BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Metode Pembuatan Nanokrim
2.8.2 Metode emulsifikasi energi rendah
Teknologi emulsifikasi energi rendah berdasar pada inversi fase pada emulsi yang terjadi karena adanya perubahan komposisi dan suhu (Koroleva and Yurtov, 2012).
a. Phase inversion temperature (PIT)
Metode emulsifikasi PIT bergantung pada sifat surfaktan yang digunakan.
Surfaktan yang digunakan biasanya adalah surfaktan nonionik ethoxylated yang dapat merubah afinitas air dan minyak berdasarkan suhu. Surfaktan nonionik ethoxylated akan bersifat lipofob (larut dalam air) di suhu rendah karena adanya hidrasi dari gugus polar, dan akan membentuk lapisan monolayer dan menghasilkan emulsi O/W. Peningkatan suhu akan membuat gugus ehoxylated
pada surfaktan berubah menjadi bersifat lipofil, dan akan membentuk emulsi dengan jenis W/O (Gadhave, 2014).
b. Emulsion inversion point (EIP)
Pada metode ini, proses emulsifikasi bergantung pada perubahan substansi yang memicu terjadinya perubahan nilai HLB pada sistem pada suhu yang tetap.
Metode EIP juga sering disebut dengan metode phase inversion composition (PIC) atau terkadang disebut dengan metode titrasi. Nanoemulsi O/W akan terbentuk ketika jumlah air yang ditambahkan telah melebihi batas titik perubahan tipe nanoemulsi (Koroleva and Yurtov, 2012).
c. Nanoemulsifikasi spontan
Nanoemulsifikasi spontan terjadi dengan melakukan pengadukan berkelanjutan terhadap fase minyak yang telah bercampur dengan surfaktan ke dalam fase air (Gullota, et al., 2014).
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental yang meliputi pembuatan sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dengan konsentrasi 2%, 5%, 7%, dan 10%, evaluasi mutu fisik terhadap sediaan nanokrim meliputi pemeriksaan homogenitas, penentuan tipe emulsi sediaan, penentuan pH, uji daya sebar, penentuan viskositas, uji sentrifugasi, pengukuran tegangan permukaan, penentuan ukuran partikel sediaan nanokrim, evaluasi stabilitas fisik sediaan, pengelompokan sukarelawan, uji iritasi terhadap sukarelawan, dan pengujian efektivitas anti-aging sediaan nanokrim. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasi Fisik, Laboratorium Kosmetologi, Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi dan Laboratorium Terpadu Fisika Universitas Sumatera Utara.
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah neraca analitik (Ohrus), magnetic stirrer (WINA Instrument), hotplate (Fisons), sonikator (Branson), mixer (Miyako), viskometer Brookfield DV-E, climatic chamber (Memmer), pH meter (Hanna Instrument), alat sentrifugasi (Hitachi CF16 RXII), tensiometer Du Nouy, Vascoγ particle size analyzer, skin analyzer (Aram Huvis), lumpang dan alu, dan alat-alat gelas laboratorium.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak kacang makadamia, tween 80, propilen glikol, setil alkohol, metil paraben, propil paraben, dan aqua destilata, dapar pH asam 4,01 (Hanna Instrument), dapar pH netral 7,01 (Hanna Instrument).
3.2 Sukarelawan
Sukarelawan yang dijadikan panel pada uji iritasi dan anti-aging sediaan berjumlah 6 orang dari kriteria sebagai berikut :
1. Wanita berbadan sehat dengan kondisi kulit yang sama 2. Usia antara 20-30 tahun
3. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi 4. Bersedia menjadi sukarelawan (Ditjen POM, 1985).
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Formulasi Sediaan Nanokrim
Persentase komposisi bahan dalam nanokrim dimodifikasi dari formula nanokrim yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya, Abdulkarim (2010) melakukan penelitian tentang pembuatan nanokrim dengan menggunakan minyak POEs (palm oil esters), surfaktan tween 80 dan kosurfaktan span 20, komposisi bahan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah sebagai berikut dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Persentase komposisi bahan dalam nanokrim pada penelitian
Selanjutnya, pada penelitian ini persentase komposisi bahan dalam nanokrim diperoleh dengan cara modifikasi formula pada penelitian Abdulkarim (2010). Formula nanokrim yang dibuat menggunakan minyak kacang makadamia dan kosurfaktan propilen glikol, dan penambahan setil alkohol.
Dilakukan uji pendahuluan (orientasi) untuk mengetahui kondisi dan komposisi bahan yang terbaik dalam pembuatan sehingga didapatkan sediaan nanokrim yang stabil. Sediaan nanokrim dibuat dalam 4 formula dimana konsentrasi minyak kacang makadamia yang bervariasi dalam komposisi formula yang sama. Adapun persentase komposisi bahan dalam formulasi nanokrim yang telah dimodifikasi dari penelitian Abdulkarim (2010) berdasarkan orientasi formula dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Persentase komposisi bahan dalam nanokrim yang mengandung minyak kacang makadamia
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
3.3.2 Prosedur pembuatan nanokrim minyak kacang makadamia
Proses pembuatan nanokrim minyak kacang makadamia mengacu pada penelitian yang dilakukan Abdulkarim (2010) mengenai pembuatan nanokrim piroksikam dengan metode energi tinggi jenis high-shear stirring dengan alat propeller. Modifikasi dilakukan pada alat yang digunakan, yang sebelumnya digunakan propeller diganti dengan menggunakan mixer yang sama-sama memiliki sistem rotor-stator dan prinsip high-shear stirring.
Adapun prosedur pembuatan nanokrim sebagai berikut :
1. Fase minyak: setil alkohol (0,5%) dicampurkan dengan minyak kacang makadamia (2%,5%,7%,10%). Fase minyak diaduk dengan menggunakan hotplate stirrer pada kecepatan 350 rpm, suhu 550C selama 30 menit.
2. Fase air: metil paraben (0,1%) dan propil paraben (0,05%) dilarutkan dalam aquadest (ad 100 ml) kemudian dipanaskan diatas hotplate hingga larut sempurna, setelah itu larutan didinginkan dan kemudian tween 80 (34%) dan propilen glikol (8%) dicampurkan ke dalam larutan metil paraben dan propil paraben. Selanjutnya diaduk menggunakan magnetic stirrer pada kecepatan 350 rpm selama 30 menit.
3. Fase air ditambahkan ke dalam fase minyak dengan cara meneteskannya sedikit demi sedikit dengan menggunakan spatula. Setelah beberapa saat, campuran tersebut diaduk dengan magnetic stirrer pada kecepatan 2000-3000 rpm selama 8 jam sampai terbentuk emulsi yang mengental. Kemudian dihomogenkan menggunakan mixer selama 30 menit. Parfum aroma bunga ditambahkan beberapa tetes, lalu di mixer sampai terbentuk massa krim yang
homogen. Pembuatan dilakukan dengan cara yang sama untuk semua formula dengan konsentrasi minyak kacang makadamia yang berbeda.
3.4 Evaluasi Mutu Fisik Terhadap Sediaan 3.4.1 Pengamatan stabilitas fisik sediaan
Pengamatan stabilitas sediaan dilakukan melalui pengamatan organoleptis secara visual. Stabilitas fisik sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dilakukan dengan pengujian stabilitas dipercepat. Sediaan nanokrim minyak kacang makadamia 2%, 5%, 7%, dan 10% diletakkan dalam wadah kaca dan disimpan dalam climatic chamber pada suhu 40°C ± 2°C dan RH 75% ± 5%
selama satu bulan. Masing-masing formula dilakukan pengamatan secara visual terhadap warna, bau, bentuk, dan pemisahan fase selama empat minggu dengan pengamatan setiap satu minggu sekali (Kananlua, 2016).
3.4.2 Pemeriksaan homogenitas
Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar ( Ditjen POM, 1979).
3.4.3 Penentuan tipe emulsi sediaan
Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan penambahan sedikit demi sedikit biru metilen ke dalam sediaan, jika larut sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut adalah tipe minyak dalam air (Ditjen POM, 1985).
3.4.4 Pengukuran pH sediaan
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.
Cara: Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar
netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tissue. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 0,25 gram sediaan dan dilarutkan dalam 25 ml air suling. Kemudiaan elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan.
Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2003).
Penentuan pH dilakukan setelah pembuatan selama 0, 1, 2, 3, 4, minggu pada suhu kamar.
3.4.5 Pengujian daya sebar
Sebanyak 1 gram sediaaan diletakkan di atas kaca berukuran 20 x 20 cm yang berada di atas sebuah kertas grafik, dibiarkan 60 detik kemudian diukur diameter sediaan yang terbentuk. Selanjutnya ditutup dengan plastik mika dan diberikan beban hingga bobot mencapai 125 gram dan dibiarkan selama 60 detik.
Diameter sediaan yang terbentuk kemudian diukur (Garg et al., 2002).
3.4.6 Penentuan viskositas
Pengukuran viskositas dilakukan dengan cara sediaan dimasukkan ke dalam beaker glass 100 ml dan dipilih nomor spindle yang sesuai. Pengukuran ini dilakukan dengan tiga kali pengulangan dengan menggunakan viskometer Brookfield DV-E (Sinko, 2006). Penentuan viskositas sediaan dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan selama 0, 1, 2, 3, 4, minggu pada suhu kamar.
3.4.7 Uji sentrifugasi
Uji sentrifugasi dilakukan pada awal setelah sediaan dibuat dengan pengukuran sebanyak 1 kali. Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi
kemudian dilakukan sentrifugasi pada kecepatan 3750 rpm selama 5 jam (Lachman, 1994).
3.4.8 Pengukuran tegangan permukaan
Pengukuran tegangan permukaan sediaan dilakukan pada awal setelah sediaan dibuat dengan pengukuran sebanyak 1 kali. Tegangan permukaan diukur dengan menggunakan Tensiometer Du Nouy pada suhu kamar. Sampel diisi ke dalam cawan gelas kira-kira 50% nya. Kalibrasikan alat Tensiometer menggunakan aqua destilata. Jika Tensiometer sudah siap, bersihkan cincin Du Nouy dengan cara memanaskan cincin tersebut pada nyala api bunsen selama 10-15 detik. Gantung cincin tersebut pada pengait kemudian set posisi jarum pada nol. Turunkan cincin Du Nouy ke dalam sampel hingga kedalaman 2-3 mm dari permukaan cairan. Selanjutnya angkat pelan-pelan hingga lepas dari cairan sampel. Angka yang ditunjukkan saat cincin lepas dicatat sebagai nilai tegangan permukaan sampel tersebut (Sinko, 2006).
3.4.9 Penentuan ukuran partikel nanokrim
Penentuan ukuran partikel menggunakan alat particle size analyzer Vascoγ cordouan. Prinsip alat tersebut menggunakan dynamic light scattering, yaitu pengukuran fluktuasi intensitas cahaya yang dihamburkan dalam waktu tertentu.
Pengujian dimulai dengan mengencerkan sampel sampai 1000 kali menggunakan akuabides, kemudian sampel dimasukkan ke dalam kuvet kaca dan diletakkan ke dalam alat Vascoγ cordouan. Sampel akan ditembak dengan sinar pada sudut 90°, droplet pada sampel akan menghamburkan sinar dan hamburan sinar akan terbaca sebagai ukuran droplet pada pada komputer dengan menggunakan software alat Vascoγ cordouan (Kananlua, 2016). Penentuan partikel dari masing masing
formula nanokrim dilakukan sebanyak 1 kali, yaitu di awal setelah pembuatan sediaan.
