan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analisa kasus, yaitu melalui studi Pustaka dan Analisa data. Tahapan dalam penelitian ini terbagi atas 4 tahap, yitu : tahap pendahuluan, pengumpulan data sekunder, Analisa data, dan tahap penyusunan laporan. Adapun rincian kegiatan penelitian yang dilakukan dengan beberapa tahap tersebut yaitu :
1. Tahap Pendahuluan
Tahap ini merupakan tahapan studi Pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan dan mempelajari literatur buku, jurnal, catatan kuliah maupun internet. Hasil dari tahapn ini berupa sketsa dan penafsiran sementara keadaan penelitian yang akan digunakan pada tahap pengambialan data.
2. Tahap Pengumpulan Data Sekunder
Tahap ini meliputi pengambilan data ekisting WTP Mini dan data uji lab sampel proses pengolahan air bersih WTP Medan Denai pada tahap air baku dan air bersih.
3. Tahap Analisa dan Perhitungan Data
Tahap ini melakukan pengolahan data dari data sekunder sehingga di dapat kualitas air yang dihasilkan yang menjadi pembahasan terhadap evaluasi proses-proses pada pengolahan air baku menjadi air bersih. Adapun evaluasi pada kondisi eksisting unit-unit pengolahan diantaranya adalah sebagai berikut ini :
- Evaluasi intake.
- Evaluasi fungsi clarifier untuk koagulasi dan flokulasi
- Evaluasi unit filtrasi dan reservoir.
- Evaluasi kualitas air dan jumlah kebutuhan pembubuhan zat kimia.
4. Tahap Penyusunan Laporan
Merupakan tahap akhir dari tahap penelitian dimana tahap ini menyusun data-data dari awal hingga akhir yang selanjutnya dirangkum menjadi sebuah laporan penelitian.
IP A
IPA Lim IPA
Sung IPA Sibolang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum
Water Treatment Plant (WTP) merupakan sarana penting yang mampu menghasilkan air bersih dan sehat untuk di konsumsi sehari-hari. Fungsi utama WTP yaitu mengolah air baku yang berasal dari sungai ataupun sumber lainnya sehingga menjadi air bersih yang layak untuk di distribusi kepada pelanggan.
WTP Denai merupakan salah satu unit cabang pengolahan air milik PDAM Tirtanadi. Luas areal WTP Medan Denai yaitu ± 235 𝑚2. Dengan sumber air baku dari sungai Deli. Sistem proses pengolahan air baku meliputi 4 (empat) tahapan pengolahan.
WTP Denai memanfaatkan sungai Deli sebagai sumber air baku. Menurut data kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli di peroleh lokasi Instalasi (WTP) Denai adalah sebagai berikut ini :
Gambar 4.1. Lokasi WTP PDAM Tirtanadi Medan Denai
4.2 Data Primer (Data Parameter)
Instalasi Pengolahan Air (WTP) yang berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel padat tersuspensi dan koloid dalam kandungan air baku sehingga menghasilkan air bersih yang layak untuk di konsumsi.
Dari data yang didapat, kualitas air yang akan diolah adalah sebagai berikut :
Parameter Masalah
Kualitas Pengolahan Kesimpulan
Bau
Bau tanah Saringan karbon aktif Dapat dipakai bila percobaan pengolahan
Rasa asin/payau Aerasi + saringan karbon aktif
Saringan karbon aktif Mungkin bisa dipakai dengan pengolahan Rasa lain Tergantung jenis rasa Tidak dapat dipakai
Kekeruhan
Putih Pembubuhan PAC Dapat dipakai bila
percobaan pengolahan
Saringan karbon aktif Dapat dipakai bila percobaan pengolahan berhasil
Coklat Bersama Saringan karbom aktif Sama dengan kekeruhan
kekeruhan
Putih Pembubuhan PAC Tidak bisa dipakai kecuali percobaan pengolahan berhasil Lain Tergantung jenis warna Tidak bisa dipakai
kecuali percobaan pengolahan berhasil Tabel 4.1 Parameter Air
Sumber : PDAM Tirtanadi Medan Denai
Dapat dilihat dari tabel bahwa kualitas air bersih sangat jauh dari standar baku mutu air yang dianjurkan air sungai yang belum diproses tingkat kekeruhannya agak tinggi, kekeruhan akan mengurangi kejernihan air yang disebabkan oleh pencemar-pencemar yang ada didalam air yang disebabkan oleh lempung, lanau partikel-partikel tanah dan pencemar-pencemar koloid lainnya.
