POLITEKNIK MANUFAKTUR BANDUNG
Praktik-praktik yang baik dan yang telah banyak memberikan pengaruh positif terhadap Politeknik Manufaktur Negeri Bandung (POLMAN) adalah penerapan inovasi metoda pembelajaran berbasis produksi (Production Based Learning) dan 3- 2-1 kooperatif (3-2-1 co-operative). Kedua metoda pembelajaran tersebut merupakan good practices POLMAN yang memiliki parameter yang mirip dengan pendekatan pendidikan dual system dan competency based yang masing-masing telah diterapkan di negara-negara maju berbahasa Jerman dan Inggris.
Perbedaan pendekatan POLMAN dengan pendekatan pendidikan vokasi di negara- negara maju adalah kesesuaiannya terhadap kondisi infrastruktur pendidikan vokasi di Indonesia dimana para stakeholders yaitu industri, lembaga pendidikan, pemerintah dan masyarakat masih belum mencapai tingkat sinergi yang diperlukan dalam pembangunan sumberdaya manusia profesional. POLMAN mempertemukan masing-masing kepentingan para stakeholders pendidikan dalam pelaksanaan metoda pembelajaran melalui pelibatan langsung maupun tidak langsung, sehingga sinerginya terbangun di dalam kampus.
Pendekatan POLMAN memang mengandung konsekuensi internal yang tidak kecil, terutama pada phase awal dalam pembentukan kebersamaan atau corporate culture
dengan tujuan untuk membangun kepercayaan stakeholders. Selama kurun waktu 25 tahun pertama fondasi untuk itu telah disiapkan. Kualitas data vital selama lima tahun terakhir menunjukkan bahwa turnover SDM dibawah 2%, daya tampung mahasiswa meningkat 32,7%, rerata waktu tunggu lulusan kurang dari 3 bulan, ratusan kontrak kerja dengan industri bisa memberikan rerata kontribusi tahunan sekitar 55% dari total pendapatan, Akreditasi A untuk semua Program Studi kecuali program D4 yang memang masih baru, dan memenuhi standar sistem manajemen mutu international ISO 9001:2000. Keberhasilan ini membuktikan kemampuan POLMAN dalam membangun sinergi diantara para stakeholders dengan landasan yang tepat dalam menjaga kepentingan semua pihak yang terlibat. Beberapa kekurangan yang ditemukan internal auditors memang tidak mempengaruhi mutu jangka pendek, tetapi merupakan potensi masalah pada masa mendatang yaitu mengenai sistem manajemen SDM dan strukturnya dalam rangka mempersiapkan agenda pengembangan POLMAN diera global. Tentunya, kekurangan tersebut merupakan target pada pengembangan POLMAN 25 tahun kedua.
70 71
1. Pembelajaran Berbasis Produksi (Production Based
Learning)
Facets
Materi pembelajaran selalu dinamis, karena memanfaatkan obyek-obyek riil pesanan industri yang didasarkan pada kepentingan aktualnya.
Proses pendidikan tinggi vokasi dalam bidang manufaktur dikenal sangat material and energy intensive. Sambil menjaga tingkat relevansi pendidikannya tetap tinggi, maka semua jenis latihan pengembangan keterampilan harus menghasilkan produk-produk yang layak jual atau bahkan merupakan produk- produk pesanan dari industri manufaktur. Produk standar yang dikembangkan POLMAN dimanfaatkan untuk pengembangan keterampilan tingkat dasar, sedangkan produk pesanan dimanfaatkan untuk pengembangan keterampilan tingkat lanjut. Prinsip-prinsip Tepat Waktu, Unggul Mutu dan Sadar Biaya
diterapkan secara ketat dalam proses pembelajaran, mengingat keterkaitannya dengan pihak eksternal. Dengan demikian para mahasiswa mengembangkan keterampilannya dengan memanfaatkan produk-produk nyata dan bernilai ekonomis serta belajar berperilaku secara benar dalam berkarya. Didalam sistem pembelajaran ini seorang dosen bisa berfungsi ganda, disamping memberikan kuliah ataupun instruksi dalam praktikum, seorang dosen juga melakukan penyeliaan terhadap proses pengerjaan produk oleh mahasiswa didalam kerangka praktikum. Dengan demikian sumberdaya yang dimiliki termanfaatkan secara efisien untuk menghasilkan lulusan yang berketerampilan tinggi pada bidangnya dan produk-produk yang bernilai ekonomis layak jual sebagai hasil dari latihan-latihan dalam rangka praktikum pengembangan keterampilan mahasiswa. Materi pembelajaran selalu ter-update, karena baik dosen maupun mahasiswa menggunakan obyek-obyek nyata dalam proses pembelajarannya, yang mana sebagian besar merupakan pesanan dari industri.
