• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN

4. METODE PENELITIAN

4.3 Metode dan Teknik Penyajian

Pada penyajian analisis digunakan metode formal dan informal. Metode formal dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, sedangkan metode informal dengan menggunakan bahasa biasa dibantu dengan teknik berpikir deduktif dan induktif atau sebaliknya (Moleong, 2002:116). Dengan demikian hasil penelitian ini akan lebih mudah dipahami.

10

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Geria Timbul Intaran desa Sanur saat ini mengoleksi 118 naskah lontar.

Naskah-naskah lontar itu akan dikelompokkan untuk memudahkan penganalisisan.

5.1 Kelompok Tutur, Tattwa (Filsapat)

1. Sastra Utama, berisi tentang pengetahuan-pengetahuan yang utama yang patut diresapi dalam kehidupan

2. Bhatari Uma Tattwa; berisi tentang filosofi Dewi Uma sebagai permaisuri Dewa Siwa sampai penjelmaannya sebagai Dewi Durga

3. Wrespati Tattwa (2 naskah); berisi tentang Bagawan Wrespati dan ajaran kebathinan.

4. Ganitri Tattwa; berisi tentang filosofi ganitri terkait dengan seorang pendeta

5. Ongkara/ Kaputusan Pati-Urip; berisi tentang gabungan aksara suci dalam bentuk Ongkara atau simbol Tuhan terkait dengan kehidupan dan kematian 6. Tatakrama Andadi Wong; berisi tentang nasehat yang harus dipatuhi oleh

manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia

7. Sanghyang Cadusakti; berisi tentang filosofi Cadusakti sebagai pegangan Dewa Siwa yang dianugerahkan pada Arjuna

8. Silakrama Aguron-guron (2 naskah); berisi tentang nasehat sikap serta agar hati-hati mencari guru dalam meningkatkan jnana atau keilmuan.

9. Sanghyang Pasupati; berisi filosofi tentang eksistensi dewa Pasupati 10. Katuturan Sanghyang Aji Saraswati; berisi tentang penjelasan hakikat

aksara suci yang ada di dalam diri manusia dan di alam semesta serta jenis dan bentuk aksara suci

11

11. Kadyatmikan (2 naskah); berisi tentang tuntunan ajaran spiritual yang berlandaskan kebajikan

12. Pengalihan Ekasungsang; berisi tentang ajaran kadyatmikan

13. Kandapat Sari; berisi tentang inti sari ajaran Catur Sanak atau empat saudara di dalam tubuh yang mengantar kelahiran manusia

14. Ekapratama Samapta; berisi tentang filosofi angka satu yang berati tunggal

15. Sanghyang Adisukma; berisi tentang tutur atau filosofi hakikat Tuhan atau Ida Sanghyang Widhi

16. Sanghyang Saptapranawa; berisi tentang filosofi penunggalan batin dengan jiwa yang disimbolkan dengan “OM”

17. Kakadening Hyang; berisi tentang filosofi hakikat dan eksistensi dari Tuhan

18. Jong Biru; berisi tentang filosofi dharma pada saat Darmawangsa dikalahkan oleh Budha.

19. Siwa Sasana; berisi tentang filosofi keutamaan Dewa Siwa.

20. Astaloma; berisi ajaran Empu Loma tentang kesemestaan.

21. Guhya Wijaya (2 buah); berisi filosofi aksara suci sebagai sarana mengejar ilmu kesalehan.

22. Widisastra; berisi filosofi ketuhanan.

23. Sanghyang Niskaladnyana; berisi tentang filosofi roh manusia.

24. Purantaka; berisi tentang hancurnya pertahanan diri dan cara mengantisipasinya.

25. Rasa Dwijanah; berisi tentang filosofi kebinarian manusia.

Naskah lontar kelompok pertama di atas terdiri dari 29cakep. Nomor urut 3, yaitu naskah Wrespati Tattwa terdiri dari dua buah naskah, naskah nomor urut 8, yaitu naskah Silakrama Aguron-guron terdiri dari dua buah naskah, serta naskah nomor urut 11, yaitu naskah Kadyatmikan terdiri dari dua buah naskah, dan naskah nomor urut 21 juga terdiri dari dua buah naskah. Jadi keseluruhan naskah lontar kelompok pertama terdiri dari 29 buah naskah lontar.

12

5.2 Kelompok Sejarah dan Babad

1. Usana Bali (2 buah); berisi tentang kekacauan Bali akibat ulah raja Mayadanawa yang baru dapat ditertibkan setelah raja Mayadanawa dibunuh oleh para dewa di bawah pimpinan dewa Indra dan dewa Wisnu

2. Usana Jawa (2 buah); berisi asal-usul terciptanya bumi Jawa dan raja-raja yang pernah bertahta di Bali.

3. Babad Pasek Gelgel; berisi cerita silsilah klen Pasek Gelgel di Bali 4. Babad Brahmana Mas; berisi cerita silsilah warga Brahmana Mas.

5. Bhatara Wawu Rauh; berisi kisah perjalanan Bhatara Wau Rauh dari Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa.

6. Katekanira Saking Majapahit; berisi cerita perjalanan pulang dari Majapahit dan aktivitasnya di Bali.

5.3 Kelompok Usada, Tenung dan Wariga

1. Pengasih Dandakarana; berisi ilmu penakluk (pengasih) Dandakarana untuk memikat hati wanita

2. Sundari Terus; berisi kumpulan segala penyakit dan cara pengobatan tradisionalnya.

3. Usada Darmosadhi; berisi penjelasan berbagai penyakit dan cara pengobatan tradisionalnya.

4. Taru Pramana; berisi pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai sarana pengobatan.

5. Usada Kacacar (3 buah); berisi pengobatan tradisional penyakit kecacar.

6. Ki Punggung Tiwas; berisi pengetahuan berbagai penyakit dan cara pengobatan tradisionalnya.

7. Krakah; berisi pengetahuan aksara mistik sebagai sarana penolak bahaya yang diakibatkan oleh ilmu hitam.

8. Diwasa barang-barang; berisi tentang hari baik buruknya ketika mendatangkan barang atau sesuatu’

9. Saptawarajati (Tenung); berisi pengetahuan tenung berdasarkan saptawara.

13

10. Pramananing Wong Gering; berisi tentang kondisi jiwa orang yang sedang sakit dan penanganannya.

11. Usada Rare; pengobatan tradisional untuk penyakit yang biasa menimpa anak-anak.

12. Tengering Pangipian; berisi tafsir mimpi.

13. Pangalihan Ekasungsang; berisi tentang tenung.

14. Mega Sumedang; berisi mantra-mantra magis.

15. Wariga Lalubangan (2 buah); berisi tentang ilmu astronomi.

16. Candrasari; berisi ilmu pangiwa dan ilmu kawisesan 17. Panulak Gring Marana; berisi penolak penyakit hama.

5.4 Kelompok Upacara Yadnya serta Pujamantra

1. Putru Sesaji; berisi kisah perjalanan atma ke surga yang biasa dibacakan ketika upacara Pitrayadnya.

2. Putru Sangaskara; bagian putru yang berisi penyucian.

3. Puja Pamukuran; berisi tentang Pujamantra ketika upacara Pamukuran (Pitrayadnya).

4. Puja Seha Pemangku; pedoman seha atau puja bagi Pemangku.

5. Penyambutan Wong Rare; upacara Manusayadnya yaitu upacara Panyambutan bayi.

6. Kusumadewa (Indik Suci); ajaran keagamaan yang dipakai pedoman bagi Pemangku dalam bidang kesucian.

7. Kusumadewa (Indik melaspas pedagingan); pedoman bagi Pemangku untuk upacara Melaspas Pedagingan.

8. Caru Diwasa/Dina; berisi tentang sesajen caru untuk menetralisir hari burukagar tidak mengganggu jalannya upacara yang diselenggarakan hari itu.

9. Byakalaning rare; berisi upacara byakala atau sajen upah pada bhutakala yang dianggap mengganggu bayi.

10. Pesesayutan; berisi cara membuat sajen sayut dan fungsinya.

14

11. Puja Caru Pancasya; berisi puja mantra pada saat melaksanakan upacara dengan sarana Caru Pancasya.

12. Bacakan Sarwacaru; berisi tentang tingkat-tingkatan sajen caru, jenis, dan namanya.

13. Petawuran Agung (Puja); berisi puja mantra yang dipakai mengiringi upacara Tawur Agung.

14. Pitrapuja (Ngaben) (2 naskah); berisi puja mantra yang dipakai mengiringi upacara ngaben.

15. Pujut Kakipi (mantra, smarastawa); berisi mantra-mantra untuk memuja dewa Asmara.

16. Surat Kajang Utama; berisi lukisan berwujud manusia dari uang kepeng dan aksara sakti pada kain putih yang dipakai kerudung luar mayat yang akan diaben.