Maka dari itu air baku yang berasal dari sungai tersebut perlu diolah agar layak untuk dikonsumsikan sebagai air bersih melalui media saringan karbon aktif (saringan untuk memperbesar luas permukaan) aerasi (penambahan oksigen kedalam air) dan PAC (Poly Aluminium Chloride).
4.3 Data Sekunder
Berdasarkan data uji lab sampel proses pengolahan air bersih WTP Medan Denai pada tahap air baku dan air bersih. Uji lab dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Medan. Ada beberapa tahap yang dilakukan untuk mendapatkan data sekunder ini, yaitu :
1. Pengambilan 1 Liter dan 250 ml air baku pada sungai Medan Denai pada kedalaman 1 meter.
2. Pengambilan 1 Liter dan 250 ml pada unit reservoir WTP Mini Medan Denai.
3. Setelah sampel didapatkan, menunggu hasil dan konfirmasi selama 15 hari dari Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Medan.
4. Hasil uji sampel selesai, selanjutnya disesuaikan dengan Permenkes RI No.492/MenKes/Per/IV/2010 untuk standart air bersih.
4.4 Kondisi Eksisting Water Treatment Plant (WTP) Medan Denai
Kinerja pada suatu sistem instalasi pengolahan air bersih merupakan kemampuan sistem jaringan untuk membawa sejumlah air dari sumbernya ke instalasi pengolahan air sesuai dengan waktu dan tempat berdasarkan rencana pencapaian akses terhadap air bersih yang ditetapkan oleh Ditjen Cipta Karya dalam target Millenium Development Goals (MDGs).
4.4.1. Air Sungai
Sumber air baku Instalasi (WTP) Denai diperoleh dari air permukaan sungai Deli yang diambil melalui pompa yang dialirkan langsung ke intake.
4.4.2. Intake
Air baku yang masuk ke intake sebanyak 12 liter/detik dialirkan melalui 1 buah bak air baku (Raw Water Tank). RWT berfungsi mengendapkan lumpur dan pasir yang terbawa aliran air baku, sebelum masuk ke sumuran pompa di stasiun pompa air baku.
Intake terbuat dari konstruksi beton dengan mulut intake dilengkapi
dengan dua penyaring yaitu bar screen dan find screen. Bar screen (saringan kasar) berdiameter 7 cm berfungsi mencegah masuknya sampah dengan ukuran besar. Sedangkan untuk find screen (saringan halus) berdiameter 5 cm, berfungsi mencegah masuknya kotoran maupun sampah berukuran kecil yang terbawa arus sungai.
Masing-masing saluran dilengkapi dengan pintu pengatur ketinggian air (sluice gate) dan penggerak elektromotor. Ketinggian air yang diperbolehkan masuk ke intake antara 1,5 – 2 m. Pemeriksaan maupun pembersihan saringan halus dilakukan selama 2 jam sekali saat musim kemarau dan setiap jam saat musim hujan ataupun banjir. Namun disarankan pemeriksaan dilakukan secara periodik untuk menjaga kestabilan jumlah air yang masuk.
Gambar 4.2. Bangunan Intake 4.4.3. Saluran (Channel)
Saluran mengalirkan air menuju bak pengendap. Pada tahap ini dilakukan proses klorinasi sebanyak 1 kali yaitu Pre Chlorination yang dilakukan setelah air keluar dari Raw Water Tank menuju bak pengendap.
Pada saluran terdapat penyaringan halus yang berguna menyaring air menuju bak pengendap. Untuk spesifikasi dari saluran (channel) yang digunakan
adalah sebagai berikut : - Bentuk : 1 Saluran - Jumlah : 1 unit
- Utilitas : Saringan kasar (bar screen) dan halus (fine screen)
Gambar 4.3. Saluran (Channel)
4.4.4. Raw Water Tank
Bangunan bak pengendap di bangun setelah intake yang terdiri dari 1 unit. Memiliki dimensi (3 meter x 2 meter) dengan tinggi (h) 4 meter yang dilengkapi dengan 1 buah inletgate, 1 buah outlet sluice gate memiliki fungsi sebagai tempat pengendapan lumpur, pasir, dan sedimen lainnya.
