• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PELAKSANAAN PROGRAM

METODE PELAKSANAAN PROGRAM A. Metode Intervensi Sosial

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari metode ialah cara teratur yang diinginkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Sedangkan “metode intervensi (Intervention Method), khususnya metode intervensi sosial. Metode intervensi ini perlu dikembangkan terkait dengan keberadaan ilmu kesejahteraan sosial sebagai ilmu terapan, dengan sasarannya adalah memperbaiki taraf hidup masyarakat. Tanpa adanya metode intervensi yang dikembangkan maka ilmu kesejahteraan sosial akan mandek. Karena itulah pengkajian dan pembaharuan model intervensi baik strategi maupun teknik harus terus dilakukan sejalan dengan adanya perubahan pada masyarakat”.2

“Metode intervensi sosial dapat diartikan sebagai suatu cara atau strategi dalam memberikan bantuan kepada masyarakat (individu, kelompok, komunitas) untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang melalui upaya memfungsikan kembali fungsi sosialnya. Maksudnya adalah setiap masyarakat harus mampu berperan sesuai dengan statusnya di dalam masyarakat, yang mana status tersebut harus diakui oleh lingkungan dan status tersebut tidak melewati batasan-batasan norma yang ada”.3

Dalam melakukan intervensi sosial, seorang praktisi kesejahteraan sosial harus memiliki tiga buah bekal:4

1. Knowledge (Pengetahuan); Seorang praktisi kesejahteraan sosial dituntut untuk mampu memiliki pemahaman yang baik terkait konsep-konsep di bidang kesejahteraan sosial.

2. Skill (Keterampilan); Seorang praktisi kesejahteraan sosial mampu menerapkan pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki ke dalam praktek-praktek di masyarakat.

2 Nurul Husna, “Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial” Jurnal Al-Bayan Vol. 20, No. 29 (2014), h. 53-54, diakses pada 16 Mei 2017 dari: http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/bayan/article/view/114.

3 Dian Setyawati, “Pengantar Masyarakat dalam Praktek Pekerjaan Sosial” diakses pada 17 Mei 2017 dari https://cintarakyatindonesia.wordpress.com/2010/09/12/ pengan tar-metode-intervensi-sosial/.

18

3. Value (Nilai); Nilai menurut Soetarso adalah kepercayaan, pilihan, atau asumsi tentang yang baik untuk manusia. Nilai sendiri jika dikaitkan kepada profesi kesejahteraan sosial adalah seperangkat etik/moral dimana praktisi kesejahteraan sosial harus berkomitmen. Nilai-nilai yang di usung oleh praktisi kesejahteraan sosial sendiri adalah nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mengarah pada kebaikan.

Dalam program intervensi sosial yang kami laksanakan, pendekatan yang kami gunakan adalah pendekatan perubahan masyarakat(social change). Pendekatan ini diharapkan dapat melancarkan pendekatan terhadap masyarakat dan implementasi program yang kami jalankan. Dalam hal perubahan sosial, program intervensi komunitas yang dilakukan hendaknya merupakan suatu usaha yang direncanakan untuk melakukan perubahan terhadap masyarakat desa sehubungan dengan peningkatan aspek kepercayaan diri, motivasi, pengetahuan, dan pemahaman masyarakat tentang berbagai aspek perubahan seperti kesehatan, sanitasi, kebersihan, wawasan ekonomi, wawasan komunikasi dan kemampuan untuk membangun diri dan kelompoknya sendiri.

B. Pendekatan dalam Pemberdayaan Masyarakat

Pengabdian kepada masyarakat merupakan suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa yang mana bekerja sama dengan dosen

pembimbingnya. “Konsep “Pembangunan Masyarakat” dengan

“Pemberdayaan Masyarakat” serta “Pengembangan Masyarakat” pada dasarnya serupa atau setara. Perkembangan teori pembangunan itu dimulai dari praktek, yaitu kebutuhan yang dirasakan di dalam masyarakat terutama dalam situasi sosial yang dihadapi di dalam negara-negara yang menghadapi perubahan sosial yang cepat, sejalan dengan perubahan peristilahan yang digunakan oleh pemerintah khususnya di negara kita yang pada awalnya

menggunakan istilah “Pembangunan Masyarakat Desa”5

“Menurut Bruhn dan Rebach, setiap intervensi yang dilakukan maka harus dimulai dengan melakukan asesmen atau pemetaan. Baik yang berupa pemetaan kebutuhan masyarakat yang lebih cenderung memilih pendekatan

