• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Dalam dokumen SEPENGGAL CERITA DI TANAH SUKARAKSA (Halaman 34-39)

Dalam BAB II ini berisi tentang metode intervensi sosial, pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan kerangka teoritis atas pelaksanaan KKN.

4. BAB III Kondisi Desa Sukaraksa Kecamatan Cigudeg

Dalam BAB III ini berisi tentang sejarah singkat Desa Sukaraksa, letak geografis, struktur penduduk serta sarana dan prasarana. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi secara keseluruhan mengenai Desa Sukaraksa.

5. BAB IV Deskripsi Hasil Pelayanan dan Pemberdayaan

Dalam BAB IV ini berisi tentang kerangka permasalahan, bentuk dan hasil kegiatan pelayanan dan pemberdayaan pada masyarakat, faktor-faktor pencapaian hasil. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang uraian program kerja selama KKN secara detail baik berupa pelayanan maupun pemberdayaan untuk masyarakat Desa Sukaraksa.

6. BAB V Penutup

Dalam BAB V ini berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum hasil program KKN yang telah dilaksanakan serta memberikan rekomendasi bagi pemerintah setempat juga bagi tim KKN selanjutnya yang akan mengadakan KKN di Desa Sukaraksa.

7. Epilog

Bagian terakhir ini berisi kesan-kesan dari masyarakat Desa Sukaraksa dan anggota kelompok KKN D‘MOST yang telah melaksanakan KKN.

BAB II

METODE PELAKSANAAN PROGRAM A. Metode Intervensi Sosial

Agar program tepat sasaran harus didasarkan pada kebutuhan bukan pada keinginan masyarakat. Maka, sebelum melaksanakan kegiatan KKN, hal yang terlebih dahulu dilakukan adalah menemukan program apa yang akan dilaksanakan selama pelaksanaan kegiatan KKN berlangsung. Langkah awal dalam menentukan strategi intervensi berdasarkan prioritas masalah yang dihasilkan.

Tujuan utama dari metode intervensi sosial adalah memperbaiki fungsi sosial dari kelompok sasaran perubahan itu sendiri. Kondisi akan sejahtera dan semakin mudah dicapai, apabila fungsi sosial seseorang berfungsi dengan baik. Sehingga, kondisi sejahtera dapat terwujud manakala jarak antara harapan dan kenyataan tidak terlalu lebar. Melalui intervensi sosial, hambatan sosial yang diahadapi kelompok sasaran perubahan akan diatasi. Dengan kata lain, intervensi sosial berupaya memperkecil jarak antara harapan dan kondisi kenyataan sekelompok orang.

Sedangkan menurut Isbandi Rukminto dalam bukunya ―Ilmu

Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial”, intervensi sosial adalah perubahan

yang terencana dan dilakukan oleh pelaku perubahan (agent of change) terhadap berbagai sasaran perubahan (target of change) yang terdiri dari individu, keluarga, dan kelompok maupun komunitas dan organisasi bahkan sampai kepada masyarakat yang lebih luas, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, negara maupun tingkat global.2

1. Bentuk Metode Intervensi Sosial

Adapun dalam pelaksanaannya dalam dunia pekerja sosial, intervensi dapat dibagi menjadi tiga level, yaitu intervensi mikro, intervensi mezzeo, dan intervensi makro.3

a) Intervensi mikro, pekerja sosial yang memiliki keahlian dalam mengatasi masalah yang dihadapi individu dan keluarga. Masalah

2 Isbandi Rukminto Adi, Intervensi Komunitas Pengembanan Masyarakat Sebagai Upaya

Pemberdayaan Masyarakat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h.37-38.