4.4.5. Clearator
Settler pada clarifier berbentuk plat settler yang terbuat dari stainless steel yang selanjutnya dialirkan menuju bak filtrasi. Pada unit clarifier langsung terdapat bak filtrasi dan proses backwash pada filter dilakukan secara otomatis. Untuk spesifikasi bangunan clearator yang digunakan adalah
sebagai berikut ini :
Fungsi : Reaktor atau tempat penjernihan air.
Bahan : Cor beton.
Jumlah : 1 unit.
Utilitas : 1 unit pengaduk atau agitator 4 jenis clarifier.
Kapasitas : 1 jenis clarifier dengan agitator = 5 liter/detik
(a) (b)
Gambar 4.4. (a) dan (b) Clarifier dan Bak Pengendapan 4.4.6. Unit Filtrasi
Tipe filter yang digunakan pada WTP PDAM Tirtanadi cabang Medan Denai merupakan tipe filter SPC (Saringan Pasir Cepat) dimana pada filter ini terdiri dari beberapa jenis lapisan pasir kwarsa dan kerikil yang memiliki diameter berbeda-beda, digunakan dari clearator air kemudian dialirkan untuk menyaring kekeruhan (turbidyti) berupa flok-flok halus dan kotoran lain yang lolos dari clearator melalui pelekatan pada media filter berjumlah 36 unit menggunakan jenis saringan cepat.
Total tebal media pada pasir kwarsa adalah sebesar 70 cm. Kondisi aktual di lapangan, pasir kwarsa yang awalnya bening terlihat coklat. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh besi yang bereaksi dengan klor yang tertahan pada pasir kwarsa.
Pasir kwarsa digunakan sebagai media filter karena harganya relatif murah dan tidak mudah pecah. Pasir kwarsa berfungsi menyaring kandungan lumpur atau endapan ataupun flok-flok yang terbawa dari proses sedimentasi.
Dimensi unit filter yaitu : Panjang : 3 meter Lebar : 5 meter Tinggi : 6 meter
Tebal media filter total 1,14 meter dengan susunan lapisan sebagai berikut ini :
Jenis Pasir Diameter Ø Ketebalan
Pasir kwarsa Ø 0.50 mm – 1.5 mm 0.61 m Pasir kwarsa Ø 1.80 mm – 2.0 mm 0.15 m Kerikil halus Ø 4.75 mm – 6.3 mm 0.08 m Kerikil sedang Ø 6.30 mm – 10 mm 0.075 m Kerikil sedang Ø 10.0 mm – 20 mm 0.075 m Kerikil kasar Ø 20.0 mm – 40 mm 0.2 m
Tabel 4.2. Diameter Pasir Pada Filter
Gambar 4.5. Filtrasi
4.4.7 Resevoir
Reservoir merupakan bangunan beton berdimensi panjang 3 meter, lebar 5 meter, tinggi 4 meter, berfungsi untuk menampung air minum ataupun air olahan setelah melewati media filter dengan kapasitas total 45 atau sebanding dengan 45 x 103 liter.
Dan kemudian di distribusikan ke pelanggan melalui reservoir distribusi diberbagai cabang. Air yang mengalir dari filter ke reservoir dibubuhi chlor (post chlorinasi) dan untuk proses netralisasi dibubuhkan larutan atau soda ash.
4.5 Pemeriksaan Kualitas Air Bersih
Untuk menjaga dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap kualitas air baku maupun air hasil olahan, perusahaan senantiasa melakukan pemeriksaan kualitas air secara periodik sesuai peraturan yang berlaku.
Pengendalian kualitas berpedoman pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV?2010 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air yang meliputi aspek kimiawi, fisika, dan bakteriologi.
4.6 Material Pendukung
Pada proses pengolahan air baku digunakan material kimia sebagai pendukung penjernihan diantaranya adalah sebagai berikut ini:
Material Kimia Fungsi
Liquid Chlorine Mengoksidasi logam Fe, Mn sekaligus sebagai bahan desinfektan (pembunuh bakteri), dibubuhkan dengan mesin AC secara bergantian kepada RWT. (prechlorination) dan reservoir (post chlorination) dengan total kebutuhan 3 – 4 gr/ air.