17. Upakara Manak Kembar/Buncing; berisi upacara dan rentetannya untuk anak kembar sejenis atau kembar beda jenis (buncing).

18. Smarastawa; pemujaan dewa Asmara dan mantra-mantranya.

19. Panca Mahabhuta; berisi tentang lima bhutakala yang bertempat di lima penjuru (barat, timur, selatan, utara, dan tengah), serta implementasinya pada upacara serta sarananya.

20. Kunadresta; berisi tentang sesajen dan pujamantra pada saat piodalan Sanghyang Aji Saraswati.

21. Brahmantaka Wangsa; berisi tentang tatacara upacara kematian para brahmana.

22. Parama Guyha Candramandala; berisi upacara kurban untuk keselamatan bumi.

23. Prajapati Astawa; berisi puja mantra kepada dewa Prajapati.

24. Ekapratama Samapta; berisi tentang pemujaan kepada leluhur dan mantra-mantranya.

25. Surya Sumedang; berisi tentang pemujaan terhadap dewa Surya beserta mantra-mantranya.

26. Manusa Sumedang; berisi mantra untuk pemujaan yang harus diketahui.

15

5.5 Kelompok Kepanditaan

1. Wikutama; berisi tentang pedoman menjadi pendeta yang utama.

2. Sasana Pandita; beisi tentang tingkahlaku dan kewajiban sebagai seorang pendeta Hindu.

3. Puja Seha Pemangku; berisi tentang puja seorang Pemangku dengan bahasa Bali Alus yang dikaitkan dengan upacara yadnya yang dilaksanakan.

4. Weda Parikrama; bersi tentang weda dan cara pelafalan yang benar serta keterkaitannya dengan upacara yadnya.

5. Seha Balian Konteng; berisi puja seorang yang berprofesi sebagai dukun konteng/sonteng.

6. Padiksan (2 naskah); berisi uraian tatanan upacara inisiasi (padiksan) menjadi pendeta Hindu.

7. Dewapuja; berisi pemujaan dan puja mantra terhadap para dewa.

8. Mpulutuk (2 naskah); berisi uraian yang menjadi pedoman bagi seorang Pemangku.

9. Prayoganing Sang Sadhaka (2 buah); berisi pemujaan dan doa-doa para pendeta

5.6 Kelompok Cerita

1. Sanghyang Kumara; berisi cerita kehidupan Sanghyang Kumara sebagai putra dari Dewa Siwa.

2. Anggastya Purana; berisi kisah seorang pendeta bernama Dang Guru Agastya ketika membuat bangunan suci tempat pemujaan Tuhan di Bali.

3. Swargarohana Parwa; berisi cerita kembalinya Panca Pandawa dan Dropadi ke Surga setelah usai perang Bharata.

16

5.7 Kelompok Cerita Tantri

1. Pisacarana; berisi tentang cerita Diah Tantri putri Mahapatih Bandeswarya yang ingin diperistri oleh raja Eswaryadala dengan menampilkan cerita binatang Lutung dengan Macan.

2. Dyah Tantri;berisi tentang cerita Diah Tantri putri Mahapatih Bandeswarya yang ingin diperistri oleh raja Eswaryadala

3. Manduka; berisi cerita Diah Tantri episode persahabatan si kura-kura dengan angsa.

4. Kidung Tantri; Cerita Tantri berupa kidung atau sekar madya.

5.8 Kelompok Bahasa, Aksara

1. Dasaksara; berisi sepuluh aksara suci.

2. Aksara Utama; berisi sejumlah aksara Bali yang termasuk aksara suci.

3. Kertabasa; berisi uraian tentang tatabahasa.

4. Arghapatra; berisi uraian aksara-aksara yang dipakai sarana permohonan pada Tuhan.

5.9 Kelompok Susastra Kakawin, Geguritan

1. Tusing Sadaparwa (Kakawin); kakawin berisi cerita yang bersumber dari Parwa yang keenam.

2. Geguritan Lubdaka; berisi cerita seorang pemburu yang bernama Lubdaka dapat mencapai Surga akibat ikut begadang (ajagra) pada malam Siwaratri.

