26
27
Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil pada penelitian tugas akhir ini berupa data primer dan data sekunder. Dalam pelaksanaan teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Wawancara terstruktur. Merupakan situasi sosial antara dua orang, dimana proses psikologis yang terlibat membutuhkan kedua individu secara timbal balik dalam memberikan beragam tanggapan sesuai tujuan penelitian. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya.
2. Kuesioner (Angket). Kuesioner merupakan teknik pengambilan data yang dilakukan dengan cara memberi beberapa pertanyaan atau pernyataan kepada responden untuk diisi. Kuesioner digunakan apabila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner yang digunakan berupa pertanyaan/pernyataan terbuka dan diberikan langsung kepada responden.
Kuesioner sering menggunakan daftar periksa (centang) dan skala penilaian.
Skala penilaian lebih berguna ketika suatu perilaku perlu dievaluasi biasanya menggunaka skala Likert
3. Observasi. Teknik ini merupakan teknik evaluasi penelitian yang paling umum digunakan. Teknik observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Teknik ini dilakukan secara langsung berdasarkan pengamatan di lapangan terhadap objek pengkajian.
4. Data Sekunder. Data ini merupakan data-data yang di dapat dari dinas terkait maupun dari penyuluh dalam bentuk file (Programa dan RKTP) data tersebut sudah valid dan sudah ada. Data sekunder biasanya dari BPP, Dinas Pertanian dan Kecamatan Setempat.
28
Definisi Operational
Definisi opersional dari beberapa variabel pada penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan Preferensi petani dalam penerapan GHP bawang merah adalah sebagai berikut:
1. Umur petani adalah umur yang dimiliki petani berdasarkan KTP yang bersangkutan. Umur petani diukur berdasarkan jumlah tahun dari awal kelahiran sampai dengan waktu penelitian ini dilaksanakan.
2. Tingkat pendidikan petani adalah tingkat pendidikan yang pernah atau telah ditempuh oleh petani. Tingkat pendidikan petani diukur berdasarkan jumlah tahun pendidikan formal.
3. Pengalaman berusaha tani adalah lamanya waktu kegiatan petani dalam melakukan usaha tani, yang diukur berdasarkan jumlah tahun bekerja sebagai petani.
4. Luas garapan petani adalah luas hamparan tanah yang digunakan untuk melakukan usahai tani.
5. Peran penyuluh adalah kemampuan penyuluh dalam memberikan inovasi pertanian untuk meningkatkan pengetahuan petani. Semakin rajin penyuluh menawarkan inovasi, proses adopsi akan semakin cepat pula
6. Kegiatan penyuluhan merupakan kegiatan memberikan informasi kepada petani melalui kelompok tani yang diberikan oleh penyuluh atau pemateri dengan memperhatikan materi, metode dan media yang digunakan yang sesuai dengan kebutuhan petani dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi pada usaha taninya.
7. Ketersediaan informasi merupakan kemudahan petani dalam mendapatkan informasi bagi keberlanjutan usahataninya. Informasi terbarukan dapat melalui penyuluh, media elektronik, media cetak atau sarana lainnya.
Kemudahan petani dalam mendapatkan informasi tentang teknologi GHP yang dilakukan untuk mempertahankan mutu produk pertanian.
8. Ketersediaan sarana produksi yaitu adanya sarana untuk melakukan kegiatan penerapan GHP bawang merah.
29 Instrumen Validitas
Validitas menjadi hal yang sangat penting karena validitas menjamin keabsahan pengukuran dari skala yang ditentukan dari variable-variabel yangmenentukan hubungan suatu kejadian atau fenomena. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian (Sugiyono 2018).
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam melakukan uji validitas adalah dengan membagikan kuesioner pada 15 orang responden, karena data responden di jadikan sensus maka uji validitas menggunakan responden yang sama, dengan responden yang sesungguhnya. Kemudian hasil jawaban responden diolah datanya dengan menggunakan Ms. Excel di komputer/laptop, yaitu menghitung data yang didapatkan dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
rxy = Koefisien x = Skor item y = Skor total N = Jumlah subyek
Dari hasil perhitungan dengan rumus analisis diatas, hasil uji validitas dengan r tabel 0,514 lebih kecil dengan r hitung, maka dihasilkan soal yang valid sebanyak 43 soal dari jumlah seluruh butir soal 49. Sedangkan untuk soal yang dinyatakan tidak validnya sebanyak 6 soal yang nantinya akan diperbaiki. Adapun tabel Hasil uji validitas dapat dilihat di lampiran 3.