PAC (Poly Alumunium Chloride)
Mengikat partikel-partikel halus yang melayang agar membentuk flok. Bahan ini diinjeksikan pada pipa air masuk ke clearator dengan motor AC dengan dosis 30 – 35 gr/ air.
Soda Ash Menetralisasi pH air olahan berkisar 6.8 – 7 dibubuhkan dengan elektro motor sebelum masuk ke reservoir, penggunaan soda ash tergantung pada kondisi air baku.
Tabel 4.3. Fungsi Material Kimia Pada Proses Pengolahan Air Baku Sumber : IPA Tirtanadi cabang Medan Denai
4.7 Evaluasi Proses dan Operasi Pengolahan Air Bersih
Proses dan operasi pengolahan air bersih ditentukan oleh setiap unit pengolahan beserta sarana penunjangnya seperti pompa dan pembubuhan bahan kimia. Untuk memastikan bahwa WTP berjalan dengan efektif dan efisien, maka perlu diketahui titik-titik pengendalian di unit-unit WTP. Adapun parameter-parameter yang harus dikendalikan pada setiap titik di jelaskan di bawah ini :
a. Air baku
Parameter penentu : debit (Q), dan kualitas air.
Parameter diperiksa : level muka air sungai, uji lab kualitas air b. Koagulasi
Parameter tertentu : Debit dosing bahan kimia.
Parameter diperiksa : pH, konsentrasi bahan kimia, dan dosis bahan kimia.
c. Flokulasi
Parameter diperiksa : Debit, dimensi unit pengolahan, pH, konsentrasi bahan kimia, dosis bahan kimia.
d. Flotasi
Parameter diperiksa : Ukuran gelembung udara yang sesuai dengan standar bakteriologi air bersih yaitu COD dan BOD
e. Filtrasi
Parameter diperiksa :Kualitas air pada proses ini. Seperti kekeruhan, dan bau f. Resevoar
Parameter diperiksa : sisa klor bebas, dan kekeruhan 4.7.1 Evaluasi Proses Pengambilan Air Baku
Sumber air baku yang diperoleh berasal dari air sungai Deli yang mengalir pada Kecamatan Medan Denai dengan parameter kondisi pada lapangan yang telah di uji, kemudian dibandingkan dengan standar mutu No.492/MENKES/PER/IV/2010.
Dengan level sungai sebagai berikut : - Level sungai
Maksimum : 2,0 m Minimum : 1,7 m Rata-rata : 1,85 m
No. Parameter Satuan Standar Air Bersih No.492/MENKES/PER/
Tabel 4.4. Perbandingan Standar Kualitas Air Baku
Pintu intake pada WTP Medan Denai terdiri dari 1 unit sedangkan saringannya terdiri dari 2 saringan yaitu saringan kasar (bar screen) dengan dimensinya adalah 7 cm dan saringan halus (find screen) dengan dimensinya adalah 5 cm.
- Kriteria Desain (Qasim, motley & zhu, 2000)
Kecepatan aliran pada saringan kasar : < 0,08 m/s Kecepatan aliran pada saringan halus : < 0,2 m/s Kecepatan aliran pada pintu intake : < 0,08 m/s
Diameter saringan kasar : 5-8 cm
Diameter saringan halus : ± 5 cm
- Perhitungan
Kecepatan pada saringan kasar : 𝑣 = 𝑄
𝐴
𝑣 = 0,012
15 𝑚 𝑥 2 𝑚= 0,0004 𝑚/𝑠 Kecepatan pada saringan halus :
𝑣 = 𝑄 𝐴 𝑥 𝑒𝑓𝑓
𝑣 = 0,012
15 𝑚 𝑥 2 𝑚 𝑥 0,65= 0,0006 𝑚/𝑠
Dengan mengasumsikan kecepatan aliran air pada bukaan pintu intake yaitu sebesar 0,08 m/s maka dapat diperkirakan debit minimum yang dapat masuk ke sesuai dengan kriteria desain.
2) Kondisi lapangan pada saat penyaringan masih terdapat beberapa sampah yang tidak tersaring. Hal ini disebabkan banyaknya sampah
didalam permukaan sungai. Untuk itu perlu dihimbau kepada warga untuk tidak membuang sampah disungai.
3) Kualitas air yaitu temperature, warna, dan kekeruhan sudah sesuai dengan PERMENKES N0.492 Tahun 2010.