3. Kakawin Nitisastra; berisi ajaran yang berupa pedoman bagi seorang pemimpin.

4. Silakrama (kakawin); berisi ajaran agama Hindu tentang Dasayama dan Dasanyama brata.

5. Dandang Gendis; berisi geguritan tentang cerita para burung.

17

5.10Kelompok Lain-Lain

1. Asta Kosala/Astabhumi (2 buah); berisi pedoman pembangunan dengan arsitektur tradisional.

2. Awig-awig Desa; berisi aturan hukum adat yang berlaku di desa pakraman.

3. Sikut Karang Pomahan; berisi tatacara mengukur tanah untuk pekarangan perumahan.

4. Darma Pemaculan; berisi tatacara bertani dan kewajiban seorang petani.

5. Hajiganda Purantaka; berisi ilmu tentang wibawa seorang pemimpin.

Dari uraian data di atas, masing-masing kelompok naskah memiliki jumlah yang tidak sama. Prosentase dari jumlah naskah keseluruhan (118 naskah).

N0 Kelompok Jumlah Prosentase %

1 Tutur, Tattwa/Filsafat 29 34,22

2 Sejarah dan Babad 8 9,44

3 Usada, Tenung, Wariga 20 23,6

4 Upacara Yadnya serta Pujamantra

27 31,86

5 Kepanditaan 12 14,16

6 Cerita 3 3,54

7 Tantri 4 4,72

8 Bahasa dan Aksara 4 4,72

9 Susastra Kakawin dan Geguritan 5 5,9

10 Lain-lain 6 7,08

Berdasarkan kajian di atas yang tersurat pula dalam tabel, koleksi lontar di Geria Timbul Intaran desa Sanur, naskah lontar yang berhubungan dengan tutur atau filsafat yang juga dikenal dengan naskah lontar kedyatmikan menduduki angka paling tinggi. Tercatat 29 buah naskah lontar atau 34,22%. Naskah lontar

18

yang berhubungan dengan upacara Yadnya dan Pujamantra berjumlah 27 buah atau 31,86%. Selain kedua kelompok ini prosentasenya kecil.

Dari sini dapat dikatakan aktivitas di Geria Timbul Intaran, Sanur dahulu ada kecenderungan lebih banyak menjadi tempat pembelajaran tutur (tattwa), dan kedyatmikan (spiritual). Kelompok koleksi naskah lontar yang kedua, Upacara Yadnya dan Pujamantra prosentasenya juga tinggi, akan tetapi menjadi sah-sah saja karena memang tugas dan fungsi pokok seorang pendeta. Artinya setiap pendeta akan selalu berhubungan dengan naskah-naskah lontar tersebut sebagai acuan dalam melaksanakan upacara.

Mayoritas naskah lontar yang tesimpan di sebuah tempat dapat menunjukkan bahwa aktivitas para leluhurnya dahulu seputar itu. Hal ini berdasarkan pengalaman dosen Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Udayana mengadakan Pengabdian pada Masyarajat di desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan pada tahun 2003. Ada salah satu kolektor yang menyimpan naskah lontar mayoritas lontar pangiwaan (mejik). Setelah dikonfirmasi kepada ahli waris dan masyarakat sekitarnya, ternyata memang dahulu leluhurnya seorang dukun sakti (lihat Jirnaya, 2003).

Berdasarkah kajian di atas terlihat pula ada naskah-naskah lontar unggulan di Geria Timbul, Intaran, Sanur. Naskah lontar tersebut ada di kelompok satu yang terkesan langka dan isinya sangat penting bagi manusia di kehidupan sekarang.

1) Tatakrama Andadi Wong; berisi tentang nasehat yang harus dipatuhi oleh manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia

2)Silakrama Aguron-guron (2 naskah); berisi tentang nasehat sikap serta agar hati-hati mencari guru dalam meningkatkan jnana atau keilmuan.

3) Ekapratama Samapta; berisi tentang filosofi angka satu yang berati tunggal 4)Purantaka; berisi tentang hancurnya pertahanan diri dan cara

mengantisipasinya.

19

5)Rasa Dwijanah; berisi tentang filosofi kebinarian manusia.

Naskah lontar unggulan di atas merupakan dasar-dasar yang harus dipahami oleh manusia sebelum manusia itu siap untuk meningkatkan jnyana atau mempelajari kedyatmikan atau tutur dan filsafat.Filsafat atau ilmu kedyatmikan memang tidak setiap orang dapat mempelajari dan tidak setiap orang boleh mempelajari.