5 Anonim, Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat, diakses pada 15 September 2016. dari http://file.upi.edu/browse.php?dir=Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/19611109 1987031001- M U S TOFA_KAMIL/

19 pemecahan masalah (Problem Solving) ataupun pemetaan asset masyarakat yang dimiliki masyarakat atau disebut dengan Asset Based Approach”.6

Kemudian problem solving approach seperti yang dijelaskan oleh Bapak Eva Nugraha, M.Ag., dalam seminar Pembekalan KKN PpMM UIN Jakarta 2016, menekankan pada tiga elemen penting diantaranya kolektivitas masyarakat, letak geografis, pelembagaan yang memberikan identitas khusus kepada komunitas. Lalu kami menggunakan pemecahan masalah dengan mengingat kembali aturan-aturan dan menerapkan langkah-langkah yang akan mengantar masyarakat kepada jawaban yang diharapkan.

Selanjutnya dengan keterkaitannya pada metode intervensi sosial yang dilakukan, pada pendekatan problem solving approach ini, kami menggunakan beberapa tahap, yaitu:

1. Identifikasi masalah. Seperti dalam intervensi sosial, kami mendalami suatu masalah tersebut dengan menganalisis baik faktor internal dan eksternal sebagai penyebabnya. Identifikasi masalah yang sangat jelas dan spesifik adalah langkah awal yang penting. Keberhasilan identifikasi akan mendukung akurasi dan validasi data dalam proses pemecahan masalah. Dalam mengidentifikasi masalah kami menggunakan teknik pengamatan langsung ke masyarakat. Setelah

masalah telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah

mendefinisikan masalah yang kemudian akan menjadi informasi lebih rinci. Selanjutnya dapat ditetapkan signifikansi masalah dan prioritas masalah sehingga akan lebih efisien dalam pemecahan masalah. Ini juga merupakan langkah awal untuk mendapatkan pendanaan dan rencana untuk mengalokasikan sumber daya untuk proses pemecahan masalah 2. Menggerakkan sumber daya yang ada (SDA dan SDM). Suatu solusi masalah yang efektif, apabila kita berhasil menemukan sumber-sumber dan akar-akar dari masalah itu, kemudian mengambil tindakan untuk menghilangkan masalah-masalah tersebut

3. Merencanakan program. Selanjutnya adalah mengembangkan strategi untuk memecahkan masalah. Banyak strategi yang dapat digunakan tergantung pada jenis dan beratnya masalah yang dihadapi. Merencanakan langkah-langkah spesifik dari melakukan identifikasi

6 Eva Nugraha, Panduan Penyusunan Buku Laporan Hasil KKN-PpMM 2016 (Ciputat: Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, 2016).

20

masalah yang ada menimbulkan tindakan untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik

4. Pemecahan masalah. Menetapkan tindakan-tindakan perbaikan yang di rencanakan. Kemudian menerapkan sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan atau dilakukan. Hal ini dilakukan setelah melaui beberapa tahapan dan menghasilkan berbagai macam opsi, dan langkah selanjutnya adalah mengambil keputusan melalui sikap realistis dan berpikir yang logis atas kelebihan dan kekurangan potensi masing-masing opsi untuk memilih beberapa opsi yang diinginkan

5. Evaluasi. Setelah solusi diputuskan atau ditetapkan dalam proses pelaksanaan untuk pemecahan masalah, langkah berikutnya adalah melakukan pemantauan secara berulang dari waktu ke waktu untuk mengukur apakah menunjukkan pergerakkan ke arah tujuan atau tidak sama sekali. Dari hasil pemantauan yang telah dilakukan dapat diperoleh beberapa informasi yang penting untuk dilakukan suatu evaluasi atau penilaian. Apakah solusi tersebut tetap dilanjutkan, menyarankan perbaikan, dilakukan revisi atau dihentikan sama sekali jika tidak ada kemajuan sedikitpun. Kegiatan ini tidak cukup dilakukan hanya satu bulan selama periode Kuliah Kerja Nyata berlangsung, maka inilah fungsi keberadaan buku laporan hasil KKN sebagai pengkoreksian hal yang kurang dan terus melanjutkan program yang sifatnya pemberdayaan atau bahkan berkelanjutan.

21

Dokumen terkait