• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.2 Metode Kajian

30

Tabel 3.1 Pemuda di Desa Bulurejo

No. Nama Dusun Jumlah

Pemuda (16-30 tahun)

1. Bulurejo 24

2. Ngadimulyo 35

3. Ngadirejo 40

4. Tambakrejo 34

Total 133

(Sumber : Data yang Diolah 2022)

Pengambilan sampel yang dilakukan pada penelitian ini dengan menggunakan Simple Random Sampling. Menurut Arikunto (2010) bahwa Simple Random Sampling merupakan teknik yang dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan teknik sampling, serta dapat memberikan kesempatan ataupun peluang yang sama dari tiap-tiap populasi untuk digunakan sebagai sampel.

Teknik Simple Random Sampling digunakan untuk menentukan jumlah responden dari setiap dusun di Desa Bulurejo. Rumus yang digunakan dalam pengambilan jumlah sampel adalah rumus Slovin (2016) dalam Amirin (2011) sebagai berikut:

𝒏 = 𝑵

𝟏 + 𝑵. (e2)

Keterangan:

N = Populasi N = Sampel

e2 = persen kesalahan

Rumus di atas menunjukkan bahwa dalam penentuan jumlah sampel dari rumus Slovin dapat dituangkan dalam populasi yang akan diteliti yaitu 133 orang dengan taraf kesalahan 10%.

n = 133 1 + 133.(0,12) n = 133

1 + 133.0,01 n = 133

1 + 1,33

n = 133 2,33

n = 57,0 atau 57

Berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa sampel penelitian berjumlah 57 orang, selanjutnya dari sampel tersebut akan dilakukan penentuan dari masing-masing dusun, berikut hasil dari penentuan sampel dari tiap-tiap dusun:

Tabel 3.2 Sampel Penelitian

No. Dusun Jumlah/Populasi Perhitungan Sampel

1. Bulurejo 24 Orang (24/133) x 57 10 Orang

2. Ngadimulyo 35 Orang (35/133) x 57 15 Orang 3. Ngadirejo 40 Orang (40/133) x 57 17 Orang 4. Tambakrejo 34 Orang (34/133) x 57 15 Orang Jumlah 133 Orang 57 Orang Sumber: Data Primer yang diolah (2022)

Dengan demikian maka sampel yang digunakan pada penelitian ini diambil secara acak dari tiap-tiap dusun di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi.

3.2.2 Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

1. Data primer, merupakan jenis data yang diperoleh secara langsung dari sumber data. Metode yang digunakan dalam penggalian data penelitian menggunakan wawancara dan survei. Survei dilakukan dengan pengambilan sampel dari satu populasi dan menggunakan instrumen kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang paling inti. Sedangkan wawancara digunakan untuk mendukung hasil data pada kuesioner yang dilakukan secara langsung dan tidak terstruktur. Pengisian kuesioner meliputi identitas diri, pendidikan, luas lahan orang tua, lama berusaha tani, pendapatan orang tua, bantuan, lingkungan,

ketersediaan sumber daya, risiko pertanian, dan persepsi negatif terhadap pertanian serta mencangkup indikator minat.

2. Data sekunder, merupakan jenis data yang diperoleh dari lembaga atau intansi terkait. Pada penelitian ini data sekunder yang digunakan merupakan data yang bersumber dari BPS Banyuwangi, Programa BPP Purwoharjo, dan Data Desa Bulurejo.

3.2.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipakai pada kajian ini adalah:

1. Wawancara

Dalam penelitian ini wawancara dilakukan kepada sasaran yaitu pemuda Desa Bulurejo serta pihak pendukung lainnya seperti penyuluh pertanian setempat. Wawancara ini dilakukan dengan tujuan mencari informasi lebih dalam dan akurat tentang faktor faktor yang berhubungan dengan minat bertani pemuda perdesaan. Penggunaan bahasa, sopan santun serta etika disesuaikan baik dengan pemuda maupun penyuluh. Wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur menggunakan kuesioner.

2 Pencatatan

Dalam penelitian ini dilakukan dengan pencatatan yaitu pengumpulan data dengan mengutip dan mencatat sumber-sumber informasi dari pustaka, internet, maupun instansi-instansi yang terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, BPP Kecamatan Purwoharjo, Kantor Desa Bulurejo dalam membantu penelitian ini.

3 Observasi

Dalam penelitian ini observasi dilakukan dengan cara mengamati atau meninjau secara cermat dan langsung di Desa Bulurejo untuk mengetahui kondisi yang terjadi atau membuktikan kebenaran dari sebuah desain penelitian yang sedang dilakukan untuk memproses objek dengan maksud untuk merasakan dan

kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan ide-ide yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan melanjutkan ke proses investigasi. Informasi yang didapat harus bersifat objektif, nyata, dan dapat dipertanggungjawabkan.

3.2.4 Variabel Penelitian

Variabel merupakan suatu sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini ada 2 variabel, antara lain:

1. Variabel Independen

Variabel independen biasa disebut juga dengan variabel bebas. Yaitu variabel yang perubahannya mempengaruhi variabel dependen (terikat). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Faktor Internal dan Faktor Eksternal. Pada variabel faktor internal, yang digunakan adalah Lama Pendidikan (X1), Luas Lahan orang tua (X2), Lama Bertani (X3), Pendapatan orang tua (X4). Sedangkan pada variabel faktor eksternal yang digunakan adalah ketersediaan Sumber Daya (X5), bantuan (X6), lingkungan (X7), risiko (X8), persepsi negatif terhadap pertanian (X9).

2. Variabel Dependen

Variabel Dependen merupakan variabel yang perubahannya dipengaruhi oleh variabel Independen (bebas). Variabel Dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat minat pemuda terhadap pertanian di Desa Bulurejo.

Hubungan antara Variabel Independen dengan Variabel Dependen dapat dilihat pada Gambar 3.1 :

Gambar 3.1 Interaksi Antar Variabel

Pada gambar 3.1 diketahui bahwa variabel bebas yang digunakan ada 9 dan masing – masing dihubungkan dengan variabel terikat.

VARIABEL PENELITIAN Faktor Internal

Faktor Eksternal

Pendapatan orang tua (X4)

Lama berusaha tani (X3)

Persepsi Negatif terhadap pertanian (X9)

1. Melelahkan 2. Tidak bergengsi 3. Kurang

menguntungkan Risiko Pertanian (X8) 1. Risiko pasar 2. Risiko hama dan

penyakit 3. Risiko harga

Lingkungan (X7) 1. Lingkungan keluarga 2. Lingkungan

masyarakat Bantuan (X6) 1. Bantuan pupuk 2. Bantuan benih 3. Bantuan pestisida 4. Bantuan alsintan 5. Bantuan modal

Minat Pemuda Bertani (Y) 1. Perasaan Senang 2. Ketertarikan 3. Keterlibatan Ketersediaan Sumber

Daya (X5) 1. Ketersediaan sumber

daya alam

2. Ketersediaan sumber daya manusia Luas lahan orang tua

(X2)

Tingkat Pendidikan (X1)

3.2.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel A. Variabel Independen (X)

1. Faktor Internal

a. Lama Pendidikan (X1)

Lama pendidikan merupakan kegiatan dalam penerimaan suatu pengetahuan yang sistematis dan berjenjang yang dikategorikan berdasarkan lamanya waktu tempuh yang dilakukan.

b. Luas Lahan orang tua (X2)

Luas lahan merupakan ukuran luasan lahan yang dimiliki orang tua pemuda dalam satuan ha (hektar).

c. Lama Berusaha tani (X3)

Lama berusaha tani merupakan seberapa lama pemuda tani melakukan usaha taninya yang merupakan pengalaman dan proses pembelajaran bagi mereka.

d. Pendapatan orang tua (X4)

Pendapatan merupakan total pemasukan dari hasil pekerjaan utama dan juga pekerjaan sampingan seseorang.

2. Faktor Eksternal

a. Ketersediaan Sumber Daya (X5)

Ketersediaan sumber daya adalah segala sumberdaya alam yang secara potensial dapat dimanfaatkan atau didayagunakan.

b. Bantuan (X6)

Bantuan adalah segala bentuk dukungan dan pertolongan dari orang lain.

c. Lingkungan (X7)

Lingkungan merupakan segala sesuatu baik fisik, biologis maupun sosial yang berada di sekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia.

d. Risiko Pertanian (X8)

Usaha pertanian adalah usaha yang rawan akan risiko dan ketidakpastian baik itu risiko harga, risiko pasar dan risiko produksi.

e. Persepsi terhadap Pertanian (X9)

Persepsi merupakan kemampuan seseorang dalam menanggapi rangsangan yang masuk melalui alat indera manusia. Bermacam-macamnya perbedaan sudut pandang pada persepsi seseorang dapat menghasilkan persepsi positif maupun persepsi negatif yang pasti akan mempengaruhi perilaku seseorang secara nyata terhadap pertanian.

3. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen pada kajian ini adalah minat berwirausaha pemuda desa di bidang pertanian dan dikategorikan menjadi setuju, sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju serta dihitung berdasarkan kuesioner yang diberikan kepada pemuda desa, meliputi :

a. Perasaan Senang

Perasaan senang merupakan seseorang yang memiliki rasa senang atau suka terhadap suatu kegiatan usaha, maka seseorang tersebut akan mempelajari usaha, tidak ada keterpaksaan dalam melakukan usaha. Oleh karena itu, perasaan senang akan momotivasi seseorang untuk terus bertani. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan skor.

b. Ketertarikan

Ketertarikan berhubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderung merasa tertarik untuk bertani atau bias berupa pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan bertani itu sendiri. Biasanya seseorang akan tertarik untuk melakukan kegiatan usaha dikarenakan beberapa faktor diantaranya yaitu pengalaman dan hobi. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan skor.

c. Keterlibatan

Keterlibatan merupakan suatu usaha untuk mengerjakan kegiatan usaha dan mampu memahami hal – hal yang berkaitan dengan kegiatan kewirausahaan dan selalu afektif dan berkeinginan untuk bertani dan selalu mengikuti perkembangan dalam bidang bertani. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan skor.

3.2.6 Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas Instrumen

Validitas merupakan ukuran yang menunjukkan tingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Uji validitas dilakukan untuk mengukur sejauh mana instrumen dapat mengukur apa yang diinginkan oleh peneliti. (Singh 2017) menyatakan bahwa instrumen yang valid adalah instrumen yang mampu mengukur dari apa yang diukurnya. Validitas dilakukan dengan membuat kisi-kisi, butir instrumen, dan lembar diberikan kepada ahli untuk ditelaah. Untuk menyesuaikan indikator dengan tujuan pengembangan instrumen, kesesuaian indikator dengan cakupan materi atau kesesuaian teori, melihat kesesuaian instrumen dengan indikator butir, melihat kebenaran konsep butir soal, melihat kebenaran isi, kebenaran kunci (pada tes). Pengujian validitas instrumen kuesioner pada penelitian ini menggunakan Microsoft Excel 2013, dan SPSS 26.

Kriteria pengujian menurut Sugiyono (2021) adalah : rhitung > rtabel = valid

rhitung < rtabel = tidak valid 2. Uji Reliabilitas Instrumen

Setelah melakukan uji validitas, maka dilakukan uji reliabilitas. Uji Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Singh (2017) menyatakan suatu instrumen dikatakan memiliki tingkat

kepercayaan yang tinggi apabila instrumen tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Instrumen penelitian dikatakan reliabel jika dapat digunakan untuk mengukur berulangkali pada kondisi karakteristik yang relatif sama, maka akan menghasilkan data yang menyerupai atau setidaknya hanya minim perbedaan. Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Microsoft Excel 2013 dan SPSS 26. Kuesioner dinyatakan reliabel apabila koefisien reliabilitas >

0,60 (Sugiyono, 2021) 3.2.7 Analisis Data

Analisa data merupakan sebuah kegiatan yang penting dalam keseluruhan proses penelitian yang dilakukan. Dengan analisa data dapat diketahui tentang makna dari data yang berhasil dikumpulkan, dengan demikian hasil penelitian akan diketahui (Ridwan, 2008). Untuk mengubah data yang berupa kata menjadi data kuantitatif dapat diolah melalui beberapa langkah. Pertama, melakukan pengkodean pada pertanyaan dan pernyataan yang telah diajukan, kemudian memasukan data ke buku kode atau lembar data (code sheet). Kedua, membuat tabel frekuensi. Ketiga, mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui setelah membaca tabel frekuensi saat melakukan pengisian kuesioner, pengkodean, atau penyalinan data dari lembar kode ke komputer. Data hasil kuesioner selanjutnya diolah menggunakan aplikasi pengolah data Microsoft Excel 2013 dan SPSS 26.

