BAB III METODE PENELITIAN
3.2 Metode Kajian
Kajian yang dilakukan yaitu tentang pengaruh pengaplikasian media tanam solid limbah padat kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode eksperimen. Adapun metode kajian yang akan digunakan yaitu sebagai berikut.
3.2.1 Rancangan dan Perlakuan
Rancangan dalam pelaksaanaan kajian ini, Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok non faktor (RAK) dengan empat perlakuan dalam polibag. Perawatan yang digunakan adalah :
P0 = tanah + kompos (Perlakuan Petani) P1 = tanah 75% + solid 25%
P2 = tanah 50% + solid 50 % P3 = tanah 25% + solid 75%
Pada perlakuan P0 media yang digunakan merupakan campuran antara tanah dan kompos, sedangkan untuk perlakuan yang menggunakan solid limbah kelapa sawit hanya menggunakan tanah dan juga limbah solid tanpa adanya campuran kompos.
31 3.2.2 Ulangan
Jumlah ulangan yang digunakan pada kajiannya Ini adalah maksimum 6 ulangan. Menurut Sastrosupandi (2000), jumlah pengulangan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :
(𝑡 − 1)(𝑛 − 1) ≥ 15 Keterangan:
t = Jumlah Perlakuan n = Ulangan atau Blok 3.2.3 Satuan Percobaan
Pada penelitian ini dilakukan 4 dan Hasil rumus tersebut diulang sebanyak 6 kali, sehingga terdapat 24 satuan uji. Pada masing-masing unit percobaan terdiri dari 16 tanaman (polybag) sehingga total populasi berjumlah 384 tanaman.
3.2.4 Denah Perlakuan
Penentuan pengacakan pada RAK dilakukan menggunakan exel. Adapun denah perlakuan hasil pengacakan dapat dilihat pada gambar berikut:
U
s BLOK 1 BLOK 2 BLOK 3 BLOK 4 BLOK 5 BLOK 6
P2 P1 P3 P1 P3 P1
P1 P2 P1 P0 P0 P0
P0 P3 P2 P2 P1 P3
P3 P0 P0 P3 P2 P2
Gambar 2. Denah Perlakuan Polybag
32 3.2.5 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada kegiatan pelaksanaan kajian yaitu:
Alat:
1. Cangkul
2. Timbangan digital 3. Polybag
4. Ajir 5. Tali rafia 6. Potray 7. Camera 8. Alat tulis 9. Handspray 10. leatflet Bahan:
1. Tanah 2. Benih cabai 3. Pupuk kandang 4. Solid
5. Pupuk NPK
3.2.6 Langkah Pelaksanaan
1. Persiapan benih dan persemaian
Benih cabai yang akan digunakan merupakan benih varietas sekar. Kegiatan persemaian benih cabai dilakukan menggunakan potray, dimana setiap masing-masing lubang di isi Dengan 1 biji cabai. Media semai yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk 1:1.
33 2. Persiapan media tanam
Media tanam yang digunakan terdiri dari tanah dengan pupuk kandang yang akan di kombinasikan dengan solid limbah kelapa sawit. Pengaplikasian solid dilakukan pada perlakuan P2-P3. Selanjutnya media tanam dimasukan kedalam polybag dengan ukuran 45 cm x 45 cm.
3. Penanaman
Penanaman dilakukan ketika bibit cabai yang disemai telah memiliki 3-4 helai daun dengan umur kira-kira 3-4 minggu hst. Pelaksanaan kegiatan penanaman baiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
4. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman cabai berupa penyiangan, penyiraman, pemupukan, dan pemasangan ajir. Penyiangan dilakukan ketika gulma disekitar tanaman mulai tumbuh. Sementara Penyiraman tanaman dilakukan dapat dilakukan pada pagi dan sore tergantung pada kondisi media tanam dan tanaman.
Pemasangan ajir dapat dilakukan ketika tanaman cabai berumur 3 minggu setelah tanam dengan panjang ajir ± 1,5 meter. Pemupukan dasar diberikan pada tanaman pada waktu 14 Hst menggunakan pupuk NPK MUTIARA, dengan konsentrasi 10 sendok makan pupuk NPK MUTIARA yang dilarutkan dalam 20 liter air, dilakukan dengan cara dikocorkan kepada tanaman cabai sebanyak 220 ml pada setiap tanaman cabai.
5. Panen
Kegiatan pemanenan dilakukan ketika buah cabai sudah menunjukan ciri-ciri masak fisiologis. Masak fisiologis sendiri merupakan dimana tanaan cabai memiliki ciri-cirinya sendiri yaitu buahnya sudah matang atau benar-benar tua yang ditandai dengan bentuk biji-biji dari buah padat dan berisi. Hal ini dikarenakan masak fisiologis merupakan berhentinya transloksi zat makanan yang akan
34
disimpan kedalam biji. Dan tidak terjadi lagi proses pertumbuhan pada biji.
Pemanenan buah cabai dapat dilakukan dengan cara dipetik langsung pada pangkal tangkai buah. Pemetikan dapat dilakukan selama 7 hari.
3.2.7 Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan pada kajian yang dilakukan terdiri dari:
1. Jumlah daun (Helai)
Jumlah daun merupakan hasil dari perhitungan jumlah per-helai daun cabai pada satu pohon, yang dapat dihitung dari daun yang paling bawah hingga daun bagian ujung yang telah terbuka dengan sempurna.
2. Luas daun (cm2)
Luas daun merupakan hasil perhitungan helai daun cabai, yang dapat dihitung menggunakan metode panjang kali lebar. Dengan sampel per-pohon sebanyak 20%.
3. Tinggi tanaman (cm)
Tinggi tanaman merupakan hasil pengukuran tanaman cabai, yang diukur dari pangkal batang hingga ujung daun yang paling tinggi.
4. Berat buah (g)
Berat buah merupakan hasil dari hasil panen yang dilakukan pada 1 pohon tanaman cabai.
3.2.8 Definisi Operasional 1. Solid
Solid merupakan limbah hasil dari pengolahan kelaa sawit yang berasal dari daging buah (mesocrap), Konsistensi dan bentuknya hampir seperti ampas tahu namun memiliki warna coklat gelap dan baunya asam manis.
35 2. Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun merupakan hasil dari perhitungan jumlah per-helai daun cabai pada satu pohon, yang dapat dihitung dari daun yang paling bawah hingga daun bagian ujung yang telah terbuka dengan sempurna.
3. Luas Daun (cm2)
Luas daun merupakan hasil perhitungan helai daun cabai, yang dapat dihitung menggunakan metode panjang kali lebar.
4. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman merupakan hasil pengukuran tanaman cabai, yang diukur dari pangkal batang hingga ujung daun yang paling tinggi. Pengukuran tinggi tanaman dapat dimulai pada umur 14 HST dan pada pengukuran selanjutnya dapat dilakukan dalam interval waktu 2 minggu setelah pengukuran pertama dilakukan, pengukuran dapat dilakukan hingga tanaman cabai masuk pada fase generative.
5. Berat Buah Per-Sampel (g)
Berat buah merupakan hasil dari hasil panen yang dilakukan pada 1 pohon tanaman cabai dengan cara menimbang buah menggunakan timbangan.
3.2.9 Analisis Data
Data hasil dari pengamatan yang telah dilaksanakan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analysis of Varience (ANOVA). Setelah dilakukan analisis menggunakan ANOVA dapat dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Analisis data ini dilakukan dengan tujuan agar dapat menegetahui perlakuan terbaik dari pengaplikasian solid limbah padat kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai.