3.3.1. Penelitian/Studi Kasus
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa untuk Bantuan Langsung
Masyarakat (BLM) Tahap I telah disalurkan dana pinjaman bergulir sebesar Rp. 1.053.500.000 kepada 8 kelurahan sasaran di Kabupaten Karimun yang
meliputi 3 kecamatan di Pulau Karimun. Selanjutnya dari 8 Kelurahan tersebut disalurkan kepada 376 KSM dengan total peminjam sebanyak 2147 orang sebagaimana pada tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4. Penyaluran BLM Tahap Pertama di Kabupaten Karimun
No Kecamatan Kelurahan/Desa Jumlah KSM Jumlah Peminjam
Tg. Balai Karimun 76 434 Teluk Air 29 166 Parit 56 320 1. Karimun Tulang 35 200 Pamak 17 97 2. Tebing Harjosari 54 308 Meral Kota 89 508 3. Meral Baran 20 114 Total 376 2.147
Sumber: Koordinator Kota (diolah)
Mengingat cakupan yang luas, besarnya jumlah pemanfaat/peminjam dana bergulir, waktu dan tenaga yang terbatas maka kajian ini menggunakan penelitian/studi kasus. Dimana penelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat sempit. Tetapi ditinjau dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam (Arikunto,1997).
Penentuan Kelurahan Tanjung Balai Karimun dengan pertimbangan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya karena tunggakan terbesar pada penyaluran BLM Tahap I adalah Kelurahan Tanjung Balai Karimun. Sehingga dengan kajian pada ruang lingkup Kelurahan ini diharapkan bisa lebih mendalami terhadap permasalahan yang terjadi dan menjadi masukan bagi penyempurnaan program di masa yang akan datang.
3.3.2. Penentuan Responden
Responden yang berasal dari peminjam ditentukan melalui pengambilan sampel dari populasi yaitu masyarakat miskin penerima dana pinjaman bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun sebanyak 434 orang yang berasal dari 76 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang ada dengan menggunakan perhitungan estimasi proporsi yang rumusnya sebagai berikut, Umar (2003:141)
n = ____N____ 1 + N e2 Keterangan :
n = Ukuran sampel
N = Ukuran Populasi. Dalam penelitian ini, berarti N adalah warga Kelurahan Tanjung Balai Karimun peminjam Dana Bergulir P2KP
E = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir, dalam kajian ini penulis memakai kelonggaran ketelitian sebesar 14%
sehingga n diperoleh sebesar :
n = _______434_______ = 46 1 + 434 (0.14)2
Selanjutnya 46 orang responden ini ditentukan secara acak dengan menggunakan Random Sampling. Dalam teknik ini, peneliti mengambil sampelnya dengan ”mencampur” subjek-subjek dalam populasi sehingga subjek- subjek dalam populasi dianggap sama. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel. Oleh karena hak setiap subjek sama, maka penelitian terlepas dari perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel (Arikunto,1997).
Sedangkan responden diluar peminjam (responden ahli) dilakukan dengan metode Purposive Sampling, yaitu metode pengambilan contoh responden tidak secara acak tetapi pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan baik individu atau lembaga sebagai responden yang mengerti permasalahan yang terjadi dan memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan baik langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan kebijakan atau memberi masukan kepada para pengambil kebijakan yaitu: Pengurus BKM/UPK, Fasilitator Kelurahan, Lurah Pejabat Operasional Kegiatan (PJOK) dan Kabid Pemberdayaan Masyarakat BKPMD dan Kesbang.
Adapun komposisi dari responden secara lengkap sebagaimana tabel 5 dibawah ini:
Tabel 5. Komposisi Responden Peminjam dan Responden Ahli
No Responden Jabatan Jumlah
1. Peminjam Anggota KSM 46
2. BKM Ketua
UPK
1 2
3. Aparat Kelurahan Lurah 1
4. Fasilitator Kelurahan Konsultan P2KP 1
5. PJOK Pendamping P2KP 1 6. Kabid Pemberdayaan Masyarakat BKPMD dan Kesbang Anggota Penanggung Jawab P2KP 1 TOTAL 53
3.3.3. Metode Pengumpulan Data
Pemilihan dan penentuan pengumpulan data berdasarkan pada permasalahan yang diteliti, dan hipotesa yang hendak diuji kebenarannya. Dalam kajian ini pengumpulan data diperoleh dari:
a. Data Primer, yaitu data yang dikumpulkan dari tangan pertama, atau dapat dikatakan data primer merupakan pendapat-pendapat yang sifatnya subjektif dari responden dan disampaikan langsung. Pengumpulan data dilakukan melalui Observasi Lapangan (field Observation), wawancara (Interview) dan pengisian daftar pertanyaan (kuisioner) yang dilakukan pihak-pihak terkait atau stakeholder yang telah ditetapkan sebagai responden.
b. Data Sekunder, yaitu data-data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi untuk melengkapi data primer. Dalam hal ini data yang digunakan adalah arsip atau dokumen didapat dari BKM Sejahtera, Koordinator Kota P2KP Kabupaten Karimun, Kantor Lurah Tanjung Balai Karimun, dan Badan Kependudukan dan Catatan Sipil.
Sedangkan data yang dikumpulkan berdasarkan tujuan dan jenis data adalah sebagaimana pada tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6. Tujuan Kajian, Jenis data, dan Sumber Data
No Tujuan Kajian Jenis Data Sumber Data
1. Mengevaluasi persiapan (Input) pemanfaaan dana pinjaman bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun;
a. Kelayakan Lembaga Pengelola
b. Kelayakan Peminjam c. Pendanaan
Faskel, Lurah, PJOK, BKM, Kabid BKPMD,
Faskel dan BKM/UPK
Faskel, Lurah, PJOK, BKM, Kabid BKPMD.
2. Mengevaluasi pelaksanaan (Proses) pemanfaatan dana pinjaman bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun;
a. Pendampingan b. Penggunaan Dana
Anggota KSM (Peminjam) Anggota KSM (Peminjam) Faskel, Lurah, PJOK, BKM, Kabid BKPMD.
3. Mengevaluasi Dampak (Output) pemanfaaan dana pinjaman bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun;
a. Keadaan Ekonomi b. Perguliran Peminjam
Anggota KSM (Peminjam) Faskel, Lurah, PJOK, BKM, Kabid BKPMD.
4. Menganalisis strategi baru bagi penyempurnaan pemanfaatan dana pinjaman bergulir P2KP di
Kelurahan Tanjung Balai Karimun.
Kuesioner AHP Faskel, Lurah, PJOK, BKM, Kabid BKPMD.
3.3.4. Metode Analisis Data
Analisis data disajikan dengan dua metode analisis yaitu metode analisis kualitatif (deskriptif) dan kuantitatif. Metode analisis kualitatif dimaksudkan untuk memaparkan seluruh data dan informasi baik primer maupun sekunder yang berhubungan dengan obyek kajian dalam bentuk persentase dan deskriptif terkait pelaksanaan dan permasalahan program mulai dari Input, Proses dan Output. Metode analisis kuantitatif dimaksudkan untuk memaparkan data dan informasi hasil perhitungan dan olahan data observasi yang berkaitan dengan obyek kajian. Pengolahan dan analisis data pada pendekatan kuantitatif menggunakan tabulasi data yang menghasilkan tabel frekuensi dan untuk penentuan strategi penyempurnaan program menggunakan Analytichal Hierarchi Process (AHP) yang akan dijelaskan lebih lanjut.