Setelah pengumpulan data, kemudian dilakukan analisis yang bertujuan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Analisis data yang dikumpulkan dianalisis secara kuantitatif deskriptif yang berfungsi untuk mengetahui hasil penelitian. Kemudian setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data dengan metode Korelasi Rank Spearman melalui program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) 26.

Analisis korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui adanya hubungan signifikan antara variabel X terhadap variabel Y. Menurut Sugiyono

(2021) meyatakan bahwa korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan antar variabel, bila masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal (ranking) dan sumber data antar variabel tidak harus sama.

Penghitungan atau analisis yang digunakan melalui bantuan SPSS dengan kriteria sebagai berikut:

1. Tingkat kekuatan korelasi

Dalam menentukan tingkat kekuatan hubungan antar variabel berpedoman pada nilai koefisien korelasi yang merupakan hasil dari SPSS yaitu dengan ketentuan sebagai berikut:

Tabel 3.3 Nilai Koefisien Korelasi

Nilai Koefisien Korelasi Ketentuan

0,00-0,25 Hubungan Sangat Lemah

0,26-0,50 Hubungan Cukup

0,51-0,75 Hubungan Kuat

0,76-0,99 Hubungan Sangat Kuat

1,00 Hubungan Sempurna

Sumber: Sugiyono (2017:250) 2. Arah korelasi

Arah korelasi dilihat pada angka koefisien korelasi apabila besaran nilai koefisien korelasi bernilai positif, maka hubungan variabel bebas dan variabel terikat dikatakan searah. Dikatakan searah yaitu apabila variabel bebas meningkat maka variebel terikat juga akan meningkat. Sebaliknya, apabila nilai koefisien korelasi bernilai negatif maka variabel bebas dan variabel terikat tidak searah.

Tidak searah berarti jika variabel bebas meningkat maka variabel terikat menurun.

3. Signifikansi korelasi

Kekuatan dan arah korelasi akan mempunyai arti jika hubungan antar variabel bernilai signifikan. Dikatakan ada hubungan yang signifikan jika nilai Sig.

(2-tailed) hasil perhitungan lebih kecil dari nilai 0,05 atau 0,01. Sementara jika nilai Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 maka hubungan antar variabel tersebut dapat

dikatakan tidak signifikan atau tidak berarti. Signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini sebesar α 0.05, artinya hasil penelitian mempunyai tingkat kepercayaan 95% dan tingkat kesalahan sebesar 5%.

3.2.8 Analisis Tingkat Minat 1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalis tujuan pertama. Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan tingkat minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi. Analisis statistik deskriptif yang digunakan adalah perhitungan interval kelas.

Menurut Sudjana (2005) untuk menghitung interval kelas digunakan rumus:

𝐊𝐞𝐥𝐚𝐬 𝐈𝐧𝐭𝐞𝐫𝐯𝐚𝐥

= (𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐨𝐚𝐥 𝐱 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢) − (𝐣𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐨𝐚𝐥 𝐱 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐞𝐧𝐝𝐚𝐡) 𝐊𝐚𝐭𝐞𝐠𝐨𝐫𝐢

Berdasarkan hasil dari perhitungan diatas akan ditarik kesimpulan baik berupa kesesuaian maupun perdebatan teoritis antara tinjauan pustaka dengan temuan lapang

3.2.9 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian merujuk pada rumusan masalah dari penelitian ini:

1. Hipotesis 1

H0 : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

2. Hipotesis 2

H0 : Tidak ada hubungan antara luas lahan orang tua dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara luas lahan orang tua dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwang 3. Hipotesis 3

H0 : Tidak ada hubungan antara lama berusaha tani dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara lama berusaha tani dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi 4. Hipotesis 4

H0 : Tidak ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi 5. Hipotesis 5

H0 : Tidak ada hubungan antara ketersediaan sumber daya dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara ketersediaan sumber daya dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

6. Hipotesis 6

H0 : Tidak ada hubungan antara bantuan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara bantuan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

7. Hipotesis 7

H0 : Tidak ada hubungan antara lingkungan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara lingkungan dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

8. Hipotesis 8

H0 : Tidak ada hubungan antara risiko pertanian dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi H1 : Ada hubungan antara risiko pertanian dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

9. Hipotesis 9

H0 : Tidak ada hubungan antara persepsi negatif terhadap pertanian dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

H1 : Ada hubungan antara persepsi negatif terhadap pertanian dengan minat bertani pemuda di Desa Bulurejo Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi

Dokumen terkait