• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A.GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Metode Pembelajaran Tahfidzul Qur’an

Menurut Ahsin W Al-Hafidz (2000,63-66), ada beberapa metode yang dapat digukanan dalam menghafal al-Qur‟an. Adapun beberapa metode menghafal al-Qur‟an menurut Ahsin antara lain yaitu ; metode wahdah, metode kitabah, metode sima‟i, metode gabungan, metode jama‟. Az-Zawawi menambahkan ada metode lain untuk menghafal al-Qur‟an, yaitu metode tasmi‟.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada ustadz dan santri yang telah peneliti lakukan, yang sudah peneliti paparkan di bab III. Pondok pesantren Al-Manshur Popongan dalam pembelajarannya telah

menggunakan beberapa metode untuk menghafal al-Qur‟an. Metode yang

digunakan di pondok pesantren Al-Manshur dalam pembelajaran menghafal al-Qur‟an antara lain yaitu, menggunakan metode wahdah, metode sima‟i, metode jama‟ dan metode tasmi‟. Selain metode tersebut, ada juga metode setoran gabungan yang telah diterapkan di pondok pesantren Al-Manshur Popongan tersebut.

Adapun dari beberapa metode menghafal al-Qur‟an yang

digunakan di pondok pesantren Al-Manshur Popongan. Yang pertama adalah metode yang paling sering digunakan oleh santri tahfidz 30 juz adalah metode wahdah dan metode setoran gabungan. Metode wahdah sering digunakan oleh santri karena metode tersebut mudah dan memang

68

para santri sudah terbiasa menggunakan metode menghafal ayat per ayat (wahdah). Metode wahdah ini adalah metode dimana para santri cara membuat hafalan baru dengan menghafalkannya ayat per ayat, seperti dengan teori dari Ahsin. Namun metode wahdah ini juga mempunyai kekurangan yaitu dalam menghafal membutuhkan waktu yang lama, dan butuh kesabaran dan energi yang banyak, karena seringnya mengulang-ulang bacaan. Selain kekurangan metode ini juga mempunyai kelebihan. Adapun kelebihannya dari metode ini adalah hafalan yang dibuat memang benar-benar bisa melekat dalam pikiran. Karena seringnya dibaca berulang-ulang.

Metode yang ke-2 yang sering digunakan oleh para santri yaitu metode setoran gabungan. Metode setoran gabungan ini adalah metode dimana santri menyetorkan hafalan yang telah lalu dan digabung dengan hafalan yang baru yang memang akan disetorkan kepada kiyai. Metode ini sering digunakan santri pondok pesantren Al-Manshur karena metode ini wajib digunakan untuk semua santri yang menghafalkan al-Qur‟an 30 juz. Karena metode setoran gabungan ini menurut peneliti memang sangat bagus untuk santri yang menghafalkan al-Qur‟an, karena metode ini selain mempermudah santri untuk dapat menggabungkan antara hafalan yang lalu dan hafalan yang baru. Selain itu metode ini dapat membantu santri untuk melekatkan hafalan santri. Namun metode ini juga mempunyai kekurangan yaitu, santri harus dapat meluangkan waktu yang tidak sedikit untuk benar-benar membuat hafalan yang akan disetorkan tersebut.

69

Metode ke-3 yang digunakan oleh santri Al-Manshur Popongan dalam menghafal al-Qur‟an adalah metode sima‟i, metode ini adalah metode dimana ketika santri hendak menghafalkan al-Qur‟an ia mendengarkan murrotal atau mendengarkan bacaan dari teman atau ustadznya terlebih dahulu hingga berulang-ulang kemudian barulah santri tersebut menghafalkan ayat-ayat dalam al-Qur‟an tersebut dengan nada seperti pada murrotal tersebut. Metode ini hanya digunakan oleh beberapa santri saja. Adapun kekurangan dalam metode ini adalah selain membutuhkan waktu banyak, tidak semua santri bisa selalu mendengarkan murotal karena padatnya jadwal kegiatan di pondok pesantren dan juga tidak semua santri boleh membawa alat elektronik. Kelebihan dari metode ini adalah santri tersebut dalam membaca al-Qur‟annya dengan dilagukan seperti murrotal yang didengarkannya. Dan juga dalam membacanya dapat pelan-pelan tidak membaca dengan terlalu cepat sehingga tajwidnya memang benar-benar diperhatikan.