4.7.2 Evaluasi Proses Koagulasi
Hasil koagulasi yang baik sangat tergantung dari kondisi hidrolik yang baik yaitu pengadukan secara intensif (60 – 180 rpm) dan konstan serta penerapan dosis koagulan yang tepat. Pada proses ini dapat dilakukan identifikasi bahwa untuk setiap parameter penentu waktu detensi (Tr) dan dosis bahan kimia terdapat Langkah kerja sebagai berikut :
- Perhitungan waktu detensi (Tr)
Pengukuran waktu detensi dapat dilakukan dengan mengetahui debit produksi dan dimensi unit bangunan sebagai berikut :
Panjang : 3 m Lebar : 2 m Tinggi : 4 m
Lamanya proses pengadukan cepat (rapid mixing) yang terjadi dapat membuat proses koagulasi lebih efektif, yang akan berpengaruh terhadap proses flokulasi. Waktu detensi dihitung menggunakan persamaan yaitu :
𝑡𝑟 = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑟
𝑄 = 𝑝 𝑥 𝑙 𝑥 𝑡
𝑄 =3𝑥2𝑥4
0,012 = 2.000 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
Hasil perhitungan waktu detensi air pada unit pengadukan cepat untuk nilai (Q) yang berbeda ditunjukkan pada tabel (4.5) sebagai berikut :
Q 𝑚3/𝑠 0,005 0,008 0,010 0,012
Hasil perhitungan pada tabel (4.5) menunjukkan nilai aman dimana jauh melebihi 10 – 60 sekon yang dipersyaratkan American Water Works Association. Semakin besar kapasitas produksi maka semakin lama waktu detensi yang dibutuhkan.
- Pemeriksaan dosis konsetrasi air
Terdapat dua bahan kimia yang digunakan WTP Medan Denai yaitu soda ash dan kaporit. Debit dosing yang sesuai dengan kimiawi tergantung kepada konsentrasi bahan kimia yang dibubuhkan dan dosis bahan kimia yang didapat dari percobaan di laboratorium.
No.
Tabel 4.6. Dosis Kandungan Bahan Kimia - Evaluasi
1) Secara umum, hasil perhitungan waktu detensi untuk koagulasi pada pengadukan cepat tidak terdapat permasalahan dan masih memenuhi syarat.
2) Pada kondisi dilapangan ketika air baku yang masuk ke intake menuju bak pengendapan kekeruhan nya masih melebihi syarat
maka dilakukan cek turbinity secara berkala agar bisa mengetahui berapa dosis PAC yang harus disuntikkan pada proses koagulasi.
4.7.3 Evaluasi Proses Flokulasi
Efektifitas untuk koagulasi dan flokulasi sangat tergantung pada dimensi clarifer, proses pengadukan dan dosis tawas. WTP Medan Denai menggunakan modern clarifier dimana koagulasi dan flokulasi terjadi secara bersamaan sehingga makin besar kapasitas produksi maka semakin lama waktu detensi yang dibutuhkan. Waktu detensi pada saat proses flokulasi dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
𝑡𝑓𝑠 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑓𝑠
𝑄 =3 𝑥 2 𝑥 4
0,010 = 2.400 sekon ≈ 40 menit - Evaluasi
Untuk waktu detensi pada proses flokulasi tidak terjadi masalah. Rata-rata waktu detensi tidak melebihi batas waktu maksimal yang telah ditentukan yaitu 45 menit.
4.7.4 Evaluasi Proses Filtrasi
Tahapan ini penting untuk mencapai kualitas air dalam kondisi baik.
Proses filtrasi dilakukan dengan melewatkan air hasil pengolahan dari clarifier melalui media filter dengan ukuran dan keadaan tertentu. Dimensi sesuai dengan data sebagai berikut:
Panjang bak filter : 3 m
Lebar bak filter : 5 m
Tinggi bak filter : 6 m
Tebal media pasir dan krikil : 50 dan 70 cm - Dimensi, geometri dan lama operasi bak filtrasi :
L = 5 m > 3 m (sesuai) P : L = 3:5 = 0,6 (sesuai)
Kedalaman (H) : 6 m > 5,5 m (sesuai)
- Luas area bak dan kecepatan penyaringan filtrasi : As = P x L = 3 x 5 = 15 𝑚2
Agar proses penyaringan efektif, diperlukan kecepatan aliran air yang konstan saat menembus media filter (pasir) dengan dimensi yang sesuai.
