METODE PELAKSANAAN PROGRAM A. Metode Intervensi Sosial
Metode Intervensi Sosial dapat diartikan sebagai suatu cara atau strategi dalam memberikan bantuan kepada masyarakat (individu, kelompok, komunitas) untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang melalui upaya memfungsikan kembali fungsi sosialnya. Maksudnya adalah setiap masyarakat harus mampu berperan sesuai dengan statusnya di dalam masyarakat. Status tersebut harus diakui oleh lingkungan dan status tersebut tidak melewati batasan-batasan norma yang ada.3
Intervensi sosial adalah upaya perubahan terencana terhadap individu, kelompok, maupun komunitas. Dikatakan “perubahan terencana” agar upaya bantuan yang diberikan dapat dievaluasi dan diukur keberhasilannya. Intervensi sosial juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memperbaiki fungsi sosial dari kelompok sasaran perubahan, dalam hal ini individu, keluarga dan kelompok. Keberfungsian sosial menunjuk pada kondisi di mana seseorang dapat berperan sebagaimana seharusnya sesuai dengan harapan lingkungan dan peran yang dimilikinya. Tujuan utama intervensi sosial yakni memperbaiki fungsi sosial kelompok sasaran perubahan.4
Penggunaan kata “Intervensi Sosial‟ lebih dipilih dari pada “Intervensi‟ bertujuan untuk menggaris bawahi dua pertimbangan yaitu: Pertama, Individu merupakan bagian dari sistem sosial sehingga walaupun metode bantuan utama adalah terapi psikologi yang bersifat individu, lingkungan sosial pun perlu diberikan intervensi. Kedua, Intervensi Sosial menunjuk pada area intervensi dan tujuan, yang mana tujuan dari Intervensi Sosial adalah untuk memperbaiki fungsi sosial kelompok sasaran perubahan, fungsi sosial dikatakan sudah dicapai apabila jarak antara harapan dan kenyataan tidak terlalu jauh. Dengan kata lain intervensi
3Dian Seryawati, “Pengantar Metode Intevensi Sosial” diakses pada 7 September 2016 dari: https://cintarakyatindonesia.wordpress.com/2010/09/12/pengantar-metode-intervensi-sosial/
4 Isbandi Rukminto Adi, Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Pengantar Pada
12
sosial bertujuan untuk memperkecil jarak bahkan mensejajarkan harapan lingkungan dengan kondisi riilnya.5
Dalam kehidupan bermasyarakat pasti terdapat persaingan dan kompetisi, karena pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki rasa untuk selalu dihormati, berprestasi, menjadi orang yang terpandang. Untuk mendapatkan hal tersebut potensi diri merupakan hal yang harus diperhatikan dan harus dimiliki. Untuk itu, potensi diri perlu dikembangkan untuk dapat ditransformasikan menjadi skill yang akan menjadi bahan bakar dalam proses kompetisi sosial.
Pada dasarnya, banyak faktor yang menjadi hambatan dalam mengembangkan potensi diri di masyarakat seperti biaya, infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kami mencoba membantu masyarakat Kelurahan Muncul untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada pada masyarakat dalam rangka menciptakan masyarakat yang mandiri dan dapat bersaing dengan masyarakat lain. Dalam hal ini, kami akan mencoba menguraikan beberapa metode yang kami gunakan, yang mana metode ini dapat digunakan sesuai dengan kondisi, baik kondisi objektif masyarakat sasaran ataupun kondisi kelompok mahasiswa .
Metode-metode yang digunakan, antara lain Studi Pustaka dan Sekunder, Metode Delbecq (Nominal Group Process), Metode DELPHI, Metode Curah Pendapat dan Metode diskusi kelompok terfokus (focus group discussion-FGD).6
1. Studi Pustaka dan Data Sekunder
Metode studi pustaka merupakan mempelajari dokumen-dokumen terkait masyarakat setempat berupa laporan-laporan pembangunan, profil daerah, laporan-laporan program pengembangan masyarakat yang sudah pernah dilakukan di lokasi sasaran dari community worker sebelumnya atau dapat juga dilakukan dengan menelusuri data-data statistik yang dimiliki oleh suatu instansi, departemen, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau arsip lainnya.
5 Totok Mardikanto, dan Poerwoko Soebianto, Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Prespektif Kebijakan Publik (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 167
6Eva Nugraha dan Farid Hamzen, Pedoman Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat
13 2. Metode DELBECQ (Nominal Group Process)
Metode DELBECQ pada dasarnya adalah metode nominal group prcess, namun lebih dikenal dengan nama salah seorang pengembangnya yaitu Delbecq.
Metode ini lebih efisien dan efektif untuk menjaring informasi tentang masalah masyarakat dan membuat prioritas masalah. Perlu dicatat bahwa metode ini bukan untuk memecahkan masalah tetapi untuk identifikasi masalah dan menyusun prioritas masalah.
3. Metode DELPHI
Metode ini tidak dilakukan melalui pertemuan atau satu forum, tetapi dengan menggunakan kuisioner sebagai instrument untuk mengidentifkasi masalah untuk kebutuhan masyarakat.
4. Metode Curah Pendapat
Bentuk sebuah kelompok diskusi dengan mengajak orang-orang yang dianggap paham dan mengerti tentang kondisi komunitas sebagai partisipan. Beri mereka kebebasan berpendapat, pandangan, dan apa saja dari mereka.
5. Metode Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion-FGD)
Metode riset kualitatif yang paling terkenal selain teknik wawancara. FGD adalah diskusi terfokus dari suatu grup untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai.
B. Pendekatan dalam Pemberdayaan Masyarakat
Ketika pembekalan KKN 2016 oleh PpMM UIN, kami sedikit diberikan penjelasan terkait 2 pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu Problem Solving Approach dan Asset Based Approach. Dari kedua pendekatan di atas kami memilih untuk menggunakan pendekatan Problem Solving Approach dalam melaksanakan kegiatan KKN 2016.
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.7 Secara bahasa, Problem dan Solving berasal dari Bahasa Inggris. Problem artinya masalah,
7Djamara, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 76-79.
14
sementara solving (kata dasarnya to solve) artinya pemecahan. Dengan demikian problem solving dapat diartikan sebagai pemecahan masalah.
Dari sedikit penjelasan diatas kelompok KKN kami menggunakan metode Problem Solving Approach sebagai pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat, di mana metode ini lebih efisien dan efektif untuk menjaring informasi tentang masyarakat dan membuat prioritas untuk masyarakat.
Selain itu metode Problem Solving Approach memberikan kemudahan bagi kami secara kompleks pada setiap masalah yang terdapat di Kelurahan Muncul, bukan untuk diselesaikan secara penuh tapi dapat sedikit membantu kekurangan yang bisa ditambahkan. Data-data yang telah kami dapatkan dari para narasumber mengenai kondisi Kelurahan Muncul selanjutnya kami akan rumuskan untuk mengetahui langkah selanjutnya yang kami lakukan guna untuk mengindetifikasi permasalahan yang ada di Kelurahan Muncul.
Terdapat beberapa tahapan problem solving dapat diringkas sebagai berikut :8
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah suatu kepekaan, sebagai bagian dari komunitas yang terpengaruh oleh masalah yang ada.
2. Menggerakkan Sumber Daya
Setelah masalah diidentifikasi, dipelajari, dan dimengerti, langkah berikutnya adalah menggerakan sumber daya yang diperlukan untuk mengaktifkan beragam jenis kemampuan warga komunitas, mengaktifkan enerji dan imajinasi sebagai suatu proses penting dalam pengembangan komunitas.
3. Perencanaan Program
Tahapan selanjutnya adalah perencanaan program pengembangan masyarakat dengan membutuhkan semua faktor yang mempengaruhi komunitas. Dalam kerangka perencanaan warga komunitas harus mempunyai kesempatan untuk mengkritik dan memberikan saran membangun.
8 Nasdian, Predian Tonny, Pengembangan Masyarakat (Jakarta: Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia), h.74
15 4. Penggerakan Kapasitas Komunitas
Dengan dukungan penuh warga komunitas dilakukan upaya penggerakan kapasitas komunitas untuk melayani dan mendukung suatu kegiatan pengembangan masyarakat di atas keragaman warga komunitas. 5. Pemecahan Masalah
Tahap pemecahan masalah yang efektif dan membutuhkan evaluasi, yang berarti tidak ada hal terakhir yang tidak penting. Bahkan sesungguhnya akhir kegiatan akan tetap ada, penilaian akhir harus dilakukan terhadap semua tahap untuk melaksanakan kegiatan yang akan dianalisis dengan kritis dalam hal kekuatan, kelemahan, kesuksesan, kegagalan.
17