D. Sistem Pendidikan
3. Metode Mengajar
Metode pengajaran dalam pendidikan di kalangan masyarakat Jawa dilaksanakan antara lain dalam bentuk:
a. Wewarah atau memberikan nasihat
Metode ini digunakan dalam bentuk pemberian nasihat dan petunjuk oleh seorang guru atau orang yang lebih tua kepada peserta didik yang lebih muda usianya. Metode ini tampak sekali dipakai sebagai metode pengajaran dalam berbagai serat piwulang.
b. Perlambang
Dalam mendidik, orang Jawa juga sangat sering menggunakan simbol-simbol atau perlambang yang sarat makna. Materi pelajaran yang dirasa sulit untuk bisa difahami oleh peserta didik, maka cara penyampainnya dengan ungkapan simbolis yang mudah difahami. Model-model simbolik tersebut bisa ditemukan dalam bentuk pepatah atau sanepo, parikan, bangunan arsitektur, gambar, lambang, dan juga ritual.
c. Dolanan
Pembelajaran melalui kegiatan bermain atau learning by doing tamapknya sudah dipraktekkan oleh para leluhur Jawa sejak dahulu kala. Berbagai jenis tembang dolanan sengaja diciptakan sebagai materi pendidikan yang sarat nilai. Sunan Kalijaga dikenal sebagai ahli dalam menggubah lagu dolanan yang sarat makna, seperti lagu ilir-ilir.
d. Tembang
Menyanyikan materi pelajaran dalam bentuk tembang juga dipakai sebagai metode pendidikan di kalangan masyarakat Jawa. Tembang macapat dengan berbagai pupuhnya yang mengandung makna filosofis tinggi adalah bentuk kreatifitas asli orang Jawa. Melalui tembang, materi pelajaran akan bisa mudah dihafalkan, diingat, dan diresapi maknanya.
41 e. Proses ngenger, ngabdi, dan wisuda.
Salah satu model pendidikan profesi di kalangan masyarakat Jawa ditempuh melalui tahapan ngenger (magang), ngabdi (asistensi), dan wisuda. Seorang yang ingin belajar membuat keris misalnya, dia harus magang kepada seorang empu selama beberapa waktu, kemudian dianjutkan dengan pengabdian atau membantu kepada empu tersebut. Setelah dianggap menguasai keterampilan membuat keris dengan sempurna, barulah dia berhak untuk diwisuda, sebagai tanda dia telah lulus pelajarannya dan berhak menyandang gelar sebagai seorang empu.
4. Guru
Dalam tradisi Jawa, sebutan guru mengandung maksud orang yang bisa
digugu lan ditiru. Artinya, seorang guru adalah orang yang pantas didengar
nasihatnya, dan ditiru perilakunya. Oleh karena itu untuk benar-benar menjadi guru diperlukan berbagai syarat, atau dalam bahasa sekarang disebut dengan kompetensi. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, R.Ng Ranggawarsita mensyaratkan bahwa seseorang yang pantas menjadi guru adalah:
a. Bangsaning ngawirya, tegesipun bangsa luhur, ingkang taksih kadrajatan (golongan wirya, yaitu golongan yang luhur dan mempunyai derajat)
b. Bangasaning ngagama, tegese kang bangsa ngulama kang ngalim ing kitab (golongan agama yaitu ulama yang alim, menguasai kitab agama)
c. Bangsaning ngatapa tegesipun bangsa pandhita ingkang taksih ulah lampah (yaitu pendeta yang masih ahli riyalat)
d. Bangsaning sujana, tegesipun bangsa linuwih ingkang dados tiyang sae (golongan sujana yaitu golongan yang mempunyai kelebihan dan menjadi orang baik) e. Bangasaning ngaguna, tegesipun bangassaged ingkang ngulah kasagedan
