BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil penelitian
3. Metode pencatatan akuntansi pemerintah daerah pada
a. Flow Proses Pencatatan Akuntansi BPKD
Flow proses pencatatan pada BPKD Kabupaten Enrekang dimulai dari pengelolaan barang daerah yang dibuatkan bukti transaksi, dan bukti transaksi tersebut kemudian dibuatkan bukti memorial lalu dilakukan penjumlahan. Penjumlahan ini dilakukan oleh
PPK-SKPD, setelah itu diposting kedalam buku besar, lalu dibuatkan neraca saldo. Dari neraca saldo SKPD tersebut, PPK-SKPD kemudian menyusun laporan keuangan SKPD yang terdiri dari; Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Lporan Keuangan.
Berikut ini proses pencatatan pada BPKD digambarkan dalam bagan dibawah ini:
Gambar 2.7
Proses pencatatan pada BPKD Transaksi Neraca Jurnal Laporan Perubahan Ekuitas Catatan atas Laporan Keuangan Laporam Operasional Laporan Keuangan Laporan Realisasi Anggaran Neraca Saldo Buku Besar
1. Transaksi
Pemendageri No.64 Tahun 2013 tentang penerapan SAP berbasis akrual, dimana pada basis tersebut setiap transaksi langsung dicatat meskipun pendapatan atau belanja belum diterima. Namun, pada BPKD Kabupaten Enrekang ada beberapa pencatatan yang tidak sesuai dengan pemendageri yang berlaku. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan hasil wawancara dengan bapak Rahmat Baharuddin, SE.M.AP selaku kepala badan akuntansi dan pelaporan keuangan bahwa;
“Ada beberapa transaksi yang belum langsung dicatatn seperti pembelian perlengkapan yang tidak langsung dicatat, nanti dicatat apabila telah diminta bukti transaksi bulan lalu maka baru dicatat pada bulan ini”. (6 Agustus 2020)
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa BPKD Kabupaten Enrekang belum sepenuhnya menerapkan akuntansi berbasis akrual sesuai PP Nomor 71 Tahun 2010.
2. Jurnal
Sebagai entitas akuntansi, SKPD melakukan proses akuntansi yang dimulai dari pencatatan transaksi hingga penyusunan laporan keuangan. Transaksi-transaksi tersebut dicatat oleh PPK-SKPD sesuai dengan dokumen transaksinya kedalam buku jurnal. Seperti pada BPKD Kabupaten Enrekang telah melakukan penjurnalan yang dimulai dari pencatatan transaksi hingga penyusunan laporan keuangan. Hal ini telah susia dengan PP Nomor 71 Tahun 2010.
Tahap selanjutnya setelah pencatatan transaksi melalui jurnal adalah posting kedalam buku besar. Dalam tahap ini, PPK-SKPD memposting atau memindahkan setiap akun beserta jumlanya dari buku jurnal ke buku besar masing-masing akun.hal ini telah dilakukan juga pada dinas BPKD Kabupaten Enrekang.
4. Neraca Saldo
Pada setiap akhir periode akuntansi, atau sesaat sebelum penyusunan laporan keungan, PPK-SKPD dan dinas BPKD Kabupaten Enrekang menyusun Neraca Saldo. Neraca Saldo adalah suatu daftar yang berisi seluruh kode rekening serta saldo pada tanggal tertentu.
5. Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dihasilkan pada tingkat SKPD dihasilkan melalui proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK-SKPD. Jurnal dan posting yang telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan.
Dari tujuh Laporan Keuangan wajib yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Terdapat 5 laporan keuangan yang dibuat oleh SKPD, yaitu Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Berikut penjelasan mengenai Laporan Keuangan tersebut
Pemendageri Nomor 64 Tahun 2013 tentang penerapan standar akuntansi pemerintah berbasis akrual pada pemerintah daerah menyatakan bahwa basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah daerah yaitu basis akrual. Namun, dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka LRA disusun berdasarkan basis kas. Dinyatakan dalam ruang lingkup LRA bahwa standar ini diterapkan dalam penyajian LRA yang disusun dan disajikan dengan menggunakan anggaran berbasis kas. Hal tersebut juga sesuai dengan pernyataan bapak Rahmat Baharuddin, SE.M.AP selaku kepala badan akuntansi dan pelaporan keuangan BPKD Kabupaten Enrekang, bahwa;
“Penyusunan Neraca, LO, LPE, dan CaLK hanya itu saja yang menggunakan basis akrual. Berbeda dengan LRA yang masih menggunakan basis kas dikarenakan penganggarannya juga masih berbasis kas” (6 Agustus 2020)
Sebagai contoh dalam LRA tercantum pendapatan pajak daerah yang dimana pajak daerah adalah Penerimaan Asli Daerah (PAD) yang dipungut pemerintah Kabupaten Enrekang dari wajib pajak dalam tahun anggaran 2018.