Metode ke-4 yang digunakan di pondok pesantren Al-Manshur adalah metode jama‟, metode ini sering digunakan oleh santri yang menghafalkan juz 30. Selain itu metode ini digunakan untuk memudahkan santri baru dalam menghafal ayat-ayat dalam juz „Amma seperti yang sudah dipaparkan di bab III, yakni wawancara dengan UM. Kelebihan dari metode ini yaitu santri dalam menghafal tidak mudah bosan karena dalam menghafal al-Qur‟an mereka menghafalkan bersama-sama yang di pandu oleh ustadz.

70

Metode yang terakhir adalah metode tasmi‟, metode ini digunakan oleh santri Al-Manshur yang menghafalkan 30 juz bil-Ghaib. Adapun cara yang digunakan untuk menghafal dengan menggunakan metode ini adalah ketika santri sudah mampu menghafal 1 halaman lalu ia setelah itu santri tersebut meminta temannya untuk menyimakkannya terlebih dahulu kepada temannya sebelum disetorkan kepada ibu nyai. Selain itu metode ini juga digunakan ketika ia hendak nge-juz (membaca al-Qur‟an 1 juz dalam sekali duduk sebelum naik ketingkat juz selanjutnya). Adapun kelebihan dari menggunakan metode ini adalah hafalannya akan lebih cepat melekat dalam pikiran karena seringnya diulang-ulang dalam membacanya. Kekurangan dari metode ini adalah membutuhkan banyak energy dan butuh kesabaran yang ekstra.

Dari paparan diatas maka dapat peneliti simpulkan bahwa di pondok pesantren Al-Manshur Popongan sudah menggunakan metode menghafal al-Qur‟an dengan baik. Dan dari paparan diatas pula peneliti menyimpulkan bahwa metode menghafal al-Qur‟an yang digunakan di pondok pesantren Al-Manshur Popongan memang sebagian telah sesuai dengan teori yang dicetuskan oleh Ahsin W Al-Hafidz dan Az-Zawawi, adapun metode tambahan yang digunakan dalam menghafal al-Qur‟an di pondok pesantren Al-Manshur Putri tersebut adalah metode setoran gabungan. Metode setoran gabungan tersebut dibuat guna mempermudah santri dalam menghafal dan juga membantu santri untuk pelekatan hafalan. B. Hambatan-Hambatan Santri Dalam Menghafal Al-Qur’an

71

Menurut Abdul Aziz Abdur Rauf (2009:96), dijelaskan ada beberapa hambatan dalam menghafal al-Qur‟an daiantara lain sebagai berikut: (1) Cinta dunia dan terlalu sibuk dengannya, (2) Hati yang kotor dan terlalu banyak maksiat, (3) Tidak sabar, malas dan berputus asa, (4) Semangat dan keinginan yang lemah, (5) Niat yang tidak ikhlas, (6) Tidak mampu membaca dengan baik, (7) Tidak mampu mengatur waktu, (8) Pengulangan yang sedikit, (9) Tidak ada Muwajjih (Pembimbing).

Sedangkan menurut Amanu Abdul Aziz (2016,139-154)

dijelaskan ada beberapa problematika dalam menghafal al-Qur‟an yaitu antara lain: (1) Cepat hafal cepat pula lupa, (2) Pesimis karena merasa sudah tua dan tidak mungkin hafal al-Qur‟an, (3) Menghafal al-Qur‟an dari awal atau akhir, (4) Menghafal sampai khatam, baru muraja‟ah, (5)

Muraja‟ah lebih susah dari pada menghafal,(6)Tidak bisa membaca al

-Qur‟an pelan-pelan.

Berdasarkan hasil wawancara kepada santri pondok pesantren Al-Manshur Popongan. Peneliti menemukan beberapa masalah yang dihadapi oleh para santri yang menghafal al-Qur‟an 30 juz di pondok pesantren Al -Manshur Popongan sehingga menghambat dalam menambah hafalan para santri. Beberapa masalah tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 1. Kurangnya niat dalam menghafal al-Qur‟an, 2. Kurangnya motivasi, 3. Sulit mengatur waktu luang, 4. Sulit untuk mencari tempat yang sunyi, 5. Mengejar target namun hafalan lalu lupa lagi. 6. Ayat yang mirip (tasyabuhul), 7. Gangguan asmara.

72

Adapun solusi untuk masalah diatas menurut peneliti adalah sebagai berikut:

a. Kurangnya niat dalam menghafal

Ketika seseorang hendak menghafal al-Qur‟an hendaknya

memantapkan terlebih dahulu niatnya. Karena jika seorang penghafal

al-Qur‟an niatnya belum kokoh kemudian ketika dia dihadapkan

dengan sedikit godaan dunia maka niatnya akan goyah, dan target hafalanpun akan terbelenggu dan membuat malas untuk menghafal

al-Qur‟an. Maka dianjurkan kepada para penghafal al-Qur‟an ketika ia

dalam menghafal al-Qur‟an niatnya belum sempurna atau belum kokoh, maka hendaknya di perbaiki dulu niatnya. Dan untuk keluarga dan ustadz hendaknya memberi motivasi kepada si penghafal agar si penghafal juga semangat dan optimis dalam menghafal al-Qur‟an sampai selesai 30 juz.

b. Kurangnya motivasi

Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu sepertihalnya menghafal al-Qur‟an. Jika seseorang tidak mempunyai motivasi maka seseorang tersebut dalam melakukan pekerjaan tersebut akan malas-malasan dan mudah tergoda dengan hal lainnya. Untuk seorang penghafal sendiri motivasi adalah hal yang paling berpengaruh dalam menghafal. Ketika seseorang penghafal tidak diberi motivasi dari guru, atau bahkan keluarganya tak

73

pernah memberi motivasi dalam menghafal maka sang penghafal

al-Qur‟an tersebut tentunya dalam menghafal akan malas-malasan.

Hendaknya para orang tua dan juga guru dapat memberi motivasi untuk sang anak yang tengah menghafal al-Qur‟an tersebut. Selain dapat dukungan atau motivasi dari guru dan orang tua hendaknya anak tersebut juga mengingat-ingat sabda Rasulullah SAW yang berupa pahala yang sangat besar yang dijanjikan Allah untuk para penghafal

al-Qur‟an.

c. Sulit mengatur waktu luang

Salah satu hal yang paling sulit dalam menghafal alQur‟an adalah, ketika seseorang penghafal al-Qur‟an tersebut tidak mampu membagi waktunya untuk menghafal dengan urusan yang lainnya. Bagi mereka yang tidak mampu mengatur waktu ia akan merasakan seakan-akan dirinya tidak mempunyai waktu lagi, karena ia sudah disibukkan dengan hal-hal lain diluar kegiatan menghafal. Adapun solusi untuk masalah sulitnya membagi waktu yaitu dengan menyediakan waktu untuk al-Qur‟an minimal 1 jam. Dan jika anda memiliki pikiran untuk menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan yang lain, maka yakinlah masih ada sisa 23 jam untuk kegiatan lain tersebut. Sehingga anda tidak gampang untuk menggunakan waktu wajib untuk al-Qur‟an tersebut.

74

Dalam menghafal al-Qur‟an tempat adalah salah satu hal yang paling penting. Karena menghafal al-Qur‟an bila tempat dan suasana tidak mendukung maka hafalanpun tak dapat masuk kedalam pikiran karena kurangnya konsentrasi. Untuk menangani hal tersebut solusi untuk masalah ini adalah waktu yang baik untuk digunakan menghafal

al-Qur‟an. Adapun waktu-waktu yang baik adalah waktu akan tidur

malam dan ketika sehabis shalat tahajud. Karena pada waktu-waktu tersebut memang digunakan untuk orang-orang sedang terlelap untuk istirahat. Maka dari itu pasti pada waktu malam hendak tidur dan setelah shalat tahajud adalah waktu yang sunyi dan pikiran pun sedang dalam keadaan baik.

e. Mengejar target namun hafalan yang lalu lupa lagi

Masalah yang sering terjadi pada penghafal salah satunya adalah mengejar target namun ia melupakan hafalan yang telah lalu. Masalah atau hambatan tersebut muncul karena terkadang sang penghafal tersebut dituntut untuk khatam lebih awal, atau memang karena sudah ditunggu keluarga untuk meneruskan menjadi guru mengaji dirumah. Memang untuk seorang penghafal mempunyai target adalah hal yang bagus untuk memberi motivasi diri, namun yang menjadi beban nantinya adalah ketika ia mengejar target namun hafalan yang lalu jarang dimuroja‟ahkan, sehingga hafalan yang lalu menjadi sulit untuk diingat.

75

Adapun solusi dari hambatan tersebut menurut Amanu Abdul Aziz (2016,144) diterangkan bahwa untuk menyikapi masalah tersebut adalah ketika ia mengejar target maka hendaknya ia juga mengimbanginya dengan memperbanyak muroja‟ah, sehingga hafalan yang ada memang benar-benar kuat.

f. Ayat yang mirip

Ayat-ayat yang serupa memang cukup banyak dalam al-Qur‟an. Sehingga terkadang penghafal merasa sulit ketika menghafal ayat-ayat yang serupa. Adapun perasaan sulit tersebut datang hanyalah disebabkan karena pengulangan yang memang masih sedikit terhadap ayat-ayat yang sedang dihafal dan kurang sempurna sehingga terasa menjengkelkan bagi para penghafal al-Qur‟an.