golongan aguna, yaitu yang mempunyai kepandaian dan menekuni ilmu)
f. Bangsaning prawira, tegesipun bangsa prajurit ingkang taksih kasub kaprawiranipun (golongan perwira, yaitu golongan prajurit yang tersohor keperwiraannya)
g. Bangsaning supunya, tegesipun bangsa sugih ingkang taksih kabegjan (golongan berada, yaitu golongan orang kaya yang masih berharta)
h. Bangsaning supatya, tegesipun bangsa tani ingkang temen (golongan supatya yaitu dari golongan petani yang jujur)
Adapun seorang guru seharusnya memiliki sifat:
a. Asih ing murid, den anggep putra wayah (kasih kepada murid, dianggap anak-cucu sendiri)
b. Telaten pamulangipun, mboten mawi wigah-wigih (telaten mengajar, tanpa rasa kikuk)
c. Lumuh ing pamrih, boten darbe pangangkah punopo-punopo (tanpa pamrih, tidak mengharap apa-apa)
42 d. Tanggap ing sasmita, saged anampeni pasemoning muri (tajam perasan, dapat
menangkap gelagat murid)
e. Sepen ing panggrayangan, boten dados kinten-kintening murid (tidak menambil apapun, sehingga tidak menimbulkan prasangka dari murid)
f. Boten ambaekaken pitaken (tidak menolak pertanyaan) g. Boten angendhak kagunan (tidak menolak kecakapan)
h. Boten amburu aleman, angunggul-ngunggulaken kasagedanipun. (tidak mencari pujian, tidak menyombongkan kepandaian)
Sedangkan sifat kautaman yang harus dimiliki seorang guru adalah: a. Mulus ing sarira (baik keadaan tubuhnya, tidak cacat)
b. Alus ing wicara, boten asring mimisuh miwah supaos (halus kata-katanya, tidak sering berkata kotor dan tidak sering bersumpah)
c. Jatmika ing solah (sopan tingkah-lakunya) d. Antepan bubudenipun (teguh pendiriannya) e. Paramarta lalabuhanipun (baik pengorbanannya) f. Patitis ing nalariun (tajam pemikirannya)
g. Sae lalabetanipun (baik rasa pengabdiannya)
h. Boten darbe pakareman (tidak punya kesenangan khusus)
5. Siswa
R.Ng Ranggawarsita juga menjelaskan tentang siapa yang pantas menjadi murid untuk mempelajari ilmu kasampurnan jati, yaitu:
a. Tedhak turun(keturunan orang baik) b. Tunggil bangsa(sebangsa dengan gurunya) c. Tunggil agami(seagama dengan gurunya) d. Tunggil basa(sebahasa dengan gurunya) e. Sumerep ing sastra(dapat tulis-baca)
f. Sampun kalangkung tengah tuwuh(sudah lewat setengah usia) g. Tanpa sesakit(tidak berpenyakit)
h. Tanpa kuciwa(tidak bercacat)
Ranggawarsita juga menjelaskan tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang murid, yaitu: a. Nastiti (teliti) b. Nastapa(berani menderita) c. Kulina(membiasakan diri) d. Santosa(teguh) e. Diwasa(dewasa) f. Engetan(baik ingatan) g. Santika(terampil) h. Lana(tahan uji)
43
E. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa, dalam tradisi, ilmu pengetahuan sering disebur dengan istilah kaweruh sebagai akumulasi dari kegiatan memahami atau mangertosi objek pengetahuan. Adapun tingkat pemahaman terhadap pengetahuan, dalam tradisi Jawa terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu ngira weruh, ngaku
weruh, dan nyata weruh. Ketiga tingkatan kaweruh tersebut di atas, bisa disandingkan
dengan konsep ilm a-yaqin, ain al-yaqin, dan haqq al-yaqin dalam istilah Qur‟ani. Bagi masyarakat Jawa, upaya untuk memperoleh pengetahuan atau kaweruh tersebut dinamakan dengan ngelmu.