Tabel 2.2
PENDAPATAN PAJAK DAERAH KABUPATEN ENREKANG
Keterangan Jumlah
Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2018
Laporan Operasional Tahun 2018 Rp.10.925.051.932.00
Sumber. Laporan Keuangan BPKD Kabupaten Enrekang 2018
Tabel 2.2 menunjukkan bahwa dalam LRA, penerimaan kas dari pendapatan wajib pajak ini adalah sebesar Rp.10.523.206.720.00. sedangkan pendapatan yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Enrekang tahun 2018 yaitu sebesar Rp.10.925.051.932.00. dan selisihnya masih menjadi hak pemerintah untuk diterima pada tahun-tahun selanjutnya. Pendapatan wajib ini dicatat dalam LRA hanya sebesar jumlahkas yang diterima pemerintah sedangkan pada LO mencatat yang menjadi hak pemerintah ditahun 2018.
Sama halnya dengan Pendapatan Retribusi Daerah yaitu PAD yang dipungut Pemerintah Kabupaten Enrekang dari wajib retribusi.
Tabel 2.3
PENDAPATAN RETRIBUSI DAERAH KABUPATEN ENREKANG
Keterangan Jumlah
Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2018
Rp.30.097.583.858.00
Laporan Operasional Tahun 2018 Rp.32.619.030.679.33
Berdasarkan tabel 2.3 diketahui bahwa penerimaan wajib retribusi yang melalui kas daerah sebesar Rp.30.097.583.858.00, dan hak pemerintah dalam tahun anggaran 2018 sebesar Rp.32.619.030.679.33, dan selisihnya merupakan hak pemerintah yang masih harus diterima. Dicatat demikian karena dalam LRA pencatatannya menggunakan basis kas yang hanya dicatat berdasarkan kas yang diterima pemerintah, sedangkan LO dicatat total yang menjadi hak pemerintah. LRA mencatat kas yang terealisasi pada periode tersebut dan selisihnya masih menjadi hak pemerintah untuk diterima pada tahun-tahun selanjutnya.
b. Laporan Operasional (LO)
Berdasarkan pemendageri Nomor 64 Tahun 2013, Laporan Operasional (LO) adalah laporan yang menyajikan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercermin dalam pendapatan LO, beban dan surplus/ defisit operasional dari suatu entitas pelaporan. Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelolah oleh pemerintah pusat/ daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintah dalam satu periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam LO terdiri dari pendapatan LO, beban, transfer dan pos-pos lus biasa.
Sebagai contoh Pendapatan Pajak daerah yang tercantum dalam LO. Pendapatan Pajak Daerah LO adalah pendapatan yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Enrekang tahun 2018, dapat dilihat pada tabel 2.4 sebagai berikut;
Tabel 2.4
PENDAPATAN PAJAK DAERAH KABUPATEN ENREKANG
Keterangan Jumlah
Laporan Operasional Tahun 2018 Rp.10.925.051.932.00
Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2018
Rp.10.523.206.720.00
Selisih Rp.401.845.212.00
Sumber. Laporan Keuangan BPKD Kabupaten Enrekang 2018
tabel 2.4 menujukkan bahwa pendapatan yang menjadi hak Pemerintah Kabupaten Enrekang tahun 2018, yaitu sebesar Rp.10.925.051.932.00 sementara penerimaan kas dari pendapatan pajak ini hanya sebesar Rp.10.523.206.720.00, (LRA). Jumlah selisih sebesar Rp.401.845.212.00 masih menjadi hak pemerintah untuk diterima pada tahun-tahun selanjutnya. Pendapatan ini dicatat dalam LO yaitu mencatat jumlah dari yang menjadi hak dari tahun 2018. Sedangkan LRA hanya mencatat sebesar jumlah kas yang diterima pemerintah dan selisihnya masih menjadi hak pemerintah untuk diterima pada tahun-tahun selanjutnya
c. Neraca
Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, utang dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Keberadaan pos piutang , aset tetap, hutang
merupakan bukti adanya proses pembukuan yang dipengaruhi oleh asas akrual.
