• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gas Rumah Kaca

2.5 Metode Inventarisasi emisi GRK dan IPCC

Metode yang digunakan dalam menghitung estimasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga terdapat pada pedoman yang diterbitkan oleh IPCC adalah internasional terkemuka untuk penilaian perubahan iklim yang tersusun dari 195 anggota negara yang ada di dunia, serta ribuan ilmuwan pakar internasional yang secara sukarela menganalisis perubahan iklim di bumi dan menyarankan tindakan penanggulangan. IPCC merupakan pedoman yang digunakan untuk menyusun inventarisasi gas rumah kaca. Selain itu juga dilengkapi dengan dua pedoman lainnya yaitu IPCC Good Practice Guidance and Uncertainty Management in National Greenhouse Gas Inventories yang diterima IPCC tahun 2000 dan the Good Practice Guidance on Land Use, Land-Use Change and Forestry (GPG for LULUCF) yang diterima IPCC tahun 2003 (Kementerian Lingkungan Hidup, 2012).

IPCC (2006) menyediakan metodologi untuk estimasi perhitungan emisi gas rumah kaca, terdiri dari lima jilid. Jilid pertama menggambarkan langkah dasar dalam perkembangan inventaris dan petunjuk umum mengenai emisi gas rumah kaca berdasarkan pengalaman dari tahun 1980. Jilid dua sampai lima merupakan petunjuk untuk pendugaan dari berbagi sektor ekonomi. Terdapat 3 metode pendugaan emisi gas rumah kaca yaitu metode Tier-1, Metode Tier-2, Metode Tier-3 (IPCC, 2006) Penentuan Tier dalam inventarisasi emisi GRK sangat ditentukan oleh ketersediaan data dan tingkat kemajuan suatu negara atau pabrik dalam hal penelitian untuk menyusun metodologi atau menentukan faktor emisi yang spesifik dan berlaku bagi suatu negara/pabrik tersebut.

Tier 1: estimasi berdasarkan data aktifitas dan faktor emisi default IPCC.

Tier 2: estimasi berdasarkan data aktifitas yang lebih akurat dan faktor emisi default IPCC atau faktor emisi spesifik suatu negara atau suatu pabrik (country specific / plant specific).

Tier 3: estimasi berdasarkan metoda spesifik suatu negara dengan data aktifitas yang lebih akurat (pengukuran langsung) dan faktor emisi spesifik suatu negara atau suatu pabrik (country specific / plant specific) (Kementrian Lingkungan Hidup, 2012).

Emisi CO2 primer merupakan ukuran emisi CO2 yang bersifat langsung. Emisi CO2 primer dipeoleh dari hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti dari memasak dan transportasi. Setiap kegiatan atau aktifitas rumah tangga yang menggunakan bahan bakar dapat menghasilkan jejak karbon yang berbeda-beda tergantung dari lama penggunaan bahan bakar seperti LPG (liquid petroleum gas), minyak tanah maupun bahan bakar kendaraan dalam kehidupan sehari-hari.

Emisi CO2 sekunder merupakan emisi CO2 yang bersifat tidak langsung. Emisi CO2 sekunder dihasilkan dari perlatan-peralatan elektronik rumah tangga dimana peralatan elektronik ini dapat berfungsi dengan menggunakan daya listrik. Hal ini didapat dari daur hidup dari produk- produk yang kita gunakan, seperti konsumsi listrik. (Wulandari dkk, 2013).

1. Emisi CO2 Primer dari Penggunaan LPG

Berikut merupakan rumus perhitungan emisi CO2 primer dari penggunaan LPG:

Emisi CO2 = EF x Fcy x NCV...(2.1) Keterangan:

Fcy : Bahan bakar yang dikonsumsi (Kg/bulan) EF : Faktor emisi CO2 bahan bakar (Satuan Massa/MJ)

NCV : Net Calorivic Volume (Energy Content) per unit massa atau volume bahan bakar 2. Emisi CO2 Primer dari Pengunaan BBM Untuk Transportasi

Berikut merupakan rumus perhitungan emisi CO2 primer dari penggunaan BBM Untuk Transportasi:

Emisi CO2 =

Jumlah Kenderaan x øKilometer kenderaan

øKonsumsi Bahan Bakar (inkmI ) x faktor emisi ( kg𝐶𝑂2

𝑙 )...(2.2) Keterangan:

Emisi CO2 : Emisi CO2 (Kg GRK)

Jumlah Kendaraan : Jumlah kendaraan tiap jenis (unit) ØKilometer Kendaraan : Panjang rata-rata perjalanan (km/unit) ØKonsumsi Bahan Bakar : Bahan bakar dikonsumsi (km/l)

Faktor Emisi : Faktor emisi CO2

3. Emisi CO2 Sekunder dari Listrik

Emisi CO2 = EF x Konsumsi Listrik (KWh)...(2.3) d. Emisi CO2 Total

Emisi CO2 Total = Emisi CO2 Primer + Emisi CO2 sekunder...(2.4) 2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem informasi Geografis (GIS), adalah suatu sistem basis data yang memiliki kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000). Menurut Anon (2001), sistem informasi Geografis merupakan suatu sistem informasi yang dapat menyamkan anatara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut). Teknologi SIG ini mengintefritasikan operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan tersebut, yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lain, dan membuat menjadi berguna bagi kalangan untuk menganalisis, merencanakan, dan memprediksi apa yang terjadi (Aini,A. 2007).

2.6.2 Komponen SIG

Secara umum, Sistem Informasi Geografis bekerja berdasarkan integrasi komponen, yaitu:

hardware, software, data, manusia, dan metode. Kelima komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Kusuma, M. E. 2015).

1. Hardware

Sistem Informasi Geografis memerlukan spesifikasi komponen hardware yang sedikit lebih tinggi dibanding spesifikasi komponen sistem informasi yang lain. Hal ini disebabkan karena data yang digunakan, membutuhkan ruang yang besar dalam proses analisanya memnutuhkan memory yang besar serta proccessor yang cepat. Contoh beberapa hardware infoemasi Geografis seperti, personal computer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.

2. Software

Sebuah software SIG harus menyediakan fungsi dan tool yang mampu melakukan penyimpanan data, analisis, dan menampilkan informasi geografis. Dengan demikian elemen yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:

a. Tools untuk melakukan input dan transformasi data geografis b. Sistem Manajemen Basis Data.

c.Tools yang mendukung query geografis, analisis, dan visualisasi.

d. Geographical User Interface (GUI) untuk memudahkan akses pada tool geografi.

3. Data

Komponen penting dalam SIG adalah data. Secara fundamental, SIG bekerja dengan 2 tipe model data geografis, yaitu model data vektor dan model data raster. Dalam model data vektor, informasi posisi titik, garis, dan poligon disimpan dalam bentuk koordinat x,y. Bentuk garis, seperti jalan dan sungai di deskripsikan sebagai kumpulan dari koordinat-koordinat titik. Bentuk poligon, seperti daerah penjualan disimpan sebagai pengulangan koordinat yang tertutup. Data raster terdiri dari sekumpulan grid atau sel seperti peta hasil scanning maupun gambar

4. Manusia Komponen manusia memegang peranan yang sangat menentukan, karena tanpa manusia maka sistem tersebut tidak dapat diaplikasikan dengan baik. Jadi, manusia menjadi komponen yang mengendalikan suatu sistem sehingga menghasilkan suatu analisa yang dibutuhkan.

5. Metode

SIG yang baik memiliki keserasian antara rencana desain yang baik dan aturan dunia nyata, dimana metode, model dan implementasi akan berbeda untuk setiap permasalahan.

2.6.3 Data SIG

Data dalam SIG dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu data spasial dan data non spasial. Data spasial merupakan data yang memuat tentang lokasi suatu objek dalam peta berdasarkan posisi geografi objek tersebut di dalam bumi dengan menggunakan sistem koordinat. Data non spasial adalah data yang merepresentasikan aspek-aspek deskriptif dari fenomena yang dimodelkannya.

Data ini sering disebut juga data atribut. Dalam suatu peta, atribut biasanya disajikan sebagai teks atau legenda peta (Indarto, 2013).

2.6.4 Pemanfaatan SIG

Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam mendapatkan data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Data-data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk dijital.

Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis) dengan data non spasial, sehingga para penggunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG adalah alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan (Aini, A. 2007).

2.6.5 Keuntungan SIG

Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu menggunakan SIG, menurut Aini, A.

(2007).

1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi 2. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data

3. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsure-unsur yang ada dipermukaan bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial

4. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan data spasial berikut atributnya

5. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara

6. SIG dengan mudah menghasilkan peta -peta tematik

7.SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang spasial dan geoinformatika. Posisi GIS dengan segala kelebihannya, semakin lama semakin berkembang bertambah dan bervarian. Pemanfaatan GIS semakin meluas meliputi pelbagai disiplin ilmu, seperti ilmu.

Dokumen terkait