Seorang pendeta akan tahu kemampuan dan kesiapan seseorang yang berkeinginan belajar filsafat atau tattwa. Sekiranya berdasarkan pengamatan dan pendalaman seorang pendeta yang bersangkutan dinilai belum layak, maka disarankan terlebih dahulu belajar tentang pemahaman diri sendiri sebagai manusia. Apa yang patut dan harus dikerjakan sesuai dengan ajaran agama.

Untuk mengisi diri sendiri tersebut merupakan naskah lontar unggulan yang patut dipelajari, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika hal itu sudah berjalan dengan baik, sesungguhnya sudah menjadi manusia sempurna. Tidak perlu lagi belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan filsafat. Tetapi apabila mau meningkatkan jnana dengan belajar filsafat atau kedyatmikan, itu akan lebih baik lagi.

Untuk dapat memahami lebih dalam tentang naskah-naskah lontar unggulan tersebut, perlu diadakan penelitian lanjutan dan kesediaan dana. Hasil penelitian tersebut disebarluaskan ke masyarakat sehingga semakin banyak nantinya masyarakat mengetahui siapa dirinya dan apa yang harus serta patut diperbuat.

20

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Geria Timbul Intaran, desa Sanur merupakan tempat olah sastra. Sastra yang diutamakan adalah tentang filsafat kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula naskah lontar yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) koleksinya cukup banyak sebagai acuannya. Hal ini dapat dikatakan demikian berdasarkan mayoritas koleksi naskah lontar yang ada di Geria.

Ada beberapa naskah unggulan yang ada di kelompok 1. Naskah unggulan ini memang termasuk naskah langka dan dari segi fungsi untuk mengingatkan kita sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna. Jika dasar-dasar itu sudah di dalami dengan baik, baru boleh meningkatkan diri untuk memahami naskah lontar yang lain, yakni naskah lontar yang mengandung filsafat (tattwa).

6.2Saran

Penelitian yang baik dan dapat berdayaguna tidak cukup hanya dilakukan sekali. Artinya, penelitian naskah lontar koleksi Geria Timbul, Intaran Sanur harus dilanjutkan mengingat masih banyak naskah lontarnya belum dibedah dan dikaji isinya.

Bagi masyarakat yang senang belajar tattwa (filsafat) silahkan datang ke Geria Timbul, Intaran Sanur, tetapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal memang naskah-naskah tersebut harus diteliti dari filologi sebagai langkah awal untuk memahami teks. Di sini institusi terkait yang memiliki komitmen untuk mengkaji dan melestarikan warisan leluhur agar dapat memikirkan dari segi pendanaan.

21

Daftar Pustaka

Anom, I Gusti Ketut. dkk. 2008. Kamus Bali-Indonesia Beraksara Bali dan Latin.

Denpasar: Badan Pembina Bahasa, Sastra, dan Aksara Bali bekerjasama dengan Pemerintah Kota Denpasar.

Jelantik, IB. dkk. 200. Skriptorium Naskah Tradisional Kota Denpasar. Denpasar:

Pemeritah Kota Denpasar.

Jirnaya, I Ketut. dkk. 2003. “Laporan Pengabdian pada Masyarakat” Konservasi Naskah Lontar di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Denpasar: Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Universitas Udayana.

Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pigeaud, TH. 1967. Literature of Java. Vol I. The Hague Martinus Nijhoff.

Soemantri, Emuch Herman. 1986. “Identifikasi Naskah”. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Suastika, I Made. 1997. Calon Arang dalam Tradisi Bali. Yogyakarta: Pustaka Larasan

