LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori
3. Metode Jarimatika dan Perkalian a. Metode Jarimatika
Istilah metode menurut Nasution yang dikutip oleh Sunhaji dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran adalah berasal dari bahasa Yunani yaitu
Methodos yang berasal dari kata “meta” dan “hodos”.
Kata meta berarti melalui sedangkan hodos berarti jalan, sehingga metode berarti jalan yang dilalui, cara melakukan sesuatu atau prosedur.24
Jarimatika (singkatan dari jari dan aritmatika)
adalah metode berhitung dengan menggunakan jari tangan. Jarimatika adalah sebuah cara sederhana dan menyenangkan mengajarkan berhitung dasar kepada anak-anak dengan menggunakan jari-jari tangan.25 Menurut wulandari jarimatika adalah cara berhitung
23Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), cet VI, hlm. 94
24Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006), hlm. 662.
25Sunhaji, Strategi Pembelajaran: Konsep Dasar, Metode, dan Aplikasi dalam Proses Belajar Mengajar, (Purwokerto: STAIN Press, 2012), hlm. 38.
29 operasi kali-bagi-tambah-kurang dengan menggunakan jari-jari tangan. Metode ini memiliki kelebihan yaitu memberikan visualisasi proses menghitung, menggembirakan anak saat di gunakan, tidak memberatkan memori otak anak dan alatnya gratis selalu terbawa dan tidak dapat di sita saat ujian. Metode ini sangat mudah di terima siswa. Mempelajarinya pun sangat mengasyikkan.26
Metode jarimatika memiliki sepuluh keunggulan yaitu:27
1). Simpel, tanpa menggunakan 34 macam rumus.
2). Smart, mengoptimalkan fungsi otak kanan dan otak kiri anak.
3). Standart, metode berhitung dengan jari yang mudah di pahami secara universal.
4). Safe, metode hitung yang aman dan tidak melanggar peraturan saat ujian.
5). Real, proses menghitung yang nyata dan memperoleh hasil secara langsung.
6). Quick, teknik dan trik menghitung cepat
26 Septi peni Wulandari, Jarimatika Penambahan dan Pengurangan, Jakarta: kawasan pestaka, 2005, hlm. 17
27
M. Fajar Aulia, Jarimagic Perkalian dan Pmbagian. (Jakarta: PT. Buku Seru, 2012)
30 7). Practical, metode berhitung yang praktis di gunakan
kapan saja dan di mana saja.
8). Effective, media komunikasi yang efektif antara pengajar dan anak.
9). Fun, metode belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi anak.
10). Award, mendapatkan penghargaan.28
Langkah-langkah dalam mengajarkan berhitung perkalian menggunakan metode jarimatika, yaitu:
1). Dimulai dengan menanamkan secara benar terlebih dahulu tentang konsep perkalian, lambang bilangan dalam metode jarimatika perkalian, dan operasi hitung bilangan.
2). Kemudian mengajarkan cara berhitung dengan jari-jari tangan.
3). Prosesnya diawali, dilakukan dan diakhiri dengan gembira.29
Jadi penerapan metode jarimatika adalah mempraktikkan sebuah cara sederhana dalam
28 Kristi Liani Purwanti, “Perbedaan Gender Terhadap Kemampuan Berhitung Matematika Menggunakan Otak Kanan Pada Siswa Kelas I”, Sawwa, volume 9, nomor 1, oktober 2013, hlm. 113
29
Septi Peni Wulandari, Jarimatika Perkalian dan Pembagian, (Jakarta: PT Kawasan Pustaka, 2008), hlm. 6-13
31 mengajarkan berhitung yang menyenangkan kepada anak-anak dengan menggunakan jari-jari tangan.
b. Sejarah Metode Jarimatika
Septi Peni Wulandani, adalah orang yang berjasa menemukan dan mengembangkan metode berhitung
jarimatika di Indonesia. Ibu rumah tangga asal Salatiga,
Jawa Tengah ini memperbarui konsep lama berhitung agar mudah diingat dan menyenangkan. Misalnya, dengan menggunakan istilah menarik.
Kepada SCTV belum lama berselang, Septi mengaku menghabiskan waktu tiga tahun mengembangkan metode berhitung dengan jari-jemari ini. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Bahkan, jarimatika ala Septi sudah dibukukan. Septi juga diundang ke berbagai acara untuk mengajarkan jarimatika.
Menurut Septi, pendorong dirinya mencari cara berhitung yang mudah, cepat dipahami, dan tidak membuat anak-anak alergi adalah anak-anaknya. Septi juga ingin membuktikan bahwa ibu rumah tangga bukanlah predikat tanpa makna bagi lingkungan sekitar. Terbukti, hasilnya pun membanggakan.30
Dalam era globalisasi sekarang ini, dimana tingkat kompetensi semakin tajam, ketrampilan berhitung
30
"Septi, Prestasi Bermula dari Sepuluh Jari". kompas. 2009-04-18. Diakses tanggal 2017-03-02
32 (matematika) sudah menjadi keharusan yang sudah tidak bisa ditawar lagi, tetapi kemajuan ini tidak dibarengi dengan kualitas anak didik yang cenderung menurun.31 Metode pengajaran orang tua dalam mengajari anak kecil berhitung sangat menentukan tingkat keberhasilan anak dalam menguasai ketrampilan berhitung ini. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya menguasai ketrampilan berhitung ini secara instan. Misalnya, dengan memaksa anak untuk terus belajar berhitung meski pikiran anak tidak fokus pada apa yang diajarkan orang tua. Dan orang tua akan tersulut emosinya bila sianak tidak mengerti atau sering salah dalam melakukan operasi berhitung ini.32 Demikian halnya orang tua yang melihat anaknya lambat dalam ilmu berhitung. Belakangan, kekhawatiran orang tua bisa segera teratasi dengan ditemukannya berbagai metode cara menghitung matematika dengan mudah dan cepat. Teknik-teknik itu antara lain: (1) teknik vidic math (2) teknik jari 10 (3) teknik jarimatika (4)teknik sempoa (5)teknik menghitung
rata-rata.