Dalam naskah Wedhatama disebutkan bahwa ngelmu kelakone kanti laku, artinya, ngelmu tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan laku atau perbuatan-perbuatan yang mendukung diperolehnya ilmu pengetahuan tersebut. Dalam tradisi masyarakat Jawa, sumber pengetahuan bisa berasal dari “kitab garing” (kitab kering) dan “kitab teles” (kitab basah). Kedua kitab ini pada hakikatnya bermuara pada sumber yang sama yaitu Allah Swt. Kitab garing adalah sumber pengetahuan yang tercantum baik dalam kitab suci al-Qur'an (ayat qauliyah), hadits Nabi Muhammad Saw, maupun yang tertulis dalam berbagai buku-buku keagamaan karya para ulama. Sedangkan kitab teles adalah sumber pengetahuan yang gumelar atau terhampar dalam alam semesta ini, atau apa yang disebut dengan ayat kauniyah. Termasuk dalam kategori kitab teles adalah mempelajari apa yang ada dalam diri manusia itu sendiri (jagad alit-mikrokosmos).
Sumber pengetahuan lainnya itu adalah nasihat leluhur dan impen atau mimpi. Masyarakat Jawa sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat yang mengedepankan harmoni dan keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Tingkatan ilmu dalam tradisi Jawa dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: Kawruh kelahiran jati, ingkang asalipun
saking dayaning pancadriya lahir. Kawruh salwa budhi utawi kawruh saking dayaning pancadriya batos, ingkang sinebat parakitan. Dan Kawruh budhi jati ingkang asalipun saking dayaning gesang sejati, sinebat pengracutan.Secara epistemologis, ilmu dan
pengetahuan dalam tradisi Jawa diperoleh melalui berbagai sarana, antara lain dengan cara: niteni atau mengamati; olah rasa, prihatin, dan tirakat; serta samadi, maladihening, maneges melalui proses neng-ning-nung-nang.
Berkaitan dengan jenis pendidikan, setidaknya ada lima macam jenis pendidikan yang telah berlangsung di kalangan masyarakat Jawa-Islam, jauh sebelum dikenal sistem pendidikan persekolahan. Kelima jenis pendidikan tersebut adalah pendidikan keagamaan dan spiritual, pendidikan moral dan karakter, pendidikan bagi kaum perempuan, pendidikan seks, dan pendidikan anak.
Berkaitan dengan sistem pendidikan, tujuan pendidikan dalam tradisi Jawa adalah mencapai manusia yang sempurna. Pandangan tentang manusia Jawa yang sempurna tergambar dalam pribadi yang memiliki karakteristik Memayu hayuning pribadi, Memayu hayuning bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti. Hirarki tujuan pendidikan tertinggi dalam masyarakat Jawa adalah untuk mencapai kasampurnaning urip atau kehidupan yang sempurna. Yakni manusia yang sudah bisa mati sajeroning urip (mati dalam hidup), dan urip sajeroning mati (hidup dalam kematian). Materi pendidikan dalam sistem pendidikan di kalangan masyarakat Jawa disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan peserta didik. Namun secara umum, materi pendidikan yang diajarkan dalam sistem pendidikan masyarakat Jawa-Islam, antara lain terdiri dari: Bidang ajaran agama Islam; bidang akhlak dan budi pekerti; Bidang rumah tangga; bidang keterampilan dan
44 pekerjaan; bidang fisik-kanuragan; dan bidang kepemimpinan. Metode pengajaran dalam pendidikan di kalangan masyarakat Jawa dilaksanakan antara lain dalam bentuk: wewarah atau memberikan nasihat; perlambang; dolanan; tembang atau nyanyian; dan proses ngenger, ngabdi, dan wisuda.