22

LAMPIRAN 1 Personalia Peneliti 1. Ketua

1.1 Nama : Dr. Drs. I Ketut Jirnaya, M.S.

1.2 Pangkat/Gol./NIP : Pembina Utama Muda, IV/c 19590408198403 1 001 1.3 Jabatan sekarang : Dosen biasa

1.4 Bidang keahlian : Sastra 1.5 Tempat kegiatan : Denpasar

1.6 Waktu kegiatan : 24 jam per minggu

2. Anggota 1

2.1 Nama : Drs. A.A. Gede Bawa, M.Hum.

2.2 Pangkat/Gol./NIP : Pembina Tk. I, IVb/19571231 198503 1 010 2.3 Jabatan sekarang : Dosen biasa

2.4 Bidang keahlian : Sastra 2.5 Tempat kegiatan : Denpasar

2.6 Waktu kegiatan : 24 jam per minggu.

3. Anggota 2

3.1 Nama : Drs. I Wayan Sukersa, M.Hum.

3.2 Pangkat/Gol./NIP : Pembina, IV/a 19550721198203 1 009 3.3 Jabatan sekarang : Dosen biasa

3.4 Bidang keahlian : Sastra 3.5 Tempat kegiatan : Denpasar

3.6 Waktu kegiatan : 24 jam per minggu 4. Pembantu 1

4.1 Nama : Drs. I Made Wijana, M.Hum.

4.2 Pangkat/Gol./NIP : Pembina, IV/a 19571110198503 1 003

23

4.3 Jabatan sekarang : Dosen biasa 4.4 Bidang keahlian : Sastra 4.5 Tempat kegiatan : Denpasar

4.6 Waktu kegiatan : 24 jam per minggu 5.Pembantu 2

5.1 Nama : Dr. Dra. Ni Ketut Ratna Erawati, M.Hum.

5.2 Pangkat/Gol./NIP : Pembina Tk. I, IV/b, 19650307 199303 2 001 5.3 Jabatan sekarang : Dosen biasa

5.4 Bidang keahlian : Linguistik 5.5 Tempat kegiatan : Denpasar

5.6 Waktu kegiatan : 24 jam per minggu Pembantu Mahasiswa

1. I Ketut Eriadi Ariana 2. Ni Made Oka Wijayanti 3. Ida Bagus Tilem

4. Ida Bagus Anom

24

Lampiran 2 Publikasi dalam Bentuk Prosiding

INDIKASI AKTIVITAS GERIA TIMBUL DI BANJAR INTARAN SANUR DILIHAT DARI JENIS KOLEKSI NASKAH LONTARNYA*

Oleh

I Ketut Jirnaya, Anak Agung Gede Bawa, I Wayan Sukersa, I Made Wijana, Ni Ketut Ratna Erawati**

Abstrak

Geria adalah sebutan untuk rumah para brahmana atau rumah seorang pendeta Hindu. Geria dari segi fungsi selain sebagai tempat pembelajaran bagi umat Hindu, juga tempat olah sastra tradisional. Banyak karya sastra Bali tradisional diciptakan, disalin, dan ditulis di Geria. Salah satu Geria di Sanur adalah Geria Timbul yang mengoleksi 124 naskah lontar dengan berbagai jenis (genre).

Biasanya masing-masing Geria memiliki naskah lontar tidak sama baik jumlah maupun jenisnya. Mengingat Geria sebagai salah satu tempat olah sastra tradisional dan pusat pembelajaran Agama Hindu, belum dapat diprediksi apakah di Geria tersebut aktivitasnya dahulu lebih banyak ke bidang spiritual, perdukunan, atau ke sastra. Berdasarkan hasil analisis naskah koleksi di Geria Timbul, Intaran Sanur, maka dapat diprediksi aktivitas Geria tersebut cenderung ke spiritual. Naskah lontar koleksi Geria Timbul yang berhubungan dengan spiritual (kedyatmikan) berjumlah 22 dari 124 naskah keseluruhan. Di samping seperti juga Geria yang lain yang berfungsi sebagai pengayom umat Hindu (21 naskah yang terkait dengan upacara Yadnya dan Puja Mantra). Pelengkap koleksinya ada juga naskah yang lain: Naskah Sejarah dan babad 8 buah, Kepanditaan 14 buah, usada 16 buah, Cerita 7 buah, Cerita Tantri 4 buah, Bahasa dan Aksara 3 buah, Kakawin 6 buah, dan lain-lain 4 buah.

Kata kunci: naskah lontar, koleksi, mayoritas, aktivitas, spiritual (kedyatmikan) 1. Pendahuluan

Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana memiliki kerjasama dengan desa Sanur dalam bidang pembinaan. Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Pemerintahan Kota Denpasar, merupakan desa tradisinal yang kini berubah menjadi desa modern akibat pengaruh pariwisata. Walaupun demikian ketradisionalan desa Sanur masih terlihat dan tetap dipertahankan sampai sekarang, seperti masih tersimpannya beratus-ratus naskah lontar.