31 Dwi Sunar Prasetyono, Pintar Jarimatika, (Yogyakarta: Diva Press, 2008), hlm. 23
32
Dwi Sunar Prasetyono, Pintar Jarimatika, Yogyakarta: Diva Press, 2008, hlm. 11
33 Adapun teknik yang saat ini sedang berkembang pesat dan mulai diminati banyak orang, terutama ibu-ibu, adalah teknik jarimatika.33 Teknik jarimatika adalah suatu cara minghitung matematika dengan menggunakan alat bantu jari. Tehnik ini sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun 1960 oleh Drs. Hendra BC, dan telah dibukukan dengan judul Kuncung dan Bawuk Pintar
Berhitung yang diterbitkan oleh CV. Oemar Mansoor.
Kemudian pada tahun 1986, oleh penulis yang sama, teknik ini mulai disusun kembali dengan judul Aneka
reka, diterbitkan oleh Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia.34
Berikut ini akan peneliti uraikan tentang keunggulan dan kekurangan tentang jarimatika, yaitu antara lain:
Keunggulan :
1). Bisa menghitung operasi tambah, kurang, kali dan bagi
2). Menggunakan otak kiri dan kanan 3). Alat hitung hanya berupa jari tangan
Kelemahan :
33 Dwi Sunar Prasetyono, Pintar Jarimatika, Yogyakarta: Diva Press, 2008, hlm. 29-30
34
Dwi Sunar Prasetyono, Pintar Jarimatika, Yogyakarta: Diva Press, 2008, hlm. 30
34 1). Karena jumlah jari tangan terbatas maka operasi
matematika yang bisa diselesaikan juga terbatas 2). Lebih lambat menghitung dibandingkan sempoa35 c. Materi Perkalian Dasar
Perkalian merupakan pengetahuan dasar dalam aritmatika. Perkalian merupakan operasi matematika yang mengalikan suatu angka dengan angka lainnya sehingga menghasilkan nilai tertentu yang pasti dan merupakan operasi matematika penskalaan suatu bilangan dengan bilangan lain. Perkalian seringkali dipandang sebagai hal khusus dari penjumlahan, dimana semua penambahnya sama. Operasi perkalian pada bilangan cacah diartikan sebagai penjumlahan berulang.36 Sehingga untuk memahami konsep perkalian anak harus paham dan terampil melakukan operasi penjumlahan. Perkalian a x b diartikan sebagai penjumlahan bilangan b sebanyak a kali. Jadi a x b = b + b +b + b +...+ b. Dan perkalian merupakan hasil kali dua bilangan a dan b adalah c, sehingga a x b = c.
35 Dwi Sunar Prasetyono, Pintar Jarimatika, Yogyakarta: Diva Press, 2008, hlm. 23
36
Esti Yuli Widayanti dkk, Pembelajaran Matematika MI, (Surabaya: Aprinta, 2009), paket 1 hlm.11
35 Al-Qur’an memberikan suatu gambaran yang akan memunculkan operasi perkalian bilangan. Pada QS. Al-Baqarah ayat 261 yang berbunyi:
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Pada ayat 261 tersebut dijelaskan bahwa 3 biji akan menumbuhkan 7 batang dan tiap-tiap batang terdapat 100 biji. Karena operasi penjumlahan telah disebutkan dalam Al-Qur’an, maka untuk menentukan keseluruhan biji, seseorang dapat melakukan dengan cara menghitung 100 + 100 + 100 + 100 + 100 + 100 + 100 = 700.
36 Penjumlahan 100 berulang sebanyak 7 kali sehingga diperoleh 700. Konsep penjumlahan berulang inilah yang sebenarnya merupakan konsep operasi perkalian bilangan. Jadi pernyataan 100 + 100 + 100 + 100 + 100 + 100 = 7 x 100. Dengan demikian, munculnya operasi perkalian bilangan bersumber dari operasi penjumlahan, yaitu penjumlahan berulang.37
Diantara karakteristik matematika adalah memiliki simbol dan simbol untuk operasi perkalian adalah tanda silang (x) yang diperkenalkan oleh matematikawan Inggris William Oughtred pada tahun 1631. Simbol titik (.) oleh Thomas Harriot.
Sedangkan perkalian dasar merupakan perkalian dari dua bilangan yang masing- masing adalah satu angka seperti 6x6, 5x7, dan sebagainya. Dan perkalian dasar yang wajib dihafal oleh anak sekolah dasar adalah perkalian dari angka 1 sampai angka 10.38