• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM WASHI

2.3 Metode Pembuatan Washi

Kertas washi dibuat dibanyak daerah di Jepang, hanya sedikit berbeda pada metode dasarnya. Bahan baku dasarnya adalah serat kulit pohon yang diambil dari kulit bagian dalam dari pohon kozo (paper mulberry) mitsumata, akar gampi, rami, dan kadang-kadang menggunakan jerami dan bambu.

Untuk pembuatan pada kulit gampi bisa langsung dikupas dari rantingnya, tetapi untuk kulit pohon kozo dan mitsumata harus dikukus lebih dahulu sebelum kulitnya dikupas. Kemudian kulitnya dikeringkan untuk disimpan.

Untuk mempersiapkan kulit yang akan dibuat menjadi kertas, kulit harus direndam dalam air dan kulit luar yang gelap dikerok. Kulit kemudian dimasak dalam larutan alkali yang kuat untuk melepaskan pati dan getah.

Serat-serat selanjutnya dicuci sampai bersih dan kotoranta dibersihkan. Serat putih yang dihasilkan dipukul-pukul untuk memisahkan serat. Kemudian serat dibentangkan merata pada layar tikar penapis agar terbentuk lembaran kertas yang kemudian dimasukkan kedalam tong pembuat kertas besar yang penuh dengan air. Ditambahkan lendir, ini berfungsi untuk menjaga serat tercampur dengan air. Untuk memperlambat drainase air dari cetakan, dan untuk memungkinkan lembaran baru dapat dibentuk dan ditumpuk tanpa menggunakan jarak. Kemudian dijemur di bawah matahari secara langsung selama 2 hari.

Pada zaman Heian Jepang mulai memproduksi washi dengan teknik nagashizuki, teknik hampir sama dengan teknik awal pembuatan washi yang membedakannya hanyalah , pada teknik nagashizuki isi dari tong diaduk hingga serat merata, dengan gerakan keatas dan kebawah dan kesamping agar bubur kayu menempel pada penapis dan larutan bubur kayu yang berlebih kembali kedalam air. Lapisan kayu yang menempel diatas tikar penapis inilah yang kemudian dikeringkan menjadi kertas.

BAB III

PERKEMBANGAN PENGGUNAAN WASHI BAGI MASYARAKAT JEPANG

3.1 Penggunaan Washi Bagi Masyarakat Jepang

Pada awal pembuatannya (zaman Nara) washi hanya dipakai di kalangan pemerintah yang digunakan untuk menyalin dokumen serta menulis buku sejarah dan catatan adat istiadat. Pada zaman ini washi juga digunakan sebagai bahan pembuatan patung Buddha.

Pada zaman Heian washi mulai digunakan di istana kekaisaran untuk menggantikan pemakaian papan kayu bertulis (mokkan). Pria bangsawan Heian menggunakan washi jenis kokushi untuk menulis aksara kanji, sedangkan wanita bangsawan Heian menggunakan washi jenis danshi untuk menulis aksara hiragana.

Pada umumnya bangsawan zaman Heian menyisipkan washi jenis kaishi di lengan kimono. Pada zaman ini pula Jepang mulai menggunakan washi sebagai kertas pemisah ruangan. Kertas daur ulang washi juga digunakan untuk membuat lotus sutra yang digunakan untuk menyembah roh nenek moyang.

Pada zaman kamakura para samurai banyak menggunakan washi untuk keperluan istana.Washi sebagai barang langka digunakan sebagai tanda rasa hormat atau ucapan terimakasih. Dikalangan samurai hadiah dalam bentuk washi biasanya dijadikan satu set dengan kipas lipat atau kain tenun yang diikat dengan mizuhiki.

Sekitar 3 abad yang lalu washi digunakan untuk membuat boneka (washi ningyo). Boneka ini menjadi tradisi di Jepang. Boneka washi ini banyak digunakan sebagai souvenir, penghias ruangan, maupun sebagai peluang bisnis.

Sampai sekarang washi masih digunakan sebagai bahan pembungkus kembang api maupun sebagai bahan plester dibidang medis. Kertas ini juga dipakai sebagai hiasan pada kotak kacamata, tissue toilet yang berkwalitas baik, payung, serta bahan kerajinan lainnya.

3.2 Washi Sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO

Washi dimasukan kedalam daftar warisan budaya tidak berwujud oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak dibidang pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) pada November 2014 karena dalam pembuatannya dibutuhkan pengetahuan tradisional dan keahlian khusus serta proses pengolahan yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Adalah provinsi Yamanishi yang berperan penting dalam melestarikan washi.

Dahulu ada sekitar 200 pengrajin yang berada di provinsi ini, namun sekarang hanya tersisa 20 pengrajin. Di provinsi ini mempunyai cara unik dalam pembuatan washi. Para pekerja melantunkan lagu khusus sebagai penanda jumlah washi yang telah dicetak. Setiap hari 1 pekerja mampu membuat 300 lembar washi.

Berdasarkan info dari badan yang menangani urusan kebudayaan, usulan pemerintah Jepang telah mendapat persetujuan resmi dari komite antar pemerintah UNESCO dalam rapat di Paris pada tanggal 27 November 2014. Pendaftaran washi sebagai warisan kebudayaan oleh UNESCO diharapkan dapat meningkatkan kepedulian publik terhadap kertas tradisional Jepang, dan khususnya bagi Jepang bisa menggugah dan mengajak generasi muda untuk turut melestarikan keterampilan membuat washi, serta mempromosikan kerajinan kertas Jepang ke luar negeri.

BAB IV 4.1 Kesimpulan

Setelah memaparkan mengenai perkembangan washi di Jepang, maka penulis dapat menyimpulkan :

1. Washi adalah kertas tradisional buatan tangan khas Jepang, yang pada awalnya diciptakan oleh biksu donchō untuk menyalin dokumen pemerintah, tetapi seiring berkembangnya zaman washi mulai banyak digunakan untuk berbagai karya seni maupun untuk membuat lampion, pintu geser ataupun uang kertas.

2. Menurut kegunaannya washi terdiri dari hashi (kertas untuk kaligrafi) dan uwagami (kertas pembungkus). Sedangkan menurut bahan bakunya washi menjadi beberapa jenis yaitu, kertas mashi, kertas yang terbuat dari serat rami. Kertas kokushi, kertas yang terbuat dari pohon murbei. Kertas Hishi, kertas yang terbuat dari serat tanaman perdu. Kertas danshi, kertas yang terbuat dari pohon suku nishiki. Dan kertas kaishi, kertas yang terbuat dari bahan

3. Kwalitas washi yang tinggi serta tekstur washi yang unik dan kuat menjadikan washi sebagai barang yang bernilai tinggi. Washi banyak digunakan membuat lentera,pelapis pintu dorong, bahan mebel, alas sashimi dan bahan uang kertas, sehingga yen terkenal kuat dan tidak mudah lusuh.

4. Menurut perkembangannya sejarah washi dapat dibagi menjadi 2 priode, yaitu zaman Nara hingga akhir zaman Heian. Dan washi mulai berkembang lagi saat zaman kamakura hingga sekarang.

Karena cara pembuatannya yang tradisional serta kwalitas yang baik, washi dipilih UNESCO sebagai warisan budaya pada November 2014.

UNESCO berharap keahlian khusus serta pengolahan washi bisa diteruskan dari generasi kegenerasi agar washi dapat dinikmati keindahannya dimasa mendatang.

4.2 Saran

Washi merupakan kebudayaan yang istimewa. Tidak semua orang memiliki pengetahuan untuk membuat washi. Kwalitas washi yang baik menjadikan washi sebagai kertas yang mewah karena tidak mudah lusuh dan memiliki harga jual yang tinggi. Menjaga dan mengembangkan pengetahuan tentang pembuatan washi sangatlah penting, khususnya pemerintah Jepang. Kekurangan pengrajin akan membuat washi menjadi barang langka kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Durston, Diane.2001. Japanese Paper Craft. Tokyo : Kodansha Internasional.

Ibnu, Lukman Wibowo. 2010. Penggunaan Kertas Washi Sebagai Alat Restorasi Naskah Kuno. Jakarta : FIB UI.

https://id.wikipedia.org/wiki/Washi

http://bobo.kidnesia.com/Bobo/Info-Bobo/Bobo-File/Washi-Kertas-Jepang-Buatan-Tangan-Berkualitas-Tinggi

http://www.tribunnews.com/internasional/2015/09/05/kertas-tradisional-jepang-ternyata-bisa-untuk-menghias-kaca-rumah

http://inginbisa.com/tips/bagaimana-proses-pembuatan-washi.htm

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://www.japanesepape rplace.com/

LAMPIRAN

Gambar 1. Tikar penapis bambu

Gambar 2. Proses penjemuran washi

Gambar 3.kipas lipat washi sebagai hadiah saat zaman kamakura

Gambar 4. Boneka yang terbuat dari washi

ABSTRAK

Perkembangan Penggunaan Washi Bagi Masyarakat Jepang

Jepang terkenal dengan kemajuan pendidikan dan teknologinya.

Perkembangan teknologi yang pesat membuat Jepang berubah menjadi negara modern. Akan tetapi Jepang tetap menjaga keaslian budayanya hingga sekarang, termasuk penggunaan kertas washi. Pembuatan washi yang masih tradisional dan dikerjakan sendiri oleh pengrajin kertas washi tanpa bantuan mesin, membuat washi memiliki tekstur yang berbeda dengan kertas buatan mesin.

Washi adalah kertas yang dibuat dengan metode tradisional di Jepang, yang terbuat dari bubur kertas yang berasal dari serat rami, kozo, ganpi. Metode pembuatan washi dikenalkan di Jepang untuk pertama kalinya pada tahun 610 oleh biksu Donchō yang datang dari kerajaan Goguryeo, Korea Selatan. Biksu Donchō membuat penggilingan kertas dari gilingan batu dengan tenaga penggerak kincir angin. Pada awal pembuatannya bahan baku utama washi adalah serat rami, kozo, dan ganpi tetapi sejak zaman Heian mitsumata mulai digunakan sebagai bahan baku pembuatan washi.

Pada awal pembuatannya, washi digunakan untuk dokumen pemerintahan dan sebagai bahan pembuatan patung Budha. Namun seiring berkembangnya zaman, washi mulai digunakan untuk bermacam-macam kebutuhan seperti bahan pembuatan payung, lentera, pintu sorong (fusuma), boneka, dan berbagai kerajinan seni seperti origami, shodō dan ukiyo-e. Pada zaman Heian bangsawan menyisipkan washi jenis kaishi pada lengan kimono.Washi juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan uang kertas Yen. Bahkan washi digunakan untuk kebutuhan medis, dan tissue toilet yang berkualitas tinggi.

Menurut kegunaanya washi terdiri dari hanshi, yaitu kertas untuk kaligrafi dan uwagami, kertas untuk pembungkus. Menurut bahan bakunya washi menjadi beberapa jenis :

Sejarah washi dapat dibagi menjadi 2 priode. Priode pertama pada zaman Nara hingga akhir zaman Heian, priode kedua adalah zaman Kamakura hingga sekarang. Pada zaman Nara pemerintah Jepang mulai memproduksi washi secara massal, tetapi produksi washi tidak bisa memenuhi kebutuhan pemerintah, hingga pada zaman Heian washi mulai hilang karena kurangnya pasokan bahan baku.

Pada zaman Kamakura washi mulai digunakan lagi dikalangan samurai, karena bahan baku pembuatan washi yang langka dan kwalitas washi yang tinggi membuat washi menjadi barang yang langka dan mewah, pada zaman ini washi dijadikan hadiah sebagai tanda rasa hormat dan ucapan terimakasih. Hingga sekarang washi masih tetap digunakan dan memiliki bermacam-macam motif.

Washi dimasukan kedalam daftar warisan budaya oleh UNESCO pada november 2014, karena dalam pembuatannya dibutuhkan pengetahuan tradisional dan keahlian khusus. Pendaftaran washi sebagai warisan kebudayaan oleh UNESCO diharapkan dapat melestarikan keterampilan membuat washi, agar washi tetap berkembang dan bisa dimanfaatkan dimasa mendatang

Dokumen terkait