Reliabilitas
Reliabilitas suatu skala diartikan sejauh mana suatu proses pengukuran bebas dari kesalahan (error). Kehandalan (reability) sangat berkaitan dengan
30
akurasi dan konsistensi. Suatu Skala dikatakan handal/reliabel, jika menghasilkan hasil yang sama ketika pengukuran dila kukan berulang serta dilakukan dalam kondisi konstan (sama). Instrument yang reliable adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data sama. Instrument yang reliable dapat digunakan untuk mengukur berkali-kali dan menghasilkan data yang sama. Menurut Sugiyono (2018) menyatakan bahwa reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan.
Uji reliabilitas adalah pengujian untuk mengetahui bahwa kuesioner yang digunakan tersebut reliabel (dapat dipercaya) atau tidak. Adapun langlah-langkah yang akan dilakukan dalam melaksanakan uji reliabilitas instrumen evaluasi adalah dengan membagikan kuesioner pada 15 orang responden (kuesioner dan responden yang sama pada pelaksanaan uji validitas), kemudian dari hasil jawaban responden tersebut diperoleh hasil. Data hasil tersebut diolah dengan menggunakan Ms. Excel pada komputer/laptop dengan menggunakan formula koefisien alpha (Alpha Cronbach’s) dengan bantuan program SPSS 2.6. Rumus Alpha Cronbach’s adalah sebagai berikut:
Keterangan:
r11 = Reliabilitas instrumen
k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal si = Jumlah varians butir
st = Varians total
Dari hasil perhitungan dengan analisis rumus tersebut akan menghasilkan nilai reliabilitas instrumen. Teknik ini digunakan apabila jawaban yang diberikan responden berbentuk skala dan kriteria suatu instrumen dikatakan reliabel jika harga r yang diperoleh paling tidak mencapai 0,7 (Wahyuni N 2014). Nilai Cronbach’s alpha yaitu 0,927, maka instrumen tersebut dapat dinyatakan reliable (dapat dipercaya) sebab nilai Cronbach’s alpha nya terhitung melebihi 0,7. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada lampiran 3.
31 Variabel, Sub Variabel, Indikator, Parameter dan Skala Pengukuran
Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner tertutup yang mana alternatif jawabanya telah disediakan, sehingga responden hanya tinggl memilih jawaban yang telah tersedia. Instrumen yang digunakan berisi daftar pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan indikator penelitian yang akan dikaji yaitu preferensi atau kecenderungan petani dalam penerapan GHP (Good Handling Practices) pada bawang merah. Variabel instrumen merupakan substansi yang terdapat dalam suatu instrumen. Skala pengukuran menggunakan skala modifikasi likert yang diberi numeric antara 1 - 4 yang terbagi dalam 4 kategori, yaitu :
1. Nilai 4 : Sangat berperan / sangat menerapkan / sangat menguntungkan / sangat sesuai / sangat mudah / sangat bisa dicoba / sangat bisa diamati / sangat tahu / sangat setuju / sangat menerima / sangat menerapkan
2. Nilai 3 : Berperan / menerapkan / menguntungkan / sesuai / mudah / bisa dicoba / bisa diamati / tahu / setuju / menerima / menerapkan.