3.5 Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan
Uji iritasi dilakukan pada sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dengan konsentrasi minyak yang paling besar yaitu 10% dengan maksud untuk mengetahui bahwa sediaan yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Iritasi dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang akan segera timbul sesaat setelah terjadi pelekatan atau penyentuhan pada kulit, dan iritasi sekunder yang reaksinya baru timbul beberapa jam setelah penyentuhan dan pelekatan pada kulit (Ditjen POM RI, 1995).
Kosmetika dioleskan di belakang telinga, kemudian dibiarkan selama 24 jam dan lihat perubahan yang terjadi berupa kemerahan, gatal dan pengkasaran pada kulit (Wasitaatmadja, 1997).
3.6 Pengujian Efektivitas Anti-aging Sediaan Nanokrim
Pengujian aktivitas anti-aging sediaan nanokrim menggunakan sukarelawan sebanyak 12 orang dan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
Kelompok I : 3 orang sukarelawan untuk nanokrim F1 (konsentrasi minyak kacang makadamia 2%) Kelompok II : 3 orang sukarelawan untuk nanokrim F2
(konsentrasi minyak kacang makadamia 5%) Kelompok III : 3 orang sukarelawan untuk nanokrim F3
(konsentrasi minyak kacang makadamia 7%)
Kelompok V : 3 orang sukarelawan untuk nanokrim F4 (konsentrasi minyak kacang makadamia 10%)
Semua sukarelawan diukur kondisi kulit awal yang meliputi: kadar air (moisture), besar pori (pore), banyaknya melanin dan keriput (wrinkle) dengan menggunakan skin analyzer sesuai dengan parameter pengukuran. Setelah pengukuran kondisi kulit awal, perawatan mulai dilakukan dengan pengolesan nanokrim minyak kacang makadamia secara merata pada wajah, nanokrim dioleskan berdasarkan kelompok yang telah ditetapkan di atas, pengolesan dilakukan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu. Perubahan kondisi kulit diukur setiap minggu selama 4 minggu dengan menggunakan skin analyzer.
3.7 Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 17. Langkah pertama data dianalisis dengan menggunakan metode Shapiro-Wilk untuk menentukan homogenitas dan normalitasnya. Kemudian dilanjutkan dengan dianalisis menggunakan metode Kruskal Wallis untuk menentukan perbedaan rata-rata di antara kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Formulasi Sediaan 4.1.1 Formulasi nanokrim
Minyak kacang makadamia adalah minyak nabati yang mengandung vitamin E dan persentase tertinggi asam lemak tak jenuh tunggal yaitu asam oleat 60-70% dibandingkan dengan minyak lain seperti minyak zaitun (Rengel, 2015).
Berdasarkan sertifikat analisis minyak kacang makadamia, kandungan vitamin E dan asam oleat yang terdapat dalam minyak tersebut adalah sebesar 17,82 ppm dan 64,5%.
Pada peneltian ini sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dibuat dengan menggunakan metode emulsifikasi energi tinggi (high-shear stirring) menggunakan alat mixer (Koroleva dan Yurtov, 2012). Mixer termasuk dalam sistem rotor stator atau metode emulsifikasi dengan pengadukan kecepatan tinggi.
Mekanisme pengecilan partikel oleh mixer yaitu menggunakan gaya sentripetal yang dihasilkan oleh rotor yang berputar dengan kecepatan tinggi. Gaya sentripetal ini mengakibatkan emulsi tertarik ke dalam sistem rotor dan terlempar ke ruang antara rotor dan dinding dalam stator sehingga terjadi emulsifikasi yang intens. Adanya sekat-sekat pada tungkai rotor memaksa droplet untuk membentuk ukuran yang lebih kecil (Koroleva dan Yurtov, 2012; Niazi, 2004).