3 Suharto, Edi, Pekerja Sosial di Dunia Industri, (Corporate Social Responsibility), (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h.4.

sosiak yang ditangani umumnya berkenaan dengan masalah psikologis, seperti stres dan depresi.

b) Intervensi mezzo, pekerja sosial yang memiliki keahlian dalam mengatasi masalah yang dihadapi kelompok atau komunitas. Dimana pelaku perubahan mencoba mengembangkan program yang bersifat preventif, proaktif dan kreatif bersama masyarakat melalui pengembangan masyarakat.4

c) Intervensi makro, pekerja sosial yang memiliki keahlian dalam mengatasi masalah yang dihadapi komunitas, masyarakat dan lingkungannya, seperti kemisikan, ketelantaran, ketidakadilan sosial dan eksploitasi sosial. Metode yang digunakan adalah pengembangan masyarakat (community development), manajemen pelayanan kemanusiaan (human service management), dan analisis kebijakan sosial (social policy analysis).5

Untuk menentukan masalah di Desa Sukaraksa kami mengidentifikasi masalah dengan memahami dan menganalisis keadaan lingkungan sekitar Desa Sukaraksa. Dengan mengumpulkan informasi melalui wawancara dengan tokoh masyarakat seperti Kepala Desa, Ketua LPM Desa, Ketua RW, dan Ketua RT agar kami mengetahui beberapa permasalahan di desa. Selain itu analisa dilakukan dengan observasi, dan dari data tertulis.

Metode intervensi yang kami lakukan dengan mendekatkan kepada masyarakat melalui obrolan-obrolan santai sekaligus menanyakan kebutuhan dan permasalahan di dalam ruang lingkup masyarakat, khususnya di Desa Sukaraksa. Setelah kami melakukan wawancara langsung kepada warga, kami menemukan banyak permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, kami membenahi suatu permasalahan yang lebih krusial dan dapat berguna kepada masyarakat untuk kedepannya. Salah satu permasalahan yang dihadapi warga yaitu kurangnya pemahaman terhadap pentingnya pendidikan.

4 Isbandi Rukminto Adi, Intervensi Komunitas Pengembanan Masyarakat Sebagai Upaya

Pemberdayaan Masyarakat, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h.44.

5 Suharto, Edi, Pekerja Sosial di Dunia Industri, (Corporate Social Responsibility), (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), h.4.

B. Pendekataan dan Pemberdayaan Masyarakat

Memecahkan suatu masalah merupakan suatu aktivitas dasar bagi manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar kehidupan adalah berhadapan dengan masalah-masalah. Manusia perlu mencari jalan keluar serta penyelesaiannya ketika berhadapan dengan masalah tersebut, dengan mencoba menyelesaikannya dengan cara-cara lain dan tentunya dengan berani menghadapi itu.

Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam

menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.6

Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identification

(identifikasi) untuk ke tahap syntesis kemudian dianalisis dengan cara pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application dan selanjutnya ke tahap comprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut.7

Pada strategi ini kami menggunakan sistem Problem solving approach, yang dimana menekankan pada 3 elemen yaitu :

1. Kolektivitas masyarakat, kami melakukan obrolan santai terhadap masyarakat yang sedang besantai.

2. Letak geografis, tempat kediaman rumah setiap Kp. berdekatan atau bersebelahan sehingga dalam melakukan pendekatan terhadap masyarakat lebih efisien.

3. Pelembagaan yang memberikan identitas khusus pada komunitas, lembaga yang didirikan masyarakat setempat, kami mengikuti aktivitasnya seperti karang taruna Pemuda Palapa, aktifitas setiap harinya kami mengikutinya maupun ikut mengembangkan dan masukan untuk memajukan karang taruna tersebut.

6 Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung: Cipta Aditya Bakti, 1994), h.151.

7 Sarjanaku, Pengertian Problem Solving,

http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-problem-solving.html, diakses pada 1 Oktober 2016, jam 12.46 WIB.

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar.

Terimalah, dan hadapilah."

Dalam dokumen SEPENGGAL CERITA DI TANAH SUKARAKSA (Halaman 34-39)

Dokumen terkait