Analytical Hierarchi Process (AHP)
Analytical Hierarchi Process (AHP) merupakan suatu metode yang digunakan untuk membantu memecahkan masalah kualitatif yang komplek dengan memakai perhitungan kuantitatif. Melalui proses pengekspresian masalah dalam kerangka berfikir yang terorganisir, memungkinkan dilakukannya proses pengambilan keputusan secara efektif. Metode yang dikembangkan pada tahun 1970-an ini dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan informasi dan berbagai keputusan secara rasional (judgement) agar dapat memilih prioritas alternatif kebijakan dan sasaran.
Analisa dilakukan dengan menganalisa strategi pemerintah dengan menyebarkan kuesioner AHP kepada expert dan merekapitulasi hasil pemilaian expert tersebut serta menentukan strategi yang tepat dalam upaya pemanfaatan dana bergulir P2KP. Alternatif strategi pada hirarki diperoleh melalui justifikasi alternatif-alternatif dari studi kepustakaan dan observasi yang berkaitan dengan obyek penelitian. Metode ini memiliki keunggulan tertentu kaena membantu menyederhanakan persoalan yang komplek menjadi persoalan yang berstruktur, sehingga mendorong dipercepatnya proses pengambilan keputusan terkait.
Menurut Saaty (1993) prinsip kerja AHP terdiri dari delapan langkah utama sebagai berikut:
(a) Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan persoalan yang diinginkan. Hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah penguasaan masalah secara mendalam, karena yang menjadi perhatian adalah pemilihan tujuan, kriteria dan elemen-elemen yang menyusun struktur hierarki. Tidak terdapat prosedur yang pasti untuk mengindentifikasikan komponen-komponen sistem, seperti tujuan, kriteria dan aktivitas-aktivitas yang akan dilibatkan dalam suatu sistem hierarki. Komponen-komponen sistem dapat diidentifiksaikan berdasarkan kemampuan pada analisa untuk menemukan unsur-unsur yang dapat dilibatkan dalam suatu sistem.
(b) Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajemen secara menyeluruh. Struktur hierarki ini mempunyai bentuk yang saling berkaitan, tersusun dari sasaran utama, sub-sub tujuan, faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi sub-sub sistem tujuan tersebut, pelaku-pelaku yang memberi dorongan, tujuan
–tujuan pelaku dan akhirnya ke alternatif strategis, pilihan atau skenario. Penyusunan hierarki ini berdasarkan jenis keputusan yang akan diambil. Pada tingkat puncak hierarki hanya terdiri dari satu elemen yang disebut dengan fokus, yaitu sasaran keseluruhan yang bersifat luas. Tingkat dibawahnya dapat tediri dari beberapa elemen yang dibagi dalam kelompok homogen, agar dapat dibandingkan dengan elemen-elemen yang berada pada tingkat sebelumnya. (c) Menyusun matriks banding berpasangan. Matriks banding berpasangan
dimulai dari puncak hierarki yang merupakan dasar untuk melakukan pembandingan berpasangan antar elemen yang tekait yang ada dibawahnya. Pembandingan berpasangan pertama dilakukan pada elemen tingkat kedua terhadap fokus yang ada di puncak hierarki. Menurut perjanjian, suatu elemen yang ada di sebelah kiri diperiksa perihal dominasi atas yangada di sebelah kiri suatu elemen di puncak matriks.
(d) Mengumpulkan semua pertimbangan yang diperlukan dari hasil melakukan perbandingan berpasangan antar elemen pada langkah tiga. Setelah itu dilakukan perbandingan berpasangan antar setiap elemen pada kolom ke-i dengan setiap elemen pada baris ke-j. Pembandingan berpasangan antar elemen tersebut dilakukan dengan pertanyaan: “Seberapa kuat elemen baris ke-i didominasi atau dipengaruhi, dipenuhi, diuntungkan oleh fokus di puncak hierarki, dibandingkan dengan kolom ke-i?”. Apabila elemen-elemen yang diperbandingkan merupakan suatu peluang atau waktu, maka pertanyaannya adalah: “Seberapa lebih mungkin suatu elemen baris ke-i dibandingkan dengan elemen kolom ke-j sehubungan dengan elemen di puncak hierarki?”. Untuk mengisi matriks banding berpasangan, digunakan skala banding yang tertera pada tabel 7. Angka-angka yang tertera menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen dibanding dengan elemen lainnya sehubungan dengan sifat atau kriteria tertentu. Pengisian matriks hanya dilakukan untuk bagian diatas garis diagonal dari kiri ke kanan bawah.