Berdasarkan uji pendahuluan yang telah dilakukan, pembuatan sediaan nanokrim tanpa minyak kacang makadamia (blanko) memperlihatkan tidak dapat terbentuk emulsi. Syarat terbentuknya emulsi yaitu menggunakan campuran fase
minyak, dan fase air juga membutuhkan surfaktan untuk menggabungkan kedua fase tersebut (Mollet, 2001). Adapun konsentrasi optimum surfaktan tween 80 (34%) dan kosurfaktan propilen glikol (8%) untuk menghasilkan sediaan nanokrim yang lebih lunak dan lebih stabil. Minyak kacang makadamia digunakan dalam formulasi ini sebagai pembawa minyak dan sebagai bahan anti-aging dengan variasi konsentrasi 2%, 5%, 7%, dan 10%, dan setil alkohol sebagai emolien juga peningkat konsistensi dengan konsentrasi 0,5% menghasilkan sediaan nanokrim berupa cairan kental berwarna putih yang mana semakin kecil ukuran partikel maka sediaan nanokrim yang dihasilkan semakin berkurang intensitas warnanya dan semakin transparan. Ukuran globul mempunyai peranan penting dalam tampilan sediaan emulsi (Kale, et al., 2017; Madaan, et al., 2014)
Gambar 4.1 Sediaan nanokrim dengan variasi konsentrasi minyak kacang makadamia 2; 5; 7; 10%
4.2 Hasil Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Nanokrim 4.2.1 Evaluasi stabilitas fisik sediaan
Evaluasi stabilitas fisik sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dilakukan dengan pengujian stabilitas yang dipercepat. Sediaan nanokrim minyak kacang makadamia diletakkan dalam wadah kaca dan disimpan dalam climatic chamber pada suhu 40°C ± 2°C dan RH 75% ± 5% selama satu bulan. Pengujian
ini bertujuan untuk melihat stabilitas fisik keempat formula sediaan nanokrim minyak kacang makadamia. Data pengamatan yang diamati yaitu perubahan warna, bau, bentuk, dan pemisahan fase. Hasil evaluasi stabilitas sediaan nanokrim minyak kacang makadamia 2%, 5%, 7%, dan 10% dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data pengamatan nanokrim minyak kacang makadamia
Keterangan:
Berdasarkan Tabel 4.1 hasil pengamatan stabilitas fisik sediaan nanokrim minyak kacang makadamia yang divariasikan dengan konsentrasi 2%, 5%, 7%
dan 10% yang disimpan pada climatic chamber selama satu bulan, tidak ada perubahan warna, bau serta pemisahan fase. Hasil pengamatan stabilitas sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Lampiran 6.
Hukum Stokes menjelaskan bahwa creaming atau sedimentasi dapat dicegah dengan meningkatkan viskositas sediaan, dan memperkecil ukuran droplet (Ali et al., 2013).
Lama penyimpanan
(minggu)
Data Pengamatan
Warna Bau Bentuk Pemisahan fase
F1 F2 F3 F4 F1 F2 F3 F4 F1 F2 F3 F4 F1 F2 F3 F4
4.2.2 Hasil pemeriksaan homogenitas
Hasil pemeriksaan homogenitas terhadap sediaan nanokrim minyak kacang makadamia menunjukkan bahwa semua sediaan tidak memperlihatkan adanya butir-butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca transparan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan yang homogen (Ditjen POM, 1979). Hasil pemeriksaan homogenitas sediaan nanokrim dapat dilihat pada Lampiran 7.
4.2.3 Hasil penentuan tipe emulsi sediaan
Jika air merupakan fase luar (O/W), zat warna tersebut akan melarut di dalamnya dan berdifusi merata ke seluruh bagian air. Jika emulsi tersebut bertipe W/O, partikel-partikel zat warna akan tinggal bergerombol pada permukaan (Martin., dkk, 1993). Hasil penentuan tipe emulsi sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Lampiran 7.
Tabel 4.2 Data kelarutan metil biru pada sediaan
No Formula Kelarutan Biru Metil pada Sediaan
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan pada Tabel 4.2 hasil uji tipe emulsi sediaan nanokrim minyak kacang makadamia (F1, F2, F3 dan F4) menunjukkan warna biru metil dapat homogen atau tersebar merata di dalam sediaan sehingga dapat dibuktikan bahwa sediaan nanokrim minyak kacang makadamia yang dibuat mempunyai tipe emulsi
menyebar di permukaan kulit, tidak lengket dan mudah dihilangkan dengan pencucian.