Dosen dan mahasiswa, disamping mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang aktual, juga harus berperilaku yang sesuai dalam berkarya, karena selalu berhubungan dengan industri.
Karya-karya yang dihasilkan mahasiswa bersama dosennya dalam rangka praktikum pengembangan keterampilan mengacu pada standar industri baik nasional maupun internasional.
Sumberdaya termanfaatkan secara lebih efektif karena menghasilkan lulusan yang berketerampilan aktual pada bidangnya. Hemat material dan energi karena menghasilkan barang-barang bernilai ekonomis.
·
·
·
·
2. Kooperatif 321 (321 Cooperative)
FacetsMateri pembelajaran terstruktur dengan menggunakan modul-modul.
3. Jaminan Mutu (Quality Assurance)
Pada 3 (tiga) semester pertama mahasiswa diberikan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam bidangnya. Kemudian pada 2 (dua) semester berikutnya, mereka ditempatkan sepenuhnya di industri (internship). Tujuannya adalah agar pembentukan sikap dan keterampilan profesi dapat terbentuk langsung dari lingkungan yang sesungguhnya. Pada 1 (satu) semester terakhir mereka kembali ke kampus untuk mentuntaskan perkuliahannya. Pendidikan dasar dilakukan secara terstruktur mengunakan modul-modul. Pendekatan ini berbeda dengan dual system dan competency based, tetapi memiliki semua parameter pengendali yang ada di kedua pendekatan diatas. Oleh karenanya, lulusannya tidak diragukan memiliki kecakapan intelektual, sikap dan keterampilan yang diperlukan oleh industri. Program kerja industri selama 2 semester setelah pembekalan keahlian 3 semester disamping dapat mencapai target akademis, juga mampu memberikan sumbangan profesional bagi industri. Hal ini ditunjukkan oleh penghargaan industri terhadap peserta praktik kerja dalam bentuk insentif bulanan yang rata-rata melebihi kebutuhan bulanannya selama masa praktik kerja.
Aktualisasi pengetahuan dan keterampilan mahasiswa terjadi di lingkungan industri, dimana mereka melakukan kerja praktik lapangan selama 2 semester.
Dengan menggunakan metode kooperatif 3-2-1, untuk meningkatkan kapasitas daya tampung mahasiswa bisa menghemat investasi peralatan dan fasilitas mendekati 30%.
Kedua metode pembelajaran tersebut diatas, tentunya memerlukan jaminan keberlanjutan, dimana operasionalisasinya cukup dinamis dan kompleks, serta
material and energy intensive. Oleh karenanya sistem mutu merupakan agenda sangat penting untuk membuktikan bahwa terobosan-terobosan dalam metode pembelajaran tersebut managable dan traceable. Pada tanggal 21 April 2003, manajemen sistem pendidikan Politeknik Manufaktur Negeri Bandung telah mendapatkan pengakuan internasional melalui sertifikasi sistem mutu ISO 9001:2000 oleh lembaga sertifikasi Kema-Internasional. Dengan mendapatkan sertifikat ini berarti sistem manajemen mutu pendidikan POLMAN terbukti memiliki cara untuk merencanakan, menjalankan, mengevaluasi dan melakukan perbaikan berkelanjutan untuk menjamin kepuasan pelanggannya.
·
·
72 73