Adapun solusi dari hambatan tersebut menurut Rauf (2009, 124) ayat-ayat yang memiliki kemiripan tersebut hanya dapat diingat kalau anda memberi perhatian yang lebih terhadap ayat-ayat yang serupa, yaitu dengan membaca sebanyak-banyaknya atau menulisnya diatas kertas dan diletakkan di tempat yang selalu terlihat. Dengan demikian insya Allah ketika menjumpai ayat-ayat yang mirip akan lebih mudah untuk dihafal karena selalu dapat perhatian penuh.

g. Gangguan asmara

Gangguan asamara ini muncul karena memang mayoritas penghafal al-Qur‟an berada pada jenjang usia pubertas dan masa remaja akhir, hal tersebut menyebabkan mulai tertariknya seseorang

76

pada lawan jenis. Hal ini memang dianggap wajar karena memang terjadi secara alamiah. Ketika persoalan ini muncul dapat diantisipasi dengan tidak membiarkan bergaul secara bebas dengan lawan jenis, atau dapat juga dipalingkan pada kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.

Dilihat dari beberapa masalah tersebut, maka dapat penulis simpulkan bahwa hambatan-hambatan yang dilalui oleh santri di pondok pesantren Al-Manshur memang sebagian sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Abdul Aziz Abdur Rauf dan Amanu Abdul Aziz, adapun tambahan dari hambatan yang muncul ketika santri menghafal al-Qur‟an yaitu sulitnya mencari tempat yang sunyi lagi sejuk untuk daat fokus dalam menghafal

al-Qur‟an. Adapun menghafal al-Qur‟an memang benar-benar suatu

ibadah yang sangat mulia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa menghafal

al-Qur‟an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu penuh

dengan hambatan-hambatan yang memang dapat menggoyahkan niat sang penghafal al-Qur‟an bila ia tidak benar-benar teguh.

77 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti uraikan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Metode Pembelajaran TahfidzulQur’an Berbasis Santri

Metode pembelajaran tahfidzul Qur‟an yang digunakan oleh santri di pondok pesantren Al-Manshur Popongan antara lain adalah metode

wahdah, sima‟i, jama‟, tasmi‟,dan metode setoran gabungan. Adapun

untuk metode setoran gabungan adalah metode yang dibuat oleh ustadz untuk membantu santri untuk memudahkan dalam pelekatan hafalan. 2. Hambatan-Hambatan Tahfidzul Qur’an

Dalam menghafal al-Qura‟an memang tidak semudah

membalikkan tellapak tangan. Pastilah suatu kebaikan pasti mempunyai hambatan dalam menjalaninya. Seperti halnya dalam menghafal al-Qur‟an, juga mempunyai hambatan-hambatan dalan prosesnya. Adapun hambatan-hambatan dalam menghafal al-Qur‟an yang sering dialami oleh santri di pondok pesantren Al-Manshur Popongan adalah sebagai berikut: Kurangnya niat dalam menghafal

78

mencari tempat sunyi dan sejuk, mengejar target namun hafalan lalu lupa lagi, ayat yang mirip-mirip, asmara.

B. Saran

Berdasarkan dari kesimpulan diatas, maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:

1. Untuk Pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur Putri

a. Dalam meningkatkan prestasi santri hendaknya pengasuh dapat memberikan motivasi penuh kepada santri, agar ketika menghafal

al-Qur‟an santri lebih semangat lagi dalam menghafal.

b. Dalam meningkatkan semangat santri dan prestasi santri dalam menghafal al-Qur‟an hendaknya pengasuh memberikan lomba-lomba seperti MHQ dan juga tilawah.

c. Dalam meningkatkan pelekatan hafalan santri juz‟ Amma dan

surah-surah pendek. Hendaknnya pengasuh memberikan tes-tesan

untuk tingkat awal yaitu juz „Amma dan hafalan surah-surah

pilihan. Agar ketika santri sudah naik ke tingkat bin-Nadzhar hafalan juz „Ammanya tidak lupa lagi.

2. Untuk Santri Pondok Pesantren Al-Manshur Putri

a. Saran untuk santri Al-Manshur yaitu cobalah disiplin pada waktu yang telah dibuat dan gunakan waktu dengan sebaik-baiknya baik. b. Cobalah disiplin pada target hafalan yang telah dibuat, dan jangan