• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Menggunakan Asesmen Kinerja

Dalam dokumen EVALUASI PEMBE LAJARAN BAHASA INDONESIA (Halaman 77-81)

ASESMEN ALTERNATIF

2. Pertanyaan langsung

7.4 Metode Menggunakan Asesmen Kinerja

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan diperhatikan ketika menggunakan asesmen kinerja. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mempelajari prosedur asesmen kinerja ini. Adapun langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat penilaian kinerja yang baik antara lain:

a. Mengidentifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir yang terbaik.

b. Menuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik

c. Mengusahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama peserta didik melaksanakan tugas

d. Mendefinisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan peserta didik yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan

e. Mengurutkan kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati

f. Jika ada, memeriksa kembali dan membandingkan dengan kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.

1. Metode penyekoran kinerja siswa

Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengases kemampuan lompat jauh peserta didik misalnya dilakukan pengamatan atau observasi yang beragam, seperti: teknik mengambil awalan, teknik tumpuan, sikap/posisi tubuh saat di udara, teknik mendarat. Dengan demikian, gambaran kemampuan peserta didik akan lebih utuh. Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat ukur atau instrumen berikut.

a) Daftar Cek

Asesmen unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-tidak). Asesmen unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh pengases. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar.

b) Skala Penilaian

Asesmen unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan pengases memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum dimana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten.

Pada alat penyekoran berupa skala penilaian ini terdapat jenis lain yaitu berupa rubrik (rubrics). Heidi Goodrich Andrade (1997) mendefinisikan rubrik sebagai suatu alat penskoran yang terdiri dari daftar seperangkat kriteria atau apa yang harus dihitung. American Association for Advacement of Science mendefinisikan rubric adalah suatu petunjuk penskoran yang dapatmembedakan dalam hal skala yang diartikulasikan, di antara sekelompok perilak-perilaku yang sederhana atau kejadian-kejadian yang telah terjadi yang direspons pada saat itu juga. Jadi, rubrik adalah suatu set kriteria yang digunakan untuk menyekor atau menempatkan posisi siswa dapat pula diartikan sebagai suatu pedoman penskoran yang digunakan untuk menentukan tingkat kemahiran (proficiency) siswa dalam

mengerjakan tugas. Rubrik penyekoran mendeskripsikan tingkat kinerja yang diharapkan dicapai siswa secara relatif. Deskripsi kinerja ini dapat membantu evaluator untuk mencari karakteristik kinerja siswa. Ada dua jenis rubrik yaitu analytic rubric dan holistic rubric.

2. Kelebihan dan Kekurangan

Asesmen kinerja memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari asesmen kinerja adalah sebagai berikut:

a. Dapat mengetahui hasil belajar yang kompleks dan keterampilan-keterampilan yang tidak dapat dievaluasi dengan tes tradisional (paper and pencil test). Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa asesmen kinerja menuntut jenis kinerja yang dapat dilakukan oleh peserta didik. Tes tradisional lebih menekankan pada apa yang diketahui oleh peserta didik (kemampuan kognitif saja) dengan jawaban benar atau salah. Dengan demikian, pencil and paper test hanya mengukur satu aspek saja. Sedangkan asesmen kinerja menuntut berbagai kemampuan dari hasil belajar. Misalnya, kinerja peserta didik dalam membuat karangan dapat mengukur berbagai hasil belajar. Di antara kemampuan yang dapat dinilai dari mengarang misalkan, kemampuan kosakata, kemampuan merangkai kata, kemampuan mengungkapkan gagasan, kemampuan berimajinasi, kemampuan menulis. b. Menyajikan suatu evaluasi yang lebih hakiki, langsung dan lengkap dari

beberapa tipe keterampilan mengungkapkan alasan, keterampilan lisan dan keterampilan fisik. Beberapa keterampilan yang berupa kemampuan lisan maupun fisik dapat diukur dengan asesmen kinerja. Kemampuan berbahasa, misalkan dapat mengukur kemampuan lisan yang secara langsung dapat dievaluasi. Kemampuan lisan yang dimaksud, misalkan kemampuan melafalkan kata-kata asing yang tepat sesuai dengan kaidah-kaidah pelafalan dari bahasa asing tersebut.

c. Menyajikan motivasi belajar yang tinggi bagi peserta didik dengan tujuan-tujuan yang jelas dan membuat pembelajaran lebih berarti. Dalam asesmen kinerja ada proses dialog antara guru dan peserta didik. Guru

dapat merumuskan tujuan belajar secara bersama-sama dengan peserta didik. Kreativitas dan kemandirian belajar peserta didik merupakan factor yang penting dalam asesmen kinerja. Dengan adanya keterlibatan langsung peserta didik dalam perumusan tujuan belajar, peserta didik akan lebih tahu apa yang seharusnya ia lakukan sehingga dengan cara seperti ini motivasi belajar peserta didik akan tinggi dan pembelajaran menjadi lebih berarti.

d. Mendorong aplikasi pembelajaran pada situasi kehidupan yang nyata. Asesmen kinerja lebih menekankan pada apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik, bukan pada apa yang dapat diketahui oleh peserta didik. Untuk kerja yang ditunjukkan oleh peserta didik dapat ditekankan pada kehidupan yang nyata. Misalkan, seorang guru di sekolah dasar menugaskan kepada peserta didik untuk melakukan observasi tentang kehidupan tetangga di sekitarnya.

e. Dapat dijadikan informasi sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan dalam pembelajaran selanjutnya.

Adapun kelemahan asesmen kinerja yaitu sebagai berikut:

a. Membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus dipertimbangkan dalam penggunaannya. Asesmen kinerja tidak bisa disusun dengan waktu yang tergesa-gesa. Apabila disusun dengan waktu yang tergesa-gesa akan menghasilkan suatu perangkat pengasesan yang tidak akan handal dan tidak akan mencapai sasaran tujuan yang dikehendaki. Dibutuhkan perhatian yang sangat besar bagi guru dalam penggunaannya, tidak bisa ditunda-tunda pada saat guru harus membuat laporan dari hasil penilaiannya. Penundaan pembuatan laporan akan menimbulkan bias sehingga hasil pembelajaran itu menjadi tidak berarti.

b. Asesmen dan penyekoran kinerja subjektif, memberatkan dan secara khusus memiliki reliabilitas yang rendah. Seperti telah disebutkan di atas bahwa asesmen kinerja berbeda dengan pencil and peper test yang dapat diases dengan angka, sedangkan asesmen kinerja membutuhkan pengasesan diri dari manusia (pengases) sehingga hasilnya akan subjektif. Dampak dari subjektivitas akan menimbulkan reliabilitas yang rendah. Subjektivitas bisa

diminimalkan dengan cara guru harus membuat kriteria yang jelas dan eksplisit dalam membuat asesmen.

c. Frekuensi melakukan evaluasi secara individual harus lebih daripada dalam kelompok. Asesmen kinerja lebih menuntut asesmen secara individual daripada kelompok. Pekerjaan seperti ini membutuhkan waktu yang banyak bahkan biaya yang cukup besar sehingga apabila guru mengerjakannya dengan tidak serius akan menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Dalam dokumen EVALUASI PEMBE LAJARAN BAHASA INDONESIA (Halaman 77-81)