• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pencatatan dan Pengakuan Pendapatan Premi Pada AJB Bumiputera

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Metode Pencatatan dan Pengakuan Pendapatan Premi Pada AJB Bumiputera

Pencatatan dan pengakuan pendapatan premi digunakan sebagai pencatatan dan pengakuan transaksi pembayaran premi yang disetorkan oleh nasabah tiap bulannya kepada bagian kasir tentunya. Pengertian pencatatan dan pengakuan pendapatan premi adalah pengumpulan data secara teratur diterima secara tahunan, setengah tahunan, triwulan, tunggal atau sekaligus berdasarkan premi tahunan yang diperoleh sehubungan dengan kontrak asuransi dan diakui sebagai pendapatan selama periode polis (kontrak) berdasarkan proporsi jumlah proteksi yang diberikan.

Prosedur pencatatan dan pengakuan pendapatan premi pada AJB Bumiputera dimulai pada saat para tertanggung membayar preminya melalui agen atau membayar preminya ke perusahaan. Pada perusahaan asuransi terdapat beberapa pilihan dalam melakukan pembayaran premi yaitu secara tunai dan angsuran. Pembayaran premi yang dilakukan secara tunai dilakukan secara tunggal atau sekaligus. Sedangkan secara angsuran pembayaran dapat dilakukan secara bertahap yaitu triwulan, semesteran, dan tahunan.

Dalam melakukan pencatatan dan pengakuan pendapatan premi, AJB Bumiputera 1912 menggunakan metode accrual basis. Pada saat nasabah tidak membayar premi lewat dari tanggal jatuh tempo yang telah ditetapkan, perusahaan mencetak voucher untuk mengakui tunggakan premi sebesar nilai premi yang

telah ditetapkan. Pada perusahaan, pendapatan yang diterima atas pembayaran atau penerimaan premi dirinci menjadi beberapa item antara lain: premi pertama, premi lanjutan tahun pertama, premi lanjutan, potongan premi, dan pendapatan atas denda tunggakan premi. Dalam hal ini, penulis akan membahas pencatatan dan pengakuan pendapatan premi pertama dan premi lanjutan.

4.1.1 Pencatatan dan Pengakuan Pendapatan Premi Pertama

Pendapatan premi pertama merupakan pendapatan yang diperoleh atas penjualan polis sehubungan dengan perjanjian asuransi yang telah disetujui. Adapun pencatatan dan pengakuan yang ada di perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Layanan operasional (administrasi) melakukan transaksi new bisnis untuk

melakukan pengentrian data SPAJ (surat permintaan asuransi jiwa). Setelah di entry, bagian administrasi mencetak voucher dan kuitansi premi pertama dan menyerahkan ke bagian kasir.

b. Agen meminta pengesahan setoran premi pertama kepada kasir dan kasir

mencatat dalam buku kontrol kas.

c. Agen menyerahkan uang beserta pengesahan setoran premi pertama kepada

kasir. Kasir menandatangani bukti setoran premi pertama, mencantumkan tanggal, nomor kas, dan paraf pada bukti kuitansi premi pertama kepada kasir.

d. Selanjutnya, agen meminta kuitansi premi pertama yang telah dibayarkan

untuk di serahkan kepada nasabah sebagai bukti pembayaran.

diakui sebagai pendapatan, karena belum mendapat izin akseptasi dari pusat. Setelah polis terbit dan izin akseptasi diterima, kantor cabang mencetak voucher untuk mengakui transaksi pendapatan sekaligus menghapus titipan premi pertama menjadi premi pertama cicilan (pendapatan premi). Pada saat pengakuan premi pertama sebagai pendapatan, perusahaan juga mengakui utang komisi dan hutang pajak atas komisi yang akan diberikan kepada agen, sebagai imbalan balas jasa yang akan diterima oleh agen secara langsung.

Setelah mencetak voucher, pada saat tutup kas, bagian kasir ini akan mencetak rekap setoran premi harian (LBK) untuk mengakui pencatatan pendapatan premi dan transaksi lainnya. Adapun pencatatan yang dilakukan perusahaan adalah:

Tabel 4.1

Laporan LBK Penitipan Premi

Keterangan Masuk Keluar

Titipan premi xxxxx

Materai xxx

Kas xxxxx

Setelah polis diakseptasi, penitipan pendapatan diakui sebagai pendapatan premi dengan pengakuan pencatatan sebagai berikut:

Tabel 4.2

Laporan LBK Pengakuan Premi Pertama

Keterangan Masuk Keluar

Titipan Premi Pertama xxxxxx

Utang komisi xxxx

Utang pajak Pph pasal 21 xx Premi I cicilan xxxxxx

Kas xxxx

Penggantian administrasi xxxx

4.1.2 Pencatatan dan Pengakuan Pendapatan Premi Lanjutan

Pendapatan premi lanjutan merupakan pembayaran yang diterima oleh perusahaan dari pihak tertanggung dalam membayar kewajibannya untuk mendapatkan proteksi perlindungan jiwa selama masa kontrak asuransi yang telah disepakati. Pada perusahaan terdapat 2 (dua) cara penagihan pembayaran yaitu, secara langsung dan tidak langsung (lewat agen). Pembayaran langsung adalah pembayaran premi yang langsung disetorkan ke kas perusahaan oleh tertanggung tanpa melewati agen. Sedangkan pembayaran tidak langsung adalah penagihan pembayaran melalui agen. Pada pencatatan dan pengakuan pendapatan yang diterima dari penagihan secara langsung, perusahaan tidak mengakui utang komisi. Sedangkan pada pencatatan dan pengakuan penagihan tidak langsung, perusahaan mengakui biaya komisi pada utang komisi.

