• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya pada bulan Januari hingga Juni 2018.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop binokuler, tabung kaca untuk perlakuan (d=6,5 cm, t=9,5 cm), tabung kaca untuk sterilisasi pakan (d=15 cm, t=17 cm), tabung perbanyakan serangga (p=11,5 cm, l=11,5 cm, t=12 cm), cawan Petri kaca (d=9 cm, t=15 cm), tabung kecil (d=3 cm, t=3 cm), nampan, timbangan digital tipe Mettler Toledo® AL204, kain kasa, karet gelang, freezer, lemari pendingin, handcounter, termohigrometer digital tipe Innotech® CTH-608, kuas, saringan nylon 50 mesh (0,297 mm) dan kamera digital.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung tapioka, maizena, gandum, sagu, beras, kacang hijau, ketan, kedelai, sukun, dan dedak, ragi (yeast), aquades, kertas label, larutan etil asetat, dan imago T. castaneum.

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari persiapan dan pelaksanaan penelitian. Persiapan penelitian meliputi persiapan pakan dan perbanyakan serangga.

3.3.1 Persiapan Penelitian

Penyediaan Pakan. Pakan yang digunakan dalam perbanyakan T. castaneum

adalah tepung gandum dan ragi yang didapatkan dari swalayan. Pakan yang akan digunakan untuk perlakuan adalah tepung tapioka, maizena, gandum, sagu, beras, kacang hijau, ketan, kedelai, sukun, dan dedak yang didapatkan dari swalayan. Pakan yang telah diperoleh dipisahkan dari benda asing seperti batu, sekam dan serangga dengan tujuan untuk menghindarkan pakan dari adannya kontaminan

17

Sterilisasi Pakan. Sterilisasi pakan dilakukan berdasarkan metode Heinrichs et al., (1985) yang bertujuan agar pakan yang digunakan tidak terkontaminasi oleh

organisme lainnya. Sebelum disterilisasi, pakan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tabung kaca (d=15 cm, t=17 cm). setelah pakan dimasukkan kemudian sterilisasi menggunakan freezer dengan suhu -15°C selama tujuh hari kemudian dipindahkan ke lemari pendingin dengan suhu 5°C selama tujuh hari dan dipindahkan di ruangan dengan suhu 27°C ± 2°C selama dua minggu sebelum digunakan dalam penelitian.

Analisis Proksimat Pakan. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium

Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, untuk mengetahui nilai kandungan protein, lemak, karbohidrat, kadar air dan abu yang terdapat pada pakan yang akan digunakan untuk penelitian.

Analisis Fenol Pakan. Analisis fenol pakan dilakukan di Laboratorium TPHP

Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada. Uji fenol dilakukan untuk mengetahui kandungan fenol total yang merupakan salah satu senyawa volatil yang dikeluarkan oleh pakan yang dapat mempengaruhi ketertarikan serangga dalam memilih pakan.

Perbanyakan Serangga. Perbanyakan serangga dilakukan di Laboratorium

Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dengan menggunakan tabung perbanyakan serangga berbentuk persegi (p=11,5 cm, l=11,5 cm, t=12 cm).

Perbanyakan T. castaneum. Serangga T. castaneum didapatkan dari Laboratorium

Hama Tumbuhan. Sebelum dilakukan perbanyakan, serangga yang digunakan diidentifikasi terlebih dahulu untuk memastikan bahwa spesies yang digunakan dalam perbanyakan adalah T. castaneum. Setelah itu pilih pakan untuk perbanyakan serangga. Menurut Mostakim dan khan (2014) Pakan yang digunakan dalam perbanyakan serangga yaitu tepung gandum dan ragi dengan perbandingan 19:1. Penambahan ragi berfungsi untuk memperkaya nutrisi pakan (Sacakli et al., 2013). Setelah pakan sudah siap, pakan tersebut dimasukkan ke dalam tabung perbanyakan dan dicampur rata, kemudian diinfestasi dengan 100 imago T. castaneum tanpa membedakan jantan dan betina (Semeao et al., 2011). Bagian permukaan atas tabung

18 perbanyakan ditutup menggunakan kain kasa agar udara masih dapat masuk kedalam tabung tersebut. Setelah tujuh hari infestasi imago dikeluarkan dari tabung perbanyakan. Telur yang diletakkan oleh imago T. castaneum pada pakan ditunggu hingga berkembang menjadi pupa. Pada fase pupa diamati organ genitalia pupa untuk membedakan serangga dewasa jantan dan betina. Pupa jantan dan betina yang telah diidentifikasi dipindahkan ke tabung perbanyakan yang berbeda sampai menjadi imago baru. Imago yang baru muncul digunakan dalam penelitian.

3.3.2 Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini terdiri atas sepuluh perlakuan jenis produk tepung, yaitu tepung tapioka, maizena, gandum, sagu, beras, kacang hijau, beras ketan, kedelai, sukun, dan dedak (Tabel 11).

Tabel 11. Perlakuan 10 Jenis Pakan T. castaneum

Kode perlakuan Jenis Pakan

A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 Tepung Dedak Tapung Kedelai Tepung Gandum Tepung Kacang Hijau Tepung Maizena Tepung Sagu Tepung Ketan Putih Tepung Sukun Tepung Beras Tepung Tapioka

Masing-masing produk tepung tersebut kemudian diinfestasikan imago jantan dan betina hama T. castaneum untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perkembangan hama T. castaneum pada berbagai jenis produk tepung tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan sepuluh perlakuan dan empat ulangan. Sebanyak 30 g pakan dari setiap perlakuan dimasukkan kedalam tabung kaca dengan ukuran d=6,5 cm, t=9,5 cm kemudian diinfestasikan 15 pasang imago T. castaneum dari hasil perbanyakan yang telah dilakukan untuk penelitian pertumbuhan (Heinrichs et al., 1985). Setelah serangga selesai diinfestasikan tutup tabung tersebut menggunakan kain kasa, hal ini agar

19 udara masih dapat masuk kedalam tabung kaca tersebut. Setelah tujuh hari serangga diinfestasikan, imago T. castaneum dikeluarkan dan dipisahkan dari pakan. Variabel yang diamati dalam penelitian pertumbuhan adalah jumlah telur, jumlah larva, jumlah pupa, jumlah imago baru, berat imago baru, mortalitas imago infestasi dan laju pertumbuhan hama

Pertumbuhan Hama T. castaneum. Setelah perbanyakan hama T. castaneum

dilakukan, kemudian keturunan pertama (F1) diinfestasikan kedalam masing-masing perlakuan di dalam jar dengan jumlah imago 15 pasang. Setelah 7 hari diinfestasikan kemudian 15 pasang imago dikeluarkan dan dilakukan pengamatan mulai dari fase telur hingga menjadi imago baru. Pengamatan jumlah telur, larva, dan jumlah pupa dilakukan pada 7, 25, dan 28 hari setelah infestasi dilakukan, sedangkan jumlah imago dihitung sejak kemunculan imago pertama sampai tidak muncul imago baru lagi.

Perkembangan Hama T. castaneum. Keturunan pertama dari imago yang

ada pada penelitian pertumbuhan digunakan untuk penelitian perkembangan hama

T. castaneum. Sepasang imago diinfestasikan kedalam fial film yang telah diberi

pakan sesuai perlakuan. Kemudian diamati hingga imago betina pertama kali bertelur. Jika imago betina sudah bertelur, kedua imago tersebut dikeluarkan. Setelah itu dilakukan pengamatan mengenai perkembangan hama T. castaneum pada masing- masing perlakuan. Pengamatan perkembangan dengan mengamati setiap fase pada hama T. castaneum.

Pada penelitian perkembangan variabel yang diamati adalah lama perkembangan dan siklus hidup dari fase telur, fase larva, fase pupa, dan praoviposisi dari hama T. castaneum. Pengamatan fase telur dilakukan dengan cara mengambil 10 butir telur T. castaneum dari imago yang berumur dua minggu dan telah diinfestasi selama satu hari pada masing-masing perlakuan. Telur diambil dengan menggunakan saringan nylon berukuran 50 mesh (0,297 mm). Fase telur diamati setiap hari hingga telur menetas menjadi larva. Larva kemudian dipindahkan kedalam fial film (d=3 cm, t=3 cm), setiap fial film diinfestasikan satu larva. Pengamatan fase larva diamati setiap hari sejak larva terbentuk hingga menjadi pupa. Pengamatan fase pupa

20 dilakukan setiap hari sejak pupa terbentuk hingga menjadi imago baru. Pengamatan praoviposisi dilakukan ketika imago baru yang terbentuk pada hari yang sama dipasangkan hingga meletakkan telur pertama kali. Pengamatan siklus hidup dilakukan dari telur hingga imago meletakkan telur pertama kali. Fial film yang digunakan untuk penelitian diberi label untuk mencatat waktu perkembangan masing-masing stadium.

3.4 Analisis Data

Seluruh data dari penelitian ini menggunakan metode no choice test dan kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) pada taraf kesalahan 5%. Apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh yang nyata maka pengujian dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf kesalahan 5% menggunakan perangkat lunak Microsoft Office® Excel 2007 dengan program tambahan DSAASTAT® versi 1.101. Uji normalitas data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak IBM® SPSS Statistics versi 20.

21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait