• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Metode Pembelajaran

Penggunaan metode pembelajaran yang tepat merupakan salah satu hal yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Pemilihan metode pembelajaran hendaknya memperhatikan beberapa hal, antara lain kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi pelajaran, karakter siswa, kesiapan guru, dan ketersediaan sarana dan prasarana.

Menurut Slameto (1995: 82) metode berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan Alvin W Howard dalam Slameto (1995: 30) mengemukakan bahwa, “Mengajar adalah suatu aktivitas

untuk mencoba menolong dan mengembangkan skill , attitude, ideals (cita-cita), appreciations (penghargaan) dan knowledge”. Tardif dalam Muhibbin Syah (1995: 183) juga mendefinisikan mengajar secara sederhana dengan menyatakan bahwa mengajar itu pada prinsipnya adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini siswa) dalam melakukan kegiatan belajar. Jadi metode pembelajaran adalah cara untuk memberikan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.

Hampir sama dengan beberapa pendapat tersebut, Purwoto (2003: 65) mengemukakan beberapa arti metode pembelajaran, antara lain:

1) Metode mengajar adalah suatu cara mengajarkan topik tertentu agar proses dari pengajaran tersebut berhasil dengan baik.

2) Metode mengajar adalah cara-cara yang tepat dan serasi dengan sebaik-baiknya, agar guru berhasil dalam mengajarnya, agar mengajar mencapai tujuannya atau mengenai sasarannya.

3) Metode mengajar adalah cara mengajar yang umum yang dapat diterapkan atau dipakai untuk semua bidang studi.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara atau teknik yang dipakai guru untuk menyajikan bahan pembelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

a. Metode Konvensional

Definisi mengajar yang lama menurut Slameto (1995: 29), “Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman dan percakapan kepada anak didik”. Dari sini terlihat bahwa mengajar hanyalah mentransfer pengetahuan dari guru ke murid, sehingga pusat perhatian ada pada guru. Proses pembelajaran dengan definisi mengajar seperti inilah yang dianut dalam pembelajaran konvensional. Hal ini sejalan dengan pendapat Purwoto (2003: 104), “Dalam model mengajar tradisional, seorang guru matematika dianggap sebagai sumber ilmu, guru bertindak otoriter dan mendominasi kelas”. Yang termasuk metode konvensional diantaranya metode caramah dan metode ekspositori. Menurut Subrata (2007), ”Metode ceramah merupakan metode yang secara konsisten

digunakan oleh guru dengan urutan menjelaskan, memberi contoh, latihan, dan kerja rumah”.

Dalam pembelajaran matematika yang paling tepat disebut metode konvensional adalah metode ekspositori. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwoto (2003: 69) yang mengemukakan “...cara mengajar matematika yang pada umumnya digunakan guru matematika adalah lebih tepat dikatakan sebagai metode ekspositori daripada metode ceramah”.

Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan interaksi kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori, dominasi guru banyak berkurang karena tidak terus bicara saja. Ia berbicara pada awal pelajaran, mengemukakan materi, dan contoh soal pada waktu-waktu yang diperlukan saja.

Dalam metode konvensional, guru memegang peranan utama dalam menentukan isi dan urutan langkah dalam menyampaikan materi tersebut kepada siswa. Pada pembelajaran dengan metode ini kegiatan belajar mengajar didominasi oleh guru. Sehingga keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar dan mengajar sangat berkurang, kurang inisiatif dan bergantung pada guru.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan metode konvensional adalah metode yang selama ini digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran yaitu metode ekspositori.

Dengan memperhatikan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa pada

pembelajaran konvensional kegiatan didominasi oleh guru sehingga

mengakibatkan siswa bersikap pasif, antara siswa yang pandai dan kurang pandai mendapat perlakuan yang sama, karena siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini berakibat siswa mudah jenuh, kurang inisiatif, sangat bergantung pada guru dan tidak terlatih untuk mandiri belajar.

Pada penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran dengan metode konvensional adalah:

1) Guru membuka pelajaran dan menyiapkan siswa untuk segera memulai pelajaran.

2) Guru menjelaskan materi yang dipelajari. 3) Guru menutup pelajaran.

b. Metode Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cara belajar kooperatif jarang sekali menggantikan pengajaran yang diberikan oleh guru, tetapi lebih seringnya menggantikan pengaturan tempat duduk yang individual, cara belajar individual, dan dorongan yang individual. Apabila diatur dengan baik, siswa-siswa dalam kelompok kooperatif akan belajar satu sama lain untuk memastikan bahwa tiap orang dalam kelompok telah menguasai konsep-konsep yang telah dipikirkan.

Menurut Slavin (2008: 8), inti dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa dalam pembelajaran kooperatif para siswa akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan guru.