Dalam tradisi Jawa, sebutan guru mengandung maksud orang yang bisa digugu
lan ditiru. Artinya, seorang guru adalah orang yang pantas didengar nasihatnya, dan
ditiru perilakunya. R.Ng Ranggawarsita mensyaratkan bahwa seseorang guru seharusnya memiliki sifat: Asih ing murid, den anggep putra wayah (kasih kepada murid, dianggap anak-cucu sendiri); Telaten pamulangipun, mboten mawi wigah-wigih (telaten mengajar, tanpa rasa kikuk); Lumuh ing pamrih, boten darbe pangangkah punopo-punopo (tanpa pamrih, tidak mengharap apa-apa); Tanggap ing sasmita, saged anampeni pasemoning muri (tajam perasan, dapat menangkap gelagat murid); Sepen ing panggrayangan, boten dados kinten-kintening murid (tidak menambil apapun, sehingga tidak menimbulkan prasangka dari murid); Boten ambaekaken pitaken (tidak menolak pertanyaan); Boten angendhak kagunan (tidak menolak kecakapan); dan Boten amburu aleman, angunggul-ngunggulaken kasagedanipun. (tidak mencari pujian, tidak menyombongkan kepandaian). Ranggawarsita juga menjelaskan tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang murid, yaitu: Nastiti (teliti), Nastapa(berani menderita), Kulina (membiasakan diri), Santosa (teguh), Diwasa (dewasa), Engetan (baik ingatan), Santika(terampil), dan Lana (tahan uji).
DAFTAR PUSTAKA
Sutji Hartiningsih, Serat Wulang Reh Putri; Suntingan teks, Terjemahan dan Kajian Makna, Tesis (Semarang: PPS Undip, 2009).
Dwi Endang Sujati, Serat Darmawasita; Suntingan Teks, Telaah Tema dan Amanat, Tesis (Semarang: PPS Undip, 2010).
Nurhidayati, “Serat Nitiprana sebagai Sumber Kearifan dalam Pembentukkan Pekerti Bangsa, makalah, FBS UNY Yogyakarta.
Rukiyah, Serat Wulang Dalem Paku Buana II: Suntingan Teks Disertai Tinjauan Didaktis, Tesis (Semarang: PPS Undip, 2008)
Misbahul Munir, Nilai-nilai Pendidikan Tauhid Dalam Serat Wirid Hidayat Jati Karya Raden Ngabehi Ronggowarsito, Skripsi (Semarang: Fak.Tarbiyah IAIN Walisongo, 2010) Muchson AR, Kandungan Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Serat Wulang Reh, Laporan
Penelitian (Yogyakarta: UNY, 2008)
W.JS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,(Jakarta : Balai Pustaka, 1999), hlm. H. Titus, M.S, et al, Persoalan-persoalan Filsafat, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984)
Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda Karya, 1993) HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)
45 Frederick J. MC. Donald, Educational Psychology, (Tokyo: Overseas Publication LTD,
1959).
HM. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1976) Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung : Al Ma‟arif, 1989) Soegarda Poerbakawatja, et. al. Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung, 1981) Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 1992) Yusuf Qaradhawi, Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam, terj. Al-Dîn fî „Ashr al-„Ilm
oleh Ghazali Mukri, (Jakarta: Gunung Agung 2003)
Hasan bin Ali Hajaji, Fikr at-Tarbawi Inda Ibn Rajab Hanbali (Jeddah: Dar al-Andalus al-Hadlra, 1996)
Fauziyah Ridla Amin Khayyat, Al-Ahdaf at-Tarbiyah as-Sulukiyah „Ind Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (Bairut: Dar al-Bayair al-Islamiyah, 1987)
Said Hawa, Pendidikan Spiritual, terj. Abdul Munip (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2008). Lihat As-Sayid Kamal Haidari, at-Tarbiyyah ar-Ru>h}iyah Buh}uts Fi> Jiha>d an-Nafs, tt. Ibn Miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq (al-Maktabah asy-Syamilah).