Konsekuensi dari penggunaan sistem akrual pada penyusunan neraca mengakibatkan setiap entitas pelaporan harus mengungkap setiap pos aset dan kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan dan jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu lebih dari 12 bulan. Penyusunan neraca yang ada pada BPKD Kabupaten Enrekang sudah sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010.
d. Laporan Perubahn Ekuitas (LPE)
Laporan keuangan selanjutnya yaitu Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) yaitu laporan yang menyajikan informasi mengenai perubahan ekuitas yang terdiri dari ekuitas awal, surplus/ defisit LO, koreksi dan ekuitas akhir (Pemendageri No 64 Tahun 2013). LPE menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selanjutnya, suatu entitas pelaporan juga perlu menyajika rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang terdapat dalam LPE yang dijelaskan pada Catatan atas Laporan Keuangan, dapat dilihat pada tabel 2.5 sebagai berikut;
Tabel 2.5
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS BPKD KABUPATEN ENREKANG
Keterangan Jumlah
Surplus/ Defisit LO Rp.45.820.800.849.32
Sumber. Laporan Keuangan BPKD Kabupaten Enrekang 2018
Berdasarkan tabel 2.5 tercantum bahwa dalam LPE, ekuitas awal sebesar Rp.1.803.701.988.373.99 dan surplus/defisit LO 45.820.800.849.32. untuk unsur yang menambah ekuitas dan mengurangi kualitas lebih rinci didapatkan dalam CaLK. Struktur LPE baik pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan PemerintahKabupaten/ Kota tidak memiliki perbedaan.
e. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Berdasarkan PP No. 71 Tahun 2010, Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penejelasan rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan Arus Kas. CaLK juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan didalam SAP serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa penyusunan Laporan Keuangan pada BPKD Kabupaten Enrekang telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.
1. Sistem Pencatatan
Sistem pencatatan yang digunakan BPKD Kabupaten Enrekang adalah sistem yang berbasis akrual, dimana pendapatan diakui pada saat terjadi transaksi, tanpa menunggu dana diterima kemudian dicatat. Pendapatan pada BPKD kabupaten Enrekang bersumber dari;
1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) a) Pendapatan Pajak Daerah b) Pendapatan Retribusi Daerah
c) Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
d) Lain-lain PAD yang sah 2) Pendapatan Transfer
a) Transfer Pemerintah Pusat-Daerah Perimbangan - Dana Bagi Hasil Pajak
- Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam - Dana Alokasi Umum
- Dana Alokasi Khusus
b) Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya - Dana Otonomi khusus
- Dana Penyesuaian
c) Transfer Pemerintah Provinsi
- Pendapatan Bagi Hasil Pajak
- Pendapatan Bagi Hasil Lainnya
a) pendapatan Hibah b) pendapatan lainnya b. Pengakuan Beban
Basis yang digunakan dalam pengakuan beban pada BPKD Kabupaten Enrekang adalah basis akrual, dimana pengakuan beban adalah pada saat terjadinya suatu peristiwi atau kejadian yang menimbulkan kewajiban, konsumsi atas aset, penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa serta mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih entitas pelaporan walaupun belum ada pengeluaran kas dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah.
c. Pengakuan Aset
aset lainnya merupakan aset pemerintah daerah yang tidak dapat diklasisfikasikansebagai aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan dana cadangan. Layaknya sebuah aset, aset lainnya memiliki peranan yang cukup penting bagi pemerintah daerah karena mampu memberikan manfaat ekonomis dan jasa potensial dimasa depan.
Berbagai transaksi terkait aset lainnya seringkali memiliki tingkat materialitas dan kompleksitas yang cukup signifikan mempengaruhi laporan keuangan pemerintah daerah sehingga kekuatan dalam pencatatan dan pelaporan menjadi suatu keharusan. Dalam BPKD Kabupaten Enrekang berikut aset yang dimiliki BPKD Kabupaten Enrekang:
1). Aset Lancar
a) Kas dan Bank
b) Piutang Pendapatan
c) Piutang Retribusi Daerah
d) Piutang Lin-lain PAD yang sah
e) Piutang Bagi Hasil
f) Piutang Transfer Pemerintah Daerah Lainnya
g) Piutang lainnya
h) Belanja Dibayar Dimuka
i) Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah
j) Bagian Lancar Pinjaman Kepada Pemerintah Pusat
k) Bagian Lancar Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya
l) Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran
m) Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi
n) Persediaan
Berdasarkan keterangan diatas dan hasil wawancara kesimpulan yang dapat diambil yaitu pengakuan aset yang ada pada BPKD Kabupaten Enrekang sudah mengacu pada PP Nomor 71 Tahun 2010.
2) Aset Tetap
a) Tanah
b) Peralatan dan Mesin
c) Gedung dan Bangunan
d) Jalan, irigasi dan jaringan
e) Aset Tetap Lainnya
f) Konstruksi dalam Pengerjaan
g) Akumulasi Penyusutan
3) Aset Lainnya
a) Tagihan Penjualan Angsuran
b) Tuntutan Ganti Rugi
c)Kemitraan dengan Pihak Ketiga
d) Aset Tak Berwujud
e) Aset Lain-lain
b. Tantangan Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual
Keberhasilan perubahan akuntansi pemerintah sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih transparan dan akuntabel memerlukan upaya dan kerja sama dari berbagi pihak. Jika penerapan akuntansi berbasis kas saja masih banyak menghadapi hambatan, lebih lebih lagi jika pemerintah menerapkan akuntansi berbasis akrual.
Berikut beberapa tantangan dalam implementasi akuntansi pemerintah berbasis akrual adalah:
1. Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten merupakan faktor penting bagi keberhasilan penerapan SAP berbasis akrual, sebab SDM yang bekerja dan turun langsung menjalankannya. Saat ini, kebutuhan tersebut sangat terasa dengan semakin kuatnya upaya untuk menyukseskan penerapan SAP berbasis akrual. Untuk itu pemerintah pusat daerah perlu secara serius menyusun perencanaan SDM di bidang akuntansi pemerintah. Untuk menerapkan berbasis akrual, diperlukan pemahaman khusus mengingat SAP ini tergolong baru dipemerintahan.
Suatu perencanaan dan penganggaran yang telah disusun demi memenuhi kebutuhan masyarakat hanya akan tercapai jika ada sumber daya yang mendukungnya. Sumber daya ini memerlukan mekanisme pengelolaan agar apa yang ada dalam perencanaan dan penganggaran dapat berjalan. Mekanisme pengelolaan yang dimaksud adalah perangkat aturan yang menjadi pedoman dalam mengarahkan sumber daya pada suatu tujuan serta sasarannya. Perangkat aturan atau dasar hukum ini ditetapkan dalam rangka mengukur kebutuhan public dan alokasi sumber daya ini akan berjalan dengan lancar dan efektif jika
didukung oleh regulasi yang memadai sehingga mendorong berlakunya praktek yang baik, tertib dan akuntabel (Bastian,2010).
Pemahaman staf mengenai SAP berbasis akrual pada BPKD Kabupaten Enrekang hampir semuanya memahami dikarenakan staf pada BPKD hampir semua memiliki latar belakang pendidikan dari jurusan akuntansi. Seperti yang dikatakan bapak Rahmat Baharuddin, SE.M.AP selaku kepala Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, sebagai berikut;
“ ada sebagian yang masih kurang memahami, namun itu tidak menjadi kendala yang serius dikarenakan staf hampir semua dari lulusan akuntansi, kalaupun ada kami akan memberikan arahan sehingga staf paham” (6 Agustus 2020)
Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa staf yang ada pada BPKD Kabupaten Enrekang hampir semuanya memahami mengenai penerapan SAP berbasis akrual. Adapun jika ada yang tidak terlalu memahami maka akan diberikan arahan.
Berikut adalah nama nama dan latar belakang pendidikan yang ada pada BPKD Kabupaten Enrekang:
Tabel 2.6
Latar belakang pendidikan staf BPKD
No Nama Jabatan Latar belakang
pendidikan
Mandeha,SKM,M.Si. pengelolaan keuangan daerah Kesehatan Masyarakat, Magister Sains 2 Permadi Hasan, SE.,M.AP Sekretaris Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik 3 Jusman Sannung, SE
Kepala Sub bagian perencanaan
SarjanaEkonomi
4 Mukmin Ibrahim, S,IP,M.Si
Kepala Sub bagian keuangan
Sarjana Ilmu Pemerintahan, Magister Sains
5 Nelli, SE Kepala Sub bagian umum dan
kepegawaian
Sarjana Ekonomi
6 Mawarsi, SE.,M.AP Kepala bidang perencanaan anggaran Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik
perbendaharaan Ekonomi, Magister Administrasi Publik 8 Rahmat Baharuddin, SE,M,AP Kepala badan akuntansi dan pelaporan keuangan Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik 9 Nurlia Maruddin, SE.M.Si Kepala bidang pengelolaan barang milik daerah Sarjana Ekonomi, Magister Sains 10 Ruhama Saleh, SE.M.AP
Kepala Sub bidang perencanaan anggaran I Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik 11 Rakhmat Purnama Sam, SE.
Kepala Sub bidang pengelolaan KASDA
SarjanaEkonomi
12 Gunarty, S.Kom. Kepala Sub bidang akuntansi
penerimaan
13 Musdalifah, SE Kepala Sub bidang analisis kebutuhan BMD
SarjanaEkonomi
14 Agung Wijaya, SE.M.AP
Kepala Sub bidang perencanaan anggaran II Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik
15 Nini Suhartini, SE Sub bidang belanja operasi
Sarjana Ekonomi
16 Muh. Lukman Badi. S.Kom
Kepala Sub bidang akuntansi
pengeluaran
Sarjana Komputer
17 Nurhaeda, S.Kom Kepala Sub bidang pemanfaatan pengawasan dan penghapusan BMD
Sarjanah Komputer
18 Kasfur Nur, SE Kepala Sub bidang perencanaan anggaran III
Sarjana Ekonomi
belanja modal
20 Israwaty Akhmad, SE.M.AP.
Kepala Sub bidang konsolidasi dan pelaporan Sarjana Ekonomi, Magister Administrasi Publik 21 Andi Padilawati, S.Si
Kepala Sub bidang inventarisasi dan pelaporan
Sarjana Sains
Secara umum hasil penelitian pada BPKD kabupaten Enrekang seperti pada table berikut:
Table 2.7
Hasil penelitian secara umum
No PP No 71 Tahun 2010 Penerapah pada BPKD Kabupaten Enrekang Keterangan 1 Komponen laporan keuangan: 1. LRA 2. SAL Komponen laporan keuangan yang dibuat pada BPKD kabupaten
Sesuai dengan PP 71 Tahun 2010Enrekang
3. LAPORAN OPERASI 4. NERACA 5. LAPORAN EKUITAS 6. LAPORAN ARUS KAS 7. CaLK Enrekang ada 5 yaitu; 1.LRA 2. NERACA 3. LAPORAN OPERASIONAL 4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS 5. CaLK 2 Pengakuan pendapatan LO: Pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi
Pengakuan pendapatan LO:
Pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi Penakuan pendapatan yang diterapkan pada BPKD Kabupaten sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010 3 Tahap penyusunan SAPD: melakukan identifikasi transaksi, Tahap penyusunan SAPD: melakukan Tahap penyusunan SAPD yang dilakukan pada
pencatatan pada jurnal, memposting kedalam buku besar,penyusunan neraca saldo serta penyajian laporan keuangan. identifikasi transaksi, pencatatan pada jurnal, memposting kedalam buku besar,penyusunan neraca saldo serta penyajian laporan keuangan. BPKD Kabupaten Enrekang telah sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010.
Dari table tersebut diatas menunjukkan bahwa BPKD Kabupaten Enrekang telah menerapkan system akuntansi berbasis akrual sesuai PP No.71 Tahun 2010. Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi Ratnasari bahwa Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Bantaeng belum maksimal dalam menerapkan sistem akuntansi sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Berbasis Akrual dan Pemendagri Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah. Karena dalam sistem pencatatan transaksi masih ada beberapa transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan tanggal kejadiannya.