Menurut Slavin (2008: 11), pembelajaran kooperatif dikelompokkan menjadi:

1) STAD (Student Team Achievement Division)

2) TGT (Team Games Tournament)

3) Jigsaw

4) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) 5) TAI (Team Accelerated Instruction)

c. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pada metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, para siswa bekerja dalam kelompok yang heterogen. Para siswa tersebut diberikan tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, dan diberikan ”lembar ahli” yang terdiri dari topik-topik yang berbeda untuk masing-masing anggota kelompok. Setelah semua siswa selesai membaca, siswa dari tim yang berbeda yang mempunyai topik yang

sama bertemu dalam ”kelompok ahli” untuk mendiskusikan topik mereka. Para ahli tersebut kemudian kembali ke kelompok mereka semula yang disebut sebagai ”kelompok asal” dan secara bergantian mengajari teman satu kelompoknya mengenai topik yang menjadi bagiannya. Kemudian semua siswa diberi kuis yang mencakup seluruh topik yang telah dipelajari dan skor kuis akan menjadi skor kelompok.

Skor yang disumbangkan siswa kepada kelompoknya didasarkan pada skor perkembangan individual, dan kelompok yang meraih skor tertinggi akan menerima penghargaan. Sehingga setiap siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik supaya dapat membantu kelompoknya. Kunci keberhasilan jigsaw adalah ketergantungan. Setiap siswa bergantung pada teman satu kelompoknya untuk bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan pada saat penilaian.

Hindarto dan Anwar (2007) menyatakan bahwa, ”Peranan siswa di dalam kelompok, baik asal maupun ahli menunjukkan tingkat penguasaan materi yang ada dan juga kemahiran dalam mengkomunikasikan pengetahuan yang telah dimiliki kepada siswa lain. Siswa yang berperan aktif dalam diskusi tersebut memiliki kemauan untuk menguasai materi yang ada dan memiliki kemampuan mengkomunikasikan pengetahuan yang telah dimiliki kepada siswa lain”.

Menurut Slavin (2008: 238), pada penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw perlu adanya persiapan sebagai berikut:

1) Materi

Sebelum pelajaran dimulai, guru memilih satu atau dua bab, cerita, atau unit-unit lainnya kemudian buat sebuah lembar ahli untuk tiap unit dan membuat kuis, tes berupa esai, atau bentuk penilaian lainnya untuk tiap unit. Untuk membantu mengarahkan diskusi dalam kelompok ahli gunakan skema diskusi.

2) Membagi siswa ke dalam kelompok awal

Membagi siswa ke dalam kelompok heterogen yang terdiri dari empat sampai lima anggota.

3) Membagi siswa ke dalam kelompok ahli

Siswa dapat ditempatkan dalam kelompok ahli secara acak atau dengan memutuskan sendiri siswa mana yang akan masuk ke kelompok ahli yang mana.

4) Penentuan skor pertama

Skor awal mewakili skor rata-rata siswa pada kuis sebelumnya atau jika belum pernah diadakan kuis maka dapat menggunakan hasil nilai terakhir siswa dari tahun sebelumnya.

Kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam jigsaw menurut Slavin (2008: 241) terdiri dari:

1) Membaca

Para siswa menerima topik ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi.

2) Diskusi kelompok ahli

Para siswa dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok ahli.

3) Laporan tim

Para ahli kembali ke dalam kelompok mereka masing-masing untuk mengajari topik-topik mereka kepada teman satu kelompoknya.

4) Tes

Para siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik. 5) Rekognisi tim

Setelah diadakan kuis, sesegera mungkin menghitung skor kemajuan individual dan skor tim. Kemudian tim yang mendapat skor tertinggi diberi penghargaan.

Menurut Slavin (2008: 159), penskoran pada jigsaw meliputi skor awal, poin kemajuan, dan skor kelompok. Poin kemajuan merupakan perbandingan skor awal dengan skor kuis. Cara menentukan poin kemajuan adalah:

Tabel 2.1. Poin Kemajuan

Skor kuis Poin kemajuan

Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

10 – 1 di bawah skor awal 10

Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20

Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30

Kertas jawaban sempurna 40

Skor kelompok adalah jumlah poin semua anggota kelompok dibagi jumlah aggota kelompok. Berdasarkan rata-rata skor kelompok, terdapat tiga tingkatan penghargaan yang diberikan, sebagai berikut:

1) Tim baik apabila rata-rata timnya antara 15 sampai 20. 2) Tim sangat baik apabila rata-rata timnya 20 sampai 25.

3) Tim super apabila rata-rata timnya lebih besar atau sama dengan 25

Langkah – langkah pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw pada penelitian ini adalah:

1) Guru membuka pelajaran dan mengarahkan kepada siswa metode

pembelajaran yang akan digunakan.

2) Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggotanya terdiri dari 4 siswa secara heterogen dan disebut sebagai kelmpok asal.

3) Setiap siswa pada masing-masing kelompok asal diberi satu modul yang membahas satu bagian materi.

4) Anggota kelompok yang mendapatkan bagian materi yang sama berkumpul menjadi satu kelompok dan disebut dengan kelompok ahli.

5) Siswa pada kelompok ahli mendiskusikan bagian materi yang menjadi tanggungjawabnya.

6) Siswa yang berada di kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok ahli.

7) Setelah diskusi dalam kelompok asal, semua siswa di evaluasi secara individual mengenai semua materi yang telah dipelajari.

8) Setelah dilakukan evaluasi, diadakan pemberian skor dan penghargaan kelompok.

Dokumen terkait