Musthafa Al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi, juz ke-1 (Bairut: Dar Fikr, tt)
Syamsul Kurniawan & Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. (Jogjakarta: Ar-Ruzmedia, 2011),
Omar Mohammad Al-Toumy Al-Saybani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Abdul Amir Syamsuddin, al-Fikr at-Tarbawi „inda Ibn Khaldun wa Ibn al-Arzaq (Beirut: Syirkah al-„Alamiyah li al-Kitab, 1991)
Abu Lababah Husain, At-Tarbiyah fi as-Sunnah Nabawiyah (Riyad: Dar al-Liwa li an-Nasyr wa at-Tauzi‟, 1977)
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 1992), hlm. 135.
Fathiyah Hasan Sulaiman, Pandangan Ibnu Khaldun Tentang Ilmu dan Pendidikan, (Bandung: Diponegoro,1987), hlm. 808.
Azyumardi Azra. Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam (Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm 81
Disarikan dari kitab Ta‟lim al-Muta‟allim karya Syeikh Burhanudidin az-Zarnuji. Purwadi, Teori Sastra Jawa (Yogyakarta: Paradifma Indonesia, 2012)
Purwadi, Sejarah sastra Jawa-Diktat Kuliah (Yogyakarta: UNY, 2007)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna. lihat pula Rukiyah, Serat Wulang Dalem Paku Buana Ii: Suntingan Teks Disertaitinjauan Didaktis, Tesis (Semarang: Undip, 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Tengahan
46 Sudewa, Serat Panitisastra, Resepsi, dan Transformasi (Yogyakarta: Duta Wacana University
Press, 1991)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern
Purwadi, Teori Sastra Jawa, (Yogyakarta: Paradigma Indonesia, 2012) Efendi Widayat, Teori Sastra Jawa (Yogyakarta: Kanwa Publisher, 2011) Purwadi, Sejarah Sastra Jawa Klasik (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008).
Purwadi, Diktat Seni Tembang I (Yogyakarta: Pendidikan Bahasa Daerah UNY, 2010 http://id.wikipedia.org/wiki/Macapat.
http://sabdalangit.wordpress.com/2009/06/01/makna-tembang-macapat/
Meruhi Kaweruh, artikel yang terdapat dalam www.alangalangkumitir.wordpress.com Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, Serat Wulang Reh, didownload dari naskah trasliterasi
digital yang terdapat dalam website www.alangalangkumitir.wordpress.com.
http://wongalus.wordpress.com/2009/10/22/kitab-garing-kitab-teles/
Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, Serat Wulang Reh..
http://www.solopos.com/2012/11/16/ritual-gunung-kemukus-sragen-disalahartikan-menjadi-seks-bebas-348038
http://alangalangkumitir.wordpress.com/category/tafsir-mimpi-menurut-tabiraning-impen/
Dasaing Kaweruh Sejati,
http://sabdalangit.wordpress.com/2008/12/22/mengenali-jati-diri-hakekat-neng-ning-nung-nang/
R. Ng. Ranggawarsita, Serat Wirid Hidayat Jati (SWHJ).
Piwulang Kautaman, sebuah buku anonim yang memuat 275 petunjuk atau pedoman hidup, yang terbagi ke dalam 10 aspek sebagaimana disebutkan di atas.
Sutji Hartiningsih, Serat Wulang Reh Putri: Suntingan teks, Terjemahan dan Kajian Makna, Tesis (Semarang: PPS Undip, 2009).
Parwatri Wahjono, “Sastra Wulang dari Abad XIXI: Serat Candrarini, Suatu Kajian Budaya” dalam Makara, Sosial Humaniora, Vol. 8. N0. 2, Agustus 2004: 71-82
Dwi Endang Sujati, Serat Darmawasita Suntingan Teks, Telaah Tema dan Amanat, Tesis (Semarang: UNDIP, 2010)
Ajaran Asmaragama dalam Serat Nitimani yang didownload dari website