Kecepatan aliran air (va) yang diperlukan saat proses penyaringan berlangsung dapat melalui perbandingan antara debit air (Q) dengan irisan melintang atau luas permukaan filter (At = p x l). Untuk Q = 0,012 𝑚3/𝑠 maka hasill perhitungan (va) sebagai berikut ini :
𝑣𝑎 = 0,012
15 = 0,0008 𝑚/𝑠
Semakin besar kapasitas produksi maka semakin besar (va) yang dibutuhkan. Perhitungan tinggi muka air yang dibutuhkan menggunakan persamaan Kazeny-Carman sebagai berikut ini :
∆𝑃
𝐿 = 150 𝑣 𝜇(1 − 𝑝𝑜)2 𝑔 𝜑 𝑑2𝑝3𝑜 Diketahui :
- Pasir Kwarsa ∅ 0,5 mm – 1,5 mm :
Diameter = 0,001 kecepatan aliran 0,0008 m/s maka diperoleh (∆𝑃) sebagai berikut ini :
∆𝑃
0,61= 150 𝑥 0,0008 𝑥 1,01 𝑥 10−6𝑥(1 − 0,38)2
9,81 𝑥 0,83 𝑥 0,0012𝑥0,383 = 0,135 𝑚
Tabel 4.7. Perhitungan Kriteria Desain Filtrasi
Berdasarkan perhitungan di peroleh debit untuk filtrasi 0,012 𝑚3/𝑠.
Ketebalan pasir mempengaruhi Head Loss. Semakin tebal lapisan suatu media maka semakin kecil Head Loss. Semakin kecil ukuran pasir maka Head Loss semakin tinggi.
Parameter Satuan Kriteria Desain
- Evaluasi
1. Kecepatan aliran lebih kecil dari kriteria desain sehingga untuk penggunaan diameter pipa inlet tidak sesuai. Agar kecepatan aliran sesuai dengan kriteria desain maka perlu ditambahkan tekanan atau debit air
2. Terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan selama proses filtrasi berlangsung yaitu akan terjadi penurunan permeabilitas media filter akibat tersumbatnya pori-pori pasir oleh flok dan juga partikel-partikel halus lainnya. Semakin lama maka penyumbatan akibat daripada flok dan partikel halus akan semakin besar sehingga menyebabkan terjadinya penurunan permeabilitas.
3. Menurunnya permeabilitas media filter untuk jangka waktu tertentu dapat teratasi dengan penambahan tekanan melalui penambahan tinggi muka air.
4. Untuk ketebalan media pasir agar sesuai sebaiknya menggunakan media pasir dengan ketebalan 90 cm atau 120 cm. Sedangkan untuk ukuran media krikil minimal menggunakan 50 cm agar sesuai dengan standar kriteria desain.
4.7.5 Evaluasi Proses Reservoir
Untuk spesifikasi bangunan reservoir yang digunakan adalah sebagai berikut :
Fungsi : Bak penampung air hasil olahan (air bersih) Bentuk : Bak persegi Panjang
Bahan : Cor beton
Panjang : 3 m
Lebar : 5 m
Tinggi : 4 m
- Kebutuhan volume efektif reservoir
Volume reservoir (v) = 3m x 5m x 4m = 60 𝑚3 Volume operasi = 48,75 𝑚3
Kebutuhan instalasi dari air baku (%) = 60−48,75
60 𝑥 100 % = 18%
- Pemeriksaan kualitas air
Parameter Satuan
Tabel 4.8. Perbandingan Standar Kualitas Air Bersih - Evaluasi
1. Volume reservoir yang dibutuhkan 60 𝑚3 sedangkan volume yang tersedia saat ini 48,75 𝑚3, maka untuk saat ini kebutuhan belum tercukupi. Untuk itu harus ada penambahan tekanan air yang masuk pada intake.
2. Pemeriksaan kualitas air untuk beberapa parameter sudah memenuhi standar PERMENKES No.492 Tahun 2010.
4.7.6 Evaluasi Kualitas Mutu Air
Analisa perhitungan dan pembahasan dapat dibandingkan dengan standar permenkes yang ditetapkan dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, sesuai Permenkes No.492/MENKES?Per/IV/2010, tentang persyaratan kualitas air bersih, yang mencantumkan parameter sebagai standar penetapan kualitas air bersih, meliputi parameter fisik, bakteriologis, kimia.