Adapun pencatatan dan pengakuan pendapatan premi lanjutan yang ada pada perusahaan didapat melalui dua obyek, yang mana obyek tersebut adalah nasabah

dan agen sebagaimana yang telah dibahas pada uraian sebelumnya. Berikut ini adalah pencatatan dan pengakuan premi lanjutan yang didapat melalui agen: a. Agen menyampaikan sus kuitansi premi yang telah ditagih ke bagian

administrasi. Jika kas tutup atau ramai sus dititipkan pada bagian kasir.

b. Bagian administrasi memasukkan data pembayaran premi berdasarkan sus

kuitansi melalui sistem aplikasi komputer.

c. Mencetak data setoran premi, melalui sistem aplikasi komputer berdasarkan

sus kuitansi.

d. Mencatumkan paraf menyampaikan daftar setoran premi dan sus kuitansi.

e. Mencocokan sus kuitansi dengan daftar setoran premi, dan menandatangani

daftar setoran premi.

f. Menyerahkan sus kuitansi dan daftar setoran premi ke bagian kasir.

g. Bagian kasir memeriksa dan menyerahkan daftar setoran premi ke agen

terkait.

h. Agen menandatangani daftar setoran premi dan menyerahkan uang

pembayaran premi ke bagian kasir.

i. Bagian kasir menerima uang pembayaran premi, menandatangani dan

mendistribusikan daftar setoran premi dan sus kuitansi.

j. Pada saat tutup kas harian, bagian kasir mencetak rekap setoran premi harian

dan voucher per agen.

k. Membubuhkan paraf pada voucher dan menandatangani rekap setoran premi

harian dan menyampaikannya ke KUAK

l. Memeriksa dan mencocokkan voucher secara manual data transaksi ke dalam

m. Memasukkan sistem approve ke sistem komputer.

n. Memeriksa voucher, rekap setoran premi dan menandatangani voucher untuk

pengesahan, selanjutnya menyerahkan ke pimpinan operasional untuk pengesahan.

o. Setelah disahkan oleh pimpinan, KUAK memeriksa kembali. Selanjutnya

KUAK mengarsipkan dan mendistribusikan:

- Daftar setoran premi dan rekap harian premi ke layanan operasional.

- Daftar setoran premi, sus kuitansi, voucher harian ke kantor pusat.

Berdasarkan hasil penelitian selama dilapangan. Penerapan prosedur penagihan lewat agen yang dilakukan belum sesuai dengan prosedur yang ada. Dengan kata lain, ada beberapa tahapan prosedur yang tidak diterapkan oleh petugas, antara lain prosedur penitipan. Prosedur ini tidak diterapkan dengan baik oleh petugas kantor cabang nagoya, dikarenakan pada kantor cabang ini nasabah yang membayar premi ke kantor hanya sebagian kecil. Sehingga kondisi kantor dapat dikatakan sepi.oleh karena itu, pihak agen lebih memilih langsung memberika susu kuitansi ke bagian administrasi agar langsung dapat diproses. Pada saat kondisi kantor terlihat ramai, agen hanya mengumpulkannyadi meja layanan operasional dan lebih memilih menunggu sampai bagian administrasi memproses sus kuitansi tersebut. Menurut penulis, prosedur yang telah ada harus dijalankan dengan baik untuk menghindari tingkat risiko hilangnya sus kuitansi.

Berikut ini adalah pencatatan dan pengakuan pendapatan premi lanjutan yang dilakukan secara komputerisasi oleh bagian administrasi.

Tabel 4.3

Laporan LBK Premi Lanjutan

Keterangan Masuk Keluar

Hutang Komisi/Provisi xxxxx Pajak Komisi xxx PLTP xxxxxxx PL xxxxxxx Provisi/Komisi xxxxx Komisi Pengutipan xxxx Biaya Materai xxx

Berdasarkan hasil penelitian berdasarkan bukti-bukti pencatatan berupa voucher dan LBK (lembar bukti kas) pihak manajemen asuransi jiwa bersama (AJB) Bumiputera 1912, belum melakukan pencatatan dan pengakuan sesuai dengan standar akuntansi, karena tidak menggunakan format jurnal. Selain itu, dalam melakukan pencatatan dan pengakuan penerimaan pembayaran premi perusahaan hanya mengakui pendapatan tetapi tidak mengakui kas, tapi secara obyektif kas yang ada pada perusahaan juga bertambah. Seharusnya perusahaan menggunakan format jurnal dengan mengakui transaksi secara (debet dan kredit) karena jurnal merupakan komponen utama dalam membuat laporan keuangan. Selain itu juga, perusahaan menggunakan sistem komputerisasi sehingga apabila terjadi kesalahan dalam memasukkan data, output yang akan dihasilkan juga akan salah sehingga harus melakukan input data secara ulang dan membutuhkan waktu yang lama.

Dokumen terkait