BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
6. Metode Kontrasepsi Mantap Pada Pria
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi (Saifuddin, 2006).
Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum (Handayani, 2010).
Menurut Saifuddin (2006), hal-hal yang menyebabkan kontrasepsi mantap pria kurang mendapat minat yaitu :
1) Tersedianya metode kontrasepsi yang lain.
2) Prosedur-prosedur baru yang membuat kotrasepsi mantap wanita lebih aman dan lebih mudah dikerjakan.
3) Minat yang kurang dari petugas KB, yang umumnya terlatih dalam bidang kesehatan ibu dan anak.
4) Angka perceraiaan yang meningkat. b. Keuntungan kontrasepsi mantap pria
Keuntungan dari kontrasepsi mantap pria menurut Handayani (2010), adalah :
1) Efektif
2) Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas. 3) Sederhana
4) Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit.
5) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi lokal saja. 6) Biaya rendah
7) Secara kultural sangat dianjurkan di Negara-negara dimana wanita merasa malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita.
c. Kerugian kontrasepsi mantap pria
Kerugian dari kontrasepsi mantap pria menurut Hartanto (2004), adalah :
1) Diperlukan suatu tindakan operatif
2) Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
3) Kontrasepsi mantap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa, yang sudah ada di dalam system reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan.
4) Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut system reproduksi pria.
d. Syarat melakukan vasektomi
Menurut Handayani (2010), syarat untuk melakukan vasektomi antara lain :
1) Syarat sukarela
Klien benar-benar bersedia memakai kontrasepsi mantap secara sukarela, tidak ada paksaan dan klien telah mengetahui semua yang berhubungan dengan kontrasepsi mantap.
2) Syarat bahagia
a) Perkawinan syah dan harmonis
b) Memiliki anak hidup 2 orang, umur anak terkecil > 2 tahun, keadaan fisik dan mental anak sehat.
c) Mendapat persetujuan istri d) Umur istri 25-45
3) Syarat sehat
Syarat kesehatan dilakukan melalui pemeriksaan pra-bedah oleh dokter. e. Indikasi dan kontra indikasi
Indikasi dan kontra indikasi dari kontrasepsi mantap pria adalah sebagai berikut :
1) Indikasi kontrasepsi mantap pria adalah menghentikan fertilisasi dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan
terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga (Saifuddin, 2006).
2) kontraindikasi kontrasepsi mantap pria menurut Hartanto (2004), adalah :
a) Infeksi kulit local, misalnya scabies. b) Infeksi traktus genetalia
c) Kelainan skrotum atau sekitarnya (varicocele,hydrocele besar, filariasis, hernia inguinalis, orchiopexy, luka parut bekas operasi hernia, skrotum yang sangat tebal).
d) Penyakit sistemik (penyakit-penyakit perdarahan, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner yang baru).
e) Riwayat perkawinan, psikologi atau seksual yang tidak stabil. f. Prosedur
Vasektomi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan umum yang mempunyai ruang tindakan untuk bedah minor. Ruang yang dipilih sebaiknya tidak dibagian yang sibuk/banyak orang yang lalu lalang (Saifuddin, 2006).
Menurut Saifuddin (2006), teknik vasektomi terdiri dari : 1) Teknik vasektomi standar
a) Celana dibuka dan baringkan pasien dalam posisi terlentang. b) Daerah kulit skrotum, penis, supra pubis, dan bagian dalam
pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan cairan seperti larutan iodofor (betadine) 75 % atau larutan klorheksidin (hibiscrub) 4%.
c) Tutup daerah yang telah dibersihkan dengan kain steril berlubang, skrotum ditonjolkan keluar.
d) Tepat di lenia mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi anestesi local (prokain atau novokain atau xilokain 1%) 0,5 ml sampai daerah distal serta proksimal vas deferens masing-masing 0,5 ml.
e) Kulit skrotum diiris longitudinal 1 – 2 cm, tepat di atas vas deferens yang telah ditonjolkan ke permukaan kulit.
f) Setelah kulit dibuka vas deferens dipegang dengan klem, sampai tampak vas deferens mengkilat seperti mutiara. Kemudian fasia disayat longitudinal sepanjang 0,5 cm. Usahakan tepi sayatan rata hingga memudahkan penjahitan kembali. Setelah fasia vas deferens dibuka terlihatlah vas deferens yang berwarna putih mengkilat seperti mutiara. Selanjutnya vas deferens dan fasianya dibebaskan dengan gunting halus berujung runcing.
g) Menjepit vas deferens pada dua tempat dengan jarak 1-2 cm dan diikat dengan benang kedua ujungnya. Tarik benang yang mengikat kedua ujung untuk mengetahui apakah ada perdarahan yang tersembunyi.
h) Potong diantara dua ikatan sepanjang 1 cm gunakan benang sutra nomor 00, 0, atau 1 untuk mengikat vas deferens.
i) Untuk mencegah rekanalisasi spontan yang dianjurkan adalah dengan melakukan interposisi fasia vas deferens, yaitu menjahit kembali fasia yang terluka sedemikian rupa, vas deferens bagian
distal dibenamkan dalam fasia dan vas deferens bagian proksimal terletak diluar fasia.
j) Tindakan dilakukan pada vas deferens kanan dan kiri. Setelah selesai kulit ditutup dengan 1-2 jahitan plain catgut no. 000 kemudian rawat luka operasi sebagaimana mestinya, tutup dengan kasa steril dan di plester.