4.2.4 Hasil pengukuran pH sediaan
Pengukuran pH nanokrim minyak kacang makadamia dilakukan untuk melihat perubahan pH sediaan selama penyimpanan, dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data pengukuran pH sediaan
Formula Lama Pengamatan (minggu)
0 1 2 3 4
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa selama penyimpanan menunjukkan sedikit penurunan pH, namun pH sediaan masih sesuai dengan pH kulit yaitu antara 4,5 - 6,5 sehingga aman digunakan dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit (Tranggono, dkk., 2007).
4.2.5 Hasil pengujian daya sebar
Menurut Garg, et al. (2002) daya sebar merupakan karakteristik penting dalam formulasi yang menjamin kemudahan saat sediaan diaplikasikan di kulit.
Pada sediaan semipadat, daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas sediaan. Semakin tinggi nilai viskositas suatu sediaan, maka daya sebar sediaan semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Hasil pengujian daya sebar sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Data pengujian daya sebar sediaan
Formula Data Pengamatan (cm2)
Tanpa Beban 25g 50g 75g 100g 125g
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan pada Tabel 4.4 hasil uji daya sebar menunjukkan bahwa sediaan nanokrim minyak kacang makadamia dengan variasi konsentrasi memiliki daya sebar yang baik, karena sesuai dengan kriteria daya sebar krim. Luas daya sebar 5-7 cm2 menunjukkan konsistensi semisolid yang nyaman dalam penggunaan (Garg et al., 2002).
4.2.6 Hasil penentuan viskositas
Viskositas adalah pernyataan tahanan suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi nilai viskositas, semakin besar tahanannya (Martin, dkk., 1993). Data hasil uji viskositas nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Data uji viskositas sediaan nanokrim minyak kacang makadamia (dalam Cp)
Formula Lama penyimpanan (minggu)
0 1 2 3 4
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan Tabel 4.5 hasil pengamatan viskositas sediaan menunjukkan
viskositas, hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa viskositas akan meningkat dengan meningkatnya umur sediaan tersebut dikarenakan kemungkinan terjadinya penggumpalan pada sediaan yang menyebabkan peningkatan viskositas (Lachman, dkk, 1994).
4.2.7 Hasil uji sentrifugasi
Pada pengujian ini, sediaan dalam tabung sentrifugasi dimasukkan ke dalam sentrifugator dengan kecepatan putaran 3750 rpm selama 5 jam. Pengujian sentrifugasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pemisahan fase yang mungkin terjadi akibat gaya gravitasi (Lachman., dkk, 1994). Uji sentrifugasi dilakukan pada awal setelah sediaan dibuat dengan pengukuran sebanyak 1 kali.
Data hasil uji sentrifigasi nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Lampiran 9 dan Tabel 4.6 sebagai berikut:
Tabel 4.6 Data uji sentrifugasi
Keterangan :
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa setelah dilakukan uji sentrifugasi pada keempat formula F1, F2, F3, dan F4 menunjukkan tidak adanya pemisahan fase yang menunjukkan bahwa sediaan nanokrim minyak kacang makadamia yang terbentuk memiliki kestabilan selama satu tahun (Lachman, dkk., 1994).
Formula Sentrifugasi
Memisah Mengendap/creaming Keruh
F1 - - -
F2 - - -
F3 - - -
F4 - - -
4.2.8 Hasil pengukuran tegangan permukaan
Pengukuran tegangan permukaan sediaan dilakukan pada awal setelah sediaan dibuat dengan pengukuran sebanyak 1 kali. Tegangan permukaan diukur untuk mengetahui surfaktan dalam menurunkan tegangan antar muka minyak dan air. Data hasil pengukuran tegangan permukaan nanokrim minyak kacang makadamia dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Data pengukuran tegangan permukaan nanokrim minyak kacang makadamia
Formula Tegangan Permukaan (dyne/cm)
F1 53,48
F2 50,16
F3 46,50
F4 42,18
Keterangan :
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan Tabel 4.7 hasil pengukuran terhadap tegangan permukaan diperoleh tegangan permukaan antara 42,18 dyne/cm-53,48 dyne/cm. Penggunaan surfaktan dapat menurunkan tegangan antar muka dari kedua cairan yang tidak saling bercampur. Menurunnya tegangan antar muka ini akan mengurangi daya kohesi dan meningkatkan daya adhesi. Surfaktan akan membentuk lapisan tipis (film) yang menyelimuti partikel sehingga mencegah partikel tersebut bersatu dengan partikel sejenisnya (Ansel, 1989). Penggunaan kosurfaktan dibutuhkan karena kosurfaktan dapat menurunkan tegangan muka antar fase lebih lanjut serta menfluidisasi lapisan film surfaktan, sehingga penggunaan kosurfaktan dapat menurunkan jumlah surfaktan yang digunakan (Yadav et al., 2012; Tsai et al., 2014).
4.2.9 Hasil penentuan ukuran partikel nanokrim
Penentuan ukuran partikel dilakukan untuk mengetahui ukuran partikel pada sediaan nanokrim dengan menggunakan alat Vascoγ CORDOUAN Technologies Particle Size Analyzer, rata-rata ukuran partikel nanokrim dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Data penentuan distribusi ukuran partikel nanokrim
Formula Ukuran partikel (nm)
F1 205, 27
F2 216, 69
F3 223,58
F4 283, 65
Keterangan :
F1 : Nanokrim minyak kacang makadamia 2%
F2 : Nanokrim minyak kacang makadamia 5%
F3 : Nanokrim minyak kacang makadamia 7%
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Tabel 4.9 Data penentuan distribusi ukuran partikel nanokrim F4 setelah penyimpanan selama 4 bulan
Formula Ukuran partikel (nm)
F4 475,39
Keterangan :
F4 : Nanokrim minyak kacang makadamia 10%
Berdasarkan Tabel 4.8 dan 4.9 hasil uji ukuran partikel menggunakan alat Vascoγ CORDOUAN Technologies Particle Size Analyzer menunjukkan bahwa ukuran partikel yang dihasilkan dapat dilihat adanya peningkatan seiring dengan penambahan konsentrasi minyak dan setelah penyimpanan, namun ukuran tersebut masih dalam rentang persyaratan nanokrim, yaitu 20 nm – 500 nm (Abdulkarim, et al., 2010).
Mekanisme pengecilan partikel oleh mixer yaitu menggunakan gaya sentripetal yang dihasilkan oleh rotor yang berputar dengan kecepatan tinggi.
Gaya sentripetal ini mengakibatkan emulsi tertarik ke dalam sistem rotor dan
emulsifikasi yang intens. Adanya sekat-sekat pada tungkai rotor memaksa droplet untuk membentuk ukuran yang lebih kecil (Koroleva dan Yurtov, 2012).
Selain metode pembuatannya, konsentrasi surfaktan yang digunakan juga mempengaruhi ukuran partikel (Koroleva and Yurtove, 2012). Pada umumnya penggunaan surfaktan dan kosurfaktan menghasilkan penurunan tegangan antarmuka untuk menghasilkan partikel kecil yang seragam dan cepat membentuk selaput untuk melindungi partikel dari agregasi selama pembuatan. Selain itu, ukuran partikel juga dapat dikurangi dengan cara homogenisasi seperti dengan menggunakan pengadukan (Sinko, 2006). Data hasil penentuan ukuran partikel sediaan nanokrim dapat dilihat pada Lampiran 4.
4.3 Hasil Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan
Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan yang dioleskan pada kulit yang tipis di belakang telinga dan dibiarkan selama 24 jam.
Tabel 4.10 Data hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan
Tabel 4.10 Data hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan