4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.3 Metode Penangkapan Ikan Menggunakan Rawai Dasar
Suatu metode penangkapan yang baik harus memiliki koordinasi yang baik pula pada keseluruhan aspek yang terkait didalamnya, yaitu: penentuan fishing ground: musim penangkapan; penggunaan umpan; kapal; alat tangkap; proses penangkapan; serta hendaknya memikirkan dampak lingkungan yang mungkin terjadi.
Daerah penangkapan (fishing ground) merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha penangkapan, begitu juga dalam usaha penangkapan yang dilakukan oleh nelayan rawai dasar di Kabupaten Lombok Timur. Nelayan mengoperasikan alat tangkap ini secara berpindah-pindah namun hanya di sekitar pantai berkedalaman 7-10 meter yang kaya akan terumbu karang dan berlokasi antara 1-2 jam perjalanan dari fishing base.
Aspek lain yang berpengaruh besar dalam keberhasilan suatu operasi penangkapan adalah musim penangkapan. Di perairan Kabupaten Lombok Timur dipengaruhi oleh empat musim penangkapan ikan. Pada bulan Juli sampai dengan bulan September pada umumnya bertiup angin tenggara yang sering disebut musim angin tenggara. Pada musim ini angin bertiup dari arah tenggara dengan sangat kencang. Pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember disebut dengan musim angin barat daya karena angin berhembus kencang dari arah barat daya, dan pada saat ini biasanya terdapat musim ikan, terutama ikan demersal kecil dan ikan demersal besar. Pada bulan Januari sampai bulan Maret disebut musim angin barat dimana angin berhembus kencang dari arah barat sehingga kadang-kadang menghambat nelayan untuk kembali ke daratan. Pada bulan April sampai dengan bulan Juni disebut musim angin timur atau musim tidak ada ikan yang ditandai dengan berhembusnya angin yang tidak tentu arahnya. Biasanya dalam musim penangkapan
ini yang tertangkap adalah ikan-ikan demersal kecil. Musim ini dikenal dengan musim paceklik karena aktivitas penangkapan ikan relatif kecil.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus dimana pada bulan ini dikenal dengan musim angin tenggara. Hasil tangkapan oleh nelayan biasanya ikan demersal kecil dan besar disamping jenis-jenis ikan lain tapi dalam jumlah yang sedikit.
Dalam usaha penangkapan dengan menggunakan rawai dasar, umpan mempunyai peranan yang sangat besar yaitu untuk menarik ikan-ikan agar mendekat kepada alat tangkap. Nelayan setempat biasa membawa umpan dari daratan. Umpan yang digunakan adalah ikan lemuru (Sardinella longiceps) dengan ukuran panjang berkisar 10 cm - 12 cm. Ikan ini digunakan sebagai umpan karena selain dapat mengundang ikan target mendekat, harganya murah dan juga kurang disukai masyarakat untuk dikonsumsi.
Perahu yang digunakan untuk pengoperasian adalah perahu kayu berukuran panjang 5-7 meter, lebar 0,8-1,5 meter dan kedalaman 50-75 cm (Gambar 5, Lampiran 2). Satu unit rawai dasar memiliki pelampung, tali pelampung, tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing, dan pemberat (Tabel 7).
Tabel 8. Spesifikasi rawai dasar yang dioperasikan di Kabupaten Lombok Timur
Komponen Bahan Ukuran Jumlah
Pelampung Bola plastik Ø = 24 cm 7 buah
Tali pelampung PE multifilamen P = 15 m; Ø = 4 mm Untuk seutas tali pelampung
13 utas tali
Tali utama (main line) Kuralon P = 30 m; Ø = 4 mm Untuk seutas tali utama
6 utas tali
Tali cabang (branch line) Nilon monofilamen P = 1 m; Ø = 4 mm Untuk seutas tali cabang
90 utas tali
Mata pancing Baja Nomor: 11 90 buah
Pemberat Batu Berat = 1 kg 2 buah
Setiap perahu membawa dua basket. Masing-masing terdiri dari tiga utas tali utama, sehingga setiap basketnya terdiri dari 45 mata pancing dan 45 tali cabang. Dalam 1 perahu rawai dasar umumnya terdiri dari 3 orang anak buah perahu, masing-masing sebagai juru mudi, sekaligus penentu fishing ground, pelempar pancing, dan pegangkat hasil tangkapan. Pada saat pengangkatan hasil tangkapan, tugas orang ketiga dibantu oleh dua orang yang lain. Operasi penangkapan itu dimulai dengan mempersiapkan alat tangkap rawai dasar sebanyak dua basket, umpan (ikan lemuru), es, bekal, dan bahan bakar secukupnya. Kapal berangkat dari fishing base pukul 05.00 dan sampai ke fishing ground sekitar pukul 06.15, kemudian kecepatan kapal diturunkan dan setting alat langsung dilakukan. Setting alat hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja karena pemasangan umpan dikerjakan pada saat perjalanan menuju ke fishing ground, hal ini dilakukan dengan tujuan mengefisiensikan waktu.
Setting dimulai dengan menurunkan pelampung tanda, tali pelampung, pemberat dan tali pemberat, dilanjutkan dengan menurunkan main line dan branch line, dan pancing yang telah dipasang umpan satu-persatu (Gambar 4). Kegiatan terakhir dalam setting adalah menurunkan pelampung tanda yang terakhir, tali pelampung, tali pemberat serta pemberat yang kedua. Setelah itu nelayan tetap menunggu sambil beristirahat di atas perahu. Setting biasanya dilakukan dua kali, kecuali pada musim-musim sedikit ikan seperti pada saat penelitian yaitu pada bulan Juli. Setting hanya dilakukan sekali saja karena pada bulan ini setting kedua umumnya sudah tidak ada lagi ikan.
Gambar 6. Pelemparan pancing saat setting
Pengangkatan hasil tangkapan dilakukan setelah kurang lebih 4 jam. Proses ini dimulai dengan menaikkan pelampung, tali pelampung, tali pemberat dan pemberat, selanjutnya main line dan juga branch line secara satu persatu ditarik ke atas perahu. Lamanya proses ini sangat tergantung dari banyaknya ikan yang tertangkap, semakin banyak ikan yang tertangkap maka semakin lama pengangkatan hasil tangkapan ini berlangsung.
Main line
Branch line
Sedang/ banyak
Sangat sedikit/tidak ada
Keterangan : * = Setting dilakukan maksimal 2 kali.
Gambar 7. Diagram alir penangkapan ikan menggunakan rawai dasar di Kabupaten Lombok Timur
Mulai
Pemasangan umpan di atas dek
Lokasi penempatan rawai
Setting * : Penurunan pelanpung tanda, tali utama (main line), tali
cabang (branch line), pancing, dan pemberat.
Pengangkatan hasil tangkapan
Jumlah hasil tangkapan
Selesai
Persiapan : Alat tangkap (2) basket, umpan, es, bekal, bahan bakar