2) Teknik vasektomi tanpa pisau
a) Celana dibuka dan baringkan pasien dalam posisi terlentang. b) Rambut di daerah skrotum dicukur.
c) Penis di plester ke dinding perut
d) Daerah kulit skrotum, penis, supra pubis, dan bagian dalam pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan larutan iodofor (betadine) 75 % atau larutan klorheksidin (hibiscrub) 4%.
e) Tutup daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar.
f) Tepat di lenia mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi anestesi lokal (prokain atau novokain atau xilokain 1%) 0,5 ml lalu jarum diteruskan masuk sejajar vas deferens kearah distal kemudian dideponir lagi masing-masing 3-4 ml, pada daerah kanan dan kiri.
g) Vas deferens dengan kulit skrotum yang ditegangkan difiksasi di dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah skrotum, lalu klem direbahkan kebawah sehingga vas deferens mengarah ke bawah kulit.
h) Kemudian tusuk pada bagian yang paling menonjol dari vas deferens, tepat di sebelah distal lingkaran klem dengan sebelah ujung klem diseksi dengan membentuk sudut ±45º.
i) Renggangkan ujung-ujung klem pelan-pelan. Semua lapisan jaringan dari kulit sampai dinding vas deferens akan dapat dipisahkan dalam satu gerakan. Setelah itu dinding vas deferens yang telah telanjang telah terlihat.
j) Dengan ujung klem diseksi menghada ke bawah, tusukkan salah satu ujung klem ke dinding vas deferens dan ujung klem diputar menurut arah jarum jam, sehingga ujung klem menghadap ke atas. Ujung klem pelan-pelan dirapatkan dan pegang dinding anterior vas deferens. Lepaskan klem fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang vas deferens yang telah terbuka. Pegang dan fiksasi vas deferens yang sudah telanjang dengan klem fiksasi lalu lepaskan klem diseksi.
k) Pada tempat vas deferens yang melengkung, jaringan sekitarnya dipisahkan pelan-pelan ke bawah dengan klem diseksi. Kalau lubang sudah cukup luas, klem diseksi di masukkan ke lubang tersebut. Kemudian buka ujung-ujung klem plan-pelan parallel dengan arah vas deferens yang di ikat.
l) Diantara dua ligasi kira-kira 1-1,5 cm vas deferens dipotong dan diangkat. Benang pada putung distal sementara tidak dipotong. Kontrol perdarahan dan kembalikan putung-putung vas deferens dalam skrotum.
m) Tarik pelan-pelan pada putung yang distal. Pegang secara halus pada fasia vas deferens dengan klem diseksi dan tutup lubang fasia dengan mengikat sedemikian rupa sehingga putung bagian epididimis tertutup dan puntung distal ada di luar fasia.
n) Lakukan tindakan untuk kedua bagian vas deferens, melalui luka yang di garis tengah yang sama. Kalau tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu dijahit hanya diaproksimasikan dengan band aid. Menurut Saifuddin (2006), vasektomi dianggap gagal apabila :
1) Pada analisis sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi atau setelah 15-20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
2) Dijumpai sperma setelah sebelumnya azoosperma. 3) Istri (pasangan) hamil.
g. Perawatan post operasi
Menurut Hartanto (2004), perawatan post operasi yang harus dilakukan antara lain :
1) Istirahat 1-2 jam di klinik
2) Menghindari pekerjaan berat selama 2-3 hari 3) Kompres es / dingin pada skrotum
4) Beri analgetik
5) Memakai penunjang skrotum selama 7-8 hari 6) Luka operasi jangan kena air selama 24 jam
7) Senggama dapat dilakukan secepatnya saat pria sudah menghendaki dan tidak terasa mengganggu.
h. Komplikasi
Menurut Hartanto (2004), komplikasi dari vasektomi yang bisa terjadi antara lain :
1) Komplikasi minor :
a) ecchymosis (karena pecahnya pembuluh darah kecil subkutan, sehingga terjadi perembesan darah dibawah kulit).
b) Pembengkakan
c) Rasa sakit dan terasa tidak enak
Terapi untuk pembengkakan dan rasa sakit adalah kompres es, analgetik/NSAID, penunjang skrotum.
2) Komplikasi mayor :
a) Hematoma (terjadi masa bekuan darah dalam kantong skrotum yang berasal dari pembuluh darah yang pecah), terapi untuk hematoma kecil adalah kompres es dan istirahat beberapa hari, untuk hematoma besar skrotum kembali dibuka, ikat pembuluh darah dan lakukan drainase.
b) Infeksi
c) Sperm granuloma (bocornya spermatozoa kedalam jaringan sekitarnya), terapi untuk granuloma yang kecil adalah kompres es, istirahat cukup, dan pemberian NSAID, dan untuk granuloma besar harus dilakukan eksisi.