(e) Memasukkan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan sepanjang diagonal utama. Angka satu sampai sembilan digunakan bila F, labih mendominasi atau mempengaruhi sifat fokus puncak hierarki (X) dibandingkan dengan Fj. Sedangkan bila F, kurang mendominasi atau kurang mempengaruhi sifat X
dibandingkan Fj maka digunakan angka kebalikannya. Matriks di bawah garis diagonal utama diisi dengan nilai-nilai kebalikannya. Contoh: bila elemen F24 memiliki nilai tujuh, maka nilai elemen F42 adalah 1/7
Tabel 7. Nilai Skala Banding Berpasangan
Intensitas
Pentingnya Definisi Penjelasan
1 3 5 7 9 2,4,6,8
Kedua elemen sama pentingnya
Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya.
Elemen yang satu sangat penting daripada elemen yang lainnya
Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya
Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen yang lainnya.
Nilai-nilai diantara dua pertimbangan yang berdekatan
Dua elemen menyumbang sama besar pada sifat tersebut
Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lainnya.
Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas atas yang lainnya.
Satu elemen dengan kuat disokong dan dominasinya telah terlihat dalam praktek.
Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lainnya memiliki tingkat penegasan yang tertinggi yang mungkin menguatkan.
Kompromi diperlukan di antara dua pertimbangan
Kebalikan Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka (x) jika dibandingkan dengan aktivitas j, maka memiliki nilai kebalikannya (1/x)
Sumber: Saaty (1993)
(f) Melaksanakan langkah tiga, empat dan lima, untuk semua tingkat dan gugusan dalam hierarki tersebut. Pembandingan dilanjutkan untuk semua elemen pada setiap tingkat keputusan yang terdapat pada hierarki, terkait dengan kriteria elemen di atasnya. Pada metode AHP terdapat matriks berpasangan yang dibedakan menjadi: (1) Matriks pendapat Individu (MPI) dan (2) Matriks Pendapat Gabungan (MPG). MPI adalah matriks hasil pembandingan yang dilakukan individu. MPI memiliki elemen yang disimbolkan dengan a, yaitu elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. Matriks pendapat individu dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Matriks Pendapat Individu X A1 A2 Aj ... An A1 A2 Ai ... An a11 a21 a31 ... an1 a12 a22 a32 ... an2 a1j a2j a3j ... anj ... ... ... ... ... a1n a2n a3n ... ann Sumber: Saaty (1993) Keterangan:
X : Kriteria sebagai dasar pembanding Ai, Aj : elemen-elemen pembanding
ai, aj : angka pembanding elemen baris ke-i terhadap elemen kolom ke-j yang diperoleh dengan menggunakan skala berbanding berpasangan
Sedangkan yang dimaksud dengan Matriks Pendapat Gabungan (MPG) adalah susunan matriks baru yang elemen (gij) berasal dari rata-rata geometrik
pendapat-pendapat individu yang rasio inkonsistensinya lebih kecil atau sama dengan sepuluh persen dan setiap elemen pada baris dan kolom yang sama dari MPI yang satu dengan MPI yang lain tidak terjadi konflik. Persyaratan MPG yang bebas dari konflik adalah:
(1) Pendapat masing-masing individu pada baris dan kolom yang sama memiliki selisih kurang dari empat satuan antara nilai pendapat individu yang tertinggi dengan nilai yang terendah.
(2) Tidak terdapat angka kebalikan (resiplokal) pada baris dan kolom yang sama. MPG dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Matriks Pendapat Gabungan
X A1 A2 Aj ... An G1 G2 Gi ... Gn g11 g21 g31 ... gn1 g12 g22 g32 ... gn2 g1j g2j g3j ... gnj ... ... ... ... ... g1n g2n g3n ... gnn Sumber: Saaty (1993)
Rumus matematika yang digunakan untuk memperoleh rata-rata geometrik
adalah: m m k ij ij a k g 1 ) ( = = π
dimana,
= elemen MPG baris ke-i kolom ke-j ij
g
(aij)k = elemen baris ke-i kolom ke-j dari MPI ke-k = jumlah MPI yang memenuhi persyaratan
m
= perkalian dari elemen k = 1 sampai k = m
m kπ=1
m = akar pangkat m
(g) Mensintesis prioritas untuk melakukan pembobotan vektor-vektor prioritas. Menggunakan komposisi secara hierarki untuk membobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria dan menjumlahkan semua nilai prioritas terbobot yang bersangkutan dengan nilai prioritas dari tingkat bawah berikut dan seterusnya.
Terdapat dua tahap pengolahan matriks pendapat, yaitu (1) pengolahan horisontal dan (2) pengolahan certikal. Kedua jenis pengolahan tersebut dapat dilakukan untuk MPI dan MPG. Pemgolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan MPG diolah secara horisontal, dimana MPI dan MPG harus memenuhi persyaratan inkonsestensi.
a. Pengolahan Horisontal, terdiri dari tiga bagian, yaitu penentuan Vektor Prioritas (Vector Eigen), uji konsistensi dan revisi MPI dan MPG yang memiliki Rasio Inkonsistensi tinggi. Tahapan perhitungan yangdilakukan pada pengolahan horisonal ini adalah:
(1) Perkalian baris (Z) dengan rumus :
ij n k i a Z 1 = = π (i,j = 1, 2,3, ... n)
(2) Perhitungan Vektor Prioritas (VP) atau Eigenvektor adalah :
∑
= = = = n i n ij n k n ij n k i a a VP 1 1 1 π π VP = (Vpi), untuk i = 1, 2, 3, ... n)(3) Perhitungan Nilai Eigen Maks (Maks) dengan rumus : Vp a VA=( ij)× dengan VA = (vai) VP VA VB= dengan VB = (vbi)
∑
= = n k i i maks vb n 1 λ untuk i = 1, 2, 3, ... n(4) Perhitungan Indeks Konsistensi (CPI) dengan rumus :
1 − − = n n CI λmaks
(5) Perhitungan Rasio Inkonsistensi (CI) adalah :
RI CI
CR=
Menurut Saaty (1993), nilai rasio inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau sama dengan 0,1 merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan CR merupakan tolak ukur bagi konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu matriks pendapat.
Tabel 10. Daftar Nilai Random Indeks
Ordo Matriks (n) Indeks Random (RI)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 0 0 0,5 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,19 1,51 1,48 1,56 1,57 1,59 Sumber: Saaty (1993)
b. Pengolahan Vertikal, yaitu menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama atau fokus. Apabila didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat ke-i terhadap sasaran utama, maka:
ij
CV
∑
− × −= CH (t;i 1) VW (a 1)
Untuk ; i = 1, 2, 3, ... n; j = 1, 2, 3, ... n; t = 1, 2, 3, ... n di mana : ) 1 ; (t i−
CHij = nilai prioritas elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat di atasnya (i-1), yang diperoleh dari hasil pengolahan horisontal
) 1 (i−
VWt = nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-t) terhadap sasaran utama, yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal P = jumlah tingkat hierarki keputusan
r = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i s = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke (i-t)
c. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki. Pada pengisian judgement pada tahap MBB (Matriks Banding Berpasangan) terdapat kemungkinan terjadinya pemyimpangan dalam membandingkan elemen satu dengan elemen yang lainnya, sehingga diperlukan suatu uji konsistensi. Dalam AHP penyimpangan dperbolehkan dengan toleransi Rasio Inskonsistensi dibawah sepuluh persen. Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing- masing matriks. Untuk memperoleh hasil yang baik, rasio inkonsisten pemilahan responden untuk analisis AHP dilakukan dengan metode Purposive Sampling, yaitu metode pengambilan contoh responden tidak secara acak tetapi pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan baik individu atau lembaga sebagai responden yang mengerti permasalahan yang terjadi dan memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan kebijakan atau memberi masukan kepada para pengambil kebijakan.
Untuk melakukan pengolahan data dengan metode AHP dibutuhkan sistem-sistem hirarki keputusan yang berkaitan dengan masalah kajian. Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi di lapangan serta studi literatur dapat disajikan dengan hirarki kepentingan dan strategi terhadap Srategi penyempurnaan pelaksanaan Dana Pinjaman Bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun disajikan pada gambar 7.
Berdasarkan gambar tersebut, sistem hirarki keputusan memiliki bentuk yang saling terkait. Struktur hirarki ini terdiri dari empat level sebagai berikut: 1. Level pertama merupakan tujuan dari dilakukannya proses hierarki analisis
yaitu penyempurnaan pemanfaatan Dana Pinjaman Bergulir P2KP. Tujuan ini ditetapkan terkait dengan identifikasi di lapangan, yaitu bahwa dalam penyaluran dan pemanfaatan dana bergulir P2KP belum maksimal. Khususnya di Kelurahan Tanjung Balai Karimun tingkat tunggakannya merupakan tertinggi di Kabupaten Karimun sehingga keberlanjutan dana pinjaman bergulir tidak maksimal. Sehingga hasil kajian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk Pemerintah Daerah.
2. Level kedua yaitu penentuan Aspek yang berkaitan dengan evaluasi pelaksanaan Dana Pinjaman Begulir P2KP. Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa deviasi atau penyimpangan pada hasil sementara ataupun hasil akhir (output) dari suatu program tidak terlepas dari penyimpangan yang terjadi pada tahapan perencanaan ataupun Input program maupun pada proses pelaksanaan suatu program. Sehingga dari hal tersebut dalam penentuan aspek yang berperan disimpulkan yaitu:
a. Aspek Persiapan (Input). Penentuan aspek ini didasarkan pada evaluasi terhadap persiapan ataupun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelum penyaluran ataupun penyerahan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) P2KP berupa dana pinjaman bergulir.
b. Aspek Pelaksanaan (Proses). Penentuan aspek ini didasarkan pada evaluasi terhadap pelaksanaan ataupun kegiatan setelah penyaluran dana pinjaman bergulir P2KP kepada masyarakat yang tergabung dalam anggota KSM sebagai peminjam.
c. Aspek Dampak (Output). Penentuan aspek ini didasarkan kepada evaluasi terhadap hasil atau dampak ekonomi yang diperoleh dari penyaluran dana pinjaman bergulir P2KP terhadap masyarakat miskin yang mendapatkan pinjaman dimaksud serta didasarkan pada evaluasi kegiatan atau upaya yang dilakukan dalam rangka keberlanjutan program.
3. Level ketiga merupakan kriteria-kriteria dari aspek penyelenggaraan ataupun pemanfaatan Dana Pinjaman Bergulir P2KP pada level kedua, yaitu:
a. Kriteria kelayakan lembaga pengelola, penentuan kriteria ini didasarkan pada ketentuan atau persyaratan yang harus dipenuhi oleh BKM/UPK untuk dapat mengelola dana pinjaman bergulir P2KP.
b. Kriteria kelayakan peminjam, penentuan kriteria ini didasarkan pada ketentuan atau persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang tergabung didalam KSM untuk mendapatkan pelayanan atau pinjaman dana bergulir P2KP.
c. Kriteria pendanaan, penentuan kriteria ini didasarkan pada diperbolehkannya sumber dana yang berasal dari selain sumber dana utama yaitu Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Sedangkan untuk dana pinjaman bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun hanya berasal dari BLM dimaksud.
d. Kriteria pendampingan, penentuan kriteria ini didasarkan pada pentingnya aspek ini dalam upaya untuk memandirikan masyarakat dalam melakukan kegiatan usahanya, baik kemandirian individu maupun kemandirian kelompok.
e. Kriteria penggunaan dana, penentuan kriteria ini didasarkan pada pentingnya evaluasi terhadap kegiatan usaha yang dilakukan masyarakat dala memanfaatkan dana yang diperolehnya dan bagaimanakah pengembalian dana atau angsuran yang terlaksana.
f. Kriteria keadaan ekonomi, penentuan kriteria ini didasarkan kepada tujuan yang ingin dicapai dari program ini yaitu keadaan ekonomi masyarakat golongan miskin semakin meningkat.
g. Kriteria Perguliran pinjaman, penentuan kriteria ini didasarkan kepada pentingnya aspek ini dalam kerangka keberlanjutan program. Dimana perguliran atau perputaran dana dapat berjalan kepada peminjam lama yang telah melunasi pembayarannya maupun kepada msyarakat miskin yang belum mendapatkan pinjaman.
4. Level keempat merupakan alternatif strategi bagi penyempurnaan atau peningkatan pemanfaatan dana bergulir P2KP di Kelurahan Tanjung Balai Karimun yang terdiri dari:
a. Pelatihan/training secara berkala bagi pengelola lokal. Pelatihan kepada pengelola lokal dalam hal ini kepada Unit Pengelola Keuangan (UPK) yang berada dibawah BKM sangat diperlukan mengingat SDM yang ada belum memadai. Pelatihan ini diperlukan agar keberlanjutan program tetap terjaga. Dimana setelah kontrak konsultan (dalam hal ini Korkot) berakhir, UPK yang ada tetap bisa melaksanakan program ini secara mandiri. Baik secara kelembagaan, administrasi umum maupun administrasi keuangan. b. Revisi Pemetaan Swadaya. Pelaksanaan revisi terhadap pemetaan swadaya
yang ada diperlukan karena dari hasil evaluasi banyak dari peminjam yang tidak terdaftar atau tercantum dalam pemetaan swadaya sebagaimana ketentuan yang berlaku. Selain itu revisi ini dilakukan unuk menghindari masyarakat yang tidak berhak atau bukan kelompok sasaran mendapatkan dana pinjaman dimaksud.
c. Sosialisasi program kepada pihak ketiga (Bank maupun non-Bank). Dalam pelaksanaan program ekonomi bergulir P2KP ini dimungkinkan sumber dana yang berasal diluar dari Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Dengan sosialisasi progam ini kepada pihak ketiga tersebut merupakan suatu strategi dalam mendapatkan sumber dana lain diluar BLM dimaksud. d. Kunjungan dan pertemuan rutin melibatkan Stakeholder dan instansi
terkait. Pertemuan rutin ini diperlukan sebagai wadah evaluasi bagi stakeholder dan instansi terkait lainnya terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan, merumuskan penyelesaian permasalahan yang ada, dan merencanakan kegiatan kedepan.
e. Penyaluran modal sesuai dengan skala usaha. Salah satu kriteria dan permasalahan yang ada adalah besaran modal yang tidak sesuai dengan skala usaha. Sehingga perlu penyusunan strategi dan telaahan terhadap usaha yang ada, selanjutnya diberikan modal sesuai dengan skala usahanya masing-masing. Sehingga keuntungan usaha dari peminjam dapat lebih maksimal.
f. Pelatihan manajemen usaha atau magang bagi peminjam. Srategi ini