Naskah-naskah lontar ini masih tersimpan dengan baik karena merupakan benda pusaka warisan para leluhur dan dikeramatkan. Untuk membaca biasanya ------* Dipresentasikan dalam Seminar Nasional Sastra dan Budaya 27-28 Mei di FSB Universitas Udayana.

____** Tim peneliti dari Prodi Sastra Jawa Kuno FSB Universitas Udayana.

25

harus ada sajen atau minimal canang sari dengan tujuan memohon keselamatan.

Pada hari raya Sanghyang Aji Saraswati, lontar-lontar ini dibuatkan upacara khusus (bdk. Hermansoemantri, 1986: 10). Dari segi isi naskah lontar cukup beragam. Dari sini Pigeaud (1967:54) membagi naskah tersebut berdasarkan isi kandungan teks menjadi empat kelompok, yaitu: kelompok agama dan etik;

kelompok susastra; kelompok sejarah dan mitologi; kelompok ilmu pengetahuan, seni, kemasyarakatan, hukum folklor, adat dan serba-serbi.

Dari beratus-ratus naskah lontar di Banjar Intaran Sanur, kebanyakan naskah lontar tersebut tersimpan di Geria. Geria adalah sebutan rumah untuk para brahmana atau rumah para pendeta Hindu, seperti Ida Pedanda, Ida Resi, Ida Bagawan, dan Ida Sri Empu (lihat Warna, dkk. 2008:244). Geria dahulu merupakan tempat olah sastra tradisional (Jelantik, dkk. 2008: 23). Hal ini sesuai dengan fungsi para brahmana sebagai pengemong dan pengembangan agama Hindu. Masyarakat yang ingin belajar mengisi diri dengan berbagai pengetahuan terutama tentang agama, sastra tradisional seperti kakawin, dapat belajar ke Geria dan akan dibimbing oleh para brahmana atau Pendeta.

Banyaknya Geria di Banjar Intaran desa Sanur sebagai kolektor naskah lontar dan mengingat waktu serta dana, maka penelitian naskah lontar ini difokuskan di Geria Timbul, Intaran desa Sanur. Di Geria Timbul tersimpan 118 cakep naskah lontar dengan berbagai isi dan jenisnya. Menurut Ida Pedanda yang tinggal di Geria Timbul, naskah-naskah lontar tersebut merupakan warisan dari leluhur beliau. Masing-masing Geria sebagai tempat tersimpannya naskah-naskah lontar tersebut, dari segi jumlah naskah lontar dan isinya tentu tidak sama. Hal ini tergantung dari kesenangan para pemilik naskah lontar tersebut. Barangkali di sebuah Geria ada yang mayoritas naskah lontar yang dikoleksinya dari jenis naskah tutur, sastra kakawin, usada, dan sebagainya. Memang belum ada teori yang teruji, yang mengatakan bahwa aktivitas sebuah Geria dahulu dapat dilacak dari mayoritas naskah lontar yang dikoleksinya. Tetapi penelitian ini akan mencoba mereka-reka aktivitas Geria Timbul dahulu melalui naskah lontar yang dikoleksinya.

Tim peneliti memiliki keyakinan dengan mayoritas jenis naskah yang dikoleksi di Geria Timbul, Intaran Sanur, kesenangan atau aktivitas panglingsir Geria tersebut seputar itu. Hal ini berdasarkan pengalaman ketika tim peneliti ini beserta dosen dan mahasiswa prodi Sastra Daerah mengadakan pengabdian pada masyarakat di desa Kelating, Kerambitan, kabupaten Tabanan tahun 2003. Judul kegiatannya Konservasi naskah Lontar di Desa Kelating. Pada saat itu ada satu lokasi mengoleksi naskah lontar jumlahnya 70 –an naskah lontar. Dari jumlah itu

Tim peneliti memiliki keyakinan dengan mayoritas jenis naskah yang dikoleksi di Geria Timbul, Intaran Sanur, kesenangan atau aktivitas panglingsir Geria tersebut seputar itu. Hal ini berdasarkan pengalaman ketika tim peneliti ini beserta dosen dan mahasiswa prodi Sastra Daerah mengadakan pengabdian pada masyarakat di desa Kelating, Kerambitan, kabupaten Tabanan tahun 2003. Judul kegiatannya Konservasi naskah Lontar di Desa Kelating. Pada saat itu ada satu lokasi mengoleksi naskah lontar jumlahnya 70 –an naskah lontar. Dari jumlah itu

Dokumen terkait