3. Nilai 2 : Kurang berperan / kurang menguntungkan / kurang sesuai / kurang mudah / kurang bisa dicoba / kurang bisa diamati / kurang tahu/ kurang setuju / kurang menerima / kurang menerapkan
4. Nilai 1 : Tidak berperan / tidak menguntungkan / tidak sesuai / tidak mudah / tidak bisa dicoba / tidak bisa diamati / tidak tahu / tidak setuju / tidak menerima / belum pernah mencoba / tidak menerapkan Instrumen
Instrumen ini terdiri atas variabel, sub variabel, indikator, parameter dan skala pengukuran sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut :
32
Tabel 3 Variabel, Indikator, Parameter, dan Skala pengukuran
Variabel Indikator Parameter Skala
Pengukuran Faktor Internal
(X1) Karakteristik
Individu Umur petani Jumlah umur responden dalam tahun (1-4) Tingkat pendidikan Jumlah tahun mengikuti pendidikan (1-4) Lama berusahatani Jumlah tahun usaahtani responden (1-4) Luas garapan petani Jumlah luas area lahan responden dalam
satuan Ha/m2 (1-4)
Peran Penyuluh
Melakukan pendampingan
kepadapetani terhadap penerapan GHP
- Melaksanakan penyuluhan, pengawasan dan pengamatan keberlanjutan penerapan GHP tanaman bawang merah
- Penyedia informasi pasar Bawang merah
(1-4)
Kegiatan Penyuluhan
Melakukan kegiatan penyuluhan
- Materi GHP bawang merah - Metode penyuluhan
- Media penyuluhan - Intensitas penyuluhan
(1-4) Keikutsertaan
petani
- Keaktifan pemuda tani mengikuti Pertemuan
- Motivasi pemuda tani mengikuti Pertemuan
Faktor Eksternal (X2)
Ketersediaan Informasi
Jenis sumber informasi
- Lembaga sebagai sumber Informasi
- Media elektronik
- Penyuluh sebagai sumber
informasi (1-4)
Akses sumber informasi
- Kemudahan mendapat informasi
- Kemampuan mencari informasi
Ketersediaan sarana produksi
Ketersediaan saprodi pertanian
- Ketersediaan alat dan bahan panen - Ketersediaan alat dan bahan pasca
panen
(1-4)
Preferensi (Y)
Pengetahuan - Pengetahuan Pemuda tani pada kecenderungan penerapan GHP bawang merah
(1-4) Penerapan - Pengimplementasian setelah
mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan
(1-4) Sumber : Analisis Data Primer diolah penulis, 2022
33
Strategi untuk meningkatkan preferensi atau kecenderungan petani dalam penerapan GHP pada bawang merah dapat dirancang jika tingkat kecenderungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecenderungan telah dianalisis sebelumnya. Adapun salah satu strategi yang akan diterapkan yaitu dengan mengadakan penyuluhan berbentuk video ataupun media cetak tentang kegiatan GHP bawang merah dan memberikan contoh-contoh yang dapat digunakan sortasi dan gardang pada bawang merah, serta dengan menggunakan petak percontohan bawang merah. Petak percontohan bawang merah ini digunakan sebagai media pembelajaran tentang bagaimana menentukan waktu panen yang tepat untuk tanaman bawang merah yang dapat dilihat secara visual maupun secara fisik.
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah analisis deskriptif dan regresi linear berganda. pengkajian ini dilakukan dengan menggunakan jenis data kuantitatif. Pengolahan dan analisis data kuantitatif menggunakan aplikasi Microsoft Excell dan SPSS. Dalam hal ini penggunaan analisis datanya dengan menggunakan dua analisis, yaitu analisis Deskriptif dan analisis linear berganda.
1. Analisis Deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan preferensi (kecenderungan) pemuda tani terhadap penerapan GHP (Good Handling Practices) pada bawang merah di Kecamatan Bayongbong.
2. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel Karakteristik Individu (X1), Faktor Eksternal (X2), dan Preferensi (Kecenderungan) pemuda tani pada GHP (Y). Persamaan regresi yang dipakai adalah sebagai berikut (Sugiyono, 2017).
Y= a + b1 .X1 + b1 .X1 Keterangan :
Y = Preferensi (Kecenderungan) Pemuda Tani a = Konstanta
b1 = Koefisien regresi dari variabel X1 (Karakteristik Individu) X1 = Karakteristik Individu
b2 = Koefisien regresi dari variabel X2 (Faktor Eksternal) X2 = Faktor Eksternal
34 E = Error term
Untuk menentukan model dan strategi dalam meningkatkan preferensi pemuda tani terahadap penerapan GHP (Good Handling Practices) sebagaimana bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga, digunakan hasil analisis regresi linier berganda dan dilakukan analisis kembali menggunakan analisis deskriptif.
Penentuan skala prioritas dipetakan mulai dari yang terendah hingga tertinggi, kemudian hasil tersebut dijadikan acuan untuk melakukan penyuluhan kepada pemuda tani.
35