Parameter bakteriologis dan kimia (anorganik) merupakan parameter yang terkait langasung dengan Kesehatan, parameter fisik dan kimia lainnya merupakan parameter yang tidak berhubungan langsung dengan Kesehatan.
Untuk menjaga kualitas air bersih yang didistribusikan ke pelanggan dilakukan pengawasan secara internal dan eksternal. Kegiatan pengawasan kualitas air yang dimaksud pada bagian atas meliputi :
a. Pengambilan sampel air b. Pengujian kualitas air
c. Analisa hasil pemeriksaan laboratorium
Parameter Satuan Standar Air Bersih
No.492/MENKES/PER/2010
Derajat keasamaan
Tabel 4.9. Hasil Analisa Uji Laboratorium Pada WTP Medan Denai - Evaluasi
1. Berdasarkan perbandingan analisa parameter air baku dengan air padareservoir mengindikasikan bahwa telah terjadi akumulasi peningkatan kandungan unsur melalui air yang di produksi secara terus menerus.Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan maka dianjurkan untuk dilakukan pengurasan reservoir secara berkala.
Pengurasan reservoir tentunya akan menghentikan proses produksi air dikarenakan air hasil produksi tidak memiliki tempat
penampungan. Untuk menjaga agar proses produksi dan distribusi tetap berlangsung saat pengurasan reservoir maka dilakukan pembagian sistem bekerja sama rata dimana saat pengurasan pada reservoir dilakukan, reservoir yang lain tetap bekerja.
2. Setalah dilakukan uji lab perbandingan antara air baku dengan air bersih sudah memenuhi standar dan layak di dstribukan ke pelanggan. Tetapi harus seringa tau secara berkala di uji lab dikarenakan tingkat kekeruhan pada air sungai tidak selalu sama.
Tingkat kekeruhan sangat mempengaruhi kualitas air bersih.
5.3. Kesimpulan
Setelah dilakukan observasi dan evaluasi terhadap instalasi (WTP) PDAM Tirtanadi cabang Medan Denai, maka di peroleh beberapa kesimpulan sebagai berikut ini :
a. Air baku Instalasi (WTP) Denai di ambil berasal dari sungai Deli yang mengalir pada sungai di Kecamatan Medan Denai. Penyadapan debit air yang dilakukan pada saat ini yaitu sebesar 12 liter/detik.
b. Kinerja Instalasi (WTP) Denai saat ini dapat dikategorikan cukup baik.
Jika di tinjau dari kualitas air produksi yang dihasilkan umumnya sesuai dengan standar yang ditetapkan Permenkes No.492 Tahun 2010.
c. Secara keseluruhan instalasi (WTP) Denai sudah dapat mengolah air sesuai dengan standar kualitas, namun terdapat beberapa permasalahan pada unit-unit eksisting di antara lain :
- Diameter saringan halus diketahui 10 cm maka tidak sesuai dengan kriteria desain yaitu 5 cm. Untuk mencegah terjadinya pengendapan maka diperlukan desain ulang untuk diaGTmeter saringan tersebut.
- Pembuangan sedimen dapat dilakukan rutin satu minggu sekali. Untuk pengurasan dan pembuangan sedimen dapat dilakukan dengan menggunakan pompa sehingga menghemat waktu dan biaya.
- Pada unit filtrasi, kecepatan aliran pada bak diketahui 0,010 m/s ≤ kriteria desain yaitu 0,6-1,8 m/s maka untuk penggunaan diameter pipa inlet tidak sesuai.
- Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan maka dapat dilakukan pengurasan reservoir secara berkala. Agar proses produksi dan distribusi tetap berlangsung saat pengurasan reservoir maka perlu dilakukan penambahan reservoir 1 agar bisa secara bergantian kerja produksi air nya.
- Untuk langkah pemeliharaan diperlukan penambahan pompa cadangan minimal 1 (satu) buah sesuai dengan spesifikasi WTP
- Untuk langkah pemeliharaan diperlukan penambahan pompa cadangan minimal 1 (satu) buah sesuai